Kesalahan Peresepan pada Sistem Rekam Medis Elektronik

Oleh dr. Josephine Darmawan

Kesalahan peresepan merupakan masalah yang terus membayangi dokter. Di masa di mana rekam medik dan resep dibuat menggunakan sistem digital (rekam medik eletronik), kesalahan peresepan tetap menjadi salah satu penyebab kesalahan medis. Bahkan risiko penyebab kesalahan peresepan justru bertambah pada penggunaan rekam medik elektronik. Tenaga kesehatan dan juga pihak manajemen rumah sakit perlu mempelajari mengenai penyebab kesalahan peresepan sehingga dapat mencegah dan meminimalisir risiko terjadinya kesalahan ini.[1-3]

OpenEMR-Prescription_Bradygmiller_Wikimedia commons_2009_compressed

Rekam medis (RM) adalah suatu berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan informasi lain terkait kesehatan pasien yang diterima pasien pada sarana kesehatan, baik yang  menjalani rawat jalan maupun rawat inap. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 tahun 2008 (Permenkes 269/2008), terdapat dua jenis rekam medis (RM) yang diakui, yaitu rekam medis konvensional dan rekam medis elektronik. Kedua jenis RM ini memiliki kekuatan hukum yang sama, sebagaimana juga diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Nomor 11 tahun 2008.[3,4]

Rekam Medis Elektronik

Rekam medis elektronik merupakan salah satu bentuk informasi kesehatan yang dibuat oleh dokter, dokter gigi, atau petugas kesehatan lain secara terkomputerisasi, yang berisi data-data pasien dan berkekuatan hukum. Jenis data yang termasuk ke dalam rekam medis elektronik adalah:

  • Teks: kode, narasi, laporan
  • Gambar: grafik komputer, hasil scanning, hasil ronsen/CT scan/MRI
  • Suara
  • Video

Penggunaan sistem yang terkomputerisasi membuat sistem informasi rumah sakit terintegrasi dan dapat diakses secara online, sehingga pelayanan kesehatan dapat menjadi lebih cepat.[3,4]

Salah satu penelitian di RS Universitas Gadjah Mada, menilai bahwa penggunaan rekam medik elektronik cukup berhasil dengan angka kepuasan total 0.602, tetapi penggunaan rekam medis elektronik masih harus dikembangkan dan disempurnakan karena masih memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan.[2,3]

Kelebihan Rekam Medis Elektronik

Rekam medis elektronik memiliki kelebihan sebagai berikut:

  • Akses mudah dan cepat
  • Perubahan data meninggalkan “jejak elektronik”
  • Meningkatkan kepuasan pasien
  • Akurasi pendokumentasian lebih baik
  • Penelusuran informasi medis yang cepat dan tepat
  • Sistem terintegrasi interdepartemen dalam rumah sakit bahkan dengan luar rumah sakit
  • Penyimpanan yang ringkas dan tidak memerlukan ruangan khusus
  • Meningkatkan keamanan pasien/patient safety[1,5]

Kekurangan Rekam Medis Elektronik

Di sisi lain, rekam medis elektronik juga memiliki kekurangan sebagai berikut:

  • Risiko malware dan error

  • Dapat terjadi kesalahan dalam proses input atau edit data
  • Dapat diretas
  • Biaya yang mahal untuk mengembangkan dan merawat sistem agar tetap baik
  • Sangat bergantung pada ketersediaan sumber tenaga listrik[1,5]

Perbandingan Peresepan Konvensional dan Elektronik

Kesalahan peresepan konvensional secara garis besar dibagi ke dalam 5 kategori, yaitu: salah pasien (wrong patient), salah obat (wrong drug), salah dosis (wrong dose), salah rute pemberian (wrong route), salah frekuensi, kuantitas, durasi, potensi obat, dan salah waktu pemberian (wrong timing). Faktor penyebab kesalahan terbesar pada peresepan konvensional ini adalah kesalahan sumber daya manusia (SDM)/human error. Hal ini dapat terjadi karena panjangnya jam kerja, fokus dokter yang menurun, pengalaman dan pengetahuan farmakologis dokter yang kurang, penjelasan terapi ke pasien yang minimal, dan sebagainya.[6,7]

