Di praktik sehari-hari, dokter umum sangat sering berhadapan dengan pasien nyeri dada yang langsung diasosiasikan dengan “asam lambung naik”. Tidak jarang...
GERD Tidak Menyebabkan Serangan Jantung, Tapi Serangan Jantung Bisa Menyamar Seperti GERD - Diskusi Dokter
general_alomedikaDiskusi Dokter
- Kembali ke komunitas
GERD Tidak Menyebabkan Serangan Jantung, Tapi Serangan Jantung Bisa Menyamar Seperti GERD
Di praktik sehari-hari, dokter umum sangat sering berhadapan dengan pasien nyeri dada yang langsung diasosiasikan dengan “asam lambung naik”. Tidak jarang pasien sudah mencoba antasida sebelum datang berobat dan merasa yakin keluhannya hanyalah GERD. Di sisi lain, ada juga pasien yang justru datang dengan kecemasan berlebih karena takut serangan jantung, padahal keluhannya lebih mengarah ke gangguan saluran cerna. Di sinilah pemahaman konsep yang tepat menjadi krusial.
Secara ilmiah, GERD tidak menyebabkan serangan jantung. Mekanisme keduanya sangat berbeda. Serangan jantung atau infark miokard akut terjadi akibat gangguan aliran darah koroner yang menyebabkan iskemia dan nekrosis otot jantung. Sementara itu, GERD merupakan gangguan akibat refluks asam lambung ke esofagus karena disfungsi sfingter esofagus bawah. Tidak ada bukti kausal bahwa refluks asam lambung dapat memicu terjadinya oklusi arteri koroner atau infark miokard.
Namun yang sering menimbulkan masalah klinis adalah fakta bahwa keluhan serangan jantung dapat terasa sangat mirip dengan GERD. Nyeri dada akibat iskemia miokard tidak selalu khas berupa nyeri hebat di dada kiri. Pada sebagian pasien, terutama usia lanjut, perempuan, dan penderita diabetes, keluhan bisa samar berupa rasa tidak nyaman di dada, panas di ulu hati, mual, atau rasa penuh seperti masuk angin. Secara anatomi dan fisiologi, esofagus dan jantung memiliki jalur persarafan viseral yang berdekatan, sehingga otak dapat salah menginterpretasikan sumber nyeri.
Karena itu, dalam menghadapi nyeri dada, prinsip utamanya adalah menyingkirkan penyebab kardiak terlebih dahulu. Nyeri dada yang baru, tidak biasa, lebih berat dari biasanya, atau disertai faktor risiko kardiovaskular harus selalu diperlakukan sebagai kemungkinan sindrom koroner akut sampai terbukti sebaliknya. Evaluasi dengan EKG dan penilaian klinis yang cermat menjadi kunci, sebelum akhirnya menenangkan pasien bahwa keluhan tersebut memang berasal dari GERD dan bukan dari jantung.