Bagaimana dalam menyikapi pasien yang takut memeriksakan diri ke RS karena COVID-19 dan pasien yang terkendala biaya - Diskusi Dokter

general_alomedika

Selamat sore TS,Ijin bertanya, seringkali mendapat pasien dlm kondisi yg sepatutnya segera ke UGD, namun ketakutan ke RS karena covid19, dan ada juga yang...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Bagaimana dalam menyikapi pasien yang takut memeriksakan diri ke RS karena COVID-19 dan pasien yang terkendala biaya

    Dibalas 28 Oktober 2020, 09:47
    Anonymous
    Anonymous
    Dokter Umum

    Selamat sore TS,

    Ijin bertanya, seringkali mendapat pasien dlm kondisi yg sepatutnya segera ke UGD, namun ketakutan ke RS karena covid19, dan ada juga yang terkendala biaya dan terus mengulang ulang cerita saja.

    Bagaimana langkah TS menghadapi pasien yang takut covid meski sdh dijelaskan dan bersikeras sampai akhir tidak mau ke UGD ?

    Dan bagaimana langkah TS menghadapi pasien yang terkendala biaya juga bagaimana menyudahi percakapan ? Dirujuk ke spesialis tdk mungkin karena kendala biaya.

    Seringkali berakhir spam dan direview user kurang memberikan solusi.

    Review nya sendiri bisa kita kesampingkan namun bagaimana tips2 TS menghadapi pasien seperti ini?

    Mohon sharing nya thx

25 Oktober 2020, 22:40
dr. Soeklola SpKJ MSi
dr. Soeklola SpKJ MSi
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
Hi dok...izin sharing.Untuk pasien yang terkendala biaya sebenarnya bisa diarahkan untuk melakukan pengurusan BPJS (baik yang berbayar ataupun pengurusan yang mendapat sumbangan pemerintah atau dahulu dikenal sebagai askin). Hal ini sangat membantu karena memang dapat digunakan di hampir seluruh bidang spesialisasi dan dicover hampir seluruh tindakannya. Memang memerlukan alur rujukan berjenjang tetapi akan sangat membantu dari segi biaya.🙏Adapun beberapa pasien juga menyatakan ingin dibantu tetapi menolak "berusaha"... Untuk pasien seperti ini memang hanya dapat diberi arahan tentang dampaknya terberat yang akan timbul jika situasi tersebut tidak segera diatasi. Berikan dukungan bahwa pasien memiliki kesempatan memilih untuk kondisi terbaiknya🙏. Tentu hal ini tidak mudah ya dok, namun di sisi lain perlu diingat bahwa pasien memiliki hak untuk mengambil keputusan atas dirinya🙏Pada kondisi gawat darurat, dan takut covid biasanya yang dapat dilakukan lebih menjabarkan potensi risiko yang dapat timbul, termasuk tetap memberi arahan apa yang perlu dilakukan untuk meminimalisir tambahan infeksi covid misalnya menggunakan masker medis dengan benar, alat pelindung diri lain (face shield), memberi tahukan bahwa terdapat pembedaan ruangan antara kasus curiga covid dan bukan (bahkan di beberapa RS terdapat tenda darurat untuk hal ini), menjaga kebersihan diri (misalnya gerakan cuci tangan, mencuci baju sehabis dari RS dan lainnya).. Hal ini selain akan memberikan penentraman bagi pasien, sekaligus memberikan arahan akan cara mengurangi risiko paparan bagi pasien tersebut 🙏Mudah-mudahan bermanfaat 🙏tetap semangat
25 Oktober 2020, 18:12

Alo dok!

izin ikut berdiskusi, menurut WHO, telemedicine adalah pemberian pelayanan kesehatan yang dilakukan secara tidak langsung karena keterbatasan jarak oleh tenaga kesehatan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk bertukar informasi tentang diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit, serta penelitian dan evaluasi untuk kelanjutan pembelajaran kesehatan. 

