Misoprostol Sublingual Preoperatif VS Post Operatif untuk Pencegahan Perdarahan Postpartum Sectio Caesarea – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Herbert Sihite, MKed(OG), SpOG

Comparison between Preoperative and Postoperative Sublingual Misoprostol for Prevention of Postpartum Hemorrhage during Cesarean Section: A Randomized Clinical Trial

Youssef AEA, Khalifa MA, Bahaa M, Abbas AM. Open Journal of Obstetrics and Gynecology, 2019. 9: 529-538. https://doi.org/10.4236/ojog.2019.94052

Abstrak

Latar belakang: Kehilangan darah adalah salah satu komplikasi penting selama operasi sectio caesarea. Penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa misoprostol efektif dalam mengurangi kehilangan darah selama dan setelah sectio caesarea. Namun, waktu pemberian terbaik untuk mengurangi jumlah perdarahan postpartum masih belum diketahui.

Tujuan: Untuk membandingkan efek pemberian misoprostol sublingual (400 μg) pre dan pasca operasi dalam mengurangi jumlah kehilangan darah selama dan 24 jam setelah operasi sectio caesarea.

Tempat penelitian: Departemen Kebidanan dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Assiut, Assiut, Mesir, antara Januari 2017 dan Juli 2018.

Desain penelitian: Uji klinis acak prospektif.

Metode: 430 wanita yang memenuhi kriteria inklusi, yakni operasi sectio caesarea elektif segmen bawah saat aterm (≥37 minggu) dengan penelusuran jantung janin normal yang bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok 1 menerima misoprotol sublingual 400 μg segera setelah kateterisasi urine dan sebelum sayatan kulit, serta kelompok 2 yang menerima misoprostol sublingual segera setelah penjahitan kulit. Luaran primer adalah estimasi kehilangan darah intraoperatif dan post operatif selama 24 jam.

Hasil: Didapatkan penurunan yang signifikan dalam kehilangan darah intraoperatif pada kelompok 1 dibandingkan dengan kelompok 2. Ditemukan juga pengurangan yang signifikan dalam kehilangan darah post operatif pada kelompok 1 dibandingkan dengan kelompok 2. Nilai hemoglobin dan hematokrit post operatif didapatkan lebih tinggi secara signifikan pada kelompok 1 dibandingkan kelompok 2.

Kesimpulan: Pemberian misoprostol sublingual (400 μg) sebelum operasi lebih baik daripada pemberian setelah operasi karena berhubungan dengan pengurangan jumlah kehilangan darah intraoperatif dan post operatif serta penurunan kadar hemoglobin.

MisoprostolSC

Ulasan Alomedika

Tindakan sectio caesarea dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius bagi ibu dan janin, termasuk perdarahan postpartum. Misoprostol adalah analog prostaglandin E1 sintetis, yang sering digunakan untuk pencegahan dan pengelolaan perdarahan postpartum. Namun, waktu pemberian misoprostol yang terbaik dalam mencegah perdarahan postpartum pasca sectio caesarea masih menjadi perdebatan.

Ulasan Metode Penelitian

Uji klinis acak prospektif ini bertujuan untuk membandingkan efek pemberian misoprostol sublingual (400 μg) pre dan post operatif dalam mengurangi jumlah kehilangan darah selama dan 24 jam setelah tindakan sectio caesarea. Studi dilakukan pada 430 pasien hamil aterm yang menjalani tindakan sectio caesarea elektif. Partisipan dibagi menjadi 215 pasien dalam setiap kelompok. Kelompok 1 menerima misoprostol sublingual segera setelah kateterisasi urine dan sebelum sayatan kulit. Kelompok 2 menerima misoprostol sublingual segera setelah penjahitan kulit.

Pada kedua kelompok dilakukan penilaian:

  • Karakteristik dasar meliputi usia, graviditas, usia kehamilan, dan riwayat sectio caesarea sebelumnya
  • Hemoglobin dan hematokrit pre dan post operatif.
  • Jumlah kehilangan darah selama operasi dan sampai 24 jam post operatif
  • Komplikasi seperti atonia uterus intraoperatif, kebutuhan oxytocin atau ergometrine tambahan, dan kebutuhan untuk transfusi darah

  • Efek samping misoprostol seperti demam dan menggigil, mual, muntah, dan diare

Ulasan Hasil Penelitian

Karakteristik dasar dari kedua kelompok adalah serupa dengan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik terkait usia, graviditas, usia kehamilan, dan riwayat sectio caesarea sebelumnya. Tidak ada perbedaan signifikan secara statistic pula terkait kadar hemoglobin dan hematokrit preoperatif. Namun kadar hemoglobin dan hematokrit post operatif dilaporkan lebih tinggi secara signifikan pada kelompok 1.

Hasil luaran primer studi ini menunjukkan bahwa kehilangan darah secara signifikan lebih sedikit pada kelompok 1 (mendapat misoprostol preoperatif) dibandingkan kelompok 2 (403,51±72,99 VS 460,99±74,66 ml). Hasil yang sama juga diamati post operatif (169,45±12,03 VS 195,77±13,34 ml). Total perkiraan kehilangan darah secara signifikan lebih rendah pada kelompok  yang mendapat misoprostol preoperatif.

Tidak ada perbedaan antara kedua kelompok terkait frekuensi atonia uterus intraoperatif, kebutuhan oxytocin atau ergometrine tambahan, serta kebutuhan transfusi. Selain itu, juga tidak ada perbedaan antara kedua kelompok terkait perlunya prosedur bedah tambahan, kebutuhan uterotonik post operatif, lamanya operasi, dan lama rawat inap.

Efek samping misoprostol, berupa demam dan menggigil, dilaporkan lebih sering terjadi pada kelompok 1 dibandingkan kelompok 2. Sementara itu, efek samping mual, muntah, dan diare didapatkan serupa pada kedua kelompok.

Kelebihan Penelitian

Kelebihan penelitian ini adalah metode uji klinis acak prospektif yang digunakan dan jumlah sampel yang adekuat. Penelitian ini juga menggunakan 2 perlakuan kelompok sekaligus, sehingga kita bisa membandingkan metode mana yang terbaik dalam pemberian misoprostol. Data terkait demografi, efek samping, dan karakteristik klinis juga dievaluasi sehingga informasi yang dihasilkan bersifat menyeluruh.

Limitasi Penelitian

Limitasi dari uji klinis ini adalah pemilihan partisipan yang tidak memiliki risiko perdarahan postpartum. Dalam studi ini, pasien yang diikutkan adalah pasien aterm yang menjalani sectio caesarea secara elektif, sehingga hasil studi mungkin tidak akan bisa diterapkan untuk pasien yang menjalani sectio caesarea atas indikasi medis atau kegawatdaruratan.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Hasil studi ini menunjukkan bahwa pemberian misoprostol preoperatif memberi luaran terkait kehilangan perdarahan yang lebih baik dibandingkan pemberian setelah penjahitan kulit. Meskipun partisipan studi adalah individu hamil aterm yang menjalani sectio caesarea secara elektif, hasil studi tetap berpotensi untuk diterapkan di Indonesia sebagai upaya menurunkan risiko morbiditas dan mortalitas ibu.

Referensi