Bayi lahir dari ibu HIV: bagaimana penatalaksanaannya? - Diskusi Dokter

general_alomedika

Bayi lahir dari ibu HIV: Bagaimana penatalaksanaannya?Kasus hari ini:Bayi lahir cukup bulan secara seksio cesaria dari ibu HIV ( ). Faktor risiko kehamilan...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Bayi lahir dari ibu HIV: bagaimana penatalaksanaannya?

    12 Desember 2018, 11:16
    dr.A Rafli, SpA
    dr.A Rafli, SpA
    Dokter Spesialis Anak

    Bayi lahir dari ibu HIV: Bagaimana penatalaksanaannya?

    Kasus hari ini:

    Bayi lahir cukup bulan secara seksio cesaria dari ibu HIV ( ). Faktor risiko kehamilan seperti ketuban pecah dini, hipertensi, diabetes melitus tidak ada. Suaminya terkena HIV dan dalam pengobatan ini. Saat lahir A/S 8/9 berat lahir 3500 g dengan Downe score 1-2. 

    Pada pemeriksaan fisik

    Tanda vital dalam batas normal

    Pemeriksaan fisik dalam batas normal dan skor Dubowitz sesuai dengan 37-38 minggu

    Pemeriksaan lab: rencana pemeriksaan darah lengkap, GDS

    Pasien direncanakan pemberian zidovudin sebagai terapi profilaksis, pemantauan PMTCT, dan edukasi orangtua

    Definisi

    Bayi baru lahir dari ibu yang diketahui mengidap HIV selama kehamilannya, dimana ibu sudah diskrining menggunakan pemeriksaan serologis. Saat ini rekomendasi IDAI untuk mengikuti Prevention of Mother to Child Infection (PMTCT). 

    Anamnesis dan pemeriksaan fisis

     Ibu sudah dilakukan skrining HIV, minimal serologis, lebih baik lagi bila PCR 

     Sebaiknya dilahirkan dengan cara bedah kaisar terencana 

     Direncanakan untuk mendapat susu formula 

     Keadaan umum dan pemantauan adanya infeksi oportunistik pada ibu 

    Pemeriksaan penunjang 

     Pada saat seputar kelahiran tidak ada yang khusus. 

     Penentuan status infeksi HIV pada bayi dengan PCR RNA/DNA-HIV 2 kali (usia 6 minggu dan 4-6 bulan) 

    Klasifikasi 

    Bayi status terpapar pada infeksi HIV, prefix E pada klasifikasi CDC tahun 1994. 

    Tata laksana 

    Kamar bersalin

    - Pertolongan persalinan menggunakan sesedikit mungkin prosedur invasif 

    - Segera bersihkan bayi dengan mematuhi kewaspadaan universal (universal precaution) 

    Perawatan hari 1- sebelum pulang dari rumah sakit 

    1. Tidak diberi ASI, berikan susu formula biasa. 

    2. Berikan terapi profilaksis: Zidovudin diberikan untuk bayi mulai usia 6-12 jam: 

    - Usia gestasi > 35 minggu: dosis zidovudin 4 mg/kg/dosis, 2 kali sehari (tiap 12 jam) selama 6 minggu. 

    - Usia gestasi > 30 - < 35 minggu: dosis zidovudin 2 mg/kg/dosis, 2 kali sehari (tiap 12 jam), dilanjutkan menjadi 3 mg/kg/dosis tiap 12 jam pada usia 15 hari. Zidovudin diberikan sampai usia 6 minggu. 

    - Usia gestasi < 30 minggu: 2 mg/kg/dosis, 2 kali sehari (tiap 12 jam), dilanjutkan menjadi 3 mg/kg/dosis, 2 kali sehari (tiap 12 jam) saat usia 4 minggu. Zidovudin diberikan sampai usia 6 minggu. 

    3. Imunisasi hepatitis B I dan polio pada saat akan pulang 

    Usia 7 hari, kontrol pertama 

    1. Pemantauan efek samping pemberian zidovudin (anemia), kemampuan minum susu, masalah lain bayi baru lahir. 

    2. Pemeriksaan laboratorium atas indikasi 

    3. Pemantauan pemberian obat zidovudin pada bayi (penyesuaian dosis) 

    Follow up dilakukan sampai usia 18 bulan (lihat timeline yang saya lampirkan)

    Pendidikan 

    Infeksi HIV mengenai seluruh keluarga. 

    Kehamilan dan kelahiran bayi akan menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada orang tua yang mengidap HIV. 

    Komunikasi terus menerus, kepatuhan pemberian obat profilaksis dapat meningkatkan kerjasama orang tua dan keluarga.

