Seberapa sering scaling gigi perlu dilakukan merupakan topik yang relevan secara klinis karena akumulasi plak dan kalkulus merupakan faktor etiologis utama penyakit periodontal. Penentuan interval scaling yang berbasis bukti ilmiah penting untuk memastikan pencegahan dan pengelolaan penyakit periodontal dilakukan secara efektif dan selaras dengan prinsip praktik kedokteran gigi berbasis bukti.
Scaling merupakan salah satu perawatan yang bertujuan untuk menjaga kesehatan gigi dan rongga mulut. Umumnya, dokter gigi akan merekomendasikan scaling sebagai salah satu perawatan rutin dalam upaya preventif dan profilaksis rongga mulut. Dengan melakukan scaling, diharapkan pasien dapat terhindar dari berbagai penyakit jaringan periodontal, seperti gingivitis, kehilangan perlekatan tulang, peningkatan kedalaman poket, kehilangan gigi, hingga periodontitis.[1-5]
Manfaat Melakukan Scaling Gigi Secara Rutin
Scaling gigi dilakukan untuk menghilangkan akumulasi plak dan kalkulus. Tindakan ini diharapkan akan meningkatkan kesehatan gigi dan rongga mulut, mencegah terbentuknya karies, dan menghindari penyakit periodontal.[1-5]
Mengeliminasi Akumulasi Plak dan Kalkulus
Scaling merupakan tindakan instrumentasi pada permukaan mahkota dan akar. Scaling merupakan tindakan non-bedah yang digunakan untuk mengeliminasi bakteri secara mekanis. Secara klinis, tindakan scaling umumnya berperan sebagai perawatan adjuvan untuk kontrol plak dan kalkulus yang berperan dalam proses inflamasi jaringan gingiva pada permukaan gigi.[1-4]
Mencegah Inflamasi Gingiva dan Penyakit Periodontal
Gingivitis merujuk pada sebuah kondisi gingiva yang mengalami inflamasi, ditandai dengan adanya pembengkakan dan perubahan warna gingiva, kehilangan tekstur stippling pada permukaan gingiva, papila gingiva membulat, dan perdarahan spontan atau dengan tekanan ringan pada gingiva. Sementara itu, periodontitis merupakan respon inflamasi dan progresi dari gingivitis yang tidak menjalani perawatan sehingga menyebabkan kehilangan perlekatan jaringan periodontal.[2,6]
Patogen utama penyakit periodontal adalah Porphyromonas gingivalis, Tannerella forsythia, dan Treponema denticola. Patogen tersebut akan terakumulasi dan membentuk koloni berupa plak yang menempel pada permukaan gigi sehingga mencetuskan respon inflamasi jaringan periodontal. Tindakan scaling dilakukan untuk menghilangkan plak, yang dengan demikian diharapkan dapat mencegah inflamasi jaringan periodontal.[2,7]
Dalam sebuah uji klinis terhadap 328 partisipan, scaling dan root planning yang disertai dengan prosedur oral hygiene adekuat di rumah dilaporkan efektif menurunkan gejala dari penyakit periodontal dan surface plaque level.[4]
Mencegah Peningkatan Kedalaman Poket
Poket periodontal terbentuk akibat dari pendalaman sulkus gingiva secara patologis. Hal ini dapat memperparah kondisi periodontitis akibat penumpukan plak dan kalkulus di dalam poket periodontal. Pembersihan plak dan kalkulus dalam poket periodontal diharapkan akan menginduksi proses penyembuhan dan mendukung terbentuknya perlekatan baru antara gingiva pada permukaan gigi, serta mereduksi kedalaman poket periodontal.[4-6,8]
Sebuah uji klinis yang melibatkan 37 pasien dan total 1629 situs gigi melaporkan bahwa tindakan scaling dan root planning efektif untuk menurunkan probing depth pada poket residual pasien dengan periodontitis kronik. Scaling juga dilaporkan efektif memperbaiki plaque index. Meski begitu, sampel studi ini kecil dan pemantauan hanya dilakukan selama 6 bulan, sehingga studi lebih baik masih diperlukan untuk mengonfirmasi efek tersebut.[5]
Mencegah Kegoyangan Gigi dan Kehilangan Gigi
