Efektif Tidaknya Pemberian Vitamin D untuk Manajemen Asma

Oleh :
dr. Audiza Luthffia

Pemberian suplementasi vitamin D untuk manajemen asma disarankan oleh beberapa ahli karena vitamin D diketahui memiliki efek imunomodulasi yang mampu menekan respons inflamasi. Namun, hasil uji klinis yang mendukung manfaat vitamin D untuk memperbaiki luaran pasien asma sebenarnya masih inkonsisten.

Beberapa studi observasional menyatakan bahwa defisiensi vitamin D meningkatkan respons inflamasi dan frekuensi eksaserbasi asma. Selain itu, defisiensi vitamin D dinyatakan dapat menurunkan respons terhadap terapi kortikosteroid dan memperburuk fungsi paru pasien asma. Oleh karena itu, beberapa ahli menduga bahwa pemberian suplementasi vitamin D mungkin bisa bermanfaat.[1-3]

Depositphotos_65387321_m-2015_compressed

Sekilas tentang Peran Vitamin D dalam Patofisiologi Asma

Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang ditandai dengan obstruksi jalan napas reversibel dan infiltrasi sel mediator inflamasi. Vitamin D memiliki fungsi imunomodulasi dan antiinflamasi yang diduga bermanfaat dalam manajemen patofisiologi asma.

Vitamin D dapat menekan produksi sitokin proinflamasi dan memodulasi efek dari sel T regulator serta sel T helper 2. Selain itu, vitamin D meningkatkan produksi interleukin 10 dan menekan ekspresi toll-like receptor 2 dan 4, yang akhirnya menurunkan produksi tumor necrosing factor (TNF) alfa.

Vitamin D juga dapat mencegah eksaserbasi asma yang berkaitan dengan infeksi virus, yakni dengan mengaktivasi mekanisme pertahanan antivirus yang dimediasi interferon dan menginduksi produksi peptida antimikroba.[2-4]

Hubungan Defisiensi Vitamin D dan Fungsi Paru

Defisiensi vitamin D dilaporkan dapat menyebabkan perubahan struktur paru yang berdampak pada penurunan fungsi paru. Defisiensi vitamin D didefinisikan sebagai kadar 25-hidroksivitamin-D atau 25(OH)D yang <30 ng/ml.

Untuk mencapai kadar 25(OH)D yang optimal, yakni 40–60 ng/ml, The Endocrine Society merekomendasikan total asupan vitamin D harian dari makanan maupun suplementasi sebesar 1.500–2.000 IU pada orang dewasa, 600–1.000 IU pada anak usia 1–18 tahun, dan 400–1.000 IU pada anak <1 tahun.[1,4]

Studi terkait Efektivitas Suplementasi Vitamin D pada Pasien Asma

Berdasarkan teori tentang efek imunomodulasi vitamin D serta hubungan defisiensi vitamin D dengan gangguan fungsi paru, berbagai uji klinis dan meta analisis kemudian dilakukan untuk membuktikan efektif tidaknya pemberian suplementasi vitamin D untuk manajemen pasien asma.

Suplementasi Vitamin D dan Eksaserbasi Asma

Suatu meta analisis oleh Jolliffe et al. menganalisis 8 uji acak klinis terkontrol dengan total 1.078 subjek untuk menilai pengaruh suplementasi vitamin D terhadap insidensi eksaserbasi asma yang butuh terapi kortikosteroid sistemik. Hasil menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D bisa menurunkan insidensi eksaserbasi pada seluruh subjek penelitian (adjusted incidence rate ratio atau aIRR 0,74; 95%CI 0,56–0,97; p=0,03).

