Pengaruh krusta terhadap proses penyembuhan luka - Diskusi Dokter

general_alomedika

Alo dokter, mohon infonya...apakah jika kita melepaskan krusta pada suatu luka, dapat mengganggu proses penyembuhan luka tersebut? AtauApakah krusta tersebut...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Pengaruh krusta terhadap proses penyembuhan luka

    11 September 2019, 11:08
    dr.callista
    dr.callista
    Dokter Umum

    Alo dokter, mohon infonya...

    apakah jika kita melepaskan krusta pada suatu luka, dapat mengganggu proses penyembuhan luka tersebut? Atau

    Apakah krusta tersebut justru harus dilepaskan supaya mempercepat proses penyembuhan?

    Terima kasih

11 September 2019, 11:21
dr. David, Sp.B, FINACS
dr. David, Sp.B, FINACS
Dokter Spesialis Bedah
Alo dokter!
Tindakan melepaskan krusta tsb merupakan bagian dari tindakan nekrotomi, yaitu membuang jaringan kulit mati. Dan tindakan ini membantu mempersiapkan bed luka (wound bed) agar terjadi proses penyembuhan sesuai waktu normalnya.
Semoga bermanfaat! 
11 September 2019, 14:03
dr. Zulherman
dr. Zulherman
Dokter Umum
Terimakasih infonya dok πŸ™
11 September 2019, 16:07
dr.callista
dr.callista
Dokter Umum
Tmksh utk infonya dokπŸ™πŸ™πŸ™
13 September 2019, 05:45
dr. Heriyanto Hidayat, Sp.PD.
dr. Heriyanto Hidayat, Sp.PD.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Ok dok
13 September 2019, 20:38
Terimakasih infonya Dok.
12 September 2019, 19:03
dr. Alki Andana, Sp.BP-RE
dr. Alki Andana, Sp.BP-RE
Dokter Spesialis Bedah Plastik
Alo dokter,

Sangat setuju dengan TS Bedah, memang merupakan tindakan yg hrs dilakukan. 

Memang harus hati2 utk membersihkan krusta karena nyeri, sebelum mengangkat lakukan kompres dengan Cairan fisiologis hangat sampai krusta menjadi lunak utk dapat diangkat perlahan.

Krusta harus dibuang karena merupakan jaringan nekrotik yang mana tempat paling disukai oleh bakteri, hal ini apabila dibiarkan dapat menyebabkan problem infeksi.

Walaupun hanya infeksi lokal tapi dapat membuat luka menjadi lama sembuh. Apabila sudah terlanjur infeksi TS dapat menambahkan AB topikal untuk therapinya.

Semoga bermanfaat.
13 September 2019, 05:45
dr. Heriyanto Hidayat, Sp.PD.
dr. Heriyanto Hidayat, Sp.PD.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Ok dok
13 September 2019, 08:12
dr.callista
dr.callista
Dokter Umum
Baik. Terima kasih dokterπŸ™πŸ™
13 September 2019, 09:04
dr. Depi Jufri, Sp.THT-KL
dr. Depi Jufri, Sp.THT-KL
Dokter Spesialis THT
Terimakasih infonya dok..
13 September 2019, 09:04
dr. Depi Jufri, Sp.THT-KL
dr. Depi Jufri, Sp.THT-KL
Dokter Spesialis THT
Terimakasih infonya dok..
13 September 2019, 20:39
Mantap Dok, sangat bermanfaat πŸ™
13 September 2019, 10:26
dr.Evan Elian
dr.Evan Elian
Dokter Umum
Terima kasih infonya dokter
13 September 2019, 20:19
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
Dokter Spesialis Bedah Plastik
Alo Dokter! 
Izin ikut berdiskusi ya.
Dalam keseharian praktik, saya mencermati bahwa kadang ada klinisi yang kurang jeli membedakan eschar dengan krusta/scab (dlm bahasa awam sering disebut "koreng").

Eschar merupakan jaringan nonvital/mati yang terdapat pada luka full-thickness. Idealnya dilakukan escharektomi supaya fase penyembuhan dapat berlanjut dng munculnya jaringan granulasi dan juga mencegah/mengontrol infeksi.

Krusta/scab/koreng merupakan lapisan kering yang terbentuk pada luka akibat koagulasi darah dan eksudat. Krusta terdapat pada luka yang dangkal (superficial atau partial-thickness). Krusta melindungi jaringan di bawahnya yang sedang berproses menyembuh (granulasi menjadi epitelisasi). Analoginya bisa diibaratkan sbg pelindung/topi bagi jaringan di bawahnya yg sedang berproses menyembuh.

Krusta sebaiknya tidak dipaksakan utk dilepas sebelum jaringan di bawahnya mengalami epitelisasi sempurna. Jika dipaksa dilepas namun jaringan di bawahnya belum epitelisasi sempurna, maka saat terlepas, jaringan yang sedang menyembuh tersebut mengalami trauma dan "setback" menjadi granulasi kembali. Tentu hal ini mengganggu efisiensi penyembuhan luka dan luka justru akan menyembuh lebih lama.

