Menghadapi Pasien Serba Tahu

Oleh dr. Immanuel

Bagi seorang dokter klinisi, menghadapi pasien membutuhkan seni tersendiri, terutama pasien-pasien sulit (atau “menyebalkan”) seperti salah satunya pasien serba tahu. Kelompok pasien ini membutuhkan pengelolaan yang ekstra dibanding pasien pada umumnya. Pasien-pasien ini termasuk pasien pemarah, kadar, tidak sopan, pasien yang meminta pemeriksaan atau obat tertentu walau tanpa indikasi, pasien yang sengaja mengganggu atau mempengaruhi pasien lain, memerintah perawat atau bahkan meminta dokter menuliskan tagihan atas obat atau tindakan yang tidak dilakukan agar dapat dibayarkan oleh perusahaan. Salah satu kelompok pasien yang menjadi momok bagi klinisi dan membutuhkan perhatian lebih adalah pasien serba tahu (know it all).

Sumber: ijeab, Freepik, 2017. Sumber: ijeab, Freepik, 2017.

Pasien know it all atau pasien serba tahu didefinisikan sebagai pasien yang merasa tahu banyak, bahkan lebih mengerti dibanding dokter tentang sebuah penyakit atau topik tertentu. Pasien-pasien ini memiliki keterbatasan akan pengetahuan medis, namun karena satu dan lain hal sangat memahami satu topik tertentu. Pasien jenis ini juga sebenarnya tidak mampu memandang sakitnya dalam berbagai perspektif, misalnya bila ada komplikasi. Pasien ini biasanya membawa artikel berita atau artikel dari internet tentang isu medis yang dia tahu. Tidak jarang juga dia sudah mengunjungi dokter lain sebelum bertemu anda.[1]

Pasien serba tahu harus dihadapi dengan bijaksana oleh klinisi. Bila tidak dihadapi dengan bijaksana dapat terjadi kerugian pada hubungan dokter pasien, misalnya:

  • Waktu konsultasi dokter menjadi lama karena debat dokter dengan pasien
  • Pasien kehilangan kepercayaannya terhadap dokter
  • Tidak terbangun hubungan baik antara pasien dan dokter
  • Tidak tercapai tujuan pengobatan pada pasien.

Berikut beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan oleh dokter dalam menghadapi pasien jenis tersebut:

Kenali pasien

Tidak ada cara yang lebih baik untuk mengetahui cara menghadapi pasien selain mengenali pasien tersebut. Mengenal pasien tidak hanya sebatas nama, tetapi juga umur, latar belakang pendidikan, pekerjaan dan riwayat sosial. Riwayat keluarga juga menjadi penting untuk diketahui terutama menyangkut keluhan kronis dan/atau menurun. Seorang yang pernah merawat orang tua dengan kanker dapat kemungkinan untuk menjadi pasien serba tahu menyangkut kanker. Kenali juga pasien dari cara dia mengungkapkan keluhan utamanya. Pasien yang datang ke dokter dan langsung menyatakan “Sepertinya saya terkena kanker payudara, Dok” lebih mungkin merupakan pasien serba tahu dibanding pasien yang berkata “Dok, sepertinya ada benjolan di payudara.”[2]

Mendengar aktif

Mendengar aktif artinya adalah secara sadar berhenti berbicara dan menyimak ketika orang lain berbicara. Kesalahan paling sering saat mendengar aktif adalah mendengarkan untuk memberikan jawaban tetapi mendengarkan untuk menyimak dan menangkap maksud lawan bicara. Pasien yang serba tahu terkadang memang karena mereka paham akan penyakitnya, misalnya pasien kronis yang berobat akan hal yang sama berulang-ulang atau pasien dengan latar belakang pendidikan medis atau pasien yang memiliki tingkat pendidikan tinggi. Namun ada pula pasien yang terlampau cemas akan penyakitnya sehingga mencari tahu penyakitnya terlebih dahulu sehingga dia merasa lebih tahu dibanding dokternya.[2]

Temukan latar belakangnya

Komunikasi dokter pasien tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan infomasi-informasi klinis yang dibutuhkan dalam penanganan pasien, namun juga mencari aspek lain yang berhubungan dengan pasien. Setiap perilaku pasien pasti memiliki latar belakang yang mendasari. Pasien yang ibunya terkena kanker payudara akan lebih gampang mendiagnosis dirinya kanker payudara bila dia merasa ada benjolan di payudara. Hal-hal yang berkembang di masyarakat juga memiliki peran penting dalam membangun opini pasien. Misalnya, kasus difteri yang sedang marak saat ini tidak jarang membuat pasien datang merasa dirinya menderita difteri. Pahami juga apakah pasien tersebut kemungkinan menghadapi gangguan cemas.[2]

