Mengenal Copycat Suicide dan Peran Dokter untuk Mencegahnya

Oleh :
dr. Nathania S. Sutisna

Fenomena copycat suicide atau bunuh diri dengan mengimitasi orang lain akan meningkatkan angka kejadian bunuh diri secara signifikan sehingga dokter perlu mengenali dan berperan aktif mencegahnya.

Data WHO tahun 2015 menunjukkan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kematian terbanyak ke-17 di dunia. Sebanyak kurang lebih 800.000 orang meninggal pada kasus bunuh diri per tahunnya. Indonesia memiliki angka kematian untuk bunuh diri adalah 2.9 per 100.000 jiwa. Tiga negara dengan tingkat bunuh diri terbanyak di Asia ialah Sri Langka (35.3 per 100.000), Korea Selatan (32 per 100.000), dan Mongolia (28.3 per 100.000)[1].

Depositphotos_10882275_m-2015_compressed

Copycat suicide atau bunuh diri dengan cara meniru adalah salah satu fenomena bunuh diri di mana seorang korban meniru perilaku bunuh diri dari orang lain, contohnya selebriti atau figur publik. Dapat dikatakan copycat suicide adalah sebuah perilaku bunuh diri yang “menular”. Kasus bunuh diri dari orang-orang terkenal seperti selebriti kemungkinan besar dapat menyebabkan fenomena copycat suicide yang lebih besar dibandingkan orang biasa dan kasus nyata lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan kasus fiksi[2,3]. Bunuh diri massal dapat berkisar antara 3 penyebab berikut[3]:

  • Pelaku bunuh diri merasa berhubungan dengan selebriti-selebriti
  • Poin pertama menjadi lebih besar dampaknya bila selebriti tersebut memiliki kesamaan dengan pelaku bunuh diri
  • Pengaruh dari media massa yang memberitakan kasus bunuh diri ini, yang merupakan contoh dari transmisi kultur “satu-ke-beberapa”

Dalam suatu penelitian di Korea Selatan, terdapat 6 selebriti yang melakukan aksi bunuh diri dari tahun 2005 – 2008 dan kemudian dibagi menjadi 4 periode. Lima di antaranya adalah wanita dan menggunakan metode yang sama yaitu gantung diri, dan 1 pria (A.J.) dengan metode batu bara (charcoal). Tahun 2008, dalam 1 bulan terdapat 4 kematian selebriti. Kematian pertama ada dalam periode 3 adalah kematian selebriti pria yang menggunakan metode batu bara. Kasus ini dianggap berhubungan dengan kematian kedua (periode 4) dengan gantung diri dan kemudian diikuti dengan 2 kematian berikutnya dengan cara gantung diri juga. Dua kematian terakhir ini diduga sebagai copycat suicide dari kematian sebelumnya.

Didapatkan hasil kenaikan angka kejadian bunuh diri di Korea Selatan sebagai berikut:

  • Periode 1: 29.7% (CI 95%; 18.4 – 42.1)
  • Periode 2: 42.2% (CI 95%; 32.5 – 52.5)
  • Periode 3: 14.6% (CI 95%; 3.7 – 26.6)
  • Periode 4: 95.4% (CI 95%; 78.8 – 113.4)

Periode 3 dikesampingkan karena pada periode tersebut didapatkan kasus bunuh diri yang berbeda dengan yang lain (dengan menggunakan batu bara yang memiliki kemungkinan kematian yang lebih rendah daripada gantung diri), sehingga didapatkan kenaikan angka kejadian bunuh diri dari periode 1, 3 dan 4. Akan tetapi, pada periode 3 setelah kematian A.J. dengan metode batu bara, ditemukan kasus bunuh diri dengan metode batu bara memiliki OR 3.671 (CI 95%; 2.622 – 5.140) dibandingkan dengan periode lainnya[4].