    Orang tua juga diharapkan untuk menjaga kesehatan diri lebih baik dan dianjurkan untuk mempraktikkan pola hidup sehat. 

    Apakah sejawat pernah memiliki kasus yang sama?mari sharing😊

    Sumber:

    Pedoman manajemen program pencegahan penularan HIV dan sifilis dari ibu ke anak.Kemenkes 2015

    Pedoman pelayanan klinis.RSCM.2015

12 Desember 2018, 11:35
Ingin bertanya Dok, mengenai pemberian ASI, dari WHO disarankan utk tetap memberi ASI yg penting ibunya diberikan ART dan bayinya diberi profilaksis, namun CDC tidak menyarankan, CDC dasarnya dari AAP. Sebenarnya, bagaimana pertimbangan pemberian ASI pada bayi dengan ibu HIV positif?

Btk Dok..
12 Desember 2018, 12:47
dr.A Rafli, SpA
dr.A Rafli, SpA
Dokter Spesialis Anak
seminar HIV yang diselenggarakan IDAI minggu lalu, untuk ASI pada bayi dengan Ibu HIV tetap tidak diperbolehkan sesuai dengan CDC karena mempertimbangkan risk and benefitnya terutama untuk negara berkembang di Indonesia.Yang terbaru adalah boleh diberikan ASI asal bisa menjamin puting ibu tidak ada mikrolaserasi dan bayi diberikan profilaksis nevirapin.Namun, belum diadaptasi khususnya di Indonesia.

12 Desember 2018, 11:35

Alo dokter, 

Terima kasih untuk sharingnya dr. Achmad Rafli, Saya ingin menambahkan sedikit untuk pemberian ASI, kalau yang Saya baca dari referensi WHO, untuk Ibu dengan HIV positif, disarankan untuk meneruskan pemberian ASI dan juga tentunya meneruskan pengobatan ARVnya selama minimal 12 bulan, karena dari penelitian menunjukkan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama berhubungan dengan penurunan risiko penularan HIV sebesar 3-4 kali  dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI dan susu formula.  (https://www.who.int/bulletin/volumes/88/1/10-030110/en/)

 

 

12 Desember 2018, 11:37
Sekedar tambahan Dok, ini dari CDC yg dengan tegas melarang. https://www.cdc.gov/breastfeeding/breastfeeding-special-circumstances/maternal-or-infant-illnesses/hiv.html

Untuk artikel WHOnya yg saya dapat sama..
12 Desember 2018, 11:51
Iya dok, banyak pertimbangan untuk boleh tidaknya ASI pada bayi yang Ibunya mengalami HIV, tapi sepertinya lebih aman untuk tidak memberikan ASI.
12 Desember 2018, 12:48
dr.A Rafli, SpA
dr.A Rafli, SpA
Dokter Spesialis Anak
dari seminar HIV yang diselenggarakan IDAI minggu lalu, untuk ASI pada bayi dengan Ibu HIV tetap tidak diperbolehkan sesuai dengan CDC karena mempertimbangkan risk and benefitnya terutama untuk negara berkembang di Indonesia.Yang terbaru adalah boleh diberikan ASI asal bisa menjamin puting ibu tidak ada mikrolaserasi dan bayi diberikan profilaksis nevirapin.Namun, belum diadaptasi khususnya di Indonesia.
12 Desember 2018, 13:28
Terimakasih infonya dok
12 Desember 2018, 14:03
dr. Yoke KP, M.Sc, Sp.A
dr. Yoke KP, M.Sc, Sp.A
Dokter Spesialis Anak
Menarik dok bahasannya 👍

Menambahkan sedikit, secara umum, pemberian makanan pada bayi yang berasal dari ibu penderita HIV positif pilihannya adl sbb:
1. Bila ibu memilih tetap memberikan ASI, maka ASI diberikan hanya selama 6 bulan dan kemudian dihentikan. ASI diperah dan dihangatkan 56C selama 30 menit.
(Kalau menyusu langsung hrs dipastikan posisi dan perlekatan benar shg puting tidak lecet).
2. Bila ibu memilih untuk memberikan susu formula, maka susu formula harus diberikan dengan memenuhi 5 kriteria AFASS (Acceptable/dpt diterima, Feasible/dpt dilaksanakan, Affordable/keluarga mampu membeli sufor secara erus menerus, Sustainable/berkelanjutan, Safe/aman).
3. Tidak boleh memberikan ASI secara bersamaan dengan susu formula, tidak boleh selang seling.

Bila sudah menutuskan utk memberi ASI maka seterusnya harus ASI s.d 6 bulan. Kalau ASI berhenti sblm 6 bulan lalu ganti sufor maka risiko penularan meningkat.
Maka konseling pemberian nutrisi ini hrs dijelaskan sejelas2nya pd ibu dan ayah nya.