Tentukan tujuan pertemuan dan berikan batasan

Pasien yang serba tahu biasanya membawa bukti-bukti dan catatan-catatan sendiri. Tumpukan pertanyaan itu akan berujung pada diskusi yang panjang. Tak jarang pasien serba tahu ini sudah datang ke dokter lain sebelumnya dan mempertentangkan pendapat anda dengan pendapat sebelumnya. Tumpukan pertanyaan ini juga dapat membawa diskusi menjauhi tujuan pasien datang menemui dokter. Dokter harus tahu dan dapat menetapkan tujuan terapi bersama dengan pasien sehingga diskusi antara pasien dapat mengerucut akan hal-hal yang penting untuk pasien.

Dokter juga harus dapat menyimpulkan pertanyaan-pertanyaan pasien menjadi satu pertanyaan penting. Penyimpulan ini harus dilakukan secara hati-hati agar pasien tidak merasa dihambat kesempatannya untuk bertanya. Tekankan selalu tentang tujuan pertemuan yang disepakati bersama.[2]

Memiliki pengetahuan klinis yang memadai

Salah satu penyebab hubungan tidak baik antara dokter pasien adalah kurangnya pengetahuan dokter.[3] Pasien akan kehilangan kepercayaan bila mendapati pengetahuan dokternya dirasa lebih kurang dibanding dirinya. Dokter tidak perlu benar mengetahui semuanya, namun dokter mengetahui hal-hal penting mengenai penyakit tersebut. Dokter juga harus memiliki pengetahuan tentang penyakit yang sedang banyak terjadi. Tidak jarang pasien yang datang ke dokter meyakini dia menderita penyakit tertentu yang sedang marak saat itu berdasarkan sumber-sumber bacaan yang dia punya.

Dokter juga harus mengetahui jenis-jenis sumber bahan bacaan yang sering digunakan pasien. Beberapa artikel medis popular dapat dipercaya kebenarannya tetapi Wikipedia diragukan kebenarannya. Blog kesehatan yang dikelola oleh dokter spesialis ternama memiliki informasi lebih valid dibanding website produk jamu. Pernyataan dokter spesialis paru tentang faktor risiko merokok lebih dapat dipegang dibanding spesialis lainnya. Dokter harus memahami sumber-sumber yang biasa digunakan oleh pasien.

Atur Emosi

Walaupun pasien serba tahu seringnya adalah pasien-pasien yang memancing emosi, tetapi dokter tidak boleh menunjukkan emosi berlebihan, terutama emosi yang tidak membangun. Menangkap alasan dan latar belakang pasien membantu dokter memahami perilaku pasien. Pasien yang serba tahu bisa saja merupakan akibat kecemasannya yang mendalam. Pasien harus bisa menempatkan dirinya pada sudut pandang pasien. Hal ini memang terasa sulit, terutama bila pasien secara sengaja atau tidak segaja merendahkan dokter. Emosi tidak akan membangun hubungan dokter pasien dan akan menghambat rencana terapi yang ingin dicapai bersama.[4]

Berlaku profesional

Yang paling penting adalah tetap berlaku profesional. Hubungan dokter pasien adalah hubungan profesional yang dibangun atas dasar kepercayaan. Pasien yang serba tahu sering kali membuat dokter menjadi kesal, namun hubungan profesional harus tetap dipertahankan. Pasien yang lebih tahu mungkin memiliki lebih banyak waktu untuk mencari ilmu-ilmu yang terbaru sehingga bisa saja ada hal-hal yang dokter tidak ketahui. Diskusi yang terbangun antara dokter pasien adalah kunci keberhasilan terapi. Dokter harus mampu mengakui hal-hal yang dia tidak ketahui dan berkeinginan untuk mempelajari hal-hal tersebut. Di sisi lain, dokter juga harus dapat menunjukkan bahwa dokter memiliki pengetahuan yang mumpuni akan penyakit atau hal tersebut. Baik dokter ataupun pasien tidak dapat memaksakan pendapat mereka akan penyakit yang diderita pasien, baik itu mengenai pengobatan maupun langkah diagnosis yang akan ditempuh.

