Posisi Kepala untuk Penanganan Stroke

Oleh dr. Graciella N T

Elevasi kepala 30 derajat merupakan praktik yang umum dilakukan untuk tata laksana stroke. Walau demikian, penelitian terkini mempertanyakan apakah posisi kepala elevasi ini leih baik dibandingkan dengan posisi supinasi. Posisi supinasi diperkirakan dapat meningkatkan perfusi serebral, tetapi di sisi lain meningkatkan resiko pneumonia aspirasi. Posisi elevasi kepala dapat mengurangi tekanan intrakranial pada pasien dengan iskemi hemisferik luas atau stroke hemoragik. Pedoman klinis belum menyarankan secara pasti posisi yang terbaik untuk pasien stroke akut.

Depositphotos_14152043_m-2015_compressed

Stroke merupakan penyakit yang secara global ada di peringkat kedua untuk penyebab kematian, dan di peringkat ketiga untuk penyebab disabilitas. Penyakit ini juga lebih sering ditemukan pada negara berkembang; 70% dari stroke dapat ditemukan di negara pendapatan rendah-menengah (low- and middle-income countries).[1] Di Indonesia, dari setiap 1000 orang, delapan akan terkena stroke menurut data dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2011. Terlebih lagi, stroke terjadi 15 tahun lebih awal di negara berkembang dibandingkan dengan negara maju, di saat penderita masih dalam usia produktif.[2] Stroke dapat dicegah dan ditatalaksanai, tetapi permasalahannya adalah pedoman klinis yang tersedia sering kali hanya dapat digunakan di negara maju. Tata laksana perlu menjalani pemeriksaan CT scan, yaitu sebuah modalitas yang belum banyak tersedia di negara Indonesia. Negara berkembang juga belum memadai dalam menangani faktor rehabilitasi, pencegahan, dan faktor resiko yang tinggi.[1-4]

Penelitian mengenai Posisi Kepala Pasien untuk Penanganan Stroke

Beberapa penelitian telah mencoba mencari hubungan antara posisi kepala pasien pasca stroke akut dan pengaruhnya ke pasien.[3] Hargroves et al. meneliti pengaruh posisi kepala pada pasien pasca stroke di bagian korteks (arteri serebral tengah) terhadap tingkat oksigenasi serebral menggunakan near infrared spectroscopy (NIRS). Penelitian ini memiliki jumlah sampel kecil, hanya mencakup tujuh orang, dan hasil yang ditemukan adalah bahwa posisi elevasi kepala menyebabkan oksigenasi yang paling rendah, dan posisi supinasi memiliki oksigenasi tertinggi. [5] Sebuah meta analisis oleh Olavarria et al. mencari hubungan antara posisi kepala dan blood flow velocity serebral di pasien dengan stroke iskemik akut. Hasil yang didapat dari Olavarria et al. adalah bahwa aliran darah sangat meningkat di sisi otak yang mengalami sumbatan (tidak ada pengaruh di sisi otak yang tidak tersumbat) saat diposisikan pada 0 derajat atau 15 derajat dibandingkan dengan posisi elevasi kepala 30 derajat. Hasil dari penelitian ini terbatas karena hanya 3 penelitian dengan kualitas rendah yang digunakan untuk meta analisis ini.[6] Kedua penelitian yang sudah dibahas memiliki kekurangan karena membahas parameter pemeriksaan penunjang tetapi belum mendiskusikan pengaruh posisi kepala terhadap hasil klinis pasien.

Sebuah penelitian cluster-randomized, crossover trial HeadPoST oleh Anderson et al. yang dipublikasikan tahun 2017 mencari tahu pengaruh posisi kepala terhadap hasil klinis pada pasien. Penelitian ini mencakup 11,000 pasien dari sembilan negara dan menganalisa berbagai parameter. Metode yang dilakukan adalah mengaplikasikan salah satu posisi kepala yaitu supinasi atau elevasi kepala (≥30 derajat) terhadap berbagai kelompok stroke akut (iskemik 85% dan hemoragik) yang dipertahankan selama 24 jam. Pasien lebih banyak yang dapat mempertahankan posisi elevasi kepala dibandingkan posisi supinasi. Hasil yang dinilai kemudian adalah disability di hari ke-90 menggunakan skala Rankin dimodifikasi, serta adverse event seperti pneumonia. Dari penelitian ini, tidak ada perbedaan pengaruh klinis yang signifikan antara posisi supinasi atau elevasi kepala. Juga tidak ditemukan adanya perbedaan jumlah adverse event yang signifikan dari dua kelompok tersebut.[3,4,7]

Penelitian ini memiliki kelebihan dalam faktor jumlah pasien yang tergabungkan dan desain yang mudah diaplikasikan, terutama saat dilihat pengerjaannya dari sembilan negara yang berbeda. Namun penelitian ini memiliki kekurangan untuk distribusi yang merata dari lokasi arteri yang tersumbat, dan persentase pasien dengan stroke luas yang jauh lebih sedikit. Terapi posisi yang diaplikasikan kepada pasien seringkali sudah melewati waktu kritis, sehingga waktu modifikasi penumbra kemungkinan sudah terlewat. Kedua hal ini dapat mempengaruhi hasil penelitian karena perbaikan yang diperlukan pasien kemungkinan tidak signifikan (jumlah stroke luas yang sedikit) atau waktu penyembuhan yang sudah terlewat.[3,7]

Implikasi Klinis dan Kesimpulan

Penatalaksanaan stroke di negara berkembang masih sulit dilakukan dan perbaikan klinis dan prognosis belum optimal. Posisi kepala pada pasien stroke akut yang dipertimbangkan saat ini adalah supinasi dan elevasi kepala. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pemilihan antara kedua posisi ini kontroversial dan belum ditentukan secara pasti oleh pedoman klinis.

Saat ini belum banyak penelitian yang besar dan randomized mengenai topik posisi kepala, tetapi terdapat penelitian terbaru oleh Anderson et al. yang menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara posisi supinasi atau elevasi kepala, tetapi pasien lebih nyaman berada dalam posisi elevasi kepala. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan keuntungan dan dan kerugian kedua posisi tersebut, waktu yang tepat untuk memulai terapi, jangka waktu yang optimal, dan apabila jenis/lokasi/luas stroke memerlukan terapi posisi tertentu.

Referensi