Edukasi dan Promosi Kesehatan Pes (Plague)
Edukasi dan promosi kesehatan wabah pes atau plague berfokus pada pemutusan rantai penularan, perlindungan populasi rentan, serta peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman wabah di tingkat komunitas maupun fasilitas pelayanan kesehatan.[4,7]
Edukasi Pasien
Bagi pasien yang terdiagnosis maupun individu yang memiliki kontak erat, edukasi difokuskan pada kepatuhan terapi dan pencegahan transmisi sekunder
Kepatuhan Terapi Obat
Edukasi pasien dan keluarga mengenai kepatuhan minum obat regimen antibiotik umumnya durasi 10 hingga 14 hari,meskipun gejala telah membaik pada saat terapi step-down oral, ketidakpatuhan berisiko memicu relaps yang jauh lebih fatal.[3,7]
Profilaksis Pascapajanan (PEP)
Profilaksis pasca pajanan atau postexposure prophylaxis (PEP) ke anggota keluarga atau kontak erat (dalam radius kurang dari 2 meter) dari pasien pneumonic plague harus diedukasi untuk segera melaporkan diri dan secara disiplin mengonsumsi antibiotik profilaksis (seperti Siprofloksasin atau Doksisiklin) selama 7 hari sejak pajanan terakhir.[2,3]
Karantina dan Isolasi
Berikan pemahaman kepada keluarga bahwa pasien pes paru wajib menjalani isolasi pernapasan ketat di fasilitas kesehatan. Kunjungan keluarga harus dibatasi secara absolut hingga dokter menyatakan bahwa pasien telah melewati masa menular (minimal setelah 48-72 jam terapi antibiotik efektif).[3]
Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Upaya pencegahan dan pengendalian wabah pes atau plague menargetkan pelaku perjalanan dan profesi berisiko tinggi.
Modifikasi Lingkungan
Edukasi masyarakat untuk mengurangi populasi rodensia (tikus liar) di sekitar pemukiman dengan cara mengelola sampah secara saniter, menutup rapat sumber makanan, dan membersihkan tumpukan sisa kayu atau semak belukar yang dapat menjadi sarang.[2,6]
Pencegahan Gigitan Vektor
Promosikan penggunaan produk repelan serangga (seperti yang mengandung DEET) pada kulit maupun pakaian ketika beraktivitas di area luar ruangan yang berisiko tinggi. Masyarakat juga diedukasi untuk secara rutin merawat hewan peliharaan (anjing dan kucing) dengan obat anti-kutu (pinjal).[2,7]
Kewaspadaan Perjalanan (Travel Medicine)
Edukasi bagi wisatawan atau pekerja yang akan berkunjung ke negara-negara endemis tinggi (seperti Madagaskar, Republik Demokratik Kongo, dan Peru) untuk menghindari kontak dengan rodensia dan menggunakan perlindungan terhadap gigitan serangga [2].
Keselamatan Laboratorium (Occupational Safety)
Tenaga medis, analis, dan peneliti di laboratorium mikrobiologi wajib mendapatkan penyegaran rutin mengenai risiko paparan aerosol Yersinia pestis. Kepatuhan mutlak terhadap protokol Biosafety Level 3 (BSL-3) dan penggunaan APD tingkat tinggi adalah mandat