Teriparatide vs Risedronate untuk Osteoporosis - Telaah Jurnal

Oleh :
dr. Eduward T, SpPD

Effects of teriparatide compared with risedronate in the treatment of osteoporosis: A meta-analysis of randomized controlled trials

Yang C, Le G, Lu C, Wei R, Lan W, Tang J, Zhan X. Effects of teriparatide compared with risedronate in the treatment of osteoporosis: A meta-analysis of randomized controlled trials. Medicine, 2020; 99:7 (e19042). http://dx.doi.org/10.1097/MD.0000000000019042.

Abstrak

Latar Belakang: Meta analisis ini dilakukan untuk membandingkan efek dan keamanan dari teriparatide dengan risedronate pada terapi osteoporosis.

Material dan Metode: Tinjauan sistematik dilakukan terhadap semua studi yang dipublikasikan di basis data PubMed, Embase, Web of Science, dan Cochrane Library hingga 24 Februari 2019. Studi yang memenuhi syarat untuk membandingkan efek teriparatide dengan risedronate pada osteoporosis diikutsertakan dalam meta analisis. Luaran mencakup persentase perubahan bone mineral density (BMD) spinal lumbal, leher femur, dan total panggul, insidensi fraktur klinis, serum penanda tulang, dan kejadian merugikan. Model random-effect dan fixed-effect digunakan untuk menghitung estimasi gabungan, berdasarkan heterogenitas antar studi yang diikutsertakan.

Hasil: Total tujuh studi diikutkan dalam meta analisis ini. Jika dibandingkan dengan risedronate, teriparatide berkaitan dengan peningkatan signifikan pada BMD spinal lumbal [weight mean difference (WMD)= 4,24, 95%CI: 3,11-5,36; P < 0,001], leher femur (WMD=2,28, 95% CI: 1,39-3,18; P < 0,01), dan total panggul (WMD=1,19, 95%CI: 0,47-1,91; P =0,001). Selain itu, pasien di grup teriparatide menunjukkan insidensi yang lebih rendah signifikan terkait fraktur klinis (risk ratio [RR]=0,48, 95%CI: 0,32-0,72; P<0,001), fraktur vertebra baru (RR=0,45, 95%CI: 0,32-0,63; P< 0,001), dan fraktur nonvertebra (RR=0,63, 95%CI: 0,40-0,98: P=0,042) jika dibandingkan dengan grup risedronate. Dijumpai perbedaan signifikan di antara kedua grup dalam hal perubahan serum, termasuk procollagen type 1 N-terminal propeptide atau P1NP (WMD=122,34,95%CI: 68,89-175,99; P< 0,001), carboxy-terminal collagen crosslinks atau CTx (WMD= 0,62, 95%CI: 0,29-0,96; P< 0,001) dan intact parathyroid hormone atau iPTH (WMD=-13,18,95%CI: -15,04 hingga -11,33; P< 0,001). Insidensi kejadian merugikan sebanding di antara kedua grup (RR=0,93, 95%CI: 0,69-1,25; P= 0,610).

Kesimpulan: Studi ini menunjukkan bahwa teriparatide lebih efektif daripada risedronate dalam meningkatkan BMD spinal lumbal, leher femur, dan total panggul, begitu pula dalam mereduksi insidensi fraktur klinis, fraktur vertebra baru, maupun fraktur nonvertebra. Tidak ada perbedaan signifikan dalam insidensi kejadian merugikan antara kedua obat tersebut. Dengan mempertimbangkan limitasi studi ini, dibutuhkan uji klinis acak skala besar dengan metode yang lebih baik guna memverifikasi temuan ini.

shutterstock_391996339-min

Ulasan Alomedika

Saat ini, ada dua kategori mayor terapi farmakologi untuk osteoporosis yakni golongan antiresorptive dan anabolik tulang. Teriparatide merupakan terapi anabolik tulang (bone-forming) yang menstimulasi osteoblast untuk meningkatkan kualitas tulang dan mengurangi risiko fraktur. Di sisi lain, risedronate merupakan salah satu agen antiresorptive poten untuk pencegahan maupun terapi osteoporosis. Risedronate menginhibisi aktivitas osteoklas dan menginduksi apoptosisnya, sehingga mempertahankan bone mineral density (BMD) dan mengurangi risiko fraktur. Meta analisis ini bertujuan untuk membandingkan efikasi dan keamanan kedua obat tersebut.

