Risiko Penyakit Radang Panggul pada Penggunaan IUD (Intrauterine Device)

Oleh dr. Graciella N T

Risiko penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease /PID) yang dihubungkan dengan penggunaan intrauterine device (IUD) merupakan sebuah topik yang mempengaruhi pemilihan penggunaan alat kontrasepsi di seluruh dunia. [1] Penelitian mengenai topik ini sudah di lakukan selama 50 tahun dan terus dilanjutkan, namun belum terdapat konklusi yang dapat diterima oleh seluruh komunitas medis. [2]

Program keluarga berencana merupakan salah satu upaya negara untuk meningkatkan kualitas dan kesehatan masyarakat. Program ini memiliki berbagai jenis metode, mulai dari cara modern hingga cara konvensional. Menurut data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, penggunaan alat kontrasepsi di Indonesia cenderung meningkat dan proporsi terbesar pada wanita kelompok usia 15-49 tahun menggunakan metode KB modern seperti implan, IUD, atau pil (59,3%). Pada tahun 2013, metode kontrasepsi yang banyak digunakan termasuk suntik hormonal (48,56%), pil hormonal (26,60%), dan IUD (7,75%). [3]

Salah satu pertimbangan penggunaan IUD adalah kekhawatiran dapat menyebabkan atau meningkatkan infeksi ginekologis, yang dapat berlanjut menyebabkan gangguan fertilitas. Kekhawatiran ini sudah diteliti sejak tahun 1940an, tetapi belum terdapat konsensus hingga saat ini. [2] Kesimpulan yang pasti mengenai pengaruh IUD terhadap infeksi atau infertilitas sulit didapat karena beberapa faktor, yaitu sulitnya mendiagnosis karena pasien dapat asimptomatik, sulitnya memastikan hubungan sebab-akibat, dan banyaknya keterbatasan penelitian. [2, 4]

gyn exam

Kesulitan Dalam Menentukan Hubungan PID Dengan IUD

Beberapa faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam menentukan hubungan antara IUD dan penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease/PID) adalah sulitnya mendiagnosis karena pasien dapat asimptomatik, sulitnya memastikan hubungan sebab dan akibat, kelompok perbandingan yang tidak sesuai pada penelitian, dan diagnosis PID yang sulit ditegakkan. [2, 4]  

PID Asimptomatik

Sebagian besar kasus PID adalah asimptomatik, atau bergejala ringan, sehingga kebanyakan pasien dapat dikategorikan bebas penyakit. [2, 5] Chlamydia trachomatis terutama dapat menyebabkan berbagai infeksi servikal atau organ reproduksi bagian atas yang tanpa gejala. [6]

Hubungan Sebab-Akibat Antara Pemasangan IUD dan Paparan Bakteri

Waktu pasti paparan bakteri yang menyebabkan infeksi pada organ genitalia sulit untuk ditentukan. Sehingga, menentukan apakah PID terjadi sebelum atau setelah pemasangan IUD pun menjadi sulit. Dan menentukan hubungan sebab-akibat di antara keduanya pun menjadi sulit. [2]

IUD digunakan dalam jangka waktu panjang, dan baru akan dilepas setelah kurang lebih 5 tahun. Dengan demikian, seharusnya risiko paparan bakteri yang disebabkan oleh pemasangan IUD relatif rendah. [9]

Kelompok Perbandingan yang Tidak Sesuai untuk Penelitian

Untuk melakukan sebuah penelitian yang valid, diperlukan subjek penelitian dengan karakteristik yang sebanding. Hal ini sulit dicapai pada penelitian mengenai PID dan IUD, karena sulitnya mencari subjek dengan tingkat risiko infeksi yang serupa. Diperlukan kelompok subjek dengan gaya hidup seksual yang serupa, misalnya risiko paparan terhadap pathogen menular seksual, frekuensi koitus, serta penggunaan alat kontrasepsi yang tidak meningkatkan maupun mengurangi risiko PID. [2, 4] Subjek penelitian yang terlalu beragam akan menyebabkan bias dan perancu validitas penelitian.

