Stigma HIV pada Tenaga Kesehatan

Oleh dr. Immanuel

Stigma terhadap HIV masih terus terjadi, bahkan di kalangan kesehatan padahal stigma tersebut akan berdampak pada penurunan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS, penurunan kepatuhan pengobatan, dan peningkatan perilaku berisiko.

Depositphotos_cropped_129233390_m-2015

Saat ini, HIV merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia, diperkirakan sekitar 35,3 juta penderita di seluruh dunia pada tahun 2012. Angka ini mengalami peningkatan tajam sebesar 20% dibandingkan tahun 2001.[1]

Stigma adalah perilaku dalam hubungan sosial yang ditandai dengan pemberian label, stereotyping, pemisahan, diskriminasi dan menghilangkan status sosial.[2] Pemberian stigma pada pasien mempengaruhi hubungan dokter pasien. Stigma pada orang dengan infeksi HIV/AIDS (ODHA) memberikan efek negatif pada fisik dan psikologis ODHA yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas hidup pasien.[3] Pemberian stigma terhadap ODHA dapat menyebabkan perasaan ditolak dan terasingkan pada ODHA. Hal ini berakibat pada perilaku ODHA berupa menutup status HIVnya dan keinginan mencari pengobatan. Stigma yang diberikan juga berhubungan dengan penundaan mencari pengobatan, kepatuhan pengobatan yang rendah dan peningkatan perilaku berisiko pada ODHA.[4]

Di negara maju seperti Amerika Serikat, ODHA masih mengalami stigma dalam kehidupan sehari-hari, termasuk oleh tenaga kesehatan. Sekitar 1 dari 4 ODHA mengalami stigma oleh tenaga kesehatan. Stigma yang sering mereka alami adalah pembiaran pasien dan penggunaan alat pelindung diri berlebihan oleh tenaga kesehatan sebelum pemeriksaan, termasuk penggunaan masker, apron dan penggunaan sarung tangan ganda. Pada bentuk yang ekstrim, pasien melaporkan tenaga kesehatan yang menolak bersentuhan, bersalaman dan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien, tidak memperdulikan kerahasiaan pasien, atau menolak memberikan layanan pengobatan pada pasien.[5]

Stigma Umum mengenai HIV

Beberapa bentuk anggapan yang sering direkatkan oleh masyarakat, termasuk tenaga kesehatan, pada orang dengan HIV/AIDS adalah:

  1. ODHA bertanggung jawab penuh akan penyakit yang dideritanya
  2. ODHA tidak seharusnya mendapatkan simpati dan pengertian
  3. ODHA berhak dan layak akan penyakit yang dideritanya
  4. ODHA berbahaya pada orang lain
  5. ODHA tidak berhak mendapatkan pelayanan medis seperti penyakit lainnya
  6. ODHA layak untuk kehilangan pekerjaan
  7. Tidak bersedia berbicara dengan ODHA
  8. Tidak bersedia mengonsumsi makanan yang disiapkan oleh ODHA
  9. Memutuskan pertemanan dengan ODHA
  10. Tidak bersedia bekerja pada kantor yang sama dengan ODHA
  11. Identitas ODHA harus diungkapkan guna mencegah penularan penyakit pada pihak lainnya.[3]

Stigma Spesifik dari Tenaga Kesehatan

Sebuah meta analisis menemukan 5 studi mengenai stigma tenaga kesehatan terhadap orang dengan HIV/AIDS. Meta analisis ini melibatkan total hampir 2500 subjek. Hanya 1 dari 5 artikel yang melakukan studi dari sudut pandang tenaga kesehatan, 4 studi lainnya melakukan penelitian dari sudut pandang ODHA.[6] Penelitian ini mendapatkan bahwa stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS masih banyak terjadi dalam interaksi dokter pasien. Namun, sulit untuk mendapatkan kesimpulan mengenai stigma yang dirasakan pasien karena skala pengukuran yang digunakan masih banyak dan belum terstandar.

Sebuah penelitian yang melibatkan 651 tenaga kesehatan mendapatkan bahwa hampir 90% tenaga kesehatan memberikan setidaknya 1 stigma pada ODHA. Sekitar 91% dari tenaga kesehatan yang bekerja pada klinik di daerah rural menunjukkan stigma pada ODHA. Hasil penelitian yang didapatkan:

  1. Sekitar 18,9% tenaga kesehatan setuju bahwa ODHA memiliki partner seksual yang banyak.
  2. Sekitar 33,3% tenaga kesehatan setuju bahwa pada dasarnya ODHA dapat menghindari infeksi HIV bila mereka menginginkannya.
  3. Sekitar 35,3% tenaga kesehatan beranggapan bahwa penderita dapat terinfeksi HIV karena perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab.[7]

