Efikasi Transplantasi Mikrobiota Fekal pada Irritable Bowel Syndrome - Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr.Eduward Thendiono, SpPD,FINASIM

Efficacy of Fecal Microbiota Transplantation in Irritable Bowel Syndrome: A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials

Wu J, Lv L, Wang C. Efficacy of Fecal Microbiota Transplantation in Irritable Bowel Syndrome: A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials. Front Cell Infect Microbiol. 2022 Feb 28;12:827395. PMID: 35295757.

Abstrak

Latar belakang: sejumlah uji klinis acak terkontrol telah memeriksa efikasi transplantasi mikrobiota fekal (FMT) pada pasien irritable bowel syndrome (IBS) dengan hasil yang tidak konsisten. Meta analisis ini dilakukan untuk mengevaluasi efikasi jangka pendek maupun jangka panjang dari prosedur FMT pada IBS.

Metode: pencarian data uji klinis acak terkontrol dilakukan pada database MEDLINE, EMBASE, dan Cochrane Central Register hingga publikasi bulan September 2021. Uji klinis acak terkontrol yang diikutsertakan adalah uji yang merekrut pasien IBS dan membandingkan intervensi FMT dan plasebo, dengan data dikotomi terhadap respons terapi.

Data dikotomi digabungkan untuk menghitung risiko relatif (RR) terhadap simtom yang tidak mengalami perbaikan setelah terapi. Studi ini turut melakukan analisis gabungan RR terhadap kejadian yang merugikan (adverse events). Data kontinu dikalkulasi menggunakan mean difference terhadap IBS-Quality of Life (IBS-QoL). Metodologi GRADE diterapkan dalam memeriksa kualitas bukti yang diikutsertakan.

Hasil: strategi pencarian menghasilkan 658 citations. Sebanyak 7 uji klinis acak yang terdiri dari 472 pasien IBS diikutsertkan dalam meta analisis ini. FMT tidak berhubungan dengan perbaikan signifikan pada simtom global IBS dalam 12 minggu terapi jika dibandingkan dengan plasebo (RR 0,75; 95%CI 0,43–1,31). Heterogenitas antar studi ditemukan tinggi (I2 87%).

Analisis subgrup menunjukkan bahwa FMT tampak lebih superior daripada plasebo jika dilakukan via kolonoskopi (RR 0,70; 95%CI 0,51–0,96) atau gastroskopi (RR 0,37; 95%CI 0,14–0,99). FMT lebih inferior daripada plasebo jika diterapkan melalui kapsul oral (RR 1,88; 95%CI 1,06–3,35). FMT bisa menyebabkan perbaikan signifikan pada IBS-QoL jika dibandingkan dengan plasebo (mean difference 9,39; 95%CI 3,86–14,91) pada 12 minggu.

Tidak ditemukan perbedaan pada jumlah total adverse events yang diobservasi antara grup FMT dan plasebo (RR 1,20; 95%CI 0,59–2,47). FMT tidak mampu memperbaiki simtom global IBS secara signifikan pada follow-up selama 1 tahun jika dibandingkan dengan plasebo (RR 0,90; 95%CI 0,72-1,12). Kualitas bukti uji acak klinis yang dinilai menurut GRADE yang menyokong rekomendasi FMT pada IBS masih termasuk dalam kategori sangat lemah.

Kesimpulan: pasien IBS mungkin dapat memperoleh manfaat dari FMT jika diberikan melalui kolonoskopi atau gastroskopi. FMT dapat memperbaiki kualitas hidup pasien IBS. Namun, penggunaan jangka panjang FMT pada pasien IBS masih membutuhkan investigasi lebih lanjut. Bukti yang ada masih termasuk dalam kualitas sangat lemah untuk menyokong penggunaan FMT pada pasien IBS.

Efikasi Transplantasi Mikrobiota Fekal pada Irritable Bowel Syndrome-min

Ulasan Alomedika

Perubahan pada mikrobiota usus pasien IBS telah diperlihatkan pada sejumlah studi. Pada pasien IBS, ada kemungkinan yang lebih besar untuk pertumbuhan bakteri yang berlebihan jika dibandingkan dengan orang sehat. Oleh sebab itu, terapi yang memodulasi mikrobiota usus menjadi salah satu terapi yang menjanjikan bagi IBS.

Intervensi FMT merujuk pada transplantasi mikrobiota usus dari donor yang sehat ke resipien (pasien IBS). Sejumlah bukti ilmiah telah menyelidiki efikasi FMT pada pasien IBS tetapi hasil yang ada masih inkonsisten. Meta analisis ini bermaksud untuk memeriksa efikasi jangka pendek maupun jangka panjang terapi FMT pada pasien IBS.

