Irritable Bowel Syndrome dan Small Intestinal Bacterial Overgrowth: Serupa Tapi Tak Sama

Oleh :
dr.N Agung Prabowo, Sp.PD, M.Kes

Irritable bowel syndrome (IBS) dan small intestinal bacterial overgrowth (SIBO) diduga memiliki hubungan erat. Beberapa studi menunjukkan bahwa SIBO memiliki asosiasi dengan IBS, walaupun hubungan kausatif di antara keduanya masih belum diketahui pasti. Selain itu, IBS dan SIBO juga memiliki bermacam kemiripan dan gejala yang tumpang tindih.[1]

Sekilas Tentang Irritable Bowel Syndrome dan Small Intestinal Bacterial Overgrowth

Manifestasi klinis irritable bowel syndrome (IBS) utamanya adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di perut, perut kembung, serta gangguan bentuk atau pengeluaran feses.[2-6] Semua gejala ini juga muncul pada small intestinal bacterial overgrowth (SIBO) sebagai akibat adanya peningkatan kolonisasi bakteri pada usus.[7]

shutterstock_1185264241

Diagnosis IBS dapat ditegakkan menggunakan kriteria Rome IV.[3] Menurut kriteria ini, IBS dapat didiagnosis bila ada gejala nyeri perut rekuren yang berhubungan dengan defekasi atau perubahan bowel habit. Tetapi, Second Asian Consensus on Irritable Bowel Syndrome berargumen bahwa gejala kembung, nyeri, dan rasa tidak nyaman yang diperburuk atau membaik dengan buang air atau buang angin sebaiknya dimasukkan dalam kriteria diagnosis, karena telah banyak studi, terutama pada populasi Asia, menunjukkan bahwa gejala yang sering timbul tidak terbatas hanya pada nyeri.[8]

SIBO adalah kondisi pertumbuhan bakteri berlebihan di usus, yaitu lebih dari 100.000 koloni per mL pada hasil kultur aspirasi usus bagian atas. [2,4-6] Alat diagnostik SIBO yang lebih tidak invasif mencakup lactulose hydrogen breath tests (LHBT) dan glucose hydrogen breath tests (GHBT).[2,6] Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memberikan pasien karbohidrat, kemudian kadar hidrogen yang dihasilkan akan diukur. Prinsip kerja pemeriksaan ini adalah glukosa akan difermentasi oleh bakteri dan kemudian menghasilkan hidrogen yang dikeluarkan ke udara. Peningkatan pada kadar hidrogen mengindikasikan adanya peningkatan kolonisasi bakteri usus.[1,2,6]

Beragam Kemiripan dan Perbedaan Antara Irritable Bowel Syndrome dan Small Intestinal Bacterial Overgrowth

Dahulu, irritable bowel syndrome (IBS) diduga lebih berkaitan dengan mekanisme psikogenik. Namun, telah banyak studi yang menunjukkan bahwa 4-78% pasien dengan IBS mengalami small intestinal bacterial overgrowth (SIBO), sehingga paradigma terkait patogenesis IBS mulai bergeser ke arah yang lebih organik.[7]

Aspek Patogenesis

Patogenesis irritable bowel syndrome (IBS) diduga mencakup perubahan motilitas usus, hipersensitivitas visceral, dan interaksi abnormal pada aksis gut-brain.

Apabila terjadi peningkatan kualitas atau kuantitas bakteri usus, peptida dari bakteri seperti formylmethionyl-leucyl-phenylalanine dapat merangsang sistem saraf usus, sedangkan endotoksin yang dihasilkan bakteri dapat mempengaruhi motilitas usus.[8]

Bakteri pada small intestinal bacterial overgrowth (SIBO) memproduksi short-chain fatty acids (SCFA) seperti butirat, asetat, dan propionat yang dapat meningkatkan motilitas usus besar. Sebaliknya, di usus proksimal SCFA dapat menurunkan motilitas karena pelepasan peptida YY, neurotensin, dan glucagon-like peptide-1. Kedua hal inilah yang diduga berhubungan dengan timbulnya IBS.[1-3]

Selain daripada itu, peningkatan kolonisasi bakteri pada SIBO akan menyebabkan gangguan proses mencerna dan menyerap makanan. Hal ini akan menimbulkan timbulnya gas berlebih pada saluran cerna, sehingga gejala kembung muncul. Jika gas yang dibentuk semakin banyak, pasien akan merasakan nyeri atau perut tidak nyaman. Produksi gas metana yang berlebihan juga bisa menyebabkan konstipasi.[2,4]

Bakteri juga akan memproduksi toksin setelah fermentasi yang bisa merusak lapisan usus. Hasil biopsi pada pasien SIBO menunjukkan penipisan mukosa dan kripta, serta peningkatan limfosit intraepitel. Hal ini akan menyebabkan gejala diare. Sebuah studi menunjukkan bahwa pasien IBS predominan diare lebih sering mengalami SIBO dibandingkan pasien IBS nondiare.[2,9]

Aspek Tata Laksana

Karena small intestinal bacterial overgrowth (SIBO) berkaitan dengan gangguan flora usus, pemberian antibiotik diduga bermanfaat dalam tata laksananya. Sebuah studi menunjukkan bahwa pemberian rifaximin 800 mg per hari selama 4 minggu efektif meredakan gejala pada pasien SIBO.[10]

Selain itu, rifaximin juga telah ditemukan efektif dalam pengobatan irritable bowel syndrome (IBS). [11] Pada pasien dengan IBS dan hasil pemeriksaan hydrogen breath test yang abnormal, pemberian rifaximin dilaporkan mampu menormalisasi hasil pemeriksaan. Tetapi, rekurensi gejala dan abnormalitas hydrogen breath test terjadi kembali pada 40% pasien dalam waktu 9 bulan.[12]

Tata laksana lain yang dapat digunakan pada kasus IBS adalah diet FODMAP (fermentable oligo-, di-, monosaccharides, and polyols), obat antispasmodik, obat antidiare, 5-HT3 antagonis (seperti alosetron, ramosetron, ondansetron), 5-HT4 agonis (seperti prucalopride), probiotik, obat antidepresan, secretagogue, dan psikoterapi.[2,8]

Kesimpulan

Disbiosis intestinal, seperti yang terjadi pada small intestinal bacterial overgrowth (SIBO), diduga memiliki peran penting dalam timbulnya irritable bowel syndrome (IBS). Berbagai studi telah menunjukkan bahwa SIBO banyak ditemukan pada pasien dengan IBS dibandingkan kontrol. Tata laksana pertumbuhan bakteri yang berlebihan dengan menggunakan antibiotik telah dilaporkan efektif dalam meredakan gejala IBS dan SIBO. Tetapi, studi lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memastikan hubungan kausatif antara keduanya dan bagaimana tata laksana mampu menekan rekurensi dari gejala.

Referensi