Fenofibrate untuk Menurunkan Kadar Asam Urat (Antipirai)

Oleh dr. Nathania S.

Fenofibrate, obat golongan agonis PPAR-alfa (peroxisome proliferator-activated receptor alpha) yang umum digunakan untuk penanganan hiperlipidemia, ditemukan dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah (antipirai). Angka reduksi ditemukan sebanding antara pria dan wanita[1]. European League of Arthritis Recommendation (EULAR) merekomendasikan pertimbangan untuk penggunaan fenofibrate pada kondisi artritis gout yang disertai dengan hiperlipidemia karena efeknya yang bersifat uricosuria[2].

Asam urat merupakan produk akhir dari metabolisme purin baik yang berasal dari eksogen maupun endogen. Penyakit asam urat pada sendi atau gout arthritis adalah penyakit dimana terdapat penumpukan kristal monosodium urat pada sendi yang dapat menyebabkan nyeri yang berlangsung akut hingga kronis. Hiperurisemia dan sindrom metabolik memiliki keterkaitan. Hiperurisemia dapat ditemukan akibat peningkatan absorpsi asam urat pada tubulus proksimal ginjal akibat hiperinsulinemia. Resistensi insulin ditemukan berperan dalam hubungan timbal balik antara hiperurisemia dan sindrom metabolik. Lebih lanjut lagi, kadar asam urat dapat menjadi faktor prognostik pada resistensi insulin dan diabetes mellitus tipe 2[3,4].

Depositphotos_62683403_m-2015_compressed

Salah satu obat yang dapat menurunkan asam urat adalah allopurinol. Allopurinol bekerja dengan menyekat enzim xanthine oxyreductase (XOR). Adanya penurunan kerja dari enzim XOR ini kemudian menyekat metabolisme purin yang berujung pada penurunan produksi asam urat.[3]

Mekanisme Fibrat Menurunkan Kadar Asam Urat

Asam fenofibrik, metabolit aktif fenofibrate, menurunkan kadar lemak dengan cara meningkatkan katabolisme dari trigliserida dengan meningkatkan aktivitas lipoprotein lipase (LPL) melalui aktivasi PPAR-alfa. Berbeda dengan cara kerja allopurinol, fenofibrate dalam metabolisme asam urat bekerja dengan cara meningkatkan ekskresi asam urat melalui ginjal. Asam fenofibrate memiliki efek inhibisi pada urate transporter (URAT)1, transporter reabsorpsi dari asam urat pada tubulus proksimal ginjal[5].

Bukti Ilmiah terkait Penggunaan Fibrat sebagai Antipirai

Pada penelitian Waldman, et al. (2018), yang melibatkan 8000 pasien, ditemukan penurunan asam urat darah hingga sebesar 20% pada kelompok pasien diabetes mellitus tipe 2 yang diberikan fenofibrate dibandingkan dengan plasebo. Penurunan angka risiko ini sebanding pada pria dan wanita, pada pengguna diuretik, dan kadar asam urat yang meningkat. Selisih penurunan ini ditemukan lebih rendah pada pasien yang telah dan sedang konsumsi obat penurun asam urat seperti allopurinol[1]. Penemuan ini sesuai dengan penelitian Lee, et al. (2006) dimana terjadi penurunan asam urat sebesar 23% dalam waktu yang relatif singkat, yaitu 8 minggu. Pemberian fenofibrate terbukti memberikan efek penurunan kadar asam urat. Hal ini diperkuat dengan berkurangnya efek penurunan efek ini secara reversibel saat fenofibrate dihentikan.[6]

Penurunan kadar asam urat terbesar ditemukan pada pasien dengan kadar dasar asam urat yang lebih tinggi. Angka ini mencapai 39% pada kadar asam urat tertinggi dalam suatu populasi studi. Fenofibrate memiliki efek sinergis untuk menurunkan kadar asam urat pada interaksi dengan allopurinol.[7] Efektivitas fenofibrate dibandingkan dengan allopurinol dalam menurunkan kadar asam urat dalam darah masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

Peningkatan akut pada kadar asam urat darah dapat menyebabkan serangan artritis gout. Penurunan angka kejadian serangan asam urat juga berkurang pada pemberian fenofibrate. Kemungkinan efek ini timbul karena fenofibrate memiliki efek antiinflamasi, di mana aktivasi dari PPAR dapat menurunkan ekspresi enzim COX-2 yang berkaitan dengan inflamasi.[1,6]

