Prognosis Pes (Plague)
Prognosis wabah pes atau plague bergantung pada kecepatan pemberian terapi antimikroba. Pada kasus bubonic plague tanpa terapi Case Fatality Rate (CFR) dapat mencapai 30–60%, dan kasus pneumonic plague membawa prognosis yang sangat buruk (dubia ad malam) dengan angka mortalitas yang hampir mendekati 100%.[2,3,7]
Komplikasi
Komplikasi wabah pes umumnya bermanifestasi secara cepat dan masif, terutama apabila inisiasi terapi antibiotik mengalami penundaan. Penyebaran kuman Yersinia pestis secara hematogen dapat memicu perburukan fungsi multiorgan yang berujung fatal.
Syok Septik dan Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
Bakteremia yang tidak terkontrol dapat berkembang dengan cepat menjadi syok septik refrakter dan koagulasi intravaskular diseminata (DIC). Manifestasi klinis DIC ditandai dengan terbentuknya mikrotrombosis ekstensif yang menyumbat aliran kapiler di area akral. Hambatan perfusi ini menyebabkan nekrosis iskemik akut (gangren) pada jaringan perifer ekstremitas.[6,7]
Respirasi dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)
Pasien dengan pneumonic plague memiliki risiko tinggi terhadap komplikasi pulmonal. Komplikasi akut yang sering terjadi meliputi efusi pleura purulen, edema paru masif, hingga perburukan progresif menjadi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Kondisi kegagalan respirasi akut ini menuntut intervensi jalan napas invasif (intubasi endotrakeal) dan dukungan ventilasi mekanis secara darurat di unit perawatan intensif.[2,3,7]
Meningitis Pes (Plague Meningitis)
Meskipun insidensinya relatif jarang, komplikasi neurologis berupa meningitis pes dapat timbul ketika patogen berhasil menembus sawar darah otak (blood-brain barrier). Komplikasi meningitis ini lebih sering dijumpai sebagai perluasan dari pes bubo fokal yang terletak di area servikal atau aksila, komplikasi ini dapat dinilai dengan tanda rangsang meningeal.[6,7]
Prognosis
Pada kasus bubonic plague, prognosis umumnya cukup baik ( dubia ad bonam, ad vitam) apabila pasien segera mendapatkan penatalaksanaan antibiotik. Angka Case Fatality Rate (CFR) pada pes bubo yang tidak mendapatkan terapi dapat mencapai 30% hingga 60%. Namun, angka mortalitas ini dapat ditekan hingga di bawah 5% melalui pemberian regimen antibiotik lini pertama yang adekuat pada fase awal infeksi.[2,7]
Sebaliknya, kasus pneumonic plague membawa prognosis yang sangat buruk (dubia ad malam) dan diklasifikasikan sebagai kegawatdaruratan infeksi ekstrem. Tanpa adanya intervensi medis yang memadai, wabah pes memiliki angka mortalitas yang hampir mendekati 100%. Kelangsungan hidup pasien dengan wabah pes sangat bergantung pada pemberian terapi antibiotik intravena empiris dalam kurun waktu 24 jam pertama sejak awal munculnya gejala pernapasan maupun demam.[3,7]