Makanan Cepat Saji Meningkatkan Risiko Asthma dan Penyakit Alergi Lainnya

Oleh dr. Immanuela Hartono

Konsumsi tinggi makanan cepat saji berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kronis, misalnya penyakit kardiovaskular. Studi menemukan konsumsi makanan cepat saji juga berkorelasi dengan penyakit alergi, terutama asthma.

Mekanisme Hubungan Makanan Cepat Saji dan Asthma atau Penyakit Alergi Lainnya

Pola diet tinggi makanan cepat saji berpengaruh terhadap asthma karena asthma merupakan penyakit dengan inflamasi kronis pada saluran napas. Pola diet tinggi makanan cepat saji yang tinggi akan lemak jenuh serta rendahnya antioksidan akan memicu aktivasi sistem imun seperti toll like receptor 4 (TLR4) yang akan menstimulasi jalur inflamasi NF-kB. Hal ini berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit alergi, terutama asthma. Peneliti juga menemukan bahwa pola diet yang tinggi lemak akan meningkatkan inflamasi saluran napas, yang akan meningkatkan produksi sputum neutrophil secara langsung.[1]

Depositphotos_25595207_m-2015_compressed

Studi mengenai Hubungan Makanan Cepat Saji dan Asthma atau Penyakit Alergi Lainnya

Penelitian pertama dilakukan oleh Wickens K, et al. pada tahun 2005 berupa uji potong lintang dengan sampel sebanyak 1321 anak usia 10 tahun hingga 12.5 tahun menggunakan kuisioner untuk melihat prevalensi asthma dan gejala asthma yang muncul serta frekuensi makanan cepat saji yang mereka konsumsi. Kuesioner kemudian didukung oleh dilakukannya tes cukil kulit terhadap alergen yang biasa memicu alergi serta menilai bronchial hyperresponsiveness (BHR) yang dipicu dengan olahraga. Setelah itu, dilakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan untuk menilai body mass index (BMI) para sampel dan dibagi ke kelompok berat badan lebih serta obesitas.

Hasil penelitian menunjukan asosiasi kausal dose-dependent, di mana semakin banyak konsumsi hamburger dalam satu minggu, semakin tinggi risiko asthma dan tingkat keparahan asthma yang terjadi. Berikut juga dengan frekuensi konsumsi makanan cepat saji yang dibeli dari luar mempunyai asosiasi terhadap bronchial hyperresponsiveness (BHR).[2]

Terdapat uji potong lintang lain yang dilakukan oleh International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) untuk melihat asosiasi antar konsumsi makanan dengan penyakit alergi pada anak sekolah.

Peneliti menganalisa data dari sampel yang lebih besar. Melalui metode randomisasi, didapat sampel sebanyak 319.196 anak remaja usia 13 hingga 14 tahun di 51 negara dan 181.631 anak usia 6 hingga 7 tahun di 31 negara. ISAAC Phase Three menggunakan kuisioner yang dibagikan pada para remaja serta orang tua dari anak-anak yang menanyakan gejala asthma, rhinitis alergi, konjungtivitis atopik dan dermatitis atopik serta tipe makanan yang mereka konsumsi selama 12 bulan terakhir.

Hasil penelitian mendukung hipotesis makan cepat saji lebih atau sama dengan 3 kali seminggu akan meningkatkan risiko eksaserbasi asthma berat pada remaja setinggi 39% dan 27% pada anak-anak, begitu juga akan risiko munculnya rhinokonjungtivitis dan dermatitis alergi. Sebaliknya, konsumsi buah-buahan lebih atau sama dengan 3 kali seminggu akan menurunkan prevalensi asthma berat sebanyak 11% pada remaja dan 14% pada anak-anak. Peneliti juga menjelaskan bahwa asosiasi ini mungkin dikarenakan adanya kandungan lemak jenuh, sodium, karbohidrat dan gula yang tinggi pada makanan cepat saji sehingga memungkinkan reaktivasi sistem imun. Sayangnya, kedua penelitian di atas menggunakan desain cross-sectional sehingga tidak bisa membuktikan asosiasi kausal dari kedua faktor ini.[3] Terdapat potensi bias karena konsumsi makanan cepat saji juga merupakan penanda dari risiko lain, seperti status sosioekonomi dan pemahaman akan kesehatan yang buruk.

Hasil dari kedua penelitian tersebut didukung oleh studi meta analisis tahun 2018 yang menyimpulkan bahwa konsumsi hamburger 3 kali seminggu atau lebih berkorelasi dengan asthma berat dibandingkan dengan konsumsi hamburger di bawah 3 kali seminggu. Walau demikian, meta analisis ini hanya terdiri dari penelitian cross-sectional dan case control.[4]

Kesimpulan

Studi yang ada menunjukkan adanya korelasi antara makanan cepat saji dan peningkatan risiko asthma serta penyakit alergi lainnya. Selain itu, terjadi peningkatan tingkat keparahan penyakit pada pasien dengan konsumsi makanan cepat saji yang tinggi. Walau demikian, hal ini masih memerlukan penelitian dengan metodologi yang lebih baik karena uji yang ada semuanya masih berupa uji potong lintang dan case control.

Terlepas dari ada tidaknya hubungan kausal antara makanan cepat saji dan asthma atau penyakit alergi lainnya, dokter sebaiknya menganjurkan pasien dengan pola konsumsi makanan cepat saji yang tinggi untuk mengurangi konsumsi makanan cepat sajinya dan beralih ke pola makan yang lebih sehat, misalnya pola diet Mediteranian yang kaya akan buah dan sayuran. Dengan demikian, pasien bisa menjadi lebih sehat dan terhindar dari risiko berbagai penyakit kronis, termasuk sindrom metabolik, dan diabetes mellitus tipe 2.

Referensi