Rekomendasinya utk bayi dgn ibu HIV positif di Indonesia saat ini pilihan utamanya tetap dgn sufor, tapi syarat AFASS HARUS terpenuhi semuanya.

WHO msh merekomendasikan ASI krn WHO mengakomodir seluruh negara di dunia termasuk negara2 berkembang dimana mungkin sufor msh mrpkn barang yg sangat mahal, kebersihan msh mjd masalah, dll, sehingga dipandang pemberian ASI lbh aman dan realistis dibanding sufor.

Referensi: 1. Buku bedah ASI IDAI
2. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/air-susu-ibu-dan-hak-bayi
12 Desember 2018, 14:18
dr.A Rafli, SpA
dr.A Rafli, SpA
Dokter Spesialis Anak
terima kasih dr.atas tambahannya..ya setuju susu formula asal sesuai AFASS..ini juga dibahas di seminar IDAI kemarin 👍🙏
Senang diskusi bisa berkembang dan banyak ilmu baru yang kita saling sharing ya😊
12 Desember 2018, 14:22
Terimakasih infonya dok
12 Desember 2018, 14:07
dr. Yoke KP, M.Sc, Sp.A
dr. Yoke KP, M.Sc, Sp.A
Dokter Spesialis Anak
*Bila sudah menutuskan utk memberi ASI maka seterusnya harus ASI s.d 6 bulan. Kalau ASI berhenti sblm 6 bulan lalu ganti sufor lalu ASI lagi, maka risiko penularan meningkat.
Maka konseling pemberian nutrisi ini hrs dijelaskan sejelas2nya pd ibu dan ayah nya.
12 Desember 2018, 14:19
dr.A Rafli, SpA
dr.A Rafli, SpA
Dokter Spesialis Anak
betul sekali🙏👍terima kasih dr.atas tambahannya.
12 Desember 2018, 14:23
Terimakasih dok infonya, semoga edukasi ke pasien semakin mantap ya dok.
12 Desember 2018, 14:27
very interesting Article. Good.
02 Januari 2019, 20:51
dr.A Rafli, SpA
dr.A Rafli, SpA
Dokter Spesialis Anak
🙏👍
12 Desember 2018, 15:13
Wow.. Benar2 menarik dok pembahasan ya.. Makasi informasinya..
untuk Pemberian ASI, bisa asal eksklusif dan tidak boleh selang selling dgn Pemberian sufor.. Krn Pemberian sufor dpt memicu terjadinya inflamasi pd mukosa usus yg bila kemudian ASI diberikan, dpt meningkatkan resiko bayinya kena HIV.. Untuk selanjutnya syarat dan ketentuan, sesuai dgn yg dikatakan dr. Yoke, Sp. A..
DItunggu pembahasan menarik lainnya dok.. 
12 Desember 2018, 15:18
Btw sy ada open diskusi masalah yg sama tp untuk kasus hepatitis.. Mungkin bisa mampir dan sharing.. Makasi sebelumnya 😃
12 Desember 2018, 15:37

dr. Yoke Kinanthi Putri, M.Sc, Sp.A
Dec 12, 2018 at 14:07 PM

*Bila sudah menutuskan utk memberi ASI maka seterusnya harus ASI s.d 6 bulan. Kalau ASI berhenti sblm 6 bulan lalu ganti sufor lalu ASI lagi, maka risiko penularan meningkat.
Maka konseling pemberian nutrisi ini hrs dijelaskan sejelas2nya pd ibu dan ayah nya.

halo dok, terlepas dari kasus HIV .

pada bayi normal, apakah ada efek samping khusus jika konsumsi ASI dan sufor selang seling? (krn user sering skali mnanyakan hal ini)
dan sebenarnya apakah boleh dicampur sprti itu? atau bagaimana pmberiannya dok?
terima kasih 😊

02 Januari 2019, 20:52
dr.A Rafli, SpA
dr.A Rafli, SpA
Dokter Spesialis Anak
semoga dengan diskusi dinsini makin jelas ya
13 Desember 2018, 16:41

dr.Achmad Rafli SpA
Des 12, 2018 at 11:16 AM

Bayi lahir dari ibu HIV: Bagaimana penatalaksanaannya?

Kasus hari ini:

Bayi lahir cukup bulan secara seksio cesaria dari ibu HIV ( ). Faktor risiko kehamilan seperti ketuban pecah dini, hipertensi, diabetes melitus tidak ada. Suaminya terkena HIV dan dalam pengobatan ini. Saat lahir A/S 8/9 berat lahir 3500 g dengan Downe score 1-2. 