Penelitian tentang Peran Media Massa dalam Kasus Copycat Suicide

Secara sederhana, media massa mempengaruhi terjadinya copycat suicide melalui pembelajaran sosial dengan memberi ‘inspirasi’ atau pemberitaan bahwa seseorang yang bermasalah telah menyelesaikan masalahnya melalui bunuh diri. Terdapat kecenderungan kasus bunuh diri dari orang yang dipandang superior lebih berpengaruh terhadap copycat suicide. Lebih dalam lagi, pemberitaan melalui koran memiliki efek copycat suicide yang lebih besar dibandingkan dengan televisi karena korban bunuh diri dapat membaca berulang-ulang dan mempelajari kasus bunuh diri yang diberitakan tersebut[2].

Kasus bunuh diri Nee MJ, aktor Taiwan pada April 2005[5]

Selama lebih dari 2 minggu, berita kematian selebriti ini disebarkan melalui acara televisi dan pemberitaan di koran serta menjadi berita terdepan dengan menggunakan kata-kata sensasional, simpati dan metode bunuh diri yang disebutkan berulang-ulang.

Studi ini menggunakan wawancara dengan 461 responden depresi (10 orang menolak berpartisipasi dan 13 orang tidak mengetahui tentang berita bunuh diri selebriti Nee). Dari 438 responden yang terpapar berita bunuh diri ini, 220 responden melakukan perilaku bunuh diri dengan 170 responden di antaranya (77.3%) mengatakan terpengaruh dari laporan media. 27 responden melakukan aksi bunuh diri dan 24 di antaranya (88.89%) mengaku terpengaruh dari laporan media. Risiko pengaruh buruk ini paling tinggi didapatkan pada mereka yang memiliki depresi berat (adjusted OR 7.81; CI 95% 3.28 – 18.59) dan memiliki riwayat percobaan bunuh diri 1 bulan sebelum pemberitaan kasus bunuh diri tersebut (adjusted HR 11.91, CI 95%; 3.76 – 37.72).

Efek Media terhadap Kasus Bunuh Diri Figur Publik tahun 1989 – 2010 di Jepang[6]

Dalam rentang studi ini, terdapat 596.816 kasus bunuh diri dan 109 di antaranya adalah figur publik yang dikenal baik (contoh: politisi dan selebriti). Bila dirata-rata, selama 73 hari sekali, terjadi 1 kasus bunuh diri yang dilakukan oleh figur publik.

Ditemukan angka kejadian bunuh diri meningkat 4.6% di hari pemberitaan kasus bunuh diri tersebut dan rata-rata adalah 5% dalam 10 hari pasca pemberitaan.

Lebih tajam lagi penelitian ini memisahkan 44 figur yang lebih terkenal, dimana kematiannya akibat bunuh diri diliput lebih dari satu kali. Ditemukan kenaikan angka bunuh diri pada hari pertama adalah 7%, dan rata-rata adalah 6.3% dalam 10 hari pasca pemberitaan.

Tren Bunuh Diri Menggunakan Batu Bara (charcoal) di Korea Selatan setelah Kasus Bunuh Diri Ahn Jae-hwan, Selebriti, September 2008[7]

Hanya 3 kasus bunuh diri menggunakan batu bara terekam pada 1 bulan sebelum kematian selebriti Ahn. Setelah kasus bunuh diri selebriti ini muncul dan diberitakan media massa secara besar-besaran (total 957 artikel terekam), ditemukan kasus yang sama pada minggu pertama, kedua, ketiga dan keempat sebanyak 8, 12, 17 dan 9 kasus. Peningkatan dibandingkan sebelum kasus ini diberitakan adalah signifikan secara statistik (p = 0.05).

Beberapa faktor yang ditemukan paling berpengaruh terhadap kasus bunuh diri menggunakan batu bara adalah:

  • Pemberitaan media massa besar-besasran (OR: 11.69; CI 95%, 10.30 – 13.23, p < 0.05) dibandingkan dengan sebelum pemberitaan kasus bunuh diri selebriti Ahn
  • Usia 25 – 44 tahun (OR: 6.26; CI 95% 2.33 – 16.84)
  • Jenis kelamin pria (OR: 2.54; CI 95% 2.31 – 2.80)

WHO telah mengeluarkan panduan untuk media massa mengenai saran pemberitaan berita bunuh diri sebagai langkah untuk menghindari kasus bunuh diri. Secara garis besar, WHO menyarankan media untuk memberitakan kasus bunuh diri dengan tepat dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, mewaspadai penggunaan komentar-komentar improptu, menghindari kata-kata yang digeneralisasi dan tidak memberitakan bahwa ‘perilaku bunuh diri adalah sebuah respons perubahan yang wajar’[8].