Ulasan Metode Penelitian

Meta analisis ini dilakukan menurut kriteria Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and meta-analysis. Penulis melakukan pencarian tanpa restriksi bahasa pada basis data PubMed, Web of Science, Embase, dan Cochrane Library hingga 24 Februari 2019. Adapun inklusi utama studi yang diikutsertakan harus berupa penelitian acak terkontrol, melibatkan pasien usia dewasa, dengan luaran penelitian yang membahas persentase perubahan BMD, insidensi fraktur klinis, fraktur vertebra dan nonvertebra baru, penanda biokimia bone turnover, dan kejadian merugikan dari penggunaan obat teriparatide dan risedronate.

Penilaian risiko bias dilakukan menggunakan Cochrane Collaboration. Penilaian heterogenitas antar studi menggunakan Cochrane Q dan tes I2. Pooled estimate menggunakan metode random-effect dan fixed effect menurut derajat heterogenitas data yang dibandingkan. Variabel kontinu dihitung sebagai weighted mean difference (WMD) dengan 95% interval kepercayaan (CI). Sedangkan variabel dikotomi dihitung sebagai risk ratio (RR) dengan 95% CI. Bias publikasi dievaluasi dengan tes Begg dan Egg.

Ulasan Hasil Penelitian

Total tujuh studi dimasukkan dalam meta analisis ini. Karakteristik demografi dan klinis antar grup pasien serupa. Hasil meta analisis menemukan bahwa teriparatide berkaitan dengan peningkatan signifikan pada BMD spinal lumbal, leher femur, dan total panggul jika dibandingkan risedronate. Selain itu, pasien di grup teriparatide menunjukkan insidensi fraktur klinis yang lebih rendah secara signifikan, fraktur vertebra baru, dan fraktur nonvertebra yang lebih rendah secara signifikan.

Dijumpai perbedaan signifikan di antara kedua grup dalam hal perubahan serum, termasuk P1NP, CTx, dan iPTH. Insidensi kejadian merugikan sebanding di antara kedua grup.

Kelebihan Penelitian

Meta analisis ini merupakan yang pertama dalam membandingkan efikasi dan keamanan teriparatide dan risedronate dalam terapi osteoporosis. Metode penelitian yang diterapkan sudah sesuai dalam memeriksa tujuan penelitian. Selain itu, dengan kriteria inklusi yang hanya mengikutsertakan penelitian acak terkontrol, penilaian heterogenitas studi dan publikasi bias turut meminimalkan risiko bias hasil penelitian.

Penilaian luaran dalam meta analisis ini juga sudah mencakup penilaian klinis hingga penanda biokimia bone turnover yang sudah valid digunakan dalam manajemen osteoporosis saat ini.

Limitasi Penelitian

Salah satu limitasi pada studi ini adalah adanya heterogenitas yang substansial pada studi yang dibandingkan untuk sejumlah luaran, seperti persentase perubahan BMD spinal lumbar, leher femur, dan total panggul. Selain itu, ada dua penelitian yang hanya memiliki jumlah sampel yang kecil (n< 50). Kedua hal ini menyiratkan bahwa hasil penelitian bisa saja overestimate, sekaligus mengindikasikan bahwa masih dibutuhkan penelitian dengan skala lebih besar untuk memverifikasi hasil penelitian ini.

Aplikasi Hasil Penelitian

Di Indonesia, Puslitbang Gizi Depkes RI melaporkan bahwa prevalensi osteopenia sebesar 41,7% dan osteoporosis 10,3% berdasarkan sampel dari 16 wilayah.[1] Hasil studi ini tentu menjadi penting dalam menambah pengetahuan terkait pendekatan tata laksana osteoporosis di Indonesia. Hingga saat artikel ini ditulis, teriparatide masih belum tersedia di Indonesia. Sedangkan risedronate sudah tersedia dalam bentuk risedronate sodium dengan kekuatan 35 mg dan 150 mg.

Referensi