Risiko Infeksi Kornea Akibat Penggunaan Lensa Kontak

Oleh :
dr. Florentina Priscilia

Infeksi kornea atau keratitis merupakan salah satu risiko komplikasi akibat penggunaan lensa kontak. Insidensi keratitis meningkat sekitar 10% setiap tahunnya pada pasien yang menggunakan lensa kontak. Kondisi ini seiring dengan peningkatan penggunaan lensa kontak setiap tahunnya, yaitu sekitar 5−15%.[1-3]

Saat ini, lensa kontak sangat umum digunakan untuk  mengoreksi gangguan refraksi, keratokonus, afakia, atau digunakan untuk kepentingan kosmetik. Penggunaan lensa kontak dianggap lebih nyaman daripada kacamata karena tidak membatasi aktivitas dan lebih estetik.[1-3]

Risiko Infeksi Kornea Akibat Penggunaan Lensa Kontak-min

Keratitis Akibat Penggunaan Lensa Kontak

Penggunaan lensa kontak dikaitkan dengan beberapa komplikasi, seperti keratitis, sindrom mata kering, neovaskularisasi, dan hipersensitivitas. Komplikasi tersering adalah infeksi kornea yang lebih tinggi terjadi karena penggunaan softlens daripada hardlensKeratitis yang berkaitan dengan penggunaan lensa kontak dapat disebabkan oleh amoeba, bakteri, atau jamur.[1,2]

Stapleton et al pada tahun 2012 melakukan penelitian pada kasus baru keratitis infeksi derajat sedang dan berat di Australia, akibat penggunaan kontak lensa harian. Selama periode 12 bulan, diidentifikasi 90 pasien dengan hasil kultur konea 73% disebabkan bakteri gram negatif seperti Pseudomonas sp dan Klebsiella sp, 22% disebabkan bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoniae, dan 5% disebabkan Acanthamoeba.[5]

Keratitis Amoeba

Keratitis amoeba jarang terjadi, hanya sekitar 1‒2  kasus dari 1 juta pengguna lensa kontak per tahun di Amerika Serikat. Namun,  hampir 90% dari seluruh kasus keratitis amoeba terjadi pada penggunaan lensa kontak. Keratitis amoeba umumnya disebabkan cairan atau lensa kontak yang terkontaminasi. Gambaran klinis berupa mata merah, nyeri, fotofobia, defek epitel kornea, dengan ciri khas infiltrat berbentuk cincin dan edema pada palpebra.[3,5,6]

Keratitis Bakteri

Keratitis bakteri diperkirakan terjadi 4 kasus dari 10.000 pengguna lensa kontak per tahun, dengan sebagian besar kasus disebabkan bakteri gram negatif. Gambaran klinis mirip dengan keratitis amoeba, tetapi dengan ciri khas sekret mata yang lebih purulen. Diagnosis didukung dengan pemeriksaan kultur.[3-8]

Keratitis Fungal

Keratitis jamur lebih sering terjadi pada lingkungan dengan iklim panas dan lembab yang mendukung pertumbuhan jamur, termasuk Indonesia dengan iklim tropis. Diperkirakan insidensi global keratitis fungal mencapai 20‒60% dari semua keratitis dengan hasil kultur positif, dengan kasus tertinggi di Asia dan Afrika.[13,14]

Gejala keratitis fungal muncul secara perlahan, termasuk keluhan nyeri, fotofobia, penglihatan buram, mata berair, atau sekresi mukopurulen. Keratitis yang disebabkan oleh Candida memiliki karakteristik infiltrat supuratif berwarna putih kekuningan. Pada keratitis filamentosa, ditemukan infiltrat berwarna putih keabuan dan tampak kering pada stroma, elevasi permukaan kornea, dan kadang dapat disertai dengan lesi satelit. Hipopion dan plak endotel terjadi jika infiltrat cukup dalam dan/atau sudah mencapai ruang okuli anterior.[13,14]

Patofisiologi Keratitis pada Penggunaan Lensa Kontak

Patofisiologi infeksi kornea pada penggunaan lensa kontak dikaitkan dengan kemampuan adhesi mikroorganisme patogen pada permukaan epitel kornea. Kemampuan tersebut dimediasi oleh reseptor molekul spesifik pada membran sel plasma, seperti lipopolisakarida (LPS endotoksin), asialo-ganglioside M-1, N-asetil-mannosamine, dan asam salisilat.[3,7-9]