Dokter layanan primer sebaiknya juga waspada terhadap fenomena ini dan memberikan layanan atau rujukan yang sesuai kepada pasien depresi. Dokter layanan primer harus dapat melakukan penilaian risiko dan penanganan bunuh diri. Kolaborasi antara layanan primer dengan Rumah Sakit Jiwa terbukti dapat menurunkan angka depresi dan ide bunuh diri di kalangan orang tua. Advokasi terhadap pemangku kebijakan dalam hal ini terkait dengan media massa juga dapat dilakukan agar bila memberitakan mengenai kasus bunuh diri figur publik mengikuti aturan dan saran yang berlaku. Advokasi lain juga dapat ditujukan agar mengurangi akses masyarakat terhadap hal atau benda berbahaya yang dapat memicu bunuh diri, contohnya membatasi pembelian pistol, membuat pagar atau barikade di jembatan yang dapat digunakan untuk bunuh diri dari ketinggian dan membatasi akses untuk pestisida[9].

Dokter juga sebaiknya mengedukasi pasien terkait supaya tidak menyebarkan berita mengenai kasus bunuh diri, karena ditakutkan kemungkinan terjadi efek seperti yang telah dibuktikan bila berita bunuh diri disebar oleh media massa. Khususnya berita yang membahas mengenai metode dan motif bunuh diri serta gambar-gambar terkait kasus bunuh diri tersebut.

Kesimpulan

  • Bunuh diri merupakan masalah terkait kesehatan yang dipandang oleh WHO sebagai penyebab kematian nomor 17 terbanyak di dunia
  • Copycat suicide adalah perilaku bunuh diri yang mengikuti kasus bunuh diri sebelumnya

  • Copycat suicide kemungkinan lebih besar efeknya bila bunuh diri dilakukan oleh orang-orang yang terkenal, terutama selebriti, dan kisah nyata dibandingkan dengan orang biasa dan kasus fiksi.

  • Secara sederhana, fenomena ini dapat terjadi akibat dari pembelajaran sosial bahwa seseorang yang bermasalah telah menyelesaikan masalahnya dengan bunuh diri
  • Pemberitaan kasus bunuh diri melalui koran lebih tinggi risikonya terhadap fenomena copycat suicide dibandingkan melalui televisi. Hal ini karena apabila diberitakan melalui koran, korban bunuh diri dapat membaca berulang-ulang dan mempelajari kasus bunuh diri tersebut.
  • Lebih dari 70% pasien depresi melakukan perilaku dan percobaan bunuh diri dan mengaku terpengaruh dari laporan media mengenai kematian seorang selebriti di Taiwan.
  • Risiko paling besar dari copycat suicide didapatkan pada orang yang mengalami depresi berat dan terdapat riwayat percobaan bunuh diri 1 bulan sebelum kasus bunuh diri selebriti diberitakan media.
  • Pemberitaan media massa secara besar-besaran sangat berpengaruh terhadap jumlah kematian akibat bunuh diri
  • Peran dokter dalam mengurangi angka bunuh diri adalah dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena ini, membuat kolaborasi antara layanan primer dengan Rumah Sakit Jiwa, melakukan advokasi kepada pemerintah untuk pemberitaan media massa terkait kasus bunuh diri dan pembatasan akses masyarakat terhadap hal-hal yang bisa memicu bunuh diri.
  • Dokter juga sebaiknya mengedukasi pasien supaya tidak menyebarkan berita terkait kasus bunuh diri, khususnya berita yang membahas mengenai metode dan motif bunuh diri serta gambar-gambar terkait kasus bunuh diri tersebut.

Referensi