Disarankan untuk rutin menjaga kelembaban luka termasuk area berkrusta dengan ointment minimal 2x/hari. Jika epitelisasi telah sempurna,maka krusta tentu akan mudah terangkat pada waktunya. 

Jadi, jangan lupa selalu identifikasi kondisi luka dengan baik. Bedakanlah eschar dengan krusta krn tatalaksana yang dipilih akan berbeda dan mempengaruhi proses penyembuhan luka secara signifikan.

Berikut artikel singkat yang dapat dibaca

https://www.woundsource.com/blog/knowing-difference-between-scabs-and-eschar

Semoga bermanfaat.
Terima kasih
13 September 2019, 21:09
Terimakasih untuk infonya Dok.
13 September 2019, 22:06
Terimakasih ilmunya dokter,sangat bermanfaat. Untuk scab ini ointment apa yang sebaiknga diberikan ya dokter? Apa bisa dengan salep antibakteri seperti gentamisin atau bacitracin? 
14 September 2019, 13:10
dr.callista
dr.callista
Dokter Umum
Nice dok. Terima kasih sekali utk infonya. Kedepannya akan lebih sy perhatikan dlm membedakan eschar dan krustaπŸ™
14 September 2019, 13:10
dr.callista
dr.callista
Dokter Umum
Nice dok. Terima kasih sekali utk infonya. Kedepannya akan lebih sy perhatikan dlm membedakan eschar dan krustaπŸ™
14 September 2019, 18:46
Terima kasih informasinya dokter
14 September 2019, 14:09
13 September 2019, 20:19
Alo Dokter! 
Izin ikut berdiskusi ya.
Dalam keseharian praktik, saya mencermati bahwa kadang ada klinisi yang kurang jeli membedakan eschar dengan krusta/scab (dlm bahasa awam sering disebut "koreng").

Eschar merupakan jaringan nonvital/mati yang terdapat pada luka full-thickness. Idealnya dilakukan escharektomi supaya fase penyembuhan dapat berlanjut dng munculnya jaringan granulasi dan juga mencegah/mengontrol infeksi.

Krusta/scab/koreng merupakan lapisan kering yang terbentuk pada luka akibat koagulasi darah dan eksudat. Krusta terdapat pada luka yang dangkal (superficial atau partial-thickness). Krusta melindungi jaringan di bawahnya yang sedang berproses menyembuh (granulasi menjadi epitelisasi). Analoginya bisa diibaratkan sbg pelindung/topi bagi jaringan di bawahnya yg sedang berproses menyembuh.

Krusta sebaiknya tidak dipaksakan utk dilepas sebelum jaringan di bawahnya mengalami epitelisasi sempurna. Jika dipaksa dilepas namun jaringan di bawahnya belum epitelisasi sempurna, maka saat terlepas, jaringan yang sedang menyembuh tersebut mengalami trauma dan "setback" menjadi granulasi kembali. Tentu hal ini mengganggu efisiensi penyembuhan luka dan luka justru akan menyembuh lebih lama.

Disarankan untuk rutin menjaga kelembaban luka termasuk area berkrusta dengan ointment minimal 2x/hari. Jika epitelisasi telah sempurna,maka krusta tentu akan mudah terangkat pada waktunya. 

Jadi, jangan lupa selalu identifikasi kondisi luka dengan baik. Bedakanlah eschar dengan krusta krn tatalaksana yang dipilih akan berbeda dan mempengaruhi proses penyembuhan luka secara signifikan.

Berikut artikel singkat yang dapat dibaca

https://www.woundsource.com/blog/knowing-difference-between-scabs-and-eschar

Semoga bermanfaat.
Terima kasih
Terima kasih dok infonya, sangat bermanfaat
14 September 2019, 14:49
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
Dokter Spesialis Bedah Plastik
13 September 2019, 22:06
Terimakasih ilmunya dokter,sangat bermanfaat. Untuk scab ini ointment apa yang sebaiknga diberikan ya dokter? Apa bisa dengan salep antibakteri seperti gentamisin atau bacitracin? 
Pilihan ointment spt yg Dokter sebutkan boleh diberikan. Saya pribadi paling sering memberikan ointment kombinasi neomycin sulfate dng bacitracin (N*b*cetin ointment).
14 September 2019, 18:47
Baik dokter, terimakasih sarannya πŸ™
14 September 2019, 14:49
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
Dokter Spesialis Bedah Plastik
13 September 2019, 22:06
Terimakasih ilmunya dokter,sangat bermanfaat. Untuk scab ini ointment apa yang sebaiknga diberikan ya dokter? Apa bisa dengan salep antibakteri seperti gentamisin atau bacitracin? 
Pilihan ointment spt yg Dokter sebutkan boleh diberikan. Saya pribadi paling sering memberikan ointment kombinasi neomycin sulfate dng bacitracin (N*b*cetin ointment).
29 November 2019, 15:44
13 September 2019, 20:19
Alo Dokter! 
Izin ikut berdiskusi ya.
Dalam keseharian praktik, saya mencermati bahwa kadang ada klinisi yang kurang jeli membedakan eschar dengan krusta/scab (dlm bahasa awam sering disebut "koreng").

