Double Antihistamine apakah aman diberikan pada pasien depresi dan gangguan cemas - Diskusi Dokter

general_alomedika

Alodokter, izin bertanya Dok, pada kasus-kasus depresi atau gangguan cemas, amankah bila diberikan double antihistamin generasi pertama Dok dan bolehkah GP...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Double Antihistamine apakah aman diberikan pada pasien depresi dan gangguan cemas

    17 Juni 2021, 09:30
    Anonymous
    Anonymous
    Dokter Umum

    Alodokter, izin bertanya Dok, pada kasus-kasus depresi atau gangguan cemas, amankah bila diberikan double antihistamin generasi pertama Dok dan bolehkah GP memberikan obat-obatan tersebut sebagai lini pertama bila menjumpai pasien depresi atau gangguan cemas?

    Terima kasih sebelumnya :)

18 Juni 2021, 08:31

Alo dokter,

Peran antihistamin generasi pertama (CTM) pada kasus kecemasan dan depresi masih kontroversial. Memberikan antihistamin untuk efek sedatifnya mungkin membantu untuk gejala kecemasan, tetapi tidak perlu digandakan. Selain itu, antihistamin untuk pengobatan gangguan cemas bukan pilihan lini pertama. CTM juga mempunyai efek samping agitasi dan iritabilitas paradoks. Referensi : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5449970/

Untuk penilaian dan manajemen pasien dengan depresi dapat menggunakan alat seperti PHQ-9, dapat dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan obat yang mungkin memperburuk kondisi. Semoga membantu dokter..

18 Juni 2021, 08:53
dr. Soeklola SpKJ MSi
dr. Soeklola SpKJ MSi
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
Alo dok, Izin menambahkan sampai saat ini antihistimin belum termasuk sebagai lini pertama penanganan depresi dan cemas. Lini pertama masih berupa pemberian antidepresan. Adapun kewenangan GP memberikan mengatasi gangguan cemas ataupun depresi dan pemberian antidepresan diatur dalam  Standar Kompetensi Dokter Umum yang bisa dokter akses di www.kki.go.id.Selain pemberian psikofarmaka gangguan cemas dan depresi membutuhkan intervensi non psikofarmaka yg sama pentingnya (bahkan pada kasus tertentu pasien dapat memutuskan hanya menggunakan intervensi non psikofarmaka atau pada kondisi lebih besar risiko seperti usia anak,  hamil,  komorbiditas penyakit fisik,  ataupun risiko interaksi tinggi) seperti konseling ataupun psikoterapi, atau intervensi alternatif (neurofeedback dll tetapi untuk intervensi alternatif ini sifatnya pun perlu didukung dengan psikoterapi) .  (pada dokter layanan primer di faskes tingkat pertamapun sudah diberikan pelatihan wewenang untuk melakukan konseling  ataupun psikoterapi suportif), walaupun pelatihan psikoterapi suportif belum tersebar merata pelatihannya untuk dokter faskes tingkat pertama. Adapun psikofarmaka sangat dibutuhkan jika terdapat kondisi gangguan berat seperti: hendaya yang sangat bermakna dalam melakukan aktivitas sehari-hari (misalnya hingga tidak mampu makan, dan lainnya),  terdapat keberbahayaan tinggi (gaduh gelisah,  risiko tinggi bunuh diri atau menyakiti diri atau orang lain).

Semoga membantu dok.
29 Juni 2021, 21:24
Tama
Tama
Psikolog

Minta resep alprazolam apakah boleh dok....soalny untuk berobat bukan di salah gunakan 

 

29 Juni 2021, 21:21
Tama
Tama
Psikolog

Minta resep alprazolam apakah

10 Juli 2021, 17:44
dr.Dr Yongky dr SpKJ.MM.MKes
dr.Dr Yongky dr SpKJ.MM.MKes
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
Menurut undang2 yg berlaku di Indonesia yg boleh menulis resep adalah dokter,  kalau psikolog, minta resep Alprazolam, boleh saja, tapi kalau tulis resep, bagaimana bisa, psikolog tidak diajarkan tulis resep