Latihan Fisik pada Penderita Stroke Subakut: Bukti Ilmiah Terbaru

Oleh :
dr. Anyeliria Sutanto, Sp.S

Terdapat bukti ilmiah yang melaporkan bahwa latihan fisik pada penderita stroke subakut memiliki efikasi dan keamanan yang tidak lebih baik dibandingkan terapi standar.

Data epidemiologi menunjukkan setidaknya sepertiga dari 10.000.000 penderita stroke baru setiap tahun mengalami disabilitas dan keterbatasan dalam aktivitas harian. Intervensi rehabilitasi berupa latihan fisik telah lama dianjurkan pada penderita stroke, tetapi penerapannya pada fase subakut (5–45 hari setelah awitan stroke) masih menjadi perdebatan.[1-3]

shutterstock_1065873590

Dasar Anjuran Latihan Fisik pada  Penderita Stroke

Penderita stroke dengan gaya hidup yang tidak aktif mengalami peningkatan risiko stroke berulang dan kejadian kardiovaskular lain. Aktivitas fisik dan berolahraga pada penderita stroke dinilai memberi efek positif dengan meningkatkan kesehatan kardiovaskular, kemampuan bergerak, dan kekuatan otot. Selain itu, aktivitas fisik juga dinilai dapat memperbaiki gejala depresi, meningkatkan fungsi eksekutif, dan memperbaiki kualitas hidup.[1]

Rekomendasi Latihan Fisik Menurut Pedoman Klinis

Berdasarkan panduan AHA (American Heart Association) terdapat beberapa terapi fisik yang bisa diterapkan pada kasus stroke, dibedakan lebih lanjut menjadi terapi fase akut  dan terapi rehabilitasi lanjut. Latihan fisik fase akut meliputi latihan berjalan, perawatan diri, latihan berdiri atau duduk secara intermiten, aktivitas duduk, dan pergerakan motor ringan. Sementara itu, pada terapi rehabilitasi lanjut, AHA merekomendasikan terapi aerobik, kekuatan dan pertahanan otot, fleksibilitas, dan stimulasi neuromuskular. Pemilihan latihan fisik, frekuensi, intensitas, dan durasi yang dianggap tepat disesuaikan berdasarkan kondisi klinis masing-masing pasien[1]

Basis Bukti Ilmiah Terkait Latihan Fisik pada Penderita Stroke Subakut

Tinjauan Cochrane tahun 2020 berusaha menganalisis bukti ilmiah yang tersedia terkait manfaat dan keamanan latihan fisik pada kasus stroke secara umum (bukan hanya stroke subakut saja). Tinjauan ini menganalisis 75 studi dengan total partisipan 3.017 pasien, kebanyakan memiliki mobilitas baik.

Hasil tinjauan menunjukkan bahwa latihan kebugaran kardiorespirasi, terutama yang melibatkan kegiatan berjalan, efektif dalam meningkatkan kebugaran, keseimbangan, dan fungsi berjalan setelah stroke. Peningkatan kebugaran kardiorespirasi ini dapat menurunkan risiko rawat inap sebanyak 7%. Walaupun begitu, tinjauan ini tidak dapat mengambil kesimpulan pasti terkait efikasi latihan fisik terhadap kualitas hidup, mood, dan fungsi kognitif. Tinjauan ini juga menemukan bahwa latihan fisik merupakan intervensi yang aman, dalam artian tidak menyebabkan cedera ataupun masalah kesehatan lain.[4]

Uji klinis acak terkontrol buta tunggal terdahulu (2003) yang melibatkan 100 partisipan menunjukkan bahwa program latihan fisik bermanfaat dalam meningkatkan ketangkasan keseimbangan, dan mobilitas pada pasien stroke subakut. [5] Begitupun dengan studi lain oleh Billinger et al (2012) yang berusaha mengevaluasi apakah program latihan fisik 8 minggu mampu meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan performa fisik pasien dengan stroke subakut. Studi ini melibatkan 10 partisipan, di mana 9 pasien menyelesaikan intervensi latihan yang diberikan. Partisipan melakukan latihan recumbent stepper  3 kali seminggu selama 8 minggu. Hasil studi menunjukkan peningkatan kesehatan kardiovaskular, penurunan risiko kardiovaskular, dan peningkatan performa fisik yang diukur dengan uji berjalan 6 menit.[6]

Uji klinis acak terkontrol oleh Nave et al (2019) menunjukkan hasil berbeda. Uji klinis ini dilakukan multisenter pada 200 pasien stroke subakut dewasa. Intervensi yang diberikan adalah latihan fisik aerobik, angkat beban, atau latihan fisik berbasis treadmill masing-masing 25 menit, sebanyak 5 kali seminggu, selama 4 minggu, sebagai tambahan dari terapi rehabilitasi standar. Intervensi kontrol adalah terapi relaksasi. Hasil studi menunjukkan bahwa latihan fisik tidak superior terhadap kontrol dalam hal kecepatan berjalan dan perubahan skor indeks Barthel. Selain itu, jatuh lebih banyak dilaporkan pada pasien yang menjalani latihan fisik aerobik.[2]

Kesimpulan

Pedoman klinis yang ada telah menganjurkan latihan fisik bagi penderita stroke. Sebuah tinjauan Cochrane terbaru juga menunjukkan bahwa latihan fisik aman dan memiliki efikasi yang baik dalam hal meningkatkan kebugaran, keseimbangan, dan fungsi berjalan setelah stroke. Walaupun demikian, terdapat pula bukti ilmiah yang melaporkan bahwa latihan fisik pada fase subakut (3 bulan setelah awitan stroke) tidak lebih baik dibandingkan terapi relaksasi, dan bahkan memiliki potensi peningkatan risiko jatuh. Pemilihan kapan memulai, jenis, dan intensitas latihan fisik pada pasien stroke subakut sebaiknya disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing pasien.

Referensi