Eschar merupakan jaringan nonvital/mati yang terdapat pada luka full-thickness. Idealnya dilakukan escharektomi supaya fase penyembuhan dapat berlanjut dng munculnya jaringan granulasi dan juga mencegah/mengontrol infeksi.

Krusta/scab/koreng merupakan lapisan kering yang terbentuk pada luka akibat koagulasi darah dan eksudat. Krusta terdapat pada luka yang dangkal (superficial atau partial-thickness). Krusta melindungi jaringan di bawahnya yang sedang berproses menyembuh (granulasi menjadi epitelisasi). Analoginya bisa diibaratkan sbg pelindung/topi bagi jaringan di bawahnya yg sedang berproses menyembuh.

Krusta sebaiknya tidak dipaksakan utk dilepas sebelum jaringan di bawahnya mengalami epitelisasi sempurna. Jika dipaksa dilepas namun jaringan di bawahnya belum epitelisasi sempurna, maka saat terlepas, jaringan yang sedang menyembuh tersebut mengalami trauma dan "setback" menjadi granulasi kembali. Tentu hal ini mengganggu efisiensi penyembuhan luka dan luka justru akan menyembuh lebih lama.

Disarankan untuk rutin menjaga kelembaban luka termasuk area berkrusta dengan ointment minimal 2x/hari. Jika epitelisasi telah sempurna,maka krusta tentu akan mudah terangkat pada waktunya. 

Jadi, jangan lupa selalu identifikasi kondisi luka dengan baik. Bedakanlah eschar dengan krusta krn tatalaksana yang dipilih akan berbeda dan mempengaruhi proses penyembuhan luka secara signifikan.

Berikut artikel singkat yang dapat dibaca

https://www.woundsource.com/blog/knowing-difference-between-scabs-and-eschar

Semoga bermanfaat.
Terima kasih
Sangat bermanfaat Dok, terimakasih atas ilmunya.
Mau bertanya dok, apakah pemberian kortikosteroid akan berpengaruh terhadap granulasi luka Dok? Sy sering menemui pasien autoimmune yang mengalami luka dengan scab.

Terimakasih banyak dokter
29 November 2019, 16:47
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
Dokter Spesialis Bedah Plastik
Alo Dokter! 

Kortikosteroid topikal dapat membantu mengatasi laju granulasi yang berlebih. Granulasi yang meninggi melebihi ketinggian tepi luka akan mengganggu kemajuan epitel dari tepi krn epitel tidak mampu bergerak "mendaki/menanjak" ke atas granulasi.

Granulasi perlu diratakan dulu ketinggiannya dng tepi luka menggunakan blade/gunting jaringan. Lalu selanjutnya luka dpt dirawat dengan hidrokortison 1%.

Pengalaman klinis saya dalam praktik sehari - hari utk mengatasi luka dng jaringan granulasi meninggi sbg berikut: setelah granulasi sdh diratakan, selanjutnya luka dirawat menggunakan campuran hidrokortison 1% dengan N*b*c*tin oinment dengan perbandingan 1 : 1. Granulasi akan tetap terkontrol dan tidak meninggi, epitel mudah maju dari tepi dan penyembuhan luka menjadi optimal.

Semoga infonya dapat bermanfaat.
29 November 2019, 16:51
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
Dokter Spesialis Bedah Plastik
Melanjutkan keterangan sebelumnya. 
Jadi hidrokortison dpt membantu mengatasi laju granulasi yg berlebih. Namun, tidak perlu diberikan jika granulasi tidak meninggi. 

Scab pada luka pasien autoimun akan mudah terlepas spontan jika rutin dilembabkan dng ointment atau lotion, tanpa perlu tambahan kortikosteroid.
29 November 2019, 16:56
Terimakasih ilmunya Dok.
29 November 2019, 16:54
29 November 2019, 16:51
Melanjutkan keterangan sebelumnya. 
Jadi hidrokortison dpt membantu mengatasi laju granulasi yg berlebih. Namun, tidak perlu diberikan jika granulasi tidak meninggi. 

Scab pada luka pasien autoimun akan mudah terlepas spontan jika rutin dilembabkan dng ointment atau lotion, tanpa perlu tambahan kortikosteroid.
Noted Dok. 
Terimakasih banyak atas sharing ilmunya ya dr.Nurliati. SpBP-RE πŸ™πŸ˜Š
30 November 2019, 05:03
Menarik diskusinya dokter. Terima kasih 
30 November 2019, 05:27
Terimakasih buat semua informasi nya dok