Apakah Irigasi Nasal Bermanfaat untuk Mencegah dan Mengobati COVID-19?

Oleh :
dr.Dhaniel Abdi Wicaksana, Sp.T.H.T.K.L., FICS

Teknik irigasi nasal atau cuci hidung direkomendasikan sebagai salah satu strategi pencegahan dan pengobatan infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau dikenal dengan Coronavirus Disease-19 (COVID-19).

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Menurut berbagai studi, irigasi nasal terbukti secara klinis membantu pada berbagai gangguan pernapasan namun manfaatnya pada kasus COVID-19 masih belum sepenuhnya diketahui.

Patofisiologi COVID-19 diduga menyerupai berbagai infeksi saluran napas atas lain, yang mana infeksi pertama kali muncul di area nasal dan mukosa nasofaring. Hal ini menimbulkan keyakinan akan efektivitas irigasi nasal dalam pencegahan dan penanganan COVID-19.[1-4]

Apakah Irigasi Nasal Bermanfaat untuk Mencegah dan Mengobati COVID-19-min

Mekanisme Perlindungan Rongga Hidung dan Hubungannya dengan Transmisi Infeksi SARS-CoV-2

Mukosa hidung memiliki peranan yang penting dalam sistem imun bawaan yang memberikan pertahanan primer terhadap berbagai patogen yang terhirup. Akan tetapi, mukosa hidung juga merupakan area yang ideal untuk kolonisasi virus corona karena memiliki banyak vaskularisasi dan bersifat lembab.

SARS-CoV-2 sendiri dapat bertahan pada mukosa hidung karena memiliki spike atau permukaan menyerupai paku yang terbuat dari glikoprotein. Studi menunjukkan adanya ekspresi angiotensin converting enzyme-2 (ACE2) pada lamina basalis yang menunjukkan kerusakan epitel pada mukosa hidung pasien COVID-19. Virus ini juga diketahui dapat merusak klirens mukosiliar.

Deposisi virus pada mukosa hidung kemudian dapat meluas hingga tenggorok, dimana mukosa tenggorok diduga menjadi episentrum replikasi virus lalu meluas ke paru hingga akhirnya pasien mengalami pneumonia.[5-8]

Temuan studi lain mengungkapkan bahwa pada pasien COVID-19, swab nasal memiliki deposisi virus lebih besar daripada tenggorok, yang menunjukkan mukosa hidung sebagai pintu masuk bagi infeksi SARS-CoV-2.[3,5,7-10]

Adanya peran dari sistem imun mukosa hidung pada patofisiologi COVID-19 mendukung penelitian terkait manfaat irigasi nasal dalam pencegahan dan pengobatan COVID-19.

Mekanisme perlindungan irigasi nasal diduga bekerja secara langsung melalui efek mekanik yang akan membersihkan mukosa hidung. Lapisan mukus pada rongga hidung dapat melunak dan terlepas, selain itu mediator inflamasi seperti prostaglandin dan leukotrien atau antigen dapat ikut tersapu.[5,8,11]

Dengan irigasi nasal, diharapkan partikel virus yang kontak dengan reseptor ACE2 namun belum menyatu dapat secara mekanis tersapu dan mereduksi viral load. Penurunan viral load sendiri berbanding lurus dengan banyaknya kasus asimptomatis dan berkurangnya kasus berat.

Berbagai studi juga mengungkapkan infeksi paru terjadi akibat mikro aspirasi dari virus yang baru saja bereplikasi. Oleh karena itu, mengurangi viral load pada saluran pernapasan atas diharapkan mengurangi penyebaran infeksi ke saluran pernapasan bawah.[3,12,13]

Pada sebuah studi in vitro, pemberian cairan larutan saline hipertonik diketahui dapat menghambat replikasi virus SARS-Cov-2 sebesar 90-100% pada sel epitel ginjal monyet Vero. Hal ini memberikan keyakinan akan manfaat irigasi nasal dalam mencegah transmisi virus COVID-19.

Kandungan larutan saline juga diduga dapat menstimulasi sel epitel mukosa hidung untuk memproduksi asam hipoklorit dan berperan sebagai antimikroba. Asam hipoklorit merupakan bahan kimia aktif pada pemutih pakaian yang memiliki kemampuan sebagai desinfektan.