Diagnosis yang Tidak Tepat

PID sulit untuk didiagnosis dengan sensitivitas dan spesifitas yang tinggi. Kebanyakan pasien PID asimptomatik, dan pemeriksaan gold standard untuk diagnosis adalah laparaskopi yang sangat invasif. [2, 6]

Risiko Infeksi Ginekologi dan IUD

Salah satu hipotesis mengenai pengaruh IUD terhadap PID adalah benda asing dapat mengurangi respon sistem imun sistem reproduksi, sehinga menjadi rentan terkena infeksi. Bila hipotesa ini benar, maka infeksi akan sering terjadi selama IUD masih terpasang di dalam tubuh.

Sebuah studi prospektif pada tahun 1992 menunjukkan bahwa risiko infeksi setelah pemasangan IUD terdapat pada 20 hari pertama setelah pemasangan IUD. Risiko ini mencapai 6 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari berikutnya, dan risiko tetap rendah hingga 8 tahun pasca pemasangan. Penelitian ini juga melaporkan bahwa risiko PID setelah pemasangan IUD adalah kecil, dan di rentang yang kurang lebih sama dengan wanita yang aktif secara seksual. Namun, perlu diingat bahwa studi ini adalah sebuah studi lama dan memiliki berbagai keterbatasan, salah satunya adalah tidak melakukan kontrol terhadap faktor perancu. [1]

Hipotesis lainnya adalah bahwa IUD yang dimasukkan ke tubuh dapat membantu perpindahan mikroorganisme dari kanal endoservikal ke dalam uterus. [7] Sebuah review sistematik melaporkan bahwa penelitian-penelitian yang ada tidak memiliki kasus dan kelompok perbandingan yang cukup memadai untuk menyimpulkan hipotesis tersebut. Data dan analisis yang didapat memiliki berbagai keterbatasan studi, sehingga kesimpulan yang ada hanya bersifat indirek. Peningkatan absolute risk PID pada pengguna IUD juga tetap rendah, yaitu hanya sekitar 0-5%. [2]

Penelitian kohort retrospektif yang lebih baru juga menyampaikan hasil serupa, yaitu risiko PID pada penggunaan IUD adalah sangat rendah, dan angka kejadian tetap tidak berubah antara pasien yang diskrining IMS sebelum pemasangan, pada hari pemasangan, maupun yang tidak diskrining. Risiko PID secara menyeluruh adalah sekitar 0.54%, dimana risiko pada pasien yang diskrining dan tidak diskrining relatif sama. [8]

Penggunaan IUD pada Wanita dengan Risiko Infeksi

Pada tahun 2015, WHO mengeluarkan pedoman mengenai kriteria kelayakan pemasangan kontrasepsi. Pada pedoman ini disebutkan bahwa pemasangan IUD pada wanita dengan risiko infeksi menular seksual dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease/PID), walaupun demikian, bukti klinis yang ada masih terbatas dan risiko yang ditemukan sangatlah rendah. [10]

Table 1 Pedoman WHO Mengenai Pemasangan IUD pada Wanita dengan Risiko Infeksi

Intrauterine devices (IUD) Rekomendasi

Pemasangan IUD / IUD initiation

Kebanyakan wanita dengan peningkatan risiko infeksi dapat menggunakan copper-bearing IUD (CuIUD) maupun levonogestrel-releasing IUD (LNG-IUD).

Beberapa wanita dengan risiko infeksi menular seksual yang sangat meningkat (penilaian secara individual oleh dokter), sebaiknya menunda pemasangan IUD. Kelompok ini sebaiknya diperiksa dan ditatalaksana terlebih dahulu.

IUD continuation

Apabila IUD sudah terpasang, pasien yang memiliki risiko tinggi terkena infeksi dapat melanjutkan penggunaan CuIUD dan LNG-IUD

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan belum ada penjelasan kuat mengenai mekanisme pasti yang menghubungkan antara IUD dan penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease/PID), namun telah banyak dilaporkan bahwa risiko PID pada penggunaan IUD sangat kecil.

Risiko PID setelah penggunaan IUD hanya tinggi selama kurang lebih satu bulan setelah pemasangan alat, lalu kemudian risiko tersebut turun dan stabil di tingkat rendah selama bertahun-tahun.

WHO tetap merekomendasikan pemasangan IUD pada wanita yang berisiko infeksi. Apabila risiko dirasa sangat tinggi, maka pasien dapat diperiksakan dan ditatalaksana terlebih dahulu. Namun, secara umum, pemasangan IUD dilaporkan aman pada kelompok ini.

Referensi