Konsultasi online dapat menjadi jembatan untuk user mengetahui kapan sebaiknya untuk ke rs atau masih bisa diterapi dirumah. Selama sudah diberikan alasannya mengapa tidak bisa dirumah karena minimnya mungkin pemeriksaan fisik, penunjang dan adanya tanda bahaya. Diharapkan user dapat mengerti hal tersebut. Dan untuk masalah biaya dapat di tanyakan apakah ada bpjs, karena dengan mungkin user mempunyai bpjs, jika memang diharuskan untuk ke igd seharusnya dapat ditanggung.

Berikut tautan tentang telemedicine dalam negara maju dan berkembang untuk positif dan negatifnya, mungkin ada sejawat yang ingin menambahkan:

http://www.ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/download/2000/1145

 

25 Oktober 2020, 18:54
Seringkali pasien dtg berulang2 padahal tidak banyak yg bisa anda lakukan itu dikarenakan dokter yang merasa sudah menjelaskan sedangkan pasien sendiri tidak mengerti. Tantangan sebagai dokter adalah menjelaskan dengan baik dan sabar keterbatasan klinik atau praktek tempat ts berada. Apa yg bisa dan tidak bisa dilakukan di klinik harus dipahamkan ke pasien dan keluarga sepaham mungkin. Pendapat saya, jangan pernah melakukan suatu tindakan diluar kompetensi anda, walaupun alat tersedia, anda merasa bisa, itwont end well. Selain anda memahamkan kepada pasien anda juga harus memahamkan kepada diri sendiri ttg keterbatasan kita sebagai dokter umum. Jgn karena ingin menolong anda tergoda melakukan tindakan bedah yg bukan kompetensi anda, misalnya.
Sering juga kalo kita perhatikan sejawat yang menyudahi edukasi dan meninggalkan pasien tsb, namun pasiennya masih dengan wajah kebingungan tidak mengerti/atau cuman setengah mengerti.
Untuk menyudahi percakapan maka pertanyaan terakhir yang harus anda tanyakan adalah: apakah ada yg mau ditanyakan lagi? Nanya apa aja boleh ( sambil perhatikan visual cue apakah wajah si pasien masi tampak kebingungan atau tidak). Pertanyaan ini bisa anda ulangi sampai pasien berkata tidak ada lagi yg mau ditanyakan. Sebaiknya tidak menyudahi percakapan padahal ada ribuan pertanyaan dikepala pasien namun segan untuk mengajukan karena terkesan dokter terlalu sibuk dan pasiennya banyak.
Terkait ketakutan terhadap covid tentu adalah hal wajar, dan tentu pasien punya hak atas nyawanya sendiri. Jadi jika pasien memutuskan untuk tidak ke rs tentu hal tsb adalah hak pasien juga dan bukanlah tanggung jawab anda (tentu dgn catatan pasien paham dan mengerti ttg keadaannya)
Terkait biaya, jika tidak mampu anda bisa sarankan ke dinas sosial atau pihak terkait untuk pendaftaran kartu kis, jika biaya yg dimaksud adalah biaya orang yg menunggu pasien, jika anda berkenan tentu bisa membantu semampunya, namun tentu akan konyol ceritanya jika anda berpikir akan menolong semua pasien kesusahan yang bertemu dengan anda.
28 Oktober 2020, 09:47
Alo Dokter,Pandemi emang bikin kecemasan meningkat dok, Jangankan yg terkendala biaya dok, pasien menengah ke atas pun banyak juga yg takut ke RS, apalagi RS rujukan krn takut malah terjadi penularan COVID dok.   Kalau memang pasien suspek, coba arahkan ke puskemas aja dok, nanti dari puskemas akan ditindaklanjuti utk rapid test atau PCR. Atau kalau pasien mengalami penyakit lain,  dokter bisa informasikan utk pilih RS yg sudah menerapkan skrining COVID dgn sangat ketat atau jalur pembeda antara pasien umum dgn pasien suspek COVID, atau RS yg menerapkan booking dulu sebelum konsultasi jadi tidak berlama-lama di RS dok.