Verapamil untuk Tata Laksana Keloid

Oleh :
dr. Johannes Albert B SpBPRE

Verapamil merupakan salah satu tata laksana yang dapat diberikan pada keloid. Keloid merupakan suatu keadaan patologis yang ditandai dengan pertumbuhan berlebihan parut pada proses penyembuhan luka.[1,2] Hingga saat ini terdapat banyak pilihan terapi yang digunakan dalam penatalaksanaan keloid, salah satunya adalah verapamil.

Penatalaksanaan Keloid

Untuk menatalaksana keloid dengan baik, diagnosis harus ditegakkan dengan tepat.

Diagnosis keloid sering disalahartikan dengan parut hipertrofik. Parut hipertrofik adalah pertumbuhan berlebihan pada parut yang tidak melewati batas luka awal. Perbedaan ini merupakan pembeda utama antara keloid dengan parut hipertrofik. Setelah membedakan antara keloid dengan parut hipertrofik, kita dapat merencanakan penatalaksanaan serta target terapi bersama pasien dengan lebih baik. Selain itu, pasien juga bisa mendapatkan edukasi yang lebih tepat mengenai risiko rekurensi pasca terapi.

shutterstock_1664686861-min

Angka rekurensi yang cukup tinggi dan pentingnya periode pemantauan yang cukup panjang merupakan tantangan tersendiri bagi penatalaksanaan keloid. Secara garis besar penatalaksanaan pada keloid dibagi menjadi terapi konvensional, terapi pembedahan, dan terapi adjuvant/emerging therapy. Pada umumnya terapi yang diberikan untuk keloid adalah kombinasi dari beberapa terapi tersebut.[1] Kombinasi terapi bertujuan untuk meningkatkan efektivitas terapi dan menurunkan risiko rekurensi.[1–3]

Tabel 1. Berbagai Modalitas Terapi Keloid

Terapi Konvensional Terapi  Pembedahan Terapi Adjuvant (Emerging Therapy)

  1. Occlusive dressing
  2. Compression therapy
  3. Injeksi kortikosteroid

  1. Eksisi surgikal
  2. cryosurgery

  1. Radioterapi
  2. Laser
  3. Verapamil
  4. Obat lainnya: interferon, 5-fluorouracil, immunomodulator, bleomycin, growth factor, asam retinoat, hingga ekstrak herbal

Sumber: dr. Johannes, 2019 [1-3]

Verapamil sebagai Salah Satu Pilihan Tata Laksana Keloid

Injeksi verapamil intralesi tergolong sebagai obat yang cukup baru dimanfaatkan untuk terapi keloid. Verapamil bekerja dengan cara menghambat kanal kalsium. Terhambatnya kanal kalsium menyebabkan konsentrasi ion kalsium intraseluler menjadi rendah yang mengakibatkan terjadinya perubahan reaksi molekuler di sel.[4]

Secara biomolekuler verapamil bekerja dengan cara menghambat sintesis matriks ekstraseluler, meningkatkan produksi prokolagenase yang diproduksi oleh fibroblas, dan menghambat sitokin IL-6, VEGF, TGF-β1. Dampak dari perubahan ini adalah perubahan bentuk sel, apoptosis, serta berkurangnya produksi jaringan fibrosis.[4]

Efektivitas Verapamil sebagai Terapi Keloid

Terdapat beberapa penelitian yang membandingkan efektivitas verapamil dengan plasebo. Metaanalisis oleh Wang et al. melihat beberapa penelitian yang memanfaatkan verapamil sebagai terapi pencegahan pada parut paska mamoplasti dan abdominoplasti, pasien memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi setelah mendapatkan terapi verapamil dibandingkan plasebo. Sedangkan pada penelitian yang membandingkan verapamil dengan silicon sheets didapatkan 54% pasien dengan injeksi verapamil intralesi sembuh dari keloid. Pada penelitian lainnya, verapamil menunjukkan efek menghambat proliferasi fibroblas, menurunkan ekspresi TGF-β1, serta induksi apoptosis yang lebih baik dibandingkan plasebo.[4]

