Peningkatan Risiko Terkena HIV pada Wanita selama Kehamilan dan Pasca Persalinan

Oleh dr. Sunita

Berbagai studi terbaru menduga ada peningkatan risiko terkena HIV pada wanita di masa kehamilan dan pasca persalinan, yang ditularkan dari pasangannya. Peningkatan risiko ini diduga berkaitan dengan perubahan kadar hormon yang mempengaruhi ekspresi protein permukaan sel T, perubahan mikrobiota vagina, dan perubahan perilaku seksual selama masa perinatal.

Menurut data UNAIDS pada tahun 2018, jumlah penderita HIV di Indonesia diperkirakan mencapai 630.000 orang dan populasi wanita menduduki hampir 30% dari proporsi angka tersebut. [1] Sementara itu, kelompok populasi wanita di Indonesia mulai mengalami peningkatan proporsi dalam hal distribusi individu yang mengalami infeksi HIV antara tahun 2008 dan 2014 (19% vs 26%)[2].

Peningkatan risiko serokonversi HIV pada masa perinatal ini, tentunya juga akan meningkatkan risiko transmisi vertikal. Sebuah studi di Afrika Selatan mengungkap bahwa serokonversi HIV pada saat kehamilan berkontribusi terhadap 26% kejadian transmisi HIV dari ibu ke anak. [3] Risiko serokonversi HIV dikatakan berbeda bermakna pada wanita selama kehamilan dan pasca persalinan[4].

pregnant women 2

Bukti Peningkatan Risiko Transmisi HIV dari Pasangan Seksual ke Wanita dalam Masa Perinatal

Sebuah meta analisis dan tinjauan sistematik melakukan penelusuran pada berbagai basis data penelitian untuk mengetahui besar risiko terkena HIV pada wanita seronegatif selama masa kehamilan dan pasca persalinan. Studi ini mengidentifikasi 47 publikasi (35 di antaranya dilakukan di Afrika), yang menilai transmisi HIV pada kehamilan dan periode pasca persalinan 12 bulan. Studi ini melaporkan bahwa insidensi HIV selama kehamilan dan pasca persalinan adalah 3,8/100 orang-tahun, yang dijabarkan menjadi 4,7/100 orang-tahun selama kehamilan dan 2,9/100 orang-tahun selama masa pasca persalinan. Namun, dikatakan bahwa risiko HIV tidak berbeda bermakna antara wanita di masa perinatal dengan wanita yang tidak hamil. [5]

Masih ada beberapa keterbatasan dalam studi ini. Pertama, penentuan insidens infeksi HIV pada berbagai sampel penelitian yang dianalisis dilakukan dengan menggunakan uji HIV yang beragam dengan tingkat sensitivitas yang bervariasi serta durasi tindak lanjut yang heterogen. Kedua, periode serokonversi dapat berkaitan dengan waktu pengujian, dimana pada studi ini waktu pemeriksaan HIV bervariasi antar subjek penelitian. Ketiga, seluruh studi yang dianalisis pada prinsipnya bukan bertujuan memperkirakan insidens HIV dalam kehamilan dan mayoritas sampel tersebut melakukan eksklusi wanita hamil dari sampel penelitian pada awal penelitian. [5]

Sementara itu, sebuah studi prospektif yang dipublikasikan di tahun 2018, mempelajari risiko relatif dan absolut bagi seorang wanita untuk terinfeksi HIV selama kehamilan dan pasca persalinan. Studi ini mengevaluasi perbedaan risiko akuisisi HIV pada berbagai tahap reproduktif dengan menghitung peluang transmisi HIV untuk tiap satu hubungan seksual pada periode awal kehamilan, akhir kehamilan, dan pasca persalinan dibandingkan saat sedang tidak hamil. [4].

Dari 2751 pasangan serodiskordan yang bergabung sebagai partisipan, 615 wanita mengalami kehamilan. Studi ini menyimpulkan bahwa risiko penularan HIV untuk tiap hubungan seksual tanpa kondom meningkat secara signifikan pada masa kehamilan dan pasca persalinan. Risiko tertinggi didapatkan pada masa akhir kehamilan dan pasca persalinan, dimana risiko akuisisi HIV meningkat 3 kali lipat pada masa akhir kehamilan, dan 4 kali lipat pada masa pasca persalinan [4].

