Latihan di Rumah Lebih Efektif Dibandingkan Fisioterapi untuk Nyeri Lutut – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr.Putra Rizki Sp.KO

A Randomized Trial of Physical Therapy for Meniscal Tear and Knee Pain

Katz JN, Collins JE, Bisson L, et al. NEJM. 2025. 393(17):1694-1703. doi: 10.1056/NEJMoa2503385.

studiberkelas

Abstrak

Latar Belakang: Fisioterapi secara rutin direkomendasikan untuk nyeri lutut yang disebabkan oleh robekan meniskus degeneratif, tetapi efikasinya belum jelas.

Metode: Penelitian ini melakukan randomisasi terhadap peserta berusia 45–85 tahun dengan keluhan nyeri lutut, osteoartritis, dan robekan meniskus ke dalam empat kelompok intervensi:

  • Latihan mandiri di rumah (program latihan mandiri selama 3 bulan)
  • Latihan mandiri di rumah + pesan teks untuk mendorong kepatuhan latihan
  • Latihan mandiri di rumah + pesan teks + fisioterapi standar, yang meliputi latihan penguatan, peregangan, latihan neuromuskular, serta terapi manual yang diawasi
  • Latihan mandiri di rumah + pesan teks + fisioterapi sham, berupa terapi manual sham dan ultrasonografi sham yang dilakukan di klinik.

Luaran primer adalah perbedaan antar kelompok dalam perubahan skor nyeri KOOS (Knee Osteoarthritis and Injury Outcome Score) antara baseline dan bulan ke-3, dengan penyesuaian terhadap lokasi penelitian, skor nyeri KOOS awal, dan derajat radiografik (skala 0 = terbaik hingga 100 = terburuk).

Hasil: Sebanyak 879 peserta dirandomisasi, dengan usia rata-rata 59,2 tahun (SD 7,8). Perbedaan perubahan skor nyeri dalam 3 bulan antara kelompok latihan mandiri di rumah dibandingkan dengan latihan mandiri di rumah + pesan teks adalah −0,1 poin (IK 98,3% −3,8 hingga 3,7).

Perbedaan antara latihan mandiri di rumah dibandingkan dengan kelompok latihan mandiri di rumah + pesan teks + fisioterapi standar adalah 2,5 poin (IK 98,3% −1,3 hingga 6,2). Sementara itu, perbedaan antara kelompok latihan mandiri di rumah + pesan teks dibandingkan dengan kelompok latihan mandiri di rumah + pesan teks + fisioterapi standar juga sebesar 2,5 poin (IK 98,3% −1,4 hingga 6,5).

Kejadian tidak diinginkan jarang terjadi, umumnya ringan, dan terdistribusi merata di seluruh kelompok.

Kesimpulan: Pada pasien dengan robekan meniskus degeneratif dan nyeri lutut, penambahan fisioterapi atau pesan teks untuk meningkatkan kepatuhan terhadap latihan mandiri tidak memberikan manfaat tambahan dalam menurunkan nyeri dibandingkan dengan program latihan mandiri di rumah saja.

Latihan di Rumah Lebih Efektif Dibandingkan Fisioterapi untuk Nyeri Lutut

Ulasan Alomedika

Robekan meniskus degeneratif dan nyeri lutut merupakan kondisi yang sering dijumpai di praktik, sering kali beriringan dengan osteoartritis lutut, dan menjadi penyebab nyeri kronis atau keterbatasan fungsi. Meski latihan mandiri di rumah, fisioterapi, dan intervensi untuk meningkatkan kepatuhan (seperti pesan teks) kerap digunakan di praktik, bukti komparatif mengenai manfaat masing-masing strategi tersebut masih terbatas.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trial/RCT) multisenter dengan 4 lengan intervensi. Subjek penelitian adalah pasien usia 45–85 tahun dengan nyeri lutut, robekan meniskus degeneratif yang terkonfirmasi melalui MRI, serta osteoartritis lutut derajat ringan hingga sedang.

Peserta dirandomisasi ke dalam 4 kelompok, yaitu:

  • Latihan mandiri di rumah
  • Latihan mandiri di rumah dengan dukungan pesan teks untuk meningkatkan kepatuhan
  • Latihan mandiri dengan pesan teks ditambah fisioterapi standar di klinik
  • Latihan mandiri dengan pesan teks ditambah fisioterapi sham.

Randomisasi dilakukan dengan stratifikasi berdasarkan lokasi penelitian dan derajat radiografik osteoartritis untuk menjaga keseimbangan karakteristik antar kelompok.

Luaran primer penelitian adalah perubahan skor nyeri KOOS dari awal hingga 3 bulan, dengan penyesuaian terhadap skor awal dan faktor perancu. Analisis statistik dilakukan menggunakan model regresi linear dan koreksi untuk perbandingan multipel sesuai rencana analisis yang telah ditetapkan.