Dokter harus dapat menilai diskusi yang berlangsung antara dokter dan pasien. Diskusi yang mengarah debat kusir harus dihindari. Pasien tidak akan kembali pada dokter yang mengajaknya berdebat kusir. Selain itu, waktu konsultasi dokter pasien juga akan bertambah panjang sehingga debat kusir bukan menjadi pilihan.[4]

Jujur

Hal ini mungkin menjadi bagian paling sulit dari dokter. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang. Sebagai dokter kita terus dituntut untuk mempelajari semua hal tersebut. Namun, pasti saja ada hal-hal yang tidak sepenuhnya dimengerti atau diketahui dokter. Untuk itu, dokter diharapkan bisa berkata jujur dan menyatakan bahwa dia belum mengetahui hal tersebut. Tindakan ini lebih dianjurkan daripada langsung menolak atau menerima pendapat pasien.

Bekerja Sama dengan Pasien Serba Tahu

Pasien serba tahu adalah pasien yang menyebalkan untuk dokter, apalagi pasien yang sulit mendengarkan dokter, atau dengan sengaja atau tidak sengaja menunjukkan perilaku merendahkan. Di satu sisi, pasien serba tahu adalah salah satu modalitas penting yang dimiliki pasien untuk kesembuhannya. Pasien-pasien dengan penyakit kronis adalah salah satu kelompok pasien serba tahu yang dimanfaatkan sebagai partner dalam mencapai kesembuhan pasien.[5]

Tahun 1999, Amerika Serikat memulai program Chronic Disease Self-Management Programme (CDSMP). Program ini adalah program kursus pelatihan orang awam berupa keterampilan manajemen diri selama 6 minggu pada pasien-pasien penyakit kronis. Program ini menghasilkan pasien-pasien ahli akan penyakitnya sehingga dapat memanajemen dirinya sendiri. Hasilnya, menunjukkan perbaikan kondisi fisik jangka panjang dan penurunan biaya perawatan pasien kronis. Program ini akhirnya diadopsi oleh beberapa negara lain seperti Kananda, Inggris, dan Australia.[6]

Walaupun program ini banyak mendapatkan kritik terkait metode pengambilan datanya yang kurang representatif, program ini menunjukkan hasil-hasil yang dapat digunakan untuk memperbaiki hubungan dokter pasien. Program ini dinilai dapat membangun proses perubahan hidup pada pasien. Perbaikan hubungan dokter pasien juga terjadi.

Memandang kelompok pasien serba tahu menjadi salah satu modalitas terapi, memungkinkan dokter untuk:

  1. Membangun komunikasi lebih lancar. Pasien serba tahu biasanya memahami istilah-istilah medis sehingga memudahkan dokter menjelaskan kondisi pasien. Selain itu pasien-pasien ini juga sudah menyiapkan daftar pertanyaan dan masalah yang ingin dia kemukakan sehingga membuat waktu temu menjadi lebih efektif.
  2. Memudahkan menggali anamnesis pasien. Tak jarang pasien serba tahu ini sudah menuliskan gejala yang dialaminya secara detail. Dokter lebih mudah menarik lini masa perjalanan penyakit sehingga dapat menegakkan diagnosis dengan tepat.
  3. Membangun diskusi yang baik. Pasien serba tahu, terutama pasien dengan sakit kronis, mungkin lebih banyak mengetahui dibanding dokter, mungkin membaca sumber-sumber yang dokter tidak baca. Pasien juga dapat memberikan pendapatnya atas penyakitnya sendiri sehingga dapat terjadi diskusi yang baik.
  4. Pasien lebih peduli terhadap penyakitnya. Salah satu hambatan dalam pengobatan adalah pasien pasrah. Pasien serba tahu adalah pasien yang peduli akan penyakitnya dan biasanya memiliki tekat sembuh. Pasien-pasien ini akan lebih mudah diedukasi. Mereka juga cenderung lebih mudah untuk mengikuti anjuran dokter mengenai terapi, perubahan gaya hidup dan kunjungan lanjutan.[6]

Kesimpulan

  • Menghadapi pasien serba tahu merupakan tantangan tersendiri bagi para dokter klinisi. Pasien serba tahu harus dihadapi dengan seksama agar dapat membangun hubungan yang baik.
  • Profesional, jujur, berpengetahuan, dan mampu menempatkan emosi adalah kunci keberhasilan membangun komunikasi dokter pasien yang baik.
  • Pasien serba tahu sebaiknya tidak diangap sebagai penghalang dalam komunikasi, tetapi harus dimanfaatkan sebagai salah satu modalitas yang sangat mendukung keberhasilan terapi pasien.

Referensi