Pada sebuah penelitian di Indonesia didapati bahwa pasien masih merasakan stigma akan penyakitnya saat mendapatkan pelayanan kesehatan. Bentuk stigma yang mereka terima misalnya menyebutkan HIV dengan nada lantang, pemberian kode pada status pasien, tempat pembuangan sampah yang dibedakan dan diberi label HIV, dan pelayanan yang berbeda. Bentuk pelayanan yang berbeda yang didapatkan pasien misalnya pemberian makanan lewat bawah pintu dan tidak mengganti seprai pasien perawatan. Beberapa pasien juga melaporkan penggunaan alat pelindung secara berlebihan dan isolasi. Bahkan ada kasus tindakan yang dilakukan tanpa informed consent, misalnya pemeriksaan darah tertentu. Perbedaan perlakuan juga dialami keluarga ODHA yang meninggal. Perbedaan perlakuan ini seperti perbedaan biaya pemulasaraan jenazah yang signifikan.[8]

Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian Stigma

Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa faktor yang berhubungan dengan pemberian stigma adalah jenis kelamin, usia, jenjang pendidikan, dan perilaku seks yang aman. Tingkat interaksi tenaga kesehatan dengan ODHA berhubungan erat dengan stigma yang diberikan pada ODHA, semakin tinggi tingkat interaksi, semakin rendah stigma yang diberikan. Di sisi lain, pengetahuan tentang HIV tidak berhubungan dengan stigma yang diberikan pada ODHA.[3,9]

Faktor lain yang berperan terhadap stigma yang diberikan oleh tenaga kesehatan adalah agama, ras, lokasi tempat bekerja, dan ketersediaan profilaksis pasca pajanan. Hal yang mengagetkan adalah bila tenaga kesehatan atau keluarganya merupakan ODHA dan tenaga kesehatan memiliki rasa malu terhadap hal tersebut, tenaga kesehatan tersebut akan memiliki perilaku memberi stigma yang lebih tinggi.

Fasilitas layanan kesehatan juga berperan penting melalui pembuatan peraturan yang mengatur tentang pencegahan diskriminasi terhadap ODHA di tempat kerja juga memegang peran penting. Tempat bekerja yang memberlakukan aturan tersebut dan memberikan sanksi pada pelanggarnya melaporkan perilaku memberikan stigma yang lebih rendah. Bekerja di klinik khusus HIV, atau klinik yang memiliki banyak pasien HIV dan mengetahui adanya profilaksis pasca pajanan secara signifikan menunjukkan permberian stigma yang lebih rendah.[7]

Perspektif Pasien

Sebuah penelitian dilakukan untuk melihat hubungan antara stigma yang didapatkan pasien dari tenaga kesehatan dengan kepatuhan terapi. Stigma yang didapatkan pasien diukur dengan 40 pertanyaan kuesioner yang sudah divalidasi. Pertanyaan tersebut termasuk “Perilaku orang lain membuat saya merasa diri saya buruk”, “Mengungkapkan bahwa saya HIV positif pada orang lain merupakan tindakan berisiko” dan “Saya tidak pernah merasa bahwa saya harus menutupi fakta bahwa saya HIV positif”. Pada penelitian tersebut didapatkan bahwa responden mendapatkan stigma terhadap dirinya dengan nilai 57,6 (nilai maksimal 90). Walaupun demikian, tidak ditemukan adanya kolerasi stigma yang didapatkan pasien dengan kepatuhan terapi.[10]

Penelitian lain yang dilakukan tahun 2013 mendapat hasil bahwa ODHA mengalami penundaan mencari pengobatan. Penundaan ini terjadi karena pasien merasa mendapatkan stigma dari tenaga kesehatan. Beberapa hal yang dirasakan oleh pasien yang memiliki hubungan dengan penundaan tersebut adalah “merasa bahwa dokter atau tenaga kesehatan tidak mendengarkan keluhan mereka secara baik”, “mendapatkan stigma dari tenaga kesehatan” dan “merasa bahwa dokter dan menunjukkan ketidaksukaan merawat ODHA”. Stigma lebih banyak dirasakan oleh perempuan, pasien berusia di bawah 30 tahun dan heteroseksual.[11]

Kesimpulan dan Rekomendasi

Stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS masih banyak dialami bahkan dari tenaga kesehatan tersendiri. Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku memberikan stigma terhadap HIV pada tenaga kesehatan adalah tempat bekerja, pajanan terhadap orang dengan HIV/AIDS, perasaan pribadi apabila diri sendiri atau keluarga menderita HIV.

Stigma yang diberikan pada pasien mempengaruhi hubungan dokter pasien yang akhirnya mempengaruhi proses pengobatan yang dijalani  oleh pasien. Untuk itu, diperlukan solusi terhadap masalah stigma pada tenaga kesehatan. Solusi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Edukasi kepada mahasiswa kedokteran untuk mengerti mengenai stigma dan faktor yang mempengaruhi
  • Penggunaan universal precautions sudah cukup untuk pasien HIV. Universal precautions ini harus dilakukan pada seluruh pasien sehingga tidak terasa ada diskriminasi pada pasien tertentu

  • Hak pasien untuk dijaga kerahasiaan mengenai kondisinya juga berlaku pada pasien HIV. Pastikan dokter tidak melanggar hak tersebut
  • Layanan kesehatan perlu membuat sistem aturan yang mencegah terjadinya diskriminasi terhadap pasien HIV

Referensi