Hasil Pemeriksaan HIV - Diskusi Dokter

general_alomedika

Hai docs.. saya pernah bertanya di sini sebelumnya, namun saya tanyakan lagi agar lebih banyak yg bisa menjawab. Saya seringkali mendapat pertanyaan user...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Hasil Pemeriksaan HIV

    18 Januari 2019, 15:45

    Hai docs.. saya pernah bertanya di sini sebelumnya, namun saya tanyakan lagi agar lebih banyak yg bisa menjawab. Saya seringkali mendapat pertanyaan user seputar perubahan dari negatif jadi positif. Jadi sudah beberapa kali user bertanya, ada temannya yakin 3 bulan setelah paparan NR, lalu beberapa tahun kemudian diperiksa lagi ternyata positif. Temannya dikatakan terakhir melakukan perbuatan berisiko 3 bulan sebelum dinyatalan NR. Sudah beberapa kali saya mendapatkan pertanyaan seperti ini.



    Saya memikirkan beberapa kemungkinan yaitu:


    1. Hasil pertama negatif palsu


    2. Hasil kedua positif palsu


    3. Baru2 ini terpapar tanpa sadar



    Kira2 apakah ada kemungkinan lain? Atau memang sekarang window period HIV itu sulit diketahui?

18 Januari 2019, 17:23
dr. Andre
dr. Andre
Dokter Umum

Menurut saya sih, yang pertama-tama harus dilakukan adalah memastikan apakah pasiennya yakin pemeriksaan awal yang NR itu 3 bulan dari terakhir melakukan perbuatan dan apakah benar tidak ada melakukan lagi sampai cek yang sekarang. Bukan terkesan tidak percaya, tapi coba gali apa yang menjadi alasan pasien tiba-tiba cek ulang setelah beberapa tahun.

Lalu kemungkinan berikutnya yang perlu ditanyakan juga apakah pasien sekarang memiliki pasangan tetap. Bisa jadi pasien menyatakan tidak lagi melakukan perbuatan berisiko karena saat ini setia hanya dengan satu pasangan dan ternyata justru tertular dari pasangan tersebut.

Nah, kalau kemungkinan teknisnya sih seperti yang disampaikan di atas, entah hasil pertamanya yang negatif palsu atau hasil kedua yang positif palsu. Atau alat tes rusak?

19 Januari 2019, 06:57
baik, terimakasih insightnya ya Dok :)
20 Januari 2019, 21:09
Infonya sangat bermanfaat sebagai ilmu baru Dok. 
19 Januari 2019, 16:37
dr. Agung Prabowo , Sp.PD, M.Kes, FINASIM
dr. Agung Prabowo , Sp.PD, M.Kes, FINASIM
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Saya rasa tidak ada positif palsu uji ke 2 karena tes yang dilakukan menggunakan 3 jenis tes yang berbeda 
19 Januari 2019, 16:38
dr. Agung Prabowo , Sp.PD, M.Kes, FINASIM
dr. Agung Prabowo , Sp.PD, M.Kes, FINASIM
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Di permenkes arv disebut kan bahwa orang dengan faktor risiko, dilakukan pemeriksaan antibodi bulan ke 3, dan bisa diulang bulan ke 6 dan bulan ke 12, karna sensitivitas dan soesifitas uji antibodi HIV tidak bisa 100%
19 Januari 2019, 19:28
Mohon maaf dokter Agung berarti yang dimaksudkan untuk kasus diatas, kemungkinannya pasien tidak dilakukan pemeriksaan lagi dibulan ke 6 dan ke 12 ya dok? Dan pemeriksaan pertama hasil negatif pada kasus reaktif masih sangat mungkin didapatkan? Mohon pencerahan dok
20 Januari 2019, 21:08
Sangat bermanfaat infonya Dok. 
19 Januari 2019, 19:27
dr. Dinar Witasari, SpKK
dr. Dinar Witasari, SpKK
Dokter Spesialis Kulit
Window period pada HIV bisa bervariasi. Hal ini dipengaruhi perbedaan respon imun masing-masing individu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membentuk detectable antibody.





