Pengaturan Diet pasien DM dengan insulin yang berpuasa - Gizi Klinik Ask the Expert - Diskusi Dokter

general_alomedika

Selamat siang dok. Izin bertanya. Untuk pasien DM yang menggunakan insulin apakah ada kontraindikasi untuk berpuasa? Bila diperbolehkan, bagaimana pengaturan...

Diskusi Dokter

16 April 2021, 16:43

Hai dr. Maria. Terima kasih ya atas pertanyaannya. Kunci keberhasilan manajemen diabetes di bulan Ramadhan tidak berbeda di bandingkan pada bulan lainnya. Tujuannya adalah adalah mengontrol gejala, mencegah penurunan kontrol glikemik, dan pencegahan komplikasi akut. Rekomendasi American Diabetes Association/European Association for the Study of Diabetes (ADA/EASD) yang dapat membantu klinisi membuat keputusan untuk membantu pasien diabetes melitus tipe 2 yang ingin berpuasa di bulan Ramadhan adalah: 

 

 

Penilaian pra-Ramadhan 

Konseling pra-Ramadhan dan asesmen klinis merupakan komponen penting dalam mengelola pasien diabetes melitus tipe 2 selama Ramadhan. Konseling pra-Ramadhan meliputi asesmen terkait karakteristik pasien seperti usia, kelemahan (fraility), gaya hidup, faktor budaya dan sosial ekonomi serta adanya penyakit penyerta dengan stratifikasi risiko berikut:

 

Risiko sangat tinggi: puasa tidak dianjurkan

·      Hipoglikemia berulang dalam 3 bulan sebelum Ramadhan.

·      Hiperglikemia berat dengan glukosa plasma puasa atau premeal rata-rata >16,7mmol / L (300 mg/dL) atau hemoglobin terglikasi (HbA1c) > 86 mmol/mol (10%).

·      Riwayat hipoglikemia berulang atau ketidaksadaran hipoglikemia.

·      Ketoasidosis diabetik/keadaan hiperglikemik hiperosmolar di dalam 3 bulan sebelum Ramadhan.

·      Penyakit akut.

·      Melakukan kerja fisik yang berat.

·      Kehamilan.

·      Dialisis kronis.

·      Pasien dengan demensia atau defisit kognitif yang signifikan.

 

Risiko tinggi: boleh memilih untuk tidak berpuasa

·      Hiperglikemia sedang (glukosa darah rata-rata 8,3-16,7 mmol / L (150-300 mg / dL) atau HbA1c 64-86 mmol / mol (8% -10%)).

·      Komplikasi mikrovaskular atau makrovaskular yang signifikan.

·      Hidup sendiri dan diobati dengan insulin atau sulfonylurea.

·      Pasien dengan kondisi komorbid, seperti gagal jantung, stroke, keganasan, gangguan ginjal.

·      Lansia> 75 tahun.

 

Risiko sedang: dapat memilih untuk berpuasa dengan hati-hati

·      Orang dengan diabetes melitus tipe 2 tanpa komplikasi dan HbA1c <64mmol / mol (8%) yang mendapat terapi intervensi gaya hidup, metformin, thiazolidinedione (TZD), terapi berbasis incretin, sodium-glucose cotransporter-2 inhibitors dan atau short-acting insulin secretagogues

 

Risiko rendah: boleh memilih berpuasa

·      Orang dengan diabetes melits tipe 2 tanpa komplikasi dan HbA1c <53mmol / mol (7%) terapi dengan intervensi gaya hidup, metformin, TZD dan / atau terapi berbasis incretin.

 

Rencana Pengelolaan Diabetes selama Ramadhan

Kaji ulang rencana terapi dan penyesuaian rejimen pengobatan diperlukan selama Ramadhan untuk keadaan hipoglikemik dan hiperglikemik. Kepatuhan yang kurang optimal terhadap pengobatan, ketakutan akan hipoglikemia, efek samping pengobatan dan kurangnya akses terhadap pengobatan harus diidentifikasi dan ditangani sebelum puasa Ramadhan.

 

Penting untuk menginformasikan pasien bahwa tes glukosa darah selama Ramadhan tidak membatalkan puasa; kesalahpahaman umum di beberapa bagian dunia. Glukosa darah harus dipantau secara teratur selama puasa, terutama pada insulin atau sekretagog insulin.

 

Semua pasien harus diedukasi tentang gejala hipoglikemia, dan menghentikan puasa jika terjadi gejala hipoglikemia, hiperglikemia, dehidrasi atau penyakit akut terjadi dan kadar glukosa darah <3,9 mmol / L (<70 mg / dL) atau >16,6 mmol / L (>300 mg / dL).

 

Penggunaan swa-monitor glukosa darah (SMGD) harus dilakukan secara individual selama Ramadhan dengan kebutuhan untuk pemantauan yang lebih sering pada mereka yang berisiko tinggi mengalami hipoglikemia, terutama di daerah dengan jam puasa yang lebih lama atau iklim yang lebih hangat.

 

Edukasi Terstruktur untuk Pasien yang Merencanakan Puasa

Peran edukasi terstruktur pada pasien diabetes tipe 2 sudah diketahui secara baik dan manfaatnya dibuktikan bahwa Muslim dengan diabetes yang melaksanakan Ramadhan. Pada studi retrospektif, pasien yang menerima edukasi pra-Ramadhan mengalami lebih sedikit hipoglikemia. Edukasi terstruktur sangat baik dilaksanakan dan idealnya mencakup edukasi kepada masyarakat,  pelatihan kepada tenaga kesehatan, dan kursus manajemen mandiri pasien seperti ‘Ramadhan Aman’.

 

Pilihan terapi untuk pasien yang berpuasa dengan diabetes tipe 2 selama Ramadan termasuk perubahan gaya hidup, manajemen berat badan, dan medikamentosa

 

Manajemen gaya hidup

Terapi nutrisi atau diet harus mencakup prinsip-prinsip perilaku makan yang sehat, metode pencegahan hipoglikemia, asupan porsi yang tepat (portion control). Karena makanan yang dikonsumsi selama Ramadhan cenderung lebih tinggi karbohidrat, strategi harus mencakup pengendalian porsi sebagai dan aktivitas fisik secara benar. Diabetes and Ramadhan International Alliance (DAR) telah mengembangkan Ramadan Nutrition Plan, perangkat berbasis web yang dirancang untuk membantu Profesi Kesehatan dalam memberikan pendidikan nutrisi khusus pasien selama Ramadan. Dokter dapat berselancar untuk menilik lawan website DAR untuk info lebih lanjut.

 

Aspek yang sering diabaikan adalah konsumsi makanan saat Lebaran, yaitu perayaan 3 hari setelah Ramadhan yang melibatkan konsumsi kalori dan karbohidrat yang tinggi bersama keluarga dan teman, yang dapat menyebabkan buruknya kontrol glikemik pasien diabetes melitus tipe 2

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, dokter dapat membaca journal atau panduan berikut https://drc.bmj.com/content/8/1/e001248 dan https://www.idf.org/our-activities/education/diabetes-and-ramadan/healthcare-professionals.html. Terima kasih dan salam sehat.