Pentingnya Penulisan Rencana Manajemen Asma

Oleh :
dr. Hendra Gunawan, Sp.PD

Penulisan rencana manajemen asma (Written asthma management plan) adalah salah satu upaya edukasi pada penderita asma. Hal ini untuk membantu dokter dan pasien  asma untuk memahami tujuan dari pengobatan dan menghindari kekambuhan.

Pasien asma eksaserbasi seringkali membutuhkan perawatan rumah sakit, hal ini menyebabkan peningkatan risiko mortalitas dan morbiditas pasien. Sehingga mengenali faktor-faktor yang memengaruhi eksaserbasi serta mengobati eksaserbasi sedini mungkin akan menurunkan angka perawatan pada pasien asma. Seringkali, pengidap asma memerlukan pengobatan yang menahun untuk mencapai kualitas hidup optimal, mencegah kekambuhan, dan mengontrol gejala.[1]

shutterstock_538312855-min

Dalam perjalanan penyakitnya, seringkali dijumpai episode kekambuhan atau eksaserbasi yang dapat terjadi dalam beberapa hari hingga minggu. Seringkali, episode eksaserbasi didahului oleh berbagai gejala awal yang bila di intervensi lebih awal akan mencegah episode yang lebih buruk, baik dengan beta-agonis maupun kortikosteroid (sebagai contoh kortikosteroid inhalasi seperti budesonide). Pemberian terapi pada saat dan obat yang tepat dapat mencegah episode eksaserbasi yang lebih berat dan menurunkan angka perawatan.[1]

Oleh karena itu, diperlukan suatu edukasi pada penderita agar dapat mengenali gejala kekambuhan lebih awal dan bagaimana menangani sesuai dengan anjuran yang dilakukan dalam bentuk Written action plan yang berupa suatu catatan dari dokter kepada pasien agar pasien mengerti kapan saat yang tepat untuk meningkatkan dosis pengobatan atau mengenali episode kekambuhan sejak dini.[1]

Upaya Written Action Plan

Istilah written action plan digunakan oleh Gibson dan Powell pada tahun 2003 sebagai metode bagi para dokter untuk memberikan catatan atau langkah yang harus dilakukan oleh pengidap asma dalam menghadapi episode kekambuhan berdasarkan tingkat keparahan asma yang diderita.[1]

Implementasi written action plan dengan baik memiliki berbagai keuntungan, yaitu meningkatnya kualitas hidup dan berkurangnya beban finansial pada pengidap asma oleh karena berkurangnya episode eksaserbasi.[1] Oleh karena itu, penggunaan metode ini dianjurkan oleh organisasi kesehatan di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Australia.[2-4]

Kekurangan Written Asthma Management Plan

Walaupun demikian, penelitian mengenai written action plan yang telah dilakukan masih terbatas, sehingga masih diperlukan banyak penelitian lebih lanjut yang mengkaji efektivitas written action plan.[5] Suatu tinjauan sistematik yang dilakukan Gatheral et al. melaporkan bahwa penggunaan written action plan hingga saat ini tidak ada manfaat atau efek samping yang jelas ,engenai peran written action plan pada pengidap asma. Mengingat studi yang dilakukan hingga saat ini masih terbatas dengan kualitas yang kurang baik, sehingga masih diperlukan studi lebih lanjut.[8]

Selain itu, Ring et al., dalam studi wawancara pada dokter, perawat, dan pasien asma yang kontrol di fasilitas kesehatan tingkat pertama melaporkan bahwa bila tidak dilakukan pemantauan secara berkala, maka written action plan dapat menjadi bumerang baik bagi pasien dan tenaga kesehatan.[6]

Bila dilaksanakan dengan baik, maka written action plan dapat memiliki berbagai manfaat klinis selain tujuan utamanya, yaitu menurunkan eksaserbasi. Patel et al menilai manfaat yang dapat dicapai dengan menerapkan written action plan ini. Manfaat yang dihasilkan adalah meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan, dan memotivasi pasien untuk berdiskusi dengan tenaga kesehatan, terutama pada populasi wanita.[7]

Gibson dan Powell merekomendasikan written action plan seyogyanya memiliki beberapa komponen, yaitu didasarkan oleh peak expiratory flow terbaik penderita, dan memiliki 2-4 komponen check-point untuk menentukan tatalaksana yang harus dilakukan oleh pasien berdasarkan kondisi klinis saat itu.[1]

Komponen Written action plan

Hingga saat ini, didapatkan berbagai versi written action plan yang telah disesuaikan oleh masing-masing negara yang telah mengadopsinya.