Walaupun demikian, interpretasi risiko akuisisi HIV ini perlu dilakukan hati-hati sebab berbagai estimasi yang dilaporkan tersebut didapatkan dari penelitian yang dilakukan di negara dengan prevalensi HIV yang tinggi. Risiko akuisisi HIV tersebut sangat dipengaruhi oleh jumlah hubungan seksual tanpa kondom yang dilakukan dan sangat mungkin berbeda pada populasi dengan angka penggunaan kondom yang tinggi. Selain itu, dengan mengeksklusi kelompok wanita yang tidak pernah hamil sama sekali dari analisis, penelitian tersebut berpotensi kehilangan jumlah partisipan untuk dipantau yang juga dapat mempengaruhi estimasi risiko akuisisi HIV.

Faktor Penyebab Peningkatan Risiko HIV Selama Masa Kehamilan dan Pasca Persalinan

Berbagai faktor biologis diduga berperan dalam meningkatkan risiko HIV selama masa kehamilan dan pasca persalinan. Peningkatan kadar estrogen dan progesteron selama kehamilan dapat memicu rangkaian perubahan yang mencakup ekspresi sejumlah protein permukaan sel T seperti CCR5 dan CXCR4, peningkatan inflamasi disertai kelemahan epitel vagina, dan perubahan mikrobiota vagina[7]. Aktivasi imunitas bawaan dan supresi imunitas adaptif yang dipengaruhi proses kehamilan, memicu peradangan dan meningkatkan kerentanan sel di saluran genitalia wanita yang menjadi target masuknya HIV-1. Hal tersebut dapat berlangsung bahkan hingga 9 bulan pasca persalinan[8].

Namun, peningkatan risiko transmisi HIV pada wanita hamil dan pasca persalinan mungkin pula berkaitan pada penyebab selain faktor biologis saja. Penelitian Dvora et al mengungkap bahwa wanita hamil memiliki kemungkinan lebih tinggi melakukan aktivitas seksual berisiko, misalnya tanpa menggunakan kondom atau bersama lebih dari 1 pasangan seksual, dibandingkan wanita yang tidak hamil. Kombinasi perilaku seksual berisiko dan perubahan hormonal, menempatkan populasi wanita hamil atau pasca persalinan lebih berisiko untuk terinfeksi HIV dibandingkan wanita yang tidak hamil[6].

Dampak Terhadap Bayi

Dampak jangka panjang yang juga perlu dipertimbangkan dari peningkatan risiko transmisi HIV pada wanita hamil dan pasca persalinan adalah peningkatan kejadian transmisi HIV dari ibu ke anak. Sebuah studi meta analisis dan tinjauan sistematik menyatakan bahwa tingkat penularan vertikal dari ibu yang terkena HIV pada masa kehamilan adalah 17,8% dan 26,9% pada masa pasca persalinan. [5]

Kesimpulan

Terdapat peningkatan risiko terkena HIV pada wanita seronegatif selama periode kehamilan dan pasca persalinan dibandingkan saat sedang tidak hamil. Risiko ini dilaporkan meningkat paling banyak pada periode akhir kehamilan dan <6 bulan pasca persalinan.

Peningkatan risiko ini berkaitan dengan perubahan faktor biologis saat kehamilan seperti peningkatan estrogen dan progesteron, inflamasi, dan kerentanan sel epitel vagina terhadap infeksi, dan perubahan mikrobiota vagina. Selain itu, adanya perilaku seksual berisiko seperti berhubungan tanpa menggunakan kondom atau bersama lebih dari 1 pasangan seksual, juga meningkatkan risiko transmisi HIV selama periode kehamilan dan pasca persalinan.

Adanya peningkatan risiko serokonversi pada wanita selama masa kehamilan dan pasca persalinan ini juga meningkatkan risiko transmisi vertikal. Ditemukan bahwa tingkat penularan vertikal dari ibu yang terkena HIV pada masa kehamilan adalah 17,8% dan pada masa pasca persalinan adalah 26,9%.

Referensi