Kegoyangan gigi merupakan akibat dari resorbsi tulang alveolar, baik secara vertikal maupun horizontal yang timbul pada pasien periodontitis dengan oral hygiene yang buruk. Resorbsi tulang alveolar dapat mempengaruhi tinggi dan densitas tulang alveolar sehingga meningkatkan mobilitas dan risiko kehilangan gigi. Scaling diharapkan dapat mencegah penyakit periodontal dan kemudian dapat bermanfaat dalam mencegah kehilangan gigi.[6,9]
Mengurangi Bau Mulut
Plak dan kalkulus merupakan reservoir bakteri pada permukaan gigi. Bakteri tersebut akan menggunakan protein, peptida, dan asam amino yang ada di dalam rongga mulut sebagai sumber nutrisi. Bakteri akan menghasilkan produk samping berupa senyawa sulfur yang menghasilkan bau tidak sedap. Dengan melakukan scaling, pasien dapat terhindar dari bau mulut atau halitosis.[10]
Meningkatkan Kebersihan Rongga Mulut
Scaling merupakan tindakan oral profilaksis dan berguna untuk mendesinfeksi rongga mulut. Dengan melakukan scaling, pasien secara tidak langsung meminimalisir jumlah bakteri patogen pada rongga mulut, mencegah penyakit periodontal, menjaga aspek fungsional sehingga meningkatkan kualitas hidup.[6,8]
Bukti Ilmiah Periode Interval Scaling yang Terbaik
Bukti mengenai efikasi klinis atau cost-efficiency dari tindakan scaling rutin untuk pemeliharaan kesehatan mulut masih sangat terbatas, begitu juga dengan interval terbaik dalam melakukan tindakan ini. Tinjauan sistematik Cochrane (2018) hanya dapat mengidentifikasi dua uji klinis acak terkontrol yang relevan mengenai manfaat scaling dan polishing rutin terhadap kesehatan periodontal.
Dalam tinjauan tersebut, peneliti Cochrane mengungkapkan bahwa pemberian scaling secara rutin setiap 6-12 bulan pada populasi dewasa tanpa risiko periodontal tinggi hanya menunjukkan manfaat klinis terbatas. Manfaat yang konsisten terutama berupa sedikit penurunan kalkulus, sedangkan dampaknya terhadap parameter klinis yang lebih bermakna (seperti gingivitis, plak, dan kualitas hidup) minimal atau tidak berbeda dibandingkan dengan tanpa perawatan terjadwal.[3]
Dalam tinjauan lain, frekuensi scaling yang optimal dikatakan bergantung pada status periodontal individu. Pada orang dewasa dengan kondisi periodontal sehat atau hanya tanda awal periodontitis yang rutin mengakses perawatan gigi, scaling rutin setiap 6 atau 12 bulan tidak menunjukkan manfaat klinis yang bermakna terhadap inflamasi gingiva atau kedalaman poket dibandingkan tanpa scaling terjadwal, meskipun dapat menurunkan kalkulus.
Sebaliknya, pada pasien dengan riwayat periodontitis yang telah menjalani terapi aktif, terdapat bukti adanya manfaat melakukan supportive periodontal therapy (SPT), termasuk scaling setiap 3 bulan pada fase awal dan kemudian disesuaikan berdasarkan profil risiko individu. Pasien berisiko tinggi tetap mendapat interval 3 bulan, sedangkan pasien berisiko rendah dapat stabil dengan interval 6–12 bulan.[6]
Kesimpulan
Belum ada cukup banyak penelitian dengan kekuatan bukti adekuat mengenai efikasi klinis dan cost-efficiency dari tindakan scaling rutin, termasuk mengenai interval optimal dari tindakan tersebut. Meski demikian, bukti terbatas menunjukkan bahwa frekuensi tindakan scaling bisa disesuaikan dengan tingkat risiko pasien.
Pada pasien dengan kondisi periodontal baik dan risiko rendah, scaling dapat dilakukan setiap 6-12 bulan. Sementara itu, pada pasien dengan riwayat periodontitis aktif dan berisiko tinggi, scaling bisa diperlukan hingga sesering setiap 3 bulan. Masih diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar dan masa tindak lanjut lebih panjang guna memastikan apakah prosedur scaling dapat memperbaiki luaran klinis kesehatan gigi, serta untuk menetapkan frekuensi pelaksanaan yang optimal.