Kombinasi Fenofibrate, Allopurinol, dan Losartan

Penyakit hiperurisemia sering timbul bersamaan dengan hiperlipidemia dan/atau hipertensi. Losartan sebagai salah satu obat antihipertensi juga ditemukan memiliki efek aditif dalam menurunkan kadar asam urat bila digunakan bersamaan dengan obat antihiperurisemia. Belum ada penelitian yang meneliti tentang administrasi dari ketiga obat ini (losartan, fenofibrate dan allopurinol) pada kondisi hiperurisemia dengan komorbid yang lain seperti sindrom metabolik. Penggunaan losartan sebagai obat antihipertensi dan/atau fenofibrate sebagai antihiperlipidemia pada kondisi hiperurisemia yang tidak dapat secara penuh ditangani oleh allopurinol dapat dipertimbangkan.[8]

Efek Samping yang Perlu Diwaspadai

Efek dari fenofibrate terhadap kadar asam urat sifatnya adalah urikosuria (menyebabkan kadar urat pada urin), sehingga salah satu kemungkinan efek samping yang perlu dipantau adalah batu ginjal. Peningkatan ringan namun signifikan dari serum kreatinin juga ditemukan dalam beberapa penelitian. Fenofibrate kemungkinan mempengaruhi prostaglandin yang bersifat vasodilator sehingga dapat mempengaruhi arteriol eferen ginjal yang membuat penurunan tekanan kapiler glomerulus dan perfusi ginjal. Kemungkinan yang lain adalah adanya peningkatan produksi kreatinin endogen dan secara kompetitif menurunkan sekresi kreatinin di ginjal[6,9]. Uricosuria yang ditimbulkan oleh losaran kemungkinan tidak meningkatkan risiko terjadinya urolitiasis karena efek alkalinisasi dari urin.[8]

Fibrat ditemukan dapat meningkatkan homosistein, di mana efek ini lebih besar ditemukan pada fenofibrate dibandingkan dengan gemfibrozil. Homosistein diduga berkaitan dengan berkaitan dengan kejadian kardiovaskular, namun efek kausalnya masih dipertanyakan. Perubahan HbA1c dapat ditemukan namun masih dalam penelitian. Efek peningkatan homosistein, HbA1c dan kreatinin darah bersifat reversibel setelah penggunaan fenofibrate dihentikan.[9]

Kesimpulan dan Implikasi Klinis

Fenofibrate merupakan obat golongan agonis agonis PPAR-alfa (peroxisome proliferator-activated receptor alpha) dan sering digunakan sebagai obat penurun kolesterol terutama untuk menurunkan trigliserida. Fenofibrate ditemukan memiliki efek menurunkan kadar asam urat darah. Berbeda dengan allopurinol yang bekerja dengan menurunkan produksi asam urat, fenofibrate pada metabolisme asam urat bekerja dengan cara meningkatkan ekskresi asam urat melalui ginjal. Asam fenofibrate memiliki efek inhibisi pada URAT1, transporter reabsorpsi dari asam urat pada tubulus proksimal ginjal.

Fenofibrate terbukti dapat menurunkan kadar asam urat darah hingga 20% dan selisih penurunannya ditemukan lebih tinggi pada pasien yang tidak menggunakan allopurinol. Efek penurunan kadar asam urat darah ini ditemukan bersifat reversibel, atau menghilang bila penggunaan fenofibrate dihentikan. Interaksi antara fenofibrate dengan allopurinol terhadap kadar asam urat darah bersifat sinergis. Penurunan angka serangan gout ditemukan pada pasien yang mengkonsumsi fenofibrate, hal ini diduga karena fenofibrate memiliki efek antiinflamasi, dimana aktivasi dari PPAR dapat menurunkan ekspresi enzim COX-2 yang berkaitan dengan inflamasi.

Efek samping yang perlu diwaspadai karena dapat timbul pada pemberian fenofibrate terhadap metabolisme asam urat berkaitan dengan efeknya yang bersifat urikosuria adalah gangguan fungsi ginjal dan pembentukan batu ginjal. Uricosuria yang ditimbulkan oleh losaran kemungkinan tidak meningkatkan risiko terjadinya urolitiasis karena efek alkalinisasi dari urin. Fibrat juga ditemukan dapat meningkatkan homosistein dan HbA1C (masih dalam penelitian) yang bersifat reversibel.

Fenofibrate dapat dipertimbangkan sebagai obat antihiperlipidemia, terutama pada kondisi hiperlipidemia, yang disertai dengan hiperurisemia. Efektivitas fenofibrate dibandingkan dengan allopurinol dalam menurunkan kadar asam urat dalam darah masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

Referensi