Ada pula penelitian yang mencoba membandingkan efektivitas injeksi verapamil intralesi untuk tatalaksana keloid dengan terapi laser CO2 dan injeksi triamcinolone intralesi. Parameter yang dinilai pada penelitian ini adalah Vancouver Scar Scale yang meliputi penilaian vaskularisasi, pliability, tinggi, dan pigmentasi pada parut. Ketiga terapi tersebut diberikan setiap 3 minggu selama 24 minggu atau hingga parut telah menjadi datar seperti kulit sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan ketiga terapi efektif memberikan hasil yang lebih baik pada seluruh parameter yang dinilai. Laser dan verapamil memerlukan waktu yang sedikit lebih lama untuk mencapai hasil yang sama bila dibandingkan dengan injeksi triamcinolone intralesi. Namun, terapi injeksi verapamil memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan injeksi triamcinolone. Efek samping tersebut ialah nyeri, telangiectasia dan atrofi kulit.[5]

Penelitian acak ganda oleh Danielse, et al. melaporkan bahwa penggunaan verapamil untuk mencegah rekurensi pasca eksisi keloid kurang efektif bila dibandingkan dengan injeksi triamcinolone. Risiko rekurensi pada parut yang di injeksi verapamil intralesi 8,44 kali lebih tinggi dibandingkan dengan injeksi triamcinolone. Namun, penelitian ini setuju dengan penelitian lain bahwa risiko efek samping verapamil lebih rendah dibandingkan injeksi triamcinolone.[6]

Beberapa metaanalisis telah dilakukan untuk menguji efektivitas verapamil dibandingkan dengan terapi injeksi kortikosteroid atau terapi lainnya. Hasil meta analisis tersebut menunjukkan bahwa verapamil memiliki manfaat terapeutik pada kasus keloid, tetapi hasil yang didapatkan tidak lebih baik secara signifikan dibandingkan terapi keloid lainnya. Penggunaan terapi ini tergolong aman dengan risiko efek samping yang minimal. Meta analisis yang telah dilakukan memiliki keterbatasan karena kurangnya penelitian randomized controlled trials dengan metodologi yang baik serta jumlah sampel yang besar.[4-6]

Verapamil sebagai Terapi Kombinasi untuk Keloid

Beberapa penelitian mencoba menggabungkan terapi verapamil dengan terapi lain seperti pulsed dye laser dan injeksi triamcinolone intralesi. Hasil terapi dievaluasi menggunakan Vancouver Scar Scale. Pada penelitian ini terdapat dua kelompok terapi, yaitu kelompok yang mendapatkan terapi injeksi verapamil tunggal (2,5 mg/mL setiap 3 minggu, sebanyak maksimal 8 sesi) dan kelompok yang mendapatkan terapi kombinasi verapamil dengan pulsed dye laser (4-15 J/cm2, spot 7 mm, durasi pulse 1,5 ms, panjang gelombang 595 nm, interval 6-8 minggu). Hasil penelitian menunjukkan terapi kombinasi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan terapi tunggal.[7]

Penelitian Kant et al. menggabungkan injeksi verapamil intralesi dan triamcinolone dengan perbandingan 1:1. Terapi diberikan sebanyak 3 kali. Terapi kedua berjarak 1 minggu dari terapi pertama, sedangkan terapi ketiga diberikan diberikan 3 minggu setelah terapi pertama. Terapi kombinasi ini memberikan hasil yang baik pada beberapa parameter yang dinilai seperti tinggi, luas permukaan, vaskularisasi, pliability, keluhan nyeri, dan gatal. Perbaikan yang signifikan didapatkan pada periode observasi 3 bulan hingga 1 tahun pasca terapi. Sayangnya penelitian ini tidak menggunakan kelompok kontrol dengan terapi tunggal atau terapi lain sebagai pembanding.[8]

Kesimpulan

Secara umum, verapamil merupakan terapi yang cukup baru dalam penatalaksanaan keloid. Verapamil memiliki potensi sebagai salah satu alternatif terapi keloid, tetapi masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan atau menemukan formulasi terapi yang lebih superior dibandingkan terapi lain yang sudah ada.

Banyaknya pilihan terapi dan belum adanya standarisasi terapi merupakan gambaran bahwa penatalaksanaan kasus keloid tidaklah sederhana. Pemilihan terapi sebaiknya didiskusikan bersama dengan pasien. Aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan terapi antara lain informed consent, harapan pasien, perkiraan durasi terapi, kekurangan atau kelebihan masing-masing terapi (misal: nyeri, risiko komplikasi), serta biaya.

Referensi