Ada baiknya setelah initial test, dapat diulang 3-6 bulan walaupun hasil tes sebelumnya non reaktif, untuk menghindari false negatif. Bahkan CDC merekomendasikan untuk melakukan tes HIV secara rutin setidaknya 1x/tahun pada kelompok beresiko tinggi.

Jangan lupa untuk juga mengecek status hiv pasangan seksual px. 



Semoga membantu 🙏🙏🙏
19 Januari 2019, 19:33
Baik dokter Dinar terimakasih masukannya berarti menurut dokter untuk kasus diatas, kemungkinannya pasien tidak dilakukan pemeriksaan lagi dibulan ke 6 dan ke 12 ya dok? Dan pemeriksaan pertama hasil negatif pada kasus reaktif masih sangat mungkin didapatkan? Mohon pencerahan dok
19 Januari 2019, 20:38
dr. Dinar Witasari, SpKK
dr. Dinar Witasari, SpKK
Dokter Spesialis Kulit
Kemungkinan tersebut bisa terjadi. Karena window period masing-masing individu tidak sama.

Dan juga jangan lupa untuk mengecek status HIV pasangan seksual px. 
19 Januari 2019, 20:44
Baik dokter Dinar terimakasih informasinya 😊
20 Januari 2019, 08:16
mohon maaf Dok, yg dimaksud masih dalam berisiko itu seperti apa? krn dari kasus di atas, penderita mengaku sudah tobat, jadi benar2 hanya 1x tersebut, setelah itu tidak melakukan lagi. krn dari permenkes yg saya tangkap, adalah memang orang2 yg masih melakukan bahkan sampai detik diperiksa ternyata hasilnya positif.
20 Januari 2019, 11:13
dr. Dinar Witasari, SpKK
dr. Dinar Witasari, SpKK
Dokter Spesialis Kulit
Perilaku seksual beresiko atau tidak tergantung juga dari riwayat pasien saat anamnesa. Karena walaupun hanya 1 kali, kemungkinan untuk tertular tetap ada. Misal walaupun hanya 1 kali tapi pasangan seksualnya seorang PSK, pasti kemungkinan tertular HIV akan lebih besar.

19 Januari 2019, 19:54
dr. Agung Prabowo , Sp.PD, M.Kes, FINASIM
dr. Agung Prabowo , Sp.PD, M.Kes, FINASIM
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
19 Januari 2019, 19:28
Mohon maaf dokter Agung berarti yang dimaksudkan untuk kasus diatas, kemungkinannya pasien tidak dilakukan pemeriksaan lagi dibulan ke 6 dan ke 12 ya dok? Dan pemeriksaan pertama hasil negatif pada kasus reaktif masih sangat mungkin didapatkan? Mohon pencerahan dok
Jika ada faktor risiko dari permenkes hiv manganjur kan pemeriksaanbulan ke 6 dan ke 12 walaupun pemeriksaan bulan ke 3 negatif, saya lampirkan ya permenkes 87 thn 2014
19 Januari 2019, 20:43
Baik terimakasih banyak informasinya dokter Agung Sp.PD , sangat membantu dalam pemahaman.
20 Januari 2019, 08:20
perilaku berisiko ini perilaku berisikonya dalam kategori berapa kali atau berapa jangka waktunya dok? krn dikatakan penderita di atas, adalah terakhir melakukan perilaku berisiko sudah lampau, bisa dikatakan bertahun2 lalu. terlepas kemunginan pasien berbohong (krn saya sudah tekankan mungkin saja lupa, namun kekeuh mengatakan tidak), apakah mungkin bisa terjadi hal seperti ini? misalnya 3 th lalu melakukan perbuatan berisiko, dicek 3 bulan NR, tidak diulang lagi, lalu 3 th kemudian dicek ternyata positif, namun dari awal 3 th lalu sampai sekarang tidak ada melakukan perbuatan berisiko sama sekali, apakah mungkin bisa positif?

