Vitamin D untuk Penanganan Asma

Oleh dr. Hunied Kautsar

Selain untuk menjaga kesehatan tulang, vitamin D juga mempunyai potensi untuk mengurangi eksaserbasi serangan asma dan membantu penanganan asma pada anak-anak dan orang dewasa.

Defisiensi Vitamin D dan Asma

Vitamin D berasal dari makanan sehari-hari seperti ikan atau kuning telur dan mekanisme fotosintesis dari 7-Dehydrocholesterol (7-DHC) yang tersebar di kulit. Dengan paparan sinar matahari, 7-DHC akan diubah menjadi provitamin D3 yang kemudian akan diubah menjadi vitamin D3 melalui proses isomerisasi yang diinduksi oleh panas. Vitamin D3 akan melalui proses hidroksilasi di hati menjadi 25(OH)D. Serum 25(OH)D adalah metabolit vitamin D yang paling banyak beredar di dalam darah dan merepresentasikan jumlah vitamin D dalam darah yang berasal dari makanan dan sintesis di kulit.[1]

Depositphotos_65387321_m-2015_compressed

Berdasarkan Dietary Reference Intake yang dikeluarkan oleh Institute of Medicine (IOM) pada tahun 2011, jumlah serum 25(OH)D <30nmol/L dinyatakan sebagai resiko defisiensi vitamin D, <40nmol/L dinyatakan sebagai jumlah vitamin D yang tidak cukup, dan >50nmol/L namun <125nmol/L dinyatakan sebagai jumlah vitamin D yang cukup dan dalam batas aman. [2] Asupan vitamin D sebanyak 600 IU/hari akan menjaga kadar serum 25(OH)D di kisaran 50nmol/L.

Pada tahun 2011 diadakan penelitian di Qatar untuk melihat korelasi antara kadar vitamin D dalam darah dan asma pada anak-anak. Penelitian tersebut membandingkan kadar serum 25(OH)D pada 671 anak penderita asma dengan 603 anak yang tidak menderita asma. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa 41,8% dari anak-anak penderita asma mengalami defisiensi vitamin D moderat (kadar serum 25(OH)D sebesar 25-47 nmol/L), jumlah tersebut lebih besar secara signifikan jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yakni 25,1% dari anak-anak yang tidak menderita asma mengalami defisiensi vitamin D moderat. Selain itu, 26,3% dari anak-anak penderita asma mengalami defisiensi vitamin D parah (kadar serum 25(OH)D <25nmol/L), sedangkan hanya 11% dari anak-anak yang tidak menderita asma mengalami defisiensi vitamin D parah. [3]

Penelitian lain di Costa Rica yang melibatkan 287 anak penderita asma menyatakan bahwa penderita asma dengan kadar vitamin D yang tidak cukup (vitamin D insufficiency) mempunyai resiko eksaserbasi asma yang lebih tinggi dibandingkan dengan penderita asma dengan kadar vitamin D yang cukup dalam darah. [4]

Penelitian terhadap 54 orang dewasa penderita asma menyatakan bahwa kadar vitamin D dalam darah yang lebih tinggi diasosiasikan dengan fungsi paru-paru yang lebih baik, berkurangnya airway hyperresponsiveness dan meningkatnya respon terhadap glucocorticoid (in vitro). Hasil tersebut memberi kesan bahwa suplementasi vitamin D, jika diberikan dengan dosis yang tepat pada penderita asma, dapat mengurangi keparahan asma dan memberikan respon yang lebih baik terhadap perawatan. [5]

Suplementasi Vitamin D untuk Manajemen Asma

Studi meta analisis terhadap tujuh uji acak terkendali yang melibatkan 435 anak-anak dan dua uji acak terkendali yang melibatkan 658 orang dewasa penderita asma menyatakan bahwa penderita asma yang menerima suplemen vitamin D mengalami lebih sedikit serangan asma yang membetuhkan pengobatan dengan steroid oral. Rata-rata serangan asma per orang dalam satu tahun menurun dari 0,44 menjadi 0,28 dengan tambahan konsumsi vitamin D. Konsumsi vitamin D juga mengurangi resiko rawat inap pada pasien dengan serangan asma akut dari 6 per 100 menjadi 3 per 100. [6]

