Studi Kohort Transmisi COVID-19 pada 282 Klaster di Spanyol – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Hendra Gunawan, Sp.PD

Transmission of COVID-19 in 282 Clusters in Catalonia, Spain: A Cohort Study.

Marks M, Millat-Martinez P, Ouchi D, et al. The Lancet Infectious Diseases. 2021 May;21(5):629-636. PMID: 33545090.

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Abstrak

Latar Belakang: Saat ini data mengenai variabel yang memengaruhi risiko transmisi SARS-CoV-2, munculnya COVID-19 yang simtomatik, dan hubungannya dengan viral load masih terbatas. Oleh karena itu, peneliti menganalisis data dari kasus indeks COVID-19 dan juga menganalisis kontaknya untuk mencari faktor yang memengaruhi transmisi SARS-CoV-2.

Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort. Pasien direkrut dari penelitian yang dilakukan pada tanggal 17 Maret 2020 hingga 28 April 2020 yang bertujuan untuk meneliti efikasi hidroksiklorokuin pada COVID-19.

Pasien diidentifikasi dari rekam medis elektronik Spanyol dengan kriteria: 1) berusia minimal 18 tahun; 2) tidak dirawat di rumah sakit; 3) memiliki hasil tes polymerase chain reaction atau PCR kuantitatif pada saat terdiagnosis; 4) memiliki gejala ringan dalam 5 hari sebelum diagnosis; dan 5) tidak ada riwayat infeksi COVID-19 pada lingkungannya dalam 14 hari sebelum diagnosis.

Kontak didefinisikan sebagai orang dewasa yang memiliki riwayat eksposur dan tidak memiliki manifestasi klinis COVID-19 dalam 7 hari sebelum diagnosis. Viral load diukur dengan PCR kuantitatif dari swab nasofaring saat pasien didaftarkan dalam penelitian, saat 14 hari setelahnya, dan saat pasien melaporkan gejala yang diduga COVID-19.

Risiko transmisi SARS-CoV-2, risiko terjadinya COVID-19 simtomatik, dan dinamika inkubasi dievaluasi dengan analisis regresi. Penelitian ini mempelajari hubungan viral load dengan karakteristik subjek, yaitu usia, jenis kelamin, hari saat gejala dialami, serta ada tidaknya gejala seperti demam, batuk, dyspnea, rhinitis, dan anosmia. Selain itu, penelitian ini juga mempelajari asosiasi antara risiko transmisi dan karakteristik kasus indeks dan kontak.

Hasil: Peneliti mengidentifikasi 314 pasien COVID-19. Dari jumlah tersebut, 282 pasien (90%) memiliki minimal 1 kontak (total ada 753 kontak), yang menghasilkan 282 klaster. Sebanyak 90 (32%) dari 282 klaster memiliki minimal satu kejadian penularan.

Secondary attack rate adalah 17% (125/753) dengan variasi 12% ketika kasus indeks memiliki viral load <1x106 kopi/mL hingga 24% ketika kasus indeks memiliki viral load ≥1x1010 kopi/mL (adjusted OR per log10 increase in viral load 1,3, 95% CI 1,1–1,5).

Peningkatan risiko transmisi juga terkait dengan kontak serumah (3,0; 1,59–5,65) dan usia dari kontak (tiap tahun: 1,02; 1,01–1,04). Sebanyak 449 kontak memiliki hasil PCR positif saat diagnosis. Sebanyak 28 (6%) dari 449 kontak memiliki gejala di kunjungan pertama.

Dari 421 kontak yang tidak memiliki gejala di kunjungan pertama, 181 (43%) mengalami gejala COVID-19 seiring berjalannya waktu, dengan variasi 38% pada kontak dengan viral load kasus indeks <1x107 kopi/mL hingga 66% pada kontak dengan viral load kasus indeks ≥1x1010 kopi/mL (hazard ratio per log10 increase in viral load 1,12, 95% IC 1,05–1,20; p=0,0006).

Waktu awitan gejala pada kasus simtomatik menurun dari median 7 hari (5–10) pada individu dengan viral load kasus indeks <1x107 kopi/mL hingga 6 hari (4–8) pada individu dengan viral load kasus indeks antara 1x107-1x109 kopi/mL, dan 5 hari (3–8) pada pasien dengan viral load kasus indeks >1x109 kopi/mL.

Interpretasi: Menurut hasil studi ini, viral load kasus indeks adalah faktor penentu yang kuat terhadap transmisi SARS-CoV-2. Risiko terjadinya COVID-19 yang simtomatik juga berhubungan kuat dengan viral load kontak saat awal diagnosis (baseline). Viral load baseline yang tinggi akan mempersingkat waktu inkubasi secara dose-dependent.

