Pilihan Analgesik Untuk Memperbaiki Asupan Oral Pada Anak Dengan Ulserasi Rongga Mulut Yang Disebabkan Infeksi

Oleh :
dr. Virly Isella

Penurunan asupan oral akibat rasa nyeri pada ulserasi rongga mulut merupakan salah satu alasan anak memerlukan rawat inap untuk tata laksana hidrasi parenteral. Tata laksana nyeri yang adekuat, dapat memperbaiki asupan oral anak, sehingga dapat menurunkan angka kunjungan ke rumah sakit dan rawat inap.[1-3]

Ulserasi merupakan kerusakan total lapisan epitel, yang ditutupi oleh lapisan fibrin dan tampak sebagai lesi putih dengan eritema di sekelilingnya. Etiologi ulserasi rongga mulut bervariasi, seperti infeksi, alergi, defisiensi nutrisi, genetik, dan penggunaan obat. Ulserasi rongga mulut pada anak umumnya disebabkan oleh etiologi infeksi, seperti herpes oral, herpangina, dan penyakit tangan-kaki-mulut (HFMD).[4,5]

Pilihan Analgesik Untuk Memperbaiki Asupan Oral Pada Anak Dengan Ulserasi Rongga Mulut Yang Disebabkan Infeksi-min

Efek Keluhan Nyeri pada Kasus Ulserasi Rongga Mulut Pasien Anak

Nyeri merupakan salah satu keluhan utama yang menyebabkan anak dengan ulserasi rongga mulut datang ke instalasi gawat darurat (IGD). Rasa nyeri menyebabkan asupan oral anak menurun.

Terdapat studi di Perancis yang menunjukkan bahwa kunjungan anak ke IGD akibat ulserasi rongga mulut adalah sebesar 3,3 per 1.000 anak. Mayoritas (78,1%) anak berusia kurang dari 3 tahun, dengan rerata usia 22 bulan, dan sebanyak 6,8% anak dirawat inap. Keluhan utama anak dengan ulserasi rongga mulut yaitu nyeri (46,3%) dan mengalami kesulitan menerima asupan oral (59,1%).[1,4,5]

Pilihan Analgesik Untuk Mengurangi Nyeri dan Memperbaiki Asupan Oral pada Kasus Ulserasi Rongga Mulut Pasien Anak

Beberapa pilihan analgesik yang telah diteliti untuk tata laksana nyeri pada anak dengan ulserasi rongga mulut antara lain paracetamolibuprofen, obat topikal, codeine, dan morfin. Meski demikian, hingga saat ini kurangnya bukti terhadap efikasi analgesik sistemik maupun topikal menyebabkan belum terdapat rekomendasi berbasis bukti untuk manajemen nyeri pada kasus anak dengan ulserasi rongga mulut. Berdasarkan suatu survei terhadap 15 senter pediatrik, sebanyak 72% dokter menggunakan kombinasi ibuprofen dan paracetamol sebagai lini pertama analgesik untuk tata laksana nyeri intensitas ringan-sedang pada anak dengan ulserasi rongga mulut. Sebanyak 19% menggunakan ibuprofen, dan 7% menggunakan paracetamol sebagai regimen tunggal.[1,5,6]

Kombinasi Ibuprofen-Paracetamol VS Penggunaan Secara Tunggal

Paracetamol dan ibuprofen merupakan analgesik yang banyak digunakan untuk mengatasi nyeri pada anak. Dosis paracetamol yang direkomendasikan untuk pemberian per oral pada anak adalah 10-15 mg/kg/dosis, yang dapat diberikan setiap 4-6 jam (dosis maksimal 90 mg/kg/24 jam atau 4 gram/24 jam). Dosis ibuprofen bagi anak ≥6 bulan yaitu 5-10 mg/kg/dosis yang dapat diberikan setiap 6-8 jam (dosis maksimal 40 mg/kg/24 jam).[7]

Sebuah uji klinis acak terkontrol (2020) meneliti mengenai efikasi pemberian analgesik ibuprofen atau paracetamol yang diberikan tunggal atau kombinasi keduanya dalam menangani nyeri akut pada anak. Dosis ibuprofen yang diberikan yaitu sebesar 10 mg/kg dan paracetamol sebesar 15 mg/kg. Penelitian ini melibatkan 90 anak (30 orang pada masing-masing kelompok percobaan) yang datang ke IGD dengan nyeri akut traumatik dan nontraumatik. Pada penelitian ini didapatkan efikasi pemberian ibuprofen dan paracetamol tunggal maupun kombinasi keduanya memiliki efikasi yang setara dalam menangani nyeri akut pada anak.[8]

Lidocaine Topikal

Agen analgesik topikal yang telah diteliti untuk tata laksana nyeri untuk membantu memperbaiki asupan oral pada anak dengan ulserasi rongga mulut adalah lidocaine. Lidocaine 2% dapat diberikan dalam bentuk cairan yang kemudian dikumur dan dibuang; ataupun dalam bentuk gel yang digunakan sebanyak kira-kira 0,2 gram/4 mg (seukuran kacang polong) diberikan hingga 4 kali pemberian.[9,10]