Ulasan Metode Penelitian

Meta analisis ini mengevaluasi data uji klinis acak terkontrol yang berasal dari database MEDLINE, EMBASE, dan Cochrane Register, yang mengidentifikasi uji relevan hingga bulan publikasi September 2021.

Kriteria uji klinis acak yang diinklusi adalah pasien IBS berusia >18 tahun, diagnosis IBS ditegakkan berdasarkan penilaian klinis dokter atau kriteria Rome atau Manning, durasi minimal follow-up setelah terapi adalah 1 minggu, membandingkan FMT dan plasebo, dan memiliki pemeriksaan dikotomi respons simtom global terhadap terapi FMT.

Luaran primer meta analisis ini adalah perbandingan FMT dan plasebo dalam hal simtom global IBS yang tidak mengalami perbaikan dalam durasi 8–12 minggu. Luaran sekunder meliputi IBS-QoL, adverse events, dan simtom global yang tidak mengalami perbaikan dalam jangka panjang.

Pelaku meta analisis menerapkan pemeriksaan bias dengan Cochrane Risk of Bias. Metodologi GRADE dipakai untuk memeriksa kualitas bukti dari setiap uji klinis acak yang diikutsertakan. Risiko relatif gabungan (RR) dengan confidence interval 95% digunakan untuk menilai luaran studi untuk data dikotomi.

Sementara itu, untuk data yang kontinu, analisis menghitung mean difference. Data digabungkan dengan model random-effect. Tes Egger dengan funnel plot digunakan untuk menilai bias publikasi. Heterogenitas dinilai dengan tes I2.

Ulasan Hasil Penelitian

Hanya 7 uji klinis acak terkontrol memenuhi kriteria inklusi dalam meta analisis ini (total partisipan sebanyak 472 pasien IBS). Hasil analisis gabungan menemukan bahwa FMT tidak berhubungan dengan perbaikan signifikan simtom global IBS dalam 12 minggu terapi jika dibandingkan dengan plasebo (pooled RR 0,75; 95%CI 0,43–1,31). Ada heterogenitas tinggi antar studi (I2 87%).

Analisis subgrup menunjukkan bahwa FMT tampak lebih superior daripada plasebo jika dilakukan via kolonoskopi atau gastroskopi. Namun, FMT tampak lebih inferior daripada plasebo jika diterapkan melalui kapsul oral.

Untuk luaran sekunder, FMT menyebabkan perbaikan signifikan pada IBS-QoL jika dibandingkan dengan plasebo pada 12 minggu. Tidak ada perbedaan pada jumlah total adverse events yang diobservasi antara FMT dan plasebo.

FMT tidak mampu memperbaiki simtom global IBS secara signifikan pada follow-up selama 1 tahun jika dibandingkan dengan plasebo. Pelaku meta analisis berkesimpulan bahwa kualitas bukti uji klinis yang dinilai berdasarkan metode GRADE masih sangat lemah.

Kelebihan Penelitian

Meta analisis ini hanya mengikutsertakan uji klinis acak terkontrol saja, yang memang merupakan desain studi ideal untuk mengevaluasi manfaat klinis suatu terapi. Meta analisis ini juga sudah melibatkan penilaian kualitas bukti dan heterogenitas.

Selain itu, dalam menghadapi data uji klinis yang sangat heterogen, meta analisis ini telah melakukan analisis subgrup agar dapat menghasilkan temuan yang lebih akurat. Meta analisis ini telah menilai faktor-faktor yang mungkin memengaruhi hasil analisis, seperti apakah metode penghantaran FMT, apakah tinja segar atau beku, apakah donor tunggal atau bercampur, dan bagaimanakah tipe dan keparahan IBS.

Limitasi Penelitian

Ada sejumlah limitasi pada penelitian ini. Pertama, peneliti melakukan analisis subgrup untuk dosis FMT tidak secara detail, yakni hanya membagi menurut kelompok >30 gram dan kelompok <30 gram, sehingga tidak merefleksikan efek true dose response dari FMT. Kedua, heterogenitas antar studi yang dinilai cukup besar dengan jumlah sampel yang relatif kecil.

Ketiga, peneliti menggabungkan IBS tipe diare dan IBS mixed type dalam 1 grup (sebagai IBS non-konstipasi) karena data yang masih kurang memadai, sehingga ada bias pada analisis efikasi.

Keempat, kualitas data uji klinis acak terkontrol yang diikutsertakan pada meta analisis ini termasuk dalam kategori kualitas sangat rendah menurut metode standar GRADE. Kelima, efikasi jangka panjang yang dinilai pada studi ini hanya melibatkan durasi follow up sampai 1 tahun saja.

Aplikasi Penelitian di Indonesia

Dengan sejumlah limitasi dan kurangnya bukti klinis yang mendukung, penerapan FMT (transplantasi mikrobiota fekal) untuk pasien IBS (irritable bowel syndrome) di Indonesia masih belum perlu diterapkan.

Referensi