Selain itu, teori lain yang dapat meningkatkan risiko infeksi kornea adalah transmisi oksigen pada epitel kornea yang berkurang, serta kornea yang terpapar bahan baku lensa atau cairan lensa yang terkontaminasi. Beberapa literatur menggambarkan proses invasi epitel kornea secara intraseluler melalui endositosis yang dimediasi lipid-raft, yaitu agregasi kolesterol dan glikofosfolipid yang berfungsi sebagai membran transport ke bagian dalam sel. Proses ini berpotensi terjadinya adhesi patogen yang menyebabkan infeksi berlanjut.[3,7-9]

Faktor Risiko yang Memicu Keratitis pada Penggunaan Lensa Kontak

Prevalensi infeksi kornea akibat lensa kontak dapat meningkat bila terdapat faktor risiko berikut:

  • Penggunaan softlens, yang lebih berisiko menyebabkan pengumpulan volume air mata dan penurunan transmisi oksigen pada epitel kornea
  • Penggunaan cairan lensa kontak yang mengandung buffer borat, yang dapat menginduksi kerusakan epitel kornea dan menurunkan produksi musin
  • Penggunaan cairan lensa kontak yang tidak steril atau wadah lensa kontak yang tidak bersih
  • Penggunaan lensa kontak terlalu lama bahkan saat tidur, baik malam maupun siang, sehingga mengurangi transmisi oksigen
  • Penggunaan lensa kontak saat berenang atau mandi, sehingga amoeba di dalam air dapat terperangkap antara kornea dan lensa kontak[2,7,9,10]

Diagnosis keratitis umumnya pada pasien yang datang dengan keluhan mata merah, disertai penurunan penglihatan, fotofobia dan nyeri. Penatalaksanaan keratitis berprinsip untuk mengeliminasi agen penyebab, mengobati penyebab utama, mengurangi gejala, meminimalisasi terjadinya jaringan parut pada kornea, dan menjaga fungsi mata dari perburukan.[4]

Pencegahan Keratitis pada Penggunaan Lensa Kontak

Pada penggunaan lensa kontak, harus dilakukan dengan tata cara yang tepat agar terhindar dari komplikasi. Pengelolaan yang baik diperlukan untuk mencegah adhesi mikroorganisme patogen pada permukaan kornea. Termasuk menghindari faktor risiko yang dapat mengganggu transmisi oksigen, menurunkan produksi musin, dan meningkatkan kerusakan epitel.[3,5,10-12]

Pencegahan Saat Memasang dan Melepas Lensa Kontak

Keratitis dapat dihindari dengan melakukan prosedur pemasangan dan pelepasan lensa kontak yang baik, yaitu:

  • Mencuci tangan sebelum memegang daerah mata dan lensa kontak, gunakan air bersih dan hindari sabun yang mengandung aroma, lanolin, atau berminyak
  • Menggunakan cairan lensa kontak khusus yang steril untuk mencuci dan merendam lensa kontak
  • Menyimpan lensa kontak pada wadah yang bersih dan berisi cairan lensa kontak yang steril[3,5,10-12]  

Pencegahan Saat Menggunakan Lensa Kontak

Saat menggunakan lensa kontak harus memperhatikan durasi yang sesuai dengan aturan produk, apakah harian, bulanan, atau permanen. Lensa kontak jangan dipakai saat tidur, mandi, dan berenang. Dan sebaiknya lensa kontak dipasang sebelum menggunakan riasan wajah di area mata.[3,5,10-12]   

Kesimpulan

Peningkatan penggunaan lensa kontak diikuti dengan peningkatan insidensi keratitis, baik yang disebabkan parasit, bakteri, atau jamur. Patofisiologi keratitis pada penggunaan lensa kontak adalah peningkatan adhesi mikroorganisme patogen pada permukaan epitel kornea, yang disebabkan oleh berkurangnya transmisi oksigen pada epitel kornea dan terpaparnya kornea dengan lensa atau cairan yang terkontaminasi.

Proses adhesi/invasi tersebut akan meningkat bila penggunaan lensa kontak disertai faktor risiko, berupa durasi penggunaan terlalu lama, tipe softlens, cairan lensa kontak tidak steril atau mengandung buffer borat, dan wadah lensa kontak tidak bersih. Oleh karena itu, untuk menghindari keratitis perlu diperhatikan higienitas tangan saat memasang dan melepas lensa kontak, serta kebersihan cairan dan wadah lensa kontak. Kontrol ke dokter spesialis mata sebaiknya dilakukan secara rutin, terutama terjadi keluhan mata merah, nyeri, atau penglihatan kabur.

Referensi