Pengaruh GERD pada Pasien Asthma

Oleh dr. Shofa Nisrina

Pada pasien dengan asthma yang sulit dikontrol, GERD (gastroesophageal reflux disease) diduga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi. Kondisi asthma dan GERD  sering ditemukan secara bersamaan. Akan tetapi, sampai saat ini mekanisme yang menjelaskan hubungan antar keduanya masih sebatas teori. [1,2]

Asthma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang berhubungan dengan hiperresponsif saluran napas dan menimbulkan gejala berupa mengi, sesak napas, dan batuk. Sekitar 4,3% orang di dunia mengalami asthma dan prevalensinya semakin meningkat setiap tahun.[3] GERD merupakan refluks konten lambung ke esofagus yang dapat menimbulkan gejala heart burn, dan bisa menimbulkan komplikasi seperti karsinoma esofagus. [2]

Dasar Teori Efek GERD terhadap Asthma

Saat ini beberapa teori mengenai pengaruh GERD (gastroesophageal reflux disease) terhadap asthma telah diajukan. Esofagus dan paru-paru memiliki asal embrionik yang sama dan diinervasi oleh saraf vagus, sehingga secara teori dapat saling berhubungan. Adanya paparan asam pada esofagus atau saluran napas bagian atas diduga memicu terjadinya bronkospasme dan meningkatkan aktivitas saluran napas. Kejadian ini dapat muncul dari adanya refleks vagal atau mikroaspirasi konten lambung ke saluran pernapasan. [4,5]

Studi observasional pada 32 pasien dengan asthma derajat ringan dan batuk kronik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara paparan asam pada esofagus bagian distal dan peningkatan kadar substansi P serta neurokinin A. Hal ini mengindikasikan adanya aktivasi saraf sensorik yang menyebabkan kendali asthma yang buruk pada pasien dengan GERD. [6]

Mikroaspirasi konten lambung juga akan meningkatkan resistensi pada saluran pernapasan. Kontak langsung dengan aspirat yang bersifat asam dapat mencederai epitel jaringan napas sehingga memicu pelepasan sitokin inflamasi. Gambaran histologi inflamasi saluran pernapasan yang diinduksi oleh GERD menunjukkan adanya infiltrasi neutrofil, limfosit, eosinofil, dan makrofag. [5]

Selain daripada itu, obat-obat asthma seperti beta 2 agonist juga dapat menyebabkan relaksasi pada sfingter gastroesofagus bawah, sehingga memperberat refluks dan juga mengiritasi saluran napas, menyebabkan keluhan batuk berulang pada pasien asthma [7]

asthma cough

Penegakkan Diagnosis Asthma dengan GERD

Asthma yang disertai oleh GERD (gastroesophageal reflux disease) dapat dicurigai jika:

  • Muncul pertama kali saat dewasa
  • Memiliki kontrol yang buruk terhadap obat-obatan asthma
  • Terdapat gejala rasa panas di dada atau regurgitasi sebelum serangan asthma
  • Perburukan gejala asthma setelah konsumsi makanan dalam jumlah yang besar, minum alkohol, atau setelah posisi terlentang
  • Adanya keluhan batuk kronik di malam hari pada pasien asthma [2,7]

Menurut pedoman GINA (Global initiative for asthma) 2018, skrining GERD pada pasien dengan asthma yang tidak terkontrol tidak memiliki keuntungan yang signifikan. Apabila pasien asthma dicurigai memiliki komorbiditas GERD, maka dapat dilakukan uji pemberian obat anti refluks secara empiris, sama seperti pada populasi umum. Apabila gejala tidak membaik, maka pemeriksaan spesifik seperti pemantauan pH 24 jam dan endoskopi dapat dipertimbangkan. [7]

Apakah Terapi pada Penyakit Refluks Gastroesofagus dapat Meningkatkan Kontrol terhadap Asthma?

Telaah sistematis yang dilakukan oleh Cochrane melaporkan bahwa studi-studi yang menemukan adanya hubungan antara asthma dengan GERD (gastroesophageal reflux disease) memiliki banyak kekurangan, seperti tidak adanya bukti objektif dari diagnosis asthma maupun GERD, jumlah subjek yang terlalu sedikit (< 60), dan durasi terapi yang terlalu pendek (< 3 bulan). Telaah sistematis ini menyimpulkan bahwa terapi antirefluks tidak memperbaiki kontrol gejala pada pasien asthma. [8]

Studi lain yang berupa randomized clinical trial (RCT) melaporkan hasil yang mirip. Studi ini melakukan intervensi dan randomisasi pada 207 subjek studi. Intervensi yang diberikan berupa plasebo atau 2 x 30 mg lansoprazole selama 24 minggu. Studi ini menyimpulkan bahwa pemberian lansoprazole tidak memperbaiki kontrol gejala asthma, fungsi paru, maupun kebutuhan menggunakan salbutamol. Namun, intervensi ini dilaporkan secara signifikan mengurangi eksaserbasi asthma dan meningkatkan kualitas hidup pasien, terutama pada pasien yang menggunakan lebih dari satu controller. [9]

RCT lain yang lebih baru (2010) pada 828 subjek studi, melakukan intervensi berupa pemberian esomeprazole 40 mg sekali atau dua kali sehari selama 26 minggu. Studi ini menyimpulkan bahwa penggunaan esomeprazole dua kali sehari meningkatkan FEV1 dan kualitas hidup pasien secara signifikan berdasarkan statistik, namun perbaikan ini sifatnya minor dan tidak bermakna secara klinis. [10]

Pada pedoman oleh GINA (Global initiative for asthma) 2018, dikatakan bahwa apabila pasien dengan asthma mengeluhkan batuk yang kronik, terutama hanya pada malam hari, maka adanya komorbiditas GERD harus dipikirkan. Namun, penatalaksanaan menggunakan obat anti refluks direkomendasikan pada asthma yang tidak terkontrol hanya jika ditemukan bukti adanya refluks simptomatik. [7]

Kesimpulan

Pada pasien dengan asthma yang sulit dikontrol, GERD (gastroesophageal reflux disease) diduga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi. Adanya paparan asam pada esofagus atau saluran napas bagian atas diduga memicu terjadinya bronkospasme dan meningkatkan aktivitas saluran napas, dipengaruhi oleh adanya refleks vagal atau mikroaspirasi konten lambung ke saluran pernapasan.

Skrining GERD pada pasien dengan asthma yang tidak terkontrol tidak memiliki keuntungan yang signifikan. Apabila pasien asthma dicurigai memiliki komorbiditas GERD, maka dapat dilakukan uji pemberian obat anti refluks secara empiris, sama seperti pada populasi umum. Apabila gejala tidak membaik, maka pemeriksaan spesifik seperti pemantauan pH 24 jam dan endoskopi dapat dipertimbangkan.

Studi yang ada menunjukkan bahwa penatalaksanaan GERD pada pasien asthma dengan kontrol yang buruk tidak memperbaiki kontrol gejala dan fungsi paru, namun dilaporkan mampu memperbaiki kualitas hidup pasien. Pedoman oleh GINA 2018 merekomendasikan tatalaksana menggunakan obat anti refluks pada asthma yang tidak terkontrol hanya jika ditemukan bukti adanya refluks simptomatik.

Referensi