kesimpulannya berarti window period tidak 3 bulan maksimal tapi 12 bulan? atau krn memang tes tidak 100% akurat? lalu pemeriksaan pada 3, 6 dan 12 bulan jika NR apakah sudah pasti NR?
21 Januari 2019, 08:30
Terimakasih infonya Dok,  sebagai tambahan info dalam menjelaskan ke pasien. 
20 Januari 2019, 08:47
dr. Agung Prabowo , Sp.PD, M.Kes, FINASIM
dr. Agung Prabowo , Sp.PD, M.Kes, FINASIM
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
20 Januari 2019, 08:20
perilaku berisiko ini perilaku berisikonya dalam kategori berapa kali atau berapa jangka waktunya dok? krn dikatakan penderita di atas, adalah terakhir melakukan perilaku berisiko sudah lampau, bisa dikatakan bertahun2 lalu. terlepas kemunginan pasien berbohong (krn saya sudah tekankan mungkin saja lupa, namun kekeuh mengatakan tidak), apakah mungkin bisa terjadi hal seperti ini? misalnya 3 th lalu melakukan perbuatan berisiko, dicek 3 bulan NR, tidak diulang lagi, lalu 3 th kemudian dicek ternyata positif, namun dari awal 3 th lalu sampai sekarang tidak ada melakukan perbuatan berisiko sama sekali, apakah mungkin bisa positif?

kesimpulannya berarti window period tidak 3 bulan maksimal tapi 12 bulan? atau krn memang tes tidak 100% akurat? lalu pemeriksaan pada 3, 6 dan 12 bulan jika NR apakah sudah pasti NR?
Perilaku beresiko yang terakhir yang di maksud, nah ini tergantung subyektifitas pasien dan kemampuan Anamnesis
Windows period sebagai besar orang (97%)adalah 3 bulan, kasus yang sangat jarang bisa lebih panjang, mungkin karena ada nya kasus jarang tsb permenkes merekomendasikan pemeriksaan ulang sampai 1 tahun setelah perilaku beresiko 
20 Januari 2019, 08:51
Berarti, tetap ada kecurigaan pasien melakukan di rentang tsb ya dok? Kalau misalnya benar kasusnya seperti di atas, sudah tidak melakukan sekian lama, lalu baru positif sekian lama, berarti tidak mungkin ya dok?
20 Januari 2019, 09:38
dr. Agung Prabowo , Sp.PD, M.Kes, FINASIM
dr. Agung Prabowo , Sp.PD, M.Kes, FINASIM
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
20 Januari 2019, 08:51
Berarti, tetap ada kecurigaan pasien melakukan di rentang tsb ya dok? Kalau misalnya benar kasusnya seperti di atas, sudah tidak melakukan sekian lama, lalu baru positif sekian lama, berarti tidak mungkin ya dok?
Saran saya re Anamnesis, pasien laki laki cenderung tidak terbuka ke dokter perempuan dan juga ditanya kan misal nya dia menganggap hal biasa seperti tatto, jarum suntik, transfusi darah
20 Januari 2019, 10:03
Baik dok.. berarti tetap ada kemungkinan perilaku berisiko ya.. terima kasih insightnya dok ☺
20 Januari 2019, 21:32
Terimakasih masukannya dok, terkait perilaku beresiko kadang kita terpaku hanya pada perilaku seks bebas, dan lupa menggali faktor resiko lain seperti pembuatan tatto, penggunaan jarum suntik bergantian, atau riwayat transfusi, faktor pekerjaan seperti misalnya dokter maupun perawat juga termasuk dlm kelompok resiko tinggi, semoga kedepan akan lebih baik lagi ya dok baik dalam penemuan kasus maupun tatalaksana di pusat kesehatan