Pengaruh Diabetes Mellitus Terhadap Prognosis Tuberkulosis

Oleh :
dr. Alexandra Francesca Chandra

Berbagai studi telah meneliti hubungan antara tuberkulosis dan diabetes, dimana diabetes dinilai mempengaruhi prognosis tuberkulosis. Tuberkulosis adalah penyakit infeksi dengan mortalitas dan morbiditas tinggi di seluruh dunia.[1, 2] Meskipun prevalensi tuberkulosis beberapa tahun terakhir ini makin menurun, angka ini masih tinggi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Sementara itu, diabetes mellitus diakui World Health Organization (WHO) sebagai penyakit epidemik global.[1] Meningkatnya prevalensi diabetes terutama pada area endemik tuberkulosis menjadikan beban ganda (double burden) aspek kesehatan di dunia.

Tuberkulosis dan Diabetes Mellitus di Indonesia

Tuberkulosis masih menjadi endemik di Indonesia, di mana pada tahun 2016 dilaporkan terdapat 360.565 kasus, diantaranya merupakan tuberkulosis resisten obat sebanyak 1879 kasus Multi Drug Resistant (MDR) dan 52 kasus Extensively Drug Resistant (XDR).[3]

Di lain sisi, Indonesia menduduki peringkat ke-7 untuk prevalensi diabetes tertinggi di dunia, di mana diabetes dengan komplikasi menjadi penyebab kematian tertinggi ke-3 di Indonesia menurut statistik WHO tahun 2014.[4]

xray

Publikasi ilmiah telah menunjukkan adanya hubungan antara diabetes mellitus dan perkembangan penyakit tuberkulosis. Diabetes mellitus diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya tuberkulosis dan reaktivasi tuberkulosis laten. Sementara itu, tuberkulosis sendiri pun memperburuk kontrol glikemik pada pasien diabetes.[1, 5, 6] Sebuah systematic review terbaru yang mencakup 13 kohort menyatakan bahwa pasien dengan diabetes mellitus memiliki risiko 3 kali lipat lebih tinggi untuk mengidap tuberkulosis dibandingkan non-diabetes.[7]

Diabetes Mellitus Mempengaruhi Prognosis Penanganan Tuberkulosis

Diabetes mellitus mempengaruhi prognosis penanganan tuberkulosis menurut sebuah systematic review pada tahun 2011 oleh Baker et al yang mencakup 33 studi, di mana ditemukan perbedaan signifikan secara statistik pada:

  • Risiko gagal terapi dan kematian selama penanganan tuberkulosis meningkat sebanyak 1.69 kali
  • Risiko kematian meningkat 1.89 kali pada 23 studi yang tidak disesuaikan dengan variabel perancu lainnya (unadjusted) dan 4.95 kali pada 4 studi yang disesuaikan (adjusted)

  • Risiko relaps meningkat sebanyak 3.89 kali [2]

Sebuah kohort tahun 2013 juga menemukan hasil serupa dimana diabetes mellitus dinilai memperburuk prognosis tuberkulosis karena manifestasi klinis yang lebih buruk, perubahan hasil pemeriksaan mikrobiologi sputum menjadi lebih lama, dan kemungkinan gagal pengobatan yang lebih tinggi.  [1]

Namun demikian kedua studi tersebut tidak merinci lebih detail mengenai penyebab kematian pada subjek penelitiannya. Sementara diabetes sendiri dikenal dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti stroke, gagal ginjal, maupun penyakit jantung, yang tentunya dapat menyebabkan kematian.

Fakta bahwa diabetes mellitus memperburuk keluaran pasien tuberkulosis dapat disebabkan karena beberapa hal berikut:

  • Efek imunosupresif diabetes mellitus itu sendiri. Diabetes dapat menurunkan respons imun tubuh, baik untuk untuk melawan infeksi tuberkulosis maupun mencegah rekurensi dan reaktivasi
  • Komplikasi akibat diabetes (seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal). Komplikasi ini tentunya dapat menyebabkan kematian saat pasien masih dalam pengobatan tuberkulosis
  • Diabetes dapat mempengaruhi farmakokinetik obat anti tuberkulosis (OAT) sehingga menghambat/mengurangi aktivitas bakterisidalnya
  • Pada kasus pasien diabetes dengan gagal ginjal, efektivitas OAT dapat menurun karena dosis OAT disesuaikan kembali untuk mencegah akumulasi obat, ataupun karena dilusi obat akibat hemodialisis
  • Adanya interaksi obat antara OAT (terutama rifampicin) dengan obat-obatan diabetes. Hal ini menyebabkan terganggunya kontrol glikemik yang memperburuk keluaran penanganan tuberkulosis pada pasien diabetes.[8]

Kesimpulan

Diabetes mellitus meningkatkan risiko gagal terapi, kematian, dan kejadian relaps pada pasien tuberkulosis. Oleh karena itu, penanganan tuberkulosis pada pasien diabetes perlu perhatian khusus dengan cara monitoring klinik maupun laboratorik dan radiologik.

Buruknya prognosis penanganan tuberkulosis pada pasien diabetes mellitus ini dapat dikarenakan kondisi imunosupresif pada pasien diabetes yang mempersulit tubuh untuk melawan kuman tuberkulosis dan mencegah rekurensi, serta menyebabkan berbagai komplikasi penyakit tentunya dapat meningkatkan risiko kematian.

Referensi