Irigasi nasal juga mudah dilakukan, murah dan gampang diakses sehingga menjadi nilai tambah untuk diterapkan sebagai penunjang tatalaksana COVID-19.[3,6,12,13]

Penggunaan Irigasi Nasal sebagai Pengobatan dan Pencegahan COVID-19,

Berbagai studi telah dilakukan untuk menilai manfaat irigasi nasal baik dalam mencegah maupun sebagai bagian dari terapi COVID-19. Efek yang dihasilkan dapat berbeda-beda sesuai dengan jenis cairan irigasi nasal yang digunakan.

Irigasi Nasal Menggunakan Kombinasi Larutan Saline dengan Povidone Iodine atau Natrium Bikarbonat

Sebuah studi kohort oleh Baxter et al di Amerika dilakukan untuk mengetahui efek irigasi nasal pada sebanyak 79 pasien terkonfirmasi COVID-19 tanpa komplikasi pneumonia yang berusia 55 tahun atau lebih.

Pada kelompok 1, peserta diberikan irigasi nasal menggunakan 240 ml larutan saline dengan kombinasi 0,5 ml povidone-iodine. Sedangkan pada kelompok 2, peserta diberikan irigasi nasal menggunakan 240 ml larutan saline dengan kombinasi 2,5 ml natrium bikarbonat.

Peserta diminta untuk melakukan irigasi nasal sebanyak 2 kali sehari selama 14 hari untuk kemudian dipantau hingga 14 hari setelah selesai irigasi nasal.

Hasil studi mendapatkan hanya 1,26% dari populasi sampel atau hanya 1 orang peserta yang mengalami hospitalisasi yakni peserta dari kelompok penerima larutan saline – povidone iodine.[15]

Peneliti menilai nilai ini rendah dibandingkan tingkat hospitalisasi pasien COVID-19 dalam periode yang sama berdasarkan data The Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Berdasarkan data tersebut, dari 3 juta pasien yang mengalami COVID-19 pada periode yang sama dengan penelitian, tingkat hospitalisasi dilaporkan sebesar 9,37%.

Dalam hal perbaikan gejala, pada ke-2 kelompok tidak terdapat beda signifikan namun resolusi gejala seperti sakit kepala, lemas, anosmia dan hidung tersumbat dalam 14 hari follow up, lebih banyak ditemukan pada penerima kombinasi povidone-iodine.

Penelitian ini menunjukkan bahwa irigasi nasal dapat bermanfaat dalam pengobatan COVID-19 serta mencegah perburukan gejala COVID-19.[3]

Uji Klinis Efikasi Irigasi Nasal Menggunakan Cairan Alkaline Hipertonis

Yilmaz et al sebuah uji klinis tersamar ganda di Turki mengenai efikasi irigasi nasal pada 60 pasien terkonfirmasi COVID-19 dilakukan dengan membagi peserta menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

Kelompok perlakuan menerima pengobatan dasar COVID-19 ditambah dengan irigasi nasal hipertonis alkaline, sedangkan kelompok kontrol hanya menerima pengobatan dasar COVID-19. Pengobatan standar COVID-19 yang digunakan pada studi ini adalah hidroksiklorokuin per oral dengan dosis 400 mg per hari.

Observasi kemudian dilakukan pada hari ke-0, 3 dan 7. Nasopharyngeal viral load (NVL) didapatkan menurun signifikan pada kelompok perlakuan daripada kelompok kontrol setelah observasi pada 3 hari awal. Hal ini menunjukkan irigasi nasal dapat bermanfaat terhadap respon virus awal.[7]

Bagaimanapun, studi ini menggunakan jumlah sampel yang sedikit sehingga dinilai kurang bisa menunjukkan perbedaan yang signifikan terkait efektivitas terapi irigasi nasal dalam memperbaiki gejala terutama pada penderita COVID-19 derajat berat dan dalam mengurangi mortalitas.

Studi Manfaat Irigasi Nasal dalam Mengatasi Gejala Disfungsi Olfaktori

Yildiz et al melakukan penelitian untuk mengevaluasi terapi paling baik dalam mengatasi disfungsi olfaktori akibat COVID-19. Randomized-controlled study yang melibatkan 150 pasien ini membagi peserta dalam 3 kelompok sama besar.

Kelompok pertama hanya menerima terapi dasar COVID-19, kelompok ke-2 menerima irigasi nasal larutan salin hipertonis 2 kali sehari selama 1 bulan. Sedangkan pada kelompok ke-3 menerima kombinasi irigasi nasal dan nasal steroid spray yang mengandung triamcinolone acetonide 0,055%.