Pada pemeriksaan fisik

Tanda vital dalam batas normal

Pemeriksaan fisik dalam batas normal dan skor Dubowitz sesuai dengan 37-38 minggu

Pemeriksaan lab: rencana pemeriksaan darah lengkap, GDS

Pasien direncanakan pemberian zidovudin sebagai terapi profilaksis, pemantauan PMTCT, dan edukasi orangtua

Definisi

Bayi baru lahir dari ibu yang diketahui mengidap HIV selama kehamilannya, dimana ibu sudah diskrining menggunakan pemeriksaan serologis. Saat ini rekomendasi IDAI untuk mengikuti Prevention of Mother to Child Infection (PMTCT). 

Anamnesis dan pemeriksaan fisis

 Ibu sudah dilakukan skrining HIV, minimal serologis, lebih baik lagi bila PCR 

 Sebaiknya dilahirkan dengan cara bedah kaisar terencana 

 Direncanakan untuk mendapat susu formula 

 Keadaan umum dan pemantauan adanya infeksi oportunistik pada ibu 

Pemeriksaan penunjang 

 Pada saat seputar kelahiran tidak ada yang khusus. 

 Penentuan status infeksi HIV pada bayi dengan PCR RNA/DNA-HIV 2 kali (usia 6 minggu dan 4-6 bulan) 

Klasifikasi 

Bayi status terpapar pada infeksi HIV, prefix E pada klasifikasi CDC tahun 1994. 

Tata laksana 

Kamar bersalin

- Pertolongan persalinan menggunakan sesedikit mungkin prosedur invasif 

- Segera bersihkan bayi dengan mematuhi kewaspadaan universal (universal precaution) 

Perawatan hari 1- sebelum pulang dari rumah sakit 

1. Tidak diberi ASI, berikan susu formula biasa. 

2. Berikan terapi profilaksis: Zidovudin diberikan untuk bayi mulai usia 6-12 jam: 

- Usia gestasi > 35 minggu: dosis zidovudin 4 mg/kg/dosis, 2 kali sehari (tiap 12 jam) selama 6 minggu. 

- Usia gestasi > 30 - < 35 minggu: dosis zidovudin 2 mg/kg/dosis, 2 kali sehari (tiap 12 jam), dilanjutkan menjadi 3 mg/kg/dosis tiap 12 jam pada usia 15 hari. Zidovudin diberikan sampai usia 6 minggu. 

- Usia gestasi < 30 minggu: 2 mg/kg/dosis, 2 kali sehari (tiap 12 jam), dilanjutkan menjadi 3 mg/kg/dosis, 2 kali sehari (tiap 12 jam) saat usia 4 minggu. Zidovudin diberikan sampai usia 6 minggu. 

3. Imunisasi hepatitis B I dan polio pada saat akan pulang 

Usia 7 hari, kontrol pertama 

1. Pemantauan efek samping pemberian zidovudin (anemia), kemampuan minum susu, masalah lain bayi baru lahir. 

2. Pemeriksaan laboratorium atas indikasi 

3. Pemantauan pemberian obat zidovudin pada bayi (penyesuaian dosis) 

Follow up dilakukan sampai usia 18 bulan (lihat timeline yang saya lampirkan)

Pendidikan 

Infeksi HIV mengenai seluruh keluarga. 

Kehamilan dan kelahiran bayi akan menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada orang tua yang mengidap HIV. 

Komunikasi terus menerus, kepatuhan pemberian obat profilaksis dapat meningkatkan kerjasama orang tua dan keluarga.

Orang tua juga diharapkan untuk menjaga kesehatan diri lebih baik dan dianjurkan untuk mempraktikkan pola hidup sehat. 

Apakah sejawat pernah memiliki kasus yang sama?mari sharing😊

Sumber:

Pedoman manajemen program pencegahan penularan HIV dan sifilis dari ibu ke anak.Kemenkes 2015

Pedoman pelayanan klinis.RSCM.2015

Bagus sekali kasusnya dokter. Terima kasih ilmunya dokter.

02 Januari 2019, 20:52
dr.A Rafli, SpA
dr.A Rafli, SpA
Dokter Spesialis Anak
sama sama ya
02 Januari 2019, 20:52
dr.A Rafli, SpA
dr.A Rafli, SpA
Dokter Spesialis Anak
sama sama ya
07 Januari 2019, 17:40
dr.A Rafli, SpA
dr.A Rafli, SpA
Dokter Spesialis Anak
Terkait pilihan kelahiran Ibu dengan HIV.Diskusi ini bisa membantu tatalaksana bayinya🙏
08 Januari 2019, 08:08
Siap Dok 🙏