Pada semua uji acak terkendali yang disebutkan di atas, intervensi pada kelompok kontrol dilakukan dalam bentuk pemberian vitamin D3 (cholecalciferol) secara peroral. Terdapat perbedaan dalam dosis vitamin D yang diberikan. Empat uji acak terkendali menggunakan dosis harian yang berkisar antara 500 IU/hari - 1.200 IU/hari. Uji acak terkendali yang lainnya menggunakan dosis mingguan, dosis bulanan, dosis yang diberikan 2 bulan sekali, atau dosis bolus pada awal penelitian kemudian dilanjutkan dengan dosis harian. [6]

Berdasarkan studi meta analisis terhadap sembilan uji acak terkendali tersebut, tidak ditemukan peningkatan resiko efek samping dengan dosis vitamin D yang digunakan pada uji acak terkendali. Pemberian vitamin D tidak memberikan efek terhadap fungsi paru-paru atau gejala asma sehari-hari. [6] Dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai dosis yang optimal dari suplementasi vitamin D untuk manajemen asma.

Rekomendasi Asupan Vitamin D

Walaupun belum ditemukan dosis optimal dari suplementasi vitamin D untuk penanganan asma, jumlah asupan vitamin D per hari penting untuk diperhatikan. Vitamin D secara alami terkandung dalam makanan sehari-hari seperti ikan (tuna dan salmon), keju, kuning telur dan makanan yang diperkaya dengan vitamin D seperti sereal, jus jeruk kemasan atau oatmeal. Untuk mendapatkan asupan vitamin D yang mencukupi kebutuhan per hari, salah satu makanan yang dapat dikonsumsi adalah 170 gram ikan salmon (mengandung 600 IU vitamin D atau setara dengan 15 mcg). Vitamin D dosis tinggi juga dapat diperoleh melalui suplemen vitamin D. Upper Intake Level vitamin D yang berlaku di Amerika (dikeluarkan oleh Food and Nutrition Board) dan Eropa (dikeluarkan oleh European Commission Scientific Committee on Food) adalah 2000 IU/hari. Untuk rekomendasi asupan vitamin D perhari di Indonesia, dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rekomendasi Asupan Vitamin D Perhari berdasarkan AKG (Angka Kecukupan Gizi) bagi Bangsa Indonesia

Usia Asupan vitamin D per hari (mcg)*
0-6 bulan 5
7-11 bulan 5
1-3 tahun 15
4-6 tahun 15
7-9 tahun 15
10-12 tahun 15
13-15 tahun 15
16-18 tahun 15
19-29 tahun 15
30-49 tahun 15
50-64 tahun 15
65-80 tahun 20
>80 tahun 20
10-12 tahun 15
13-15 tahun 15
16-18 tahun 15
19-29 tahun 15
30-49 tahun 15
50-64 tahun 15

*Dalam beragam jurnal, vitamin D sering diukur dengan menggunakan satuan IU (International Unit). Konversi unit dari IU ke mcg bergantung pada konsentrasi dari setiap zat. Untuk vitamin D, 1 IU sama dengan 0,025 mcg.

**Dosis sama baik untuk laki-laki maupun perempuan, dan tidak ada perubahan dosis pada ibu hamil dan menyusui. 

Efek Samping dari Konsumsi Vitamin D Dosis Tinggi dalam Jangka Panjang

Kadar vitamin D dalam darah yang sangat tinggi akibat dosis vitamin D yang terlalu tinggi dapat menyebabkan mual, muntah, nafsu makan berkurang, nyeri perut, konstipasi atau diare. Dapat juga menyebabkan rasa lelah yang berkepanjangan (fatigue), mual, muntah dan slurred speech. Vitamin D yang berlebihan akan meningkatkan kadar kalsium dalam darah (hiperkalsemia) sehingga menyebabkan gangguan pencernaan, pusing, rasa haus yang berlebihan dan sering buang air kecil.

Referensi