Hasil analisis subgrup menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D bersifat protektif terhadap pasien dengan kadar 25(OH)D <25 nmol/L (aIRR 0,33; 95%CI 0,11–0,98; p=0,046). Namun, vitamin D tidak bersifat protektif untuk pasien dengan kadar 25(OH)D >25 nmol/L (aIRR 0,77; 95%CI 0,58–1,03; p=0,08).[5]

Tinjauan sistematik lain dari Cochrane juga mengungkapkan bahwa pemberian vitamin D menurunkan angka eksaserbasi yang membutuhkan terapi kortikosteroid sistemik (RR 0,64; 95%CI 0,46–0,90) serta menurunkan risiko pasien mengalami setidaknya satu episode eksaserbasi yang membutuhkan penanganan di unit gawat darurat atau rawat inap (OR 0,39; 95%CI 0,19–0,78).[6]

Akan tetapi, hasil yang berbeda ditunjukkan oleh uji klinis Forno et al terhadap 162 anak usia 6–16 tahun, yang memiliki asma risiko tinggi dan kadar 25(OH)D <30 ng/ml. Hasil menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam hal interval eksaserbasi, yaitu 240 dan 253 hari pada grup vitamin D3 dan grup plasebo. Selain itu, tidak ada perbedaan signifikan dalam hal angka eksaserbasi akibat infeksi virus maupun penurunan dosis inhalasi kortikosteroid pada kedua kelompok.[3]

Meta analisis oleh Luo et al. juga mendapatkan bahwa suplementasi vitamin D sebagai terapi tambahan pada asma tidak berpengaruh terhadap risiko eksaserbasi asma.[2]

Suplementasi Vitamin D dan Derajat Kontrol Asma

Penelitian pada 112 pasien asma dewasa dengan kadar 25(OH)D <30 ng/ml di Spanyol menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D3 dapat memperbaiki derajat kontrol pasien asma. Pada penelitian tersebut, suplementasi diberikan dalam bentuk calcifediol 16.000 IU/minggu selama 6 bulan sebagai tambahan terapi rumatan asma.

Derajat kontrol asma dinilai dengan asthma control test (ACT). Hasil menunjukkan bahwa grup yang mendapat suplementasi calcifediol mengalami peningkatan derajat kontrol lebih baik daripada grup plasebo (difference: 3,66; 95%CI 0,89–5,43).[7]

Namun, hasil bertentangan ditunjukkan oleh tinjauan Cochrane. Pada tinjauan tersebut, suplementasi vitamin D tidak berpengaruh terhadap derajat kontrol asma yang dinilai dengan ACT (mean difference: -0,08, 95%CI: -0,70–0,54). Vitamin D juga tidak memiliki pengaruh terhadap persentase prediksi volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (% FEV1) (mean difference: 0,48; 95%CI: -0,93–1,89).[6]

Suplementasi Vitamin D dan Respons Terhadap Terapi Kortikosteroid

Pada uji klinis acak terkontrol yang melibatkan 408 subjek dari 9 rumah sakit akademik di Amerika, penambahan vitamin D3 terhadap kortikosteroid inhalasi sebagai terapi standar tidak menurunkan angka kegagalan terapi maupun angka kejadian eksaserbasi pasien asma dewasa dengan defisiensi vitamin D.

Dalam studi tersebut, kegagalan terapi didefinisikan sebagai penurunan fungsi paru dan peningkatan penggunaan β-agonis, kortikosteroid sistemik, dan perawatan di fasilitas kesehatan. Kegagalan terapi dialami oleh 28% (95%CI: 21–34%) pasien di kelompok suplementasi vitamin D3 dan 29% (95% CI: 23–35%) pasien di kelompok plasebo.[8]

Kesimpulan

Berdasarkan beberapa studi observasional, vitamin D dilaporkan memiliki efek modulasi sistem imun dan antiinflamasi yang bermanfaat untuk menangani patofisiologi asma. Secara teori, vitamin D diduga bermanfaat sebagai terapi tambahan pada pasien asma, khususnya pasien dengan defisiensi vitamin D.

Akan tetapi, bukti dari uji klinis pada pasien asma sampai saat ini masih memberikan hasil yang tidak konsisten terkait manfaat suplementasi vitamin D. Beberapa studi menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kontrol asma, sedangkan studi yang lain tidak menemukan bukti manfaat ini.

Kelemahan dari beberapa studi yang sudah ada saat ini adalah jumlah subjek penelitian yang sedikit, waktu observasi yang singkat, serta tidak diperhitungkannya faktor lain yang mungkin memengaruhi luaran studi, seperti jenis terapi rumatan dan kepatuhan pasien dalam konsumsi obat. Studi lebih lanjut masih diperlukan di masa depan.

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Hunied Kautsar

Referensi