Memberikan Resep Obat bukan Logo Hijau secara Online - Diskusi Dokter

general_alomedika

Dok, seperti yang kita ketahui sudah banyak platform medis yang menghubungkan pasien dengan dokter secara online tanpa tatap muka. Bahkan ada platform online...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Memberikan Resep Obat bukan Logo Hijau secara Online

    27 Januari 2019, 06:55
    Anonymous
    Anonymous
    Dokter Umum

    Dok, seperti yang kita ketahui sudah banyak platform medis yang menghubungkan pasien dengan dokter secara online tanpa tatap muka. Bahkan ada platform online medis yang bisa memberikan resep dokter (bukan obat logo hijau) tanpa adanya pemeriksaan langsung (pemeriksaan fisik). Apakah itu etis ? Karena dikhawatirkan dapat membuat mengurangi kunjungan pasien ke klinik pribadi jika dibiarkan.


27 Januari 2019, 07:43
Iya Dok,  Saya juga pernah lihat.  Tapi masih belum tahu,  apakah memang yang diberikan masih di label hijau atau tidak, jika hanya label hijau saja Saya rasa tidak masalah,  karena tentunya secanggih apapun teknologi telekomunikasi,  tidak dapat menggantikan peran penting pemeriksaan fisik langsung. 
27 Januari 2019, 08:13
Alodok!
Saya juga sempat di informasikan oleh sejawat lain tentang hal serupa, bahkan menurut informasinya bisa memberikan resep juga, tapi saya kurang tau batasan pemberian obat nya. Apakah hanya yg berlabel hijau atau semua obat.

Menurut saya ini kurang etis, juga sangat berisiko, karena data dr anamnesis saja. Karena meskipun petunjuk diagnosis paling besar di dapat dari anamnesis, tapi perlu di tunjang dengan pemeriksaan fisik juga.
27 Januari 2019, 08:56
Setuju Dok. 
03 April 2019, 10:23

Setuju dok, kasus yg menarik

03 April 2019, 12:21
dr. Firmansyah SpTHTKL
dr. Firmansyah SpTHTKL
Dokter Spesialis THT

Saya pernah buka forum dan download aplikasinya dok, dan memang benar ada beberapa obat logo merah yg di resepkan oleh dokter disitu.

03 April 2019, 13:57
Saya pernah dok, terpaksa, saya membeli obat dengan platform online. Awalnya ingin membeli hanya untuk simtomatik, kemudian ada nama nama antibiotik, sy coba beli saja, masalah boleh atau tidak, sy pikir urusan nanti, karena waktu itu memang saya merasa perlu antibiotik

Ternyata tetap bs beli, hanya, setelahnya ada pihak dari platform yang menelepon saya, intinya tanya, siapa yang mensarankan, apakah atas anjuran atau resep dokter? Poin saya, pada akhirnya tetap bs beli bebas, la wong obatnya sudah di saya 
03 April 2019, 13:57
Untuk kasus saya, ini hanya aplikasi ya, seperti belanja, tidak dihubungkan dengan dokter bahkan
04 April 2019, 18:38
Pada kasus ini sebenarnya menurut saya tidak etis. Karena menurut Pasal 2 KODEKI Tahun 2012 menyatakan bahwa seorang dokter wajib selalu melakukan pengambilan keputusan profesional secara independen dan mempertahankan perilaku profesional dalam ukuran tertinggi.

Pengambilan keputusan kedokteran yang profesional yang dimaksud pada Pasal 2, dilakukan setelah melakukan pemeriksaan dan penilaian yang teliti terhadap pasien dengan menggunakan standar atau pedoman pelayanan kedokteran yang telah diakui secara sah.

Pemberian terapi obat-obatan (gol. obat keras) tanpa melakukan pemeriksaan langsung tidaklah tepat. Dalam melaksanakan praktik kedokteran, dokter seharusnya bekerja berdasarkan keluhan atau masalah pasien/klien, kemudian dilanjutkan dengan penelusuran riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Karena dalam pemberian terapi obat keras, seseorang dokter perlu memperhatikan aspek klien secara holistik dan komprehensif, yang umumnya tidak dapat dilakukan melalui konsultasi online. Hal ini bertujuan agar dapat memberikan upaya penyembuhan bagi pasien/klien yang yang diharapkan tidak merugikan bagi pasien. 

Jadi pada hakikatnya konsultasi online tidak dapat menggantikan interaksi langsung antara dokter dan pasien terutama dalam hal diagnosis dan terapi.