Setelah hari ke-30 penggunaan obat, kelompok kombinasi irigasi nasal menggunakan kombinasi cairan saline dengan kortikosteroid inhalan memiliki self rating olfactory score (SROS) paling tinggi (p1-3=0,018 dan p2-3=0,033) dengan nilai olfactory dysfunction duration (ODD) paling rendah (p1-3=0,022 dan p2-3=0,028).

Selain temuan tersebut, tidak dilaporkan adanya efek samping berarti selama penelitian berlangsung, pasien penerima irigasi nasal dapat menjalani pengobatan dengan baik.[4]

Data ini didukung oleh Spinato et al melalui uji klinis pada pasien COVID-19 yang mendapatkan irigasi nasal salin isotonis selama 12 hari segera setelah dinyatakan positif.

Peserta penerima irigasi nasal diketahui mengalami perbaikan gejala seperti hidung tersumbat, bersin dan pilek secara signifikan. Sebaliknya, pada kelompok kontrol yaitu pasien COVID-19 yang tidak menerima irigasi nasal, cenderung mengalami perburukan gejala.

Hasil konversi negatif pada pemeriksaan molekuler dalam waktu 10 hari diperoleh oleh 91,1% penerima irigasi nasal, berbanding dengan hanya 2,8% pada kelompok kontrol.

 

Berbagai hasil studi yang menunjukkan efektivitas irigasi nasal dalam menurunkan penularan berbagai infeksi saluran napas akibat virus pada anggota keluarga. Hal ini memberikan kemungkinan akan manfaat yang sama pada kasus COVID-19 meskipun masih dibutuhkan studi lebih lanjut.

Kekurangan Metode Irigasi Nasal dalam Penanganan COVID-19

Di balik manfaat irigasi nasal, terdapat ketakutan bahwa hasil cairan irigasi nasal dapat menyebabkan viral shedding sehingga malah mempercepat dan memperluas transmisi virus COVID-19.

Pada penggunaan spuit juga ditakutkan terjadi kontaminasi yang mempermudah penyebaran melalui kontak permukaan. Namun untuk hal ini, penggunaan yang bersifat individualistik yakni penggunaan 1 instrumen irigasi nasal hanya untuk 1 penderita, dinilai dapat menekan risiko penyebaran.

Meskipun efek yang ditimbulkan tidak berat dan hanya bersifat sementara, irigasi nasal dapat menimbulkan efek samping seperti iritasi, rasa tidak nyaman di hidung, nyeri telinga atau rasa menumpuk dari sisa cairan pada area sinus paranasal.

Sebagian besar efek samping terjadi akibat volume larutan besar. Pengaturan suhu larutan menjadi penting karena bila terlalu dingin atau terlalu panas akan menyebabkan rasa yang tidak nyaman dan menurunkan kepatuhan pasien dalam menggunakan irigasi nasal, terlebih bila diberikan pada pasien anak.[6,10,11]

KESIMPULAN

Irigasi nasal dinilai memberikan dampak positif untuk mengurangi derajat keparahan penyakit apabila segera diberikan setelah pasien dinyatakan menderita COVID-19. Peralatan irigasi nasal mudah didapat dengan harga yang terjangkau serta  dapat dilakukan sendiri oleh pasien.

Kemampuan untuk mengurangi viral load dan kebutuhan akan perawatan rumah sakit menjadi keuntungan dilakukannya irigasi nasal pada pasien COVID-19.

Penggunaan irigasi nasal secara rutin juga memberi rasa nyaman bagi pasien karena memberikan perbaikan gejala gangguan olfaktori tanpa menyebabkan efek samping yang signifikan.

Meskipun begitu, irigasi nasal tidak direkomendasikan sebagai terapi tunggal untuk COVID-19. Jumlah frekuensi pemberian dan jenis larutan irigasi nasal yang paling optimal dalam mencegah maupun mengobati COVID-19 pun masih perlu diteliti lebih lanjut.

Secara umum, uji klinis acak dengan menggunakan populasi yang lebih besar dibutuhkan untuk mengevaluasi manfaat irigasi nasal baik dalam mencegah transmisi virus maupun dalam mengobati COVID-19.[1,3,8,12]

Referensi