Secara umum, Gibson dan Powell melaporkan bahwa komponen written action plan harus memiliki berbagai unsur yaitu:

  1. Kapan terapi harus ditingkatkan dosis maupun frekuensinya,
  2. Bagaimana meningkatkan intensitas terapi,
  3. Berapa lama terapi tersebut ditingkatkan, dan
  4. Kapan penderita harus mencari pertolongan medis.[1]

National Asthma Council of Australia dalam pedoman written asthma action plan menyatakan bahwa written action plan harus sesuai dengan regimen terapi yang diberikan, tingkat keparahan asma, kebudayaan, bahasa, pendidikan, dan kemampuan pengidap asma dalam melakukan pertolongan pertama pada dirinya sendiri.[3]

Selain itu, National Asthma Council juga menegaskan bahwa dalam written action plan harus mencakup informasi mengenai kapan rencana tersebut dibuat, nama dokter pembuat written action plan, informasi nomor fasilitas kesehatan yang dapat dihubungi pada keadaan darurat, dan kapan, bagaimana pengidap asma dapat meningkatkan intensitas terapi serta instruksi pemberian obat diinformasikan dengan jelas.[3]

The Asthma UK and British Council menegaskan bahwa written action plan sebaiknya dievaluasi 1 bulan sekali dan mencakup informasi mengenai obat yang harus diminum secara rutin, edukasi mengenai tanda eksaserbasi, dan bagaimana pertolongan pertama terhadap eksaserbasi diberikan. Written action plan dapat diberikan oleh dokter umum dan pasien dianjurkan untuk menyimpan kopi digital di dalam gawai agar dapat diakses kapan saja.[4]

Implementasi Written Action Plan

Implementasi written action plan dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan bentuk kartu rencana pengobatan dengan penggunaan warna sebagai check-point hingga leaflet digital. Diperlukan kerja sama yang baik antara tenaga kesehatan dan pasien agar written action plan yang telah direncanakan dapat berfungsi optimal. Metode ini adalah metode yang dianjurkan hingga saat ini.[1]

Seiring dengan perkembangan zaman, tidak menutup kemungkinan penggunaan aplikasi digital written action plan dapat menjadi evolusi dari written action plan yang sudah ada saat ini. Namun, untuk mengembangkan aplikasi tersebut diperlukan kerja sama dari berbagai pemangku kebijakan dan pembaharuan dari written action plan sesuai dengan keadaan saat ini agar dapat tercapai algoritma pengobatan yang optimal.[9]

Kesimpulan

Asma merupakan suatu penyakit kronis yang paling sering dijumpai ditandai dengan adanya gejala obstruksi saluran napas yang bersifat kambuhan dan episodik. Oleh karena sifatnya sebagai penyakit kronis, diperlukan edukasi yang pada pengidap asma agar dapat mengenali tanda eksaserbasi lebih awal sehingga dapat melakukan penatalaksanaan awal secara mandiri untuk mencegah serangan yang lebih berat maupun sebagai pertolongan pertama untuk menurunkan komplikasi terkait asma.

Salah satu cara untuk memberikan edukasi pada pengidap asma adalah dengan memberikan written action plan atau catatan tatalaksana dari dokter kepada pengidap asma yang berisi informasi mengenai tatalaksana umum pengidap asma, bagaimana dan kapan menaikkan intensitas maupun frekuensi tatalaksana, berapa lama peningkatan terapi tersebut diberikan, dan kapan pengidap asma harus mencari tatalaksana medis.

Perencanaan tersebut harus disesuaikan dengan latar belakang pengidap asma dan disesuaikan dengan Peak expiratory flow maksimal pengidap asma. Hingga saat ini metode written action plan yang telah dilakukan adalah dengan menggunakan kartu, catatan, maupun leaflet dan tidak menutup kemungkinan dapat berbasis aplikasi di masa mendatang. Oleh karena itu, pastikan selalu setiap pasien asma memiliki rencana terapi seperti written asthma management plan.

Referensi