 Kesalahan peresepan konvensional ini juga dapat terjadi pada peresepan elektronik, hanya saja pemberian resep secara elektronik dapat mengurangi kesalahan dalam intepretasi resep akibat tulisan tangan dokter yang tidak terbaca dengan jelas. Selain itu, pada peresepan elektronik juga dapat terjadi kesalahan karena sistem komputerisasi dan interaksinya dengan SDM. Meskipun jenis kesalahan yang dapat terjadi lebih banyak dibandingkan peresepan konvensional, pemberian resep secara elektronik menawarkan dokumentasi obat yang jelas, baik dari nama obat, dosis obat, sediaan, serta cara konsumsi obat, sehingga secara keseluruhan dapat menurunkan tingkat kesalahan dalam peresepan.[6,7] Salah satu penelitian pada 14.000 pemberian resep obat menunjukkan bahwa penggunaan resep elektronik mengurangi kesalahan sebanyak 3.1% (95% CI 2.2 – 4.0). Kesalahan dosis obat menurun dari 8% (sebelum RME) menjadi 5.4% (setelah RME) dengan reduksi risiko absolut 2.6% (95% CI 2.2%-4.0%).[7]

Faktor Penyebab Kesalahan Peresepan Elektronik

Kesalahan peresepan juga dapat terjadi pada pemberian resep secara elektronik. Setiap proses dari peresepan dapat menyebabkan kesalahan, baik dari kesalahan sistem, kesalahan pengguna (human error), atau kesalahan interaksi sistem-pengguna.[8,9]

Kesalahan Sistem Komputer

Kesalahan sistem teknis komputer merupakan salah satu faktor yang terpenting. Sistem yang kurang baik dapat mengelami malfungsi, sehingga memperlambat proses pelayanan kesehatan. Sistem error juga dapat menyebabkan duplikasi pada peresepan, kesalahan pengiriman resep (misalnya, data terkirim ke departemen yang berbeda atau farmasi yang berbeda), dan kesalahan dalam pengeluaran resep (misalnya hasil pencetakan kertas resep yang tidak jelas). Perawatan sistem yang tidak baik dan adanya malware merupakan faktor penyebab kesalahan sistem yang paling sering.[6,8,9]

Kesalahan Pengguna

Kesalahan pengguna, terutama dokter, juga berkontribusi dalam salah pemberian resep. Penilaian klinis dokter yang salah dan ketidaktelitian dalam input obat merupakan penyebab yang paling sering terjadi. Sama halnya dengan peresepan konvensional, jam kerja yang panjang, kurang pengalaman, kelelahan, merupakan faktor-faktor yang mendorong human error dapat terjadi.[6-9]

Kesalahan Interaksi Sistem-Pengguna

Kesalahan interaksi antara sistem-pengguna juga dapat terjadi. Hal yang paling sering adalah sistem ­pengisian otomatis (auto-filling) atau pembetulan otomatis (auto-correct). Sistem sering kali memberikan pilihan untuk pengisian otomatis, terutama pada obat-obat yang sering dipakai atau obat dengan nama yang kurang lebih sama. Jika dokter tidak cermat dalam menggunakan fitur ini, dapat terjadi kesalahan pemberian obat, terutama pada obat dengan nama yang kurang lebih sama. Pengetahuan dokter yang kurang juga dapat menyebabkan dokter secara tidak sadar melakukan kesalahan dalam menggunakan fitur ini.[8,9]

Pihak penyedia layanan kesehatan, terutama manajemen rumah sakit, juga berperan penting dalam menyebabkan kesalahan-kesalahan pada sismte RME. Hal-hal yang sering kali terjadi adalah ketidaksempurnaan dalam mengembangkan sistem yg adekuat, kurangnya biaya yang dialokasikan dalam pengembangan dan perawatan sistem, tidak adanya algoritma atau standar operasional prosedur (SOP) yang baik dalam menjalankan sistem RME, dan tidak ada sistem untuk mencegah kesalahan.[8,9]

