Reminiscence Therapy pada Dementia

Oleh :
dr. Andriani Putri Bestari

Reminiscence therapy adalah salah satu modalitas tata laksana dementia. Namun, penggunaannya masih menimbulkan pro dan kontra.

Dementia merupakan penyakit degeneratif yang sering ditemui pada pasien lanjut usia dan merupakan salah satu penyebab disabilitas utama di seluruh dunia. Terapi farmakologis pada dementia masih memiliki peran yang sangat terbatas, sehingga intervensi nonfarmakologis mulai banyak mendapatkan perhatian. Reminiscence therapy adalah salah satu modalitas nonfarmakologis yang dapat digunakan dalam tata laksana dementia.[1]

Depositphotos_232738652_s-2019-min

Teknik Reminiscence Therapy

Reminiscence therapy melibatkan proses mengingat kembali pengalaman hidup dan kenangan di masa lalu dengan menggunakan alat bantu seperti foto, suara, musik, memento, video, dan media lain. Reminiscence therapy dapat dilakukan secara individual atau dalam kelompok, umumnya selama 6-12 minggu sebanyak 1-2 sesi per minggu, dengan durasi 30-60 menit per sesi. Reminiscence therapy dapat dilakukan dalam setting gawat darurat, di panti jompo, atau perawatan hospis jangka panjang.[2,3]

Reminiscence therapy dapat digunakan dalam tata laksana dementia sebagai terapi pada kondisi spontan, bagian dari terapi lain (seperti terapi kognitif), atau sebagai terapi utuh tersendiri. Yang dimaksud dengan reminiscence therapy pada kondisi spontan adalah aktivitas alami yang muncul secara spontan, tidak terstruktur dan dipicu dengan adanya alat pengingat. Reminiscence therapy sebagai bagian dari terapi lainnya seperti pada terapi kognitif, merupakan terapi yang lebih kompleks. Dalam hal ini, penderita diminta untuk menceritakan mengenai pengalaman hidupnya dahulu dan mengaitkannya dengan kondisi saat ini, atau penderita diminta untuk mengingat kembali kemampuan personalnya dahulu untuk mengubah kepercayaan diri yang disfungsional. Reminiscence therapy sebagai terapi utuh tersendiri berfokus pada proses mengingat kembali dan introspeksi pengalaman hidup terdahulu untuk memperjelas identitas diri dan arti hidupnya.[2]

Pro dan Kontra Dalam Reminiscence Therapy

Reminiscence therapy pada pasien dementia dilaporkan dapat mengurangi gejala dari depresi, memperbaiki rasa kesepian, dan meningkatkan rasa kesejahteraan dan kepuasan hidup. Reminiscence therapy juga dapat memperbaiki kemampuan kognitif dan aktivitas sosial penderita, yang pada akhirnya akan memperbaiki kualitas hidup. [3] Akan tetapi, mengingat kembali pengalaman dan kenangan hidup yang positif terkadang menjadi metode untuk melarikan diri dari permasalahan yang dihadapi pasien. Di lain pihak, mengingat kembali pengalaman dan kenangan buruk dapat memicu gejala depresi dan memperberat gangguan mood.[2]

Efikasi Reminiscence Therapy pada Dementia

Pada sebuah tinjauan dari Cochrane, reminiscence therapy pada dementia ditemukan memiliki efek yang tidak konsisten, kecil, dan berbeda-beda tergantung dari tempat dan cara perlakukan. Secara umum, reminiscence therapy disimpulkan berpotensi memberikan pengaruh positif pada kualitas hidup, kognisi, fungsi komunikasi, dan mood.[4]

Sebuah tinjauan lain terkait efek reminiscence therapy untuk dementia menyebutkan bahwa penelitian-penelitian yang ada mengenai reminiscence therapy masih memiliki berbagai kelemahan, seperti skala penelitian yang kecil, metodologi penelitian yang lemah, partisipan yang heterogen, dan penilaian pascaterapi yang subjektif. Menurut studi ini, rekomendasi untuk menerapkan reminiscence therapy secara rutin belum dapat diberikan meskipun memang ada pengaruh positif yang didapatkan.[5]

Huang et al dalam tinjauannya melaporkan bahwa reminiscence therapy memberikan pengaruh positif pada penderita dementia, meskipun pengaruh tersebut relatif kecil. Dalam studinya didapatkan bahwa reminiscence therapy lebih efektif dalam memperbaiki gejala depresi pada penderita dementia dalam perawatan hospis dibandingkan dengan penderita yang hidup di komunitas terbuka.[6]

Studi lain meneliti peran reminiscence therapy dalam tata laksana dementia pada pasien di panti jompo di Taiwan. Meskipun partisipan dalam studi tersebut tergolong sedikit, reminiscence therapy dilaporkan memberikan perbaikan terkait gejala depresi, komunikasi, dan mood. Dalam studi ini juga ditekankan bahwa pemilihan topik dan waktu saat reminiscence therapy sangat mempengaruhi luaran.[7]

Kesimpulan

Reminiscence therapy adalah salah satu terapi nonfarmakologis pada dementia, yang melibatkan proses mengingat kembali pengalaman hidup penderita dengan menggunakan alat bantu berupa foto, suara, atau lagu. Reminiscence therapy dilaporkan mampu memperbaiki  emosi, mood, serta fungsi kognitif penderita. Namun, studi yang ada terkait efikasi reminiscence therapy dalam tata laksana dementia masih memiliki berbagai keterbatasan, seperti jumlah sampel yang kecil dan metodologi yang lemah.

Referensi