Blue,Blurred,City,Life,Background,With,Red,Virus,In,Foreground,

Ulasan Alomedika

Pandemi COVID-19 menjadi masalah serius bagi masyarakat di seluruh dunia. Hingga saat ini, berbagai strategi telah dikembangkan untuk memutus rantai transmisi virus, misalnya dengan protokol kesehatan, vaksinasi, maupun karantina wilayah.[1]

Berbagai studi telah melaporkan dugaan bahwa viral load berpengaruh terhadap risiko transmisi SARS-CoV-2, sehingga pencegahan secara nonfarmakologis dengan protokol kesehatan benar berperan penting. Namun, studi yang dibahas dalam telaah jurnal ini ingin mempelajari hubungan viral load dengan risiko transmisi SARS-CoV-2, risiko timbulnya simtom, dan periode inkubasi secara lebih detail.[2,3]

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan desain kohort untuk mengevaluasi pengaruh viral load kasus indeks terhadap kecepatan transmisi dan kecepatan munculnya gejala klinis COVID-19 pada kontaknya.

Ulasan Hasil Penelitian

Dari 314 pasien yang terkonfirmasi COVID-19, sebanyak 282 (90%) pasien memiliki minimal 1 kontak (median 2 kontak) dengan kontak maksimal sebanyak 19 orang, sehingga didapatkan total 753 kontak. Mayoritas pasien yang memiliki kontak adalah pasien perempuan (202 orang) dengan rerata usia 42 tahun.[2]

Pemeriksaan viral load awal menunjukkan median 1x1108 kopi/mL (1x1106–1x109 kopi/mL). Lalu, analisis lanjutan menunjukkan bahwa viral load memiliki korelasi positif dengan gejala sistemik seperti demam dan memiliki korelasi negatif dengan awitan gejala dari masa inkubasi. Korelasi negatif (inversed) berarti bahwa semakin tinggi viral load, semakin rendah (cepat) masa inkubasi.[2]

Proporsi kontak yang terdiagnosis positif dilaporkan meningkat sesuai jumlah viral load kasus indeks yang teridentifikasi, yakni sebesar 12% pada viral load kasus indeks 1x106 kopi/mL hingga sebesar 24% pada viral load kasus indeks 1x1010 kopi/mL. Pada analisis lanjutan, didapatkan bahwa adjusted odds ratio viral load kasus indeks adalah 1,3 (95% IC 1,1–1,5) tiap peningkatan log10 pada konsentrasi viral load.[2]

Faktor lain yang dapat meningkatkan transmisi adalah kontak serumah (adjusted OR: 3,0 95% IC: 1,59–5,65) dan usia kontak (adjusted OR: 1,02 95% IC 1,01–1,04). Secara keseluruhan, sebanyak 449 dari 753 kontak terdiagnosis positif COVID-19 melalui tes PCR pada kunjungan pertama, dengan rincian 28 orang memiliki gejala dan 181 orang memiliki gejala dalam rentang 14 hari kemudian.[2]

Kelebihan Penelitian

Penelitian dilakukan dengan metode yang cukup baik, sehingga pelacakan epidemiologi dapat mengidentifikasi 282 klaster penularan COVID-19. Penelitian ini merupakan studi terbesar yang mempelajari hubungan viral load dan transmisi SARS-CoV-2 saat ini.

Selain itu, penelitian ini merupakan studi prospektif pertama yang mempelajari asosiasi antara viral load awal dan masa inkubasi. Hasil penelitian ini juga dapat menemukan hubungan yang dose-dependent antara viral load baseline kontak dengan terjadinya COVID-19 yang simtomatik.[2]

Kekurangan Penelitian

Penelitian ini tidak melibatkan orang yang asimtomatik sebagai kasus indeks. Hal ini menyebabkan karakterisasi tipe rantai transmisi yang lengkap tidak optimal. Selain itu, penelitian ini tidak menemukan penurunan risiko transmisi pada orang yang memakai masker. Hal ini bertolak belakang dengan hasil studi-studi lain dan diperkirakan terjadi karena penelitian ini tidak memperhatikan cara dan tipe masker yang digunakan.

Penelitian ini juga tidak dapat menyingkirkan kemungkinan bahwa partisipan terinfeksi COVID-19 dari orang lain di luar studi meskipun partisipan sudah dikarantina setelah terpapar dengan kasus indeks. Selain itu, sampel diambil dari kasus indeks sekitar 4 hari setelah onset dan diambil dari kontak sekitar 5 hari setelah paparan, sehingga ada kesulitan menganalisis viral load puncak.[2]

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Hasil penelitian ini menyarankan agar orang dengan riwayat kontak berjumlah banyak menjalani pemeriksaan viral load, karena apabila viral load orang tersebut tinggi maka orang yang berkontak dengannya memiliki risiko tertular yang tinggi. Selain itu, hasil penelitian ini juga menyarankan agar kontak yang tertular bisa diukur viral load-nya untuk stratifikasi risiko, karena viral load yang tinggi berhubungan dengan timbulnya manifestasi klinis COVID-19.[2]

Rekomendasi ini mungkin sulit diterapkan di Indonesia mengingat adanya titik awal yang berbeda ketika pasien yang dicurigai mengalami COVID-19 mengakses fasilitas kesehatan dan adanya keterbatasan sumber daya.

Selain itu, hasil penelitian ini masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dengan studi di masa depan, mengingat adanya hasil studi lain (Trunfio, et al.,) yang melaporkan bahwa viral load yang dinilai melalui Ct pada kasus indeks tidak berhubungan dengan luaran klinis kontaknya, baik dalam hal gejala, angka hospitalisasi, maupun kematian.[4]

Referensi