Dengan memasukkan kelompok fisioterapi sham, desain penelitian ini memungkinkan evaluasi terhadap efek spesifik fisioterapi dibandingkan efek non-spesifik, seperti interaksi terapeutik dan perhatian klinis, sehingga memperkuat validitas internal hasil penelitian.

Ulasan Hasil Penelitian

Penelitian ini melibatkan 879 pasien dengan usia rata-rata 59,2±7,8 tahun yang mengalami robekan meniskus degeneratif dan nyeri lutut.

Luaran pada Tiga Bulan:

Pada evaluasi 3 bulan, seluruh kelompok intervensi menunjukkan perbaikan nyeri yang besar, dengan penurunan skor KOOS sekitar 17–20 poin dari nilai awal. Namun, tidak ditemukan perbedaan bermakna antar kelompok.

Perbedaan perubahan skor KOOS antara kelompok latihan mandiri dan latihan mandiri dengan pesan teks hanya –0,1 poin, sedangkan perbedaan antara latihan mandiri dan latihan mandiri dengan tambahan fisioterapi standar sebesar 2,5 poin (berada di bawah ambang perbaikan klinis bermakna).

Penambahan pesan teks untuk meningkatkan kepatuhan tidak terbukti memberikan manfaat tambahan terhadap penurunan nyeri. Demikian pula, hasil antara kelompok fisioterapi standar dan fisioterapi sham hampir sebanding.

Luaran pada Enam dan Dua Belas Bulan:

Pada tindak lanjut 6 bulan, kelompok fisioterapi standar menunjukkan penurunan nyeri yang sedikit lebih besar dibandingkan latihan mandiri saja, dengan selisih sekitar 4,1 poin Meski begitu, perbedaan ini berasal dari analisis sekunder dan tidak konsisten pada evaluasi 12 bulan. Selain itu, tidak ditemukan perbedaan bermakna antar kelompok dalam luaran sekunder seperti fungsi aktivitas sehari-hari, kekuatan otot, maupun tes performa fungsional.

Kelebihan Penelitian

Desain uji klinis acak terkontrol multisenter dengan jumlah sampel besar meningkatkan validitas internal dan kekuatan statistik hasil penelitian. Penggunaan empat lengan intervensi, termasuk kelompok fisioterapi sham, merupakan keunggulan utama karena memungkinkan pemisahan antara efek spesifik intervensi fisioterapi dan efek kontekstual seperti interaksi terapeutik dan perhatian klinis.

Luaran primer yang digunakan, yaitu skor KOOS, merupakan instrumen terstandar dan tervalidasi luas, serta analisis statistik dilakukan dengan penyesuaian terhadap faktor perancu dan koreksi perbandingan multipel. Selain itu, tingkat kepatuhan latihan dan kejadian efek samping turut dipantau, dengan angka kejadian efek samping yang rendah dan seimbang antar kelompok.

Limitasi Penelitian

Komposisi subjek penelitian didominasi oleh peserta dari ras kulit putih, sehingga generalisasi hasil ke populasi yang lebih beragam menjadi terbatas. Selain itu, seluruh kelompok intervensi mendapatkan program latihan mandiri, sehingga sulit untuk memisahkan secara pasti efek latihan itu sendiri dari faktor non-spesifik lain.

Durasi sesi fisioterapi yang relatif singkat dan mencerminkan praktik klinis di Amerika Serikat juga membatasi penerapan temuan pada sistem layanan kesehatan dengan model terapi yang berbeda. Selain itu, kecenderungan perbaikan nyeri yang sedikit lebih besar pada kelompok fisioterapi pada tindak lanjut 6 dan 12 bulan berasal dari analisis sekunder tanpa penyesuaian multipel, sehingga tidak dapat dianggap sebagai bukti yang kuat.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Secara klinis, penelitian ini menunjukkan bahwa pada pasien dengan robekan meniskus degeneratif dan nyeri lutut, program latihan mandiri di rumah yang terstruktur sudah cukup efektif. Menurut penelitian ini, penambahan fisioterapi tatap muka intensif maupun intervensi pesan teks untuk meningkatkan kepatuhan tidak memberikan manfaat tambahan yang bermakna secara klinis terhadap nyeri dan fungsi dalam jangka pendek hingga menengah.

Hal ini menegaskan pentingnya keterlibatan aktif pasien dalam proses rehabilitasi. Pendekatan pemilihan terapi bisa dilakukan secara bertahap, yang mana latihan mandiri dapat dijadikan pilihan utama dan fisioterapi tatap muka dapat dipertimbangkan secara selektif pada pasien dengan kebutuhan khusus (misalnya keterbatasan kognisi). Temuan ini juga relevan dalam konteks efisiensi biaya, akses layanan, dan pencegahan overtreatment.

Referensi