Obat Asma untuk Bumil G2P1A0 usia kehamilan 27-28 minggu dengan keluhan batuk, pilek, demam, & sesak selama 2 hari - Diskusi Dokter

general_alomedika

Selamat siang dok, izin diskusi dok Hari ini saya kedatangan pasien d PKM, Ibu hamil G2P1A0 H ± 27 -28 week JTH, dgn kepuhan Batuk (+) Pilek (+) Demam (+),...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Obat Asma untuk Bumil G2P1A0 usia kehamilan 27-28 minggu dengan keluhan batuk, pilek, demam, & sesak selama 2 hari

    Dibalas 09 Oktober 2026, 15:52
    dr.Mutia
    dr.Mutia
    Dokter Umum

    Selamat siang dok, izin diskusi dok

    Hari ini saya kedatangan pasien d PKM, Ibu hamil G2P1A0 H ± 27 -28 week JTH, dgn kepuhan Batuk (+) Pilek (+) Demam (+), Sesak (+) sdh 2 hr lalu, Riw Asma (+). Sblm ke PKM pasien punya alat nebu sndiri d rumah dgn ventolin.

    Pemfis : TD : 100 /70, HR : 110, spo2 : 98 %, Ves (+/+).

    Yang ingin saya diskusikan apakah boleh di berikan Salbutamol tab 2 mg/4 mg jika HR pasien >100x? Atau bisa d ganti dengan obat lainnya dok?

    Apakah jika ttp d berikan Salbutamol tablet bisa memicu peningkatan DJJ bayi?

    Terapi semantara Cetirizine 1x10mg, PCT 3x500mg 🙏🏻🙏🏻

05 Oktober 2026, 15:25

Oya, dosis inhaler/turbuhaler ICS & LABA misalnya budesonide + formoterol 160/4,5 mcg per inhalasi pada dewasa:

  • Controller: 1 inhalasi 2 kali sehari
  • Reliever: 1 inhalasi bila perlu saat gejala
  • Bila gejala belum membaik, dapat dipertimbangkan 1 inhalasi tambahan
  • Maksimum total 12 inhalasi per hari dari semua penggunaan maintenance + reliever

 

Ini adalah salah satu pendekatan yang sering dipakai pada dewasa, termasuk pada kehamilan bila memang indikasinya sesuai.

09 Oktober 2026, 15:52
dr.Mutia
dr.Mutia
Dokter Umum
Terimakasih arahan nya dok 🙏🏻
05 Oktober 2026, 15:21

ALO Dokter Mutia, prinsip terapi asma pada kehamilan 27–28 minggu sama dengan pasien tidak hamil, karena kontrol asma yang baik lebih aman bagi ibu dan janin dibanding asma yang tidak terkontrol.

Pilihan yang umumnya dipertimbangkan:

  • Pereda gejala: salbutamol inhalasi bila perlu - jangan sistemik
  • Kontroler utama: kortikosteroid inhalasi (inhaled corticosteroid/ICS), terutama budesonide inhalasi karena data kehamilannya paling baik
  • Bila belum terkontrol: pertimbangkan kombinasi ICS + long-acting beta agonist (LABA), misalnya budesonide + formoterol
  • Bila eksaserbasi sedang-berat: pertimbangkan kortikosteroid oral, misalnya prednison/prednisolon, jika manfaat klinis lebih besar
  • Hindari oral salbutamol, karena tidak direkomendasikan: efektivitas lebih rendah dan efek samping sistemik lebih tinggi.

Tujuan utama terapi adalah menjaga saturasi oksigen ibu baik agar oksigenasi janin tetap adekuat, mencegah eksaserbasi, rawat inap, dan hipoksia maternal. Target terapi adalah gejala terkontrol, tidur tidak terganggu, dan penggunaan pelega/reliever minimal.

Ingat, untuk menentukan terapi yang paling tepat, sebaiknya nilai:

  • Frekuensi gejala siang dan malam
  • Riwayat serangan berat, rawat inap, atau intubasi
  • Penggunaan inhaler pelega per minggu
  • Pencetus: asap rokok, debu, infeksi virus, GERD, rinitis alergi
  • Kepatuhan dan teknik inhaler
  • Obat yang sedang dipakai, termasuk nama merek dan kandungannya bila ada
  • Tanda bahaya: sesak saat bicara, napas cepat, retraksi, sianosis, penurunan gerak janin 

Pelajari selengkap nya di artikel Alomedika ini, yuk: https://www.alomedika.com/penatalaksanaan-asma-pada-awal-kehamilan