Sebuah tinjauan oleh Ritter, et al (2020) mengulas 2 uji klinis yang meneliti efikasi pemberian lidocaine 2% pada anak dengan ulserasi rongga mulut. Tinjauan ini menunjukkan bahwa lidocaine memang efektif menurunkan skor nyeri pada pasien anak dengan ulserasi rongga mulut, namun tidak ada perbedaan yang bermakna dari segi asupan oral pada kelompok lidocaine topikal ataupun plasebo. Apabila tujuan klinis dari penggunaan analgesik adalah untuk meningkatkan asupan oral, maka penggunaan lidocaine topikal nampaknya kurang bermanfaat. Meski demikian, perlu dilakukan studi lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar.

Dalam tinjauan Ritter et al ditemukan bahwa rerata tingkat nyeri pada kelompok yang diberikan lidocaine turun sebesar 2 poin, sedangkan pada kelompok plasebo tingkat nyeri hanya turun sebesar 1,2 poin (p<0,001).[6,9,10]

Codeine

Codeine sebetulnya efektif dalam mengurangi rasa nyeri pada pasien dengan ulserasi rongga mulut. Meski begitu, penggunaan codeine sudah dilarang oleh Food Drugs and Administrations (FDA) sejak tahun 2013, terutama pada anak berusia di bawah 12 tahun. Hal ini karena codeine dapat menimbulkan efek samping serius seperti depresi napas hingga kematian. Penggunaannya juga tidak direkomendasikan pada anak usia 12-18 tahun dengan obesitas, atau memiliki kondisi seperti obstructive sleep apnea (OSA) atau penyakit paru berat karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat.[3,11]

Morfin

Morfin dapat dipertimbangkan untuk menggantikan codeine dalam tata laksana nyeri intensitas berat pada pasien dengan ulserasi rongga mulut. Meski begitu, dalam suatu uji klinis yang melibatkan pasien anak dengan keluhan nyeri setelah prosedur bedah minor, didapatkan bahwa morfin oral tidak lebih baik dibandingkan ibuprofen dalam hal penurunan nyeri.[12]

Untuk kasus pada rongga mulut, sebuah studi berusaha mengevaluasi efikasi mouthwash morfin pada kasus mukositis oral pasien dewasa dengan kanker. Studi ini menunjukkan bahwa sediaan morfin kumur efektif mengatasi keparahan mukositis oral pada populasi studi. Meski demikian, belum diketahui apakah efikasi yang sama berlaku pada pasien anak dengan ulserasi rongga mulut. Jumlah sampel dalam studi ini juga masih terlalu kecil untuk menarik kesimpulan dengan kekuatan bukti yang baik.[13]

Efek samping yang serupa dengan codeine juga ditemukan pada penggunaan morfin, terutama pada anak lebih kecil, misalnya depresi napas.

Sukralfat

Uji klinis lain oleh Singh et al (2021), mengevaluasi efikasi sukralfat dibandingkan dengan plasebo dalam memperbaiki jumlah asupan oral anak dengan ulserasi rongga mulut yang disebabkan oleh infeksi. Dalam studi ini, sukralfat diberikan sebagai terapi adjuvan terhadap analgesik. Sukralfat dosis 20 mg/kg/dosis diberikan 60 menit setelah anak mendapat paracetamol 15 mg/kg ataupun ibuprofen 10 mg/kg. Hasil studi menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pada jumlah asupan oral antara kelompok anak yang diberikan sukralfat dengan kelompok placebo.[14]

Kesimpulan

Ulserasi rongga mulut pada anak terutama disebabkan oleh infeksi, misalnya penyakit tangan-kaki-mulut. Keluhan utama anak dengan ulserasi rongga mulut yaitu rasa nyeri yang dapat menyebabkan penurunan asupan oral. Hal ini akan meningkatkan kunjungan anak ke rumah sakit dan keperluan rawat inap untuk hidrasi intravena.

Terdapat berbagai pilihan analgesik untuk tata laksana nyeri pada anak dengan ulserasi rongga mulut, tetapi bukti ilmiah yang mendukung efikasinya masih sangat terbatas. Pilihan analgesik lini pertama adalah paracetamol, tapi efikasinya belum didukung bukti ilmiah adekuat.

Selain itu, dokter bisa menggunakan agen topikal seperti lidocaine 2%. Meski demikian, ada studi yang menunjukkan bahwa penggunaan lidocaine topikal dapat menurunkan nyeri namun tidak mempengaruhi asupan oral anak dengan ulserasi mulut.

Untuk nyeri intensitas berat, morfin dapat dipilih, tetapi efek samping berat, seperti depresi napas, harus dipantau. Efikasi penggunaan morfin pada anak juga belum didukung bukti ilmiah adekuat.

Referensi