Peran curcumin pada non-alcoholic fatty liver disease atau fatty liver sudah pernah diteliti sebelumnya. Dalam studi beberapa tahun terakhir, curcumin diteliti memiliki efek antioksidan dan antiinflamasi. Berdasarkan dari hal ini, muncul dugaan apakah curcumin juga bermanfaat pada penanganan NAFLD.[1,2]
Sekilas Mengenai Non-Alcoholic Fatty Liver Disease
Prevalensi non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) atau perlemakan hati mencapai 25% di seluruh dunia. Kondisi ini seringkali asimtomatik, di mana gejala ringan yang dapat dikeluhkan oleh pasien adalah nyeri abdomen kanan atas dan fatigue.[3,4]
Hingga saat ini, patofisiologi NAFLD masih belum diketahui dengan pasti. Studi terdahulu melaporkan adanya steatohepatitis dan fibrosis dari hasil biopsi hati, yang disebabkan oleh stres oksidatif pada hepatosit. Dugaan sementara, NAFLD terjadi akibat hasil interaksi antara genetik, lingkungan, dan stres metabolik.[4]
Stres metabolik yang dimaksud adalah obesitas, resistensi insulin, dan dislipidemia, yang sering disebut sebagai sindrom metabolik.[4]
Bukti Ilmiah Mengenai Curcumin
Curcumin adalah ekstrak dari kunyit. Curcumin merupakan salah satu obat tradisional yang memiliki potensi protektif terhadap organ hati. Studi pada hewan coba melaporkan bahwa curcumin dapat memperbaiki tingkat keparahan dari steatohepatitis melalui hambatan terhadap proses O-GlcNAcylation yang bertugas meningkatkan sintesis NF-êB sehingga menurunkan mediator inflamasi.[1,2,5]
Sementara itu, studi curcumin pada manusia masih sedikit. Temuan pada hewan coba melaporkan bahwa curcumin berperan dalam mengurangi keparahan steatohepatitis
Studi Klinis Mengenai Curcumin dan Efek Protektif terhadap Hepar
Uji klinis acak, double-blind, terkontrol plasebo oleh Rahmani et al. (2016) di Iran mempelajari efek curcumin terhadap NAFLD. Uji ini melibatkan 80 pasien sindrom metabolik dengan NAFLD berdasarkan hasil USG abdomen, di mana secara acak pasien diberikan formula amorphous dispersion curcumin 500 mg/hari (setara dengan 70 mg curcumin) atau plasebo selama 8 minggu.[6]
Hasil uji mendapatkan perbaikan ultrasonografi hepar pada 78,9% pasien yang mendapat curcumin, disertai kadar serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) yang membaik, sedangkan pasien yang mendapat plasebo tidak dijumpai perbaikan ini.[6]
Penelitian serupa dilakukan oleh Panahi et al. (2018) di Iran, yang melibatkan 36 pasien dengan NAFLD. Hasil penelitian juga menyatakan bahwa curcumin 1.500 mg/hari selama 8 minggu secara bermakna memperbaiki kadar SGOT dan SGPT. Selain itu, penelitian ini juga melaporkan efek samping konsumsi curcumin tidak serius, yaitu mual yang didapatkan pada 5 pasien.[7]
Namun, penelitian-penelitian yang telah dilakukan hanya melibatkan sedikit subjek, di mana hal ini menjadi kelemahan dari penelitian karena prevalensi NAFLD cukup tinggi. Selain itu, cara memproses kunyit hingga didapatkan curcumin yang terstandar masih belum dijelaskan dengan rinci pada penelitian-penelitian terdahulu ini.
Pemberian Curcumin Tidak Memperbaiki Fungsi Hepar
Meta analisis oleh Mansour-Ghanaei et al. (2019) melaporkan bahwa jumlah penelitian curcumin pada manusia dengan NAFLD masih cukup sedikit, dengan hasil yang heterogen. Oleh karena itu, masih diperlukan lebih banyak penelitian mengenai curcumin pada manusia.[8]
Hasil analisis mendapatkan bahwa curcumin tidak memiliki efek untuk menurunkan SGPT dan SGOT. Pada analisis lebih lanjut, ditemukan trend penurunan SGPT yang lebih tinggi pada pemberian curcumin ≥1.000 mg/hari. Namun, studi yang digunakan dalam analisis ini semuanya berasal dari Iran, sehingga implementasi pada populasi negara lain harus dicermati lebih lanjut.[8]
Meta analisis tahun 2024 oleh Malik et al. juga menunjukkan bahwa curcumin tidak memiliki efek signifikan secara statistik pada SGPT, SGOT, alkaline phosphatase (AP), HbA1c, maupun indeks massa tubuh pasien NAFLD. Studi ini menganalisis 975 pasien dari 16 studi, di mana 494 pasien menerima curcumin dan 481 pasien sebagai kontrol.[9]
Risiko Efek Samping Pemberian Curcumin
Luber et al. (2018) melaporkan dua kasus dugaan drug induced liver injury (DILI) yang disebabkan oleh konsumsi curcumin. Manifestasi pasien adalah peningkatan enzim hepar secara signifikan, yang disertai mual, muntah, dan jaundice.[10]
Namun, studi toksikologi terhadap suplemen yang digunakan pasien mengandung berbagai zat lainnya. Oleh karena itu, perlu dibuat daftar obat yang digunakan pasien sebelum memberikan curcumin, untuk mengurangi risiko interaksi obat pada kasus polifarmasi.[10]
Akan tetapi, pemahaman farmakokinetik dan farmakodinamik curcumin dilakukan berdasarkan penelitian hewan coba. Selain itu, mayoritas studi terdahulu terkait efek antioksidan dan antiinflamasi curcumin juga masih terbatas pada hewan coba. Masih dibutuhkan studi lebih mendalam untuk mengkaji lebih lanjut sebelum mengekstrapolasi efek curcumin tersebut pada manusia.[6,11]
Kesimpulan
Curcumin atau ekstrak kunyit merupakan salah satu obat tradisional yang umum digunakan, terutama untuk masalah hepar. Studi pada hewan coba melaporkan bahwa curcumin dapat mengurangi tingkat keparahan steatohepatitis.
Sementara itu, berbagai studi manfaat curcumin untuk penderita non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Beberapa studi di Iran memang melaporkan bahwa curcumin dapat menurunkan SGPT dan SGOT, serta memperbaiki skor fibrosis hepar. Namun, studi-studi tersebut hanya melibatkan sedikit subjek, tidak menjelaskan cara memproses kunyit hingga didapatkan curcumin yang terstandar, serta belum dapat diimplementasi pada populasi negara lain.
Meta analisis tahun 2024 yang melibatkan sekitar 1.000 pasien NAFLD menunjukkan bahwa curcumin tidak memiliki efek signifikan secara statistik pada SGPT, SGOT, alkaline phosphatase (AP), HbA1c, maupun indeks massa tubuh pasien.
Direvisi oleh: dr. Hudiyati Agustini