Mencegah Kesalahan Resep Elektronik

Kesalahan dalam pemberian resep elektronik dapat dicegah dengan menerapkan protokol untuk mencegah kesalahan pemberian resep yang baik, dalam hal ini manajemen rumah sakit memegang peranan yang penting. Metode-metode yang dapat diterapkan juga tidak jauh berbeda dengan peresepan konvensional. Kebijakan untuk melakukan pengecekan obat kembali/double-check sebelum obat diberikan ke pasien dengan prinsip “5 benar”, yaitu: pasien yang benar, obat yang benar, dosis yang benar, rute pemberian obat yang benar, dan frekuensi serta durasi pemberian obat yang benar tetap harus dilakukan.[6,7,10-12] Hal yang dapat ditambahkan pada sistem RME adalah protokol untuk error recovery.

Proses error recovery terdiri dari 3 tahap, yaitu: deteksi, penjelasan, dan pembenaran. Apoteker dan farmasi memegang peranan penting dalam menjalankan proses ini. Apoteker harus terampil dalam mendeteksi kesalahan input yang mungkin terjadi, baik dari duplikasi resep, kesalahan obat, salah dosis, salah rute pemberian, salah sediaan, dan salah waktu pemberian. Apoteker dan farmasi harus melakukan konfirmasi kembali ke dokter dan menanyakan kembali tentang terapi farmakologi yang diberikan. Setelah itu harus dilakukan pembenaran terhadap resep yang semula diberikan dalam sistem rekam medis elektronik, kemudian melakukan mengeluarkan resep. Proses pengecekan kembali dan recovery error ini juga dapat dimasukkan ke dalam sistem peresepan rekam medis elektronik. Pengembangan sistem resep elektronik yang baik, mulai dari server, jaringan rumah sakit, hingga pengadaan personel terlatih untuk merawat sistem komputer rumah sakit akan mengurangi risiko terjadi kesalahan secara lebih optimal.[6,8,11,12]

Komponen yang tidak kalah penting dari sistem dan protokol rumah sakit adalah dokter/physician, apotek/pharmacist, dan pasien/patient (3P) sendiri. Dokter, apoteker, dan pasien masing-masing memiliki peranan yang berbeda dalam mencegah kesalahan peresepan. Komunikasi yang baik antara dokter dan pasien dalam menjelaskan penyakit dan pengobatan akan membuat pasien mengerti kebutuhan terapinya, sehingga dapat menjadi lebih awas ketika terdapat kesalahan dalam resep yang diberikan. Keterampilan dan ketepatan dokter dalam memberikan terapi farmakologi juga akan mengurangi kesalahan persepan. Dokter, apoteker, serta pasien yang cermat akan dapat mendeteksi kesalahan yang terjadi, sehingga efek fatal dari salah minum obat dapat dicegah.[6,8,12]

Kesimpulan

Penggunaan rekam medik elektronik tidak dapat ditunda lagi, terutama pada era globalisasi. Rekam medik elektronik meningkatkan efisiensi dalam pelayanan kesehatan, tetapi tetap tidak terhindar dari kesalahan-kesalahan, terutama dalam pemberian resep elektronik. Kesalahan yang dapat terjadi pada peresepan elektronik tidak berbeda dari resep konvensional, hanya saja resep elektronik dapat mengurangi risiko kesalahan dalam intepretasi tulisan tangan dokter, sehingga secara keseluruhan dapat mengurangi kesalahan dalam peresepan obat. Kesalahan-kesalahan dalam peresepan ini secara garis besar dapat dicegah dengan menerapkan sistem double-check dengan prinsip 5 benar dan konsep 3P. Selain itu, pada rumah sakit dengan sistem rekam medis elektronik dapat dikembangkan protokol untuk error recovery yang baik untuk membantu minimalisir kesalahan terkait sistem elektronik. Kecermatan dokter, apoteker, dan pasien sendiri sangat berpengaruh pada keamanan layanan kesehatan, baik di rumah sakit dengan sistem terintegrasi secara elektronik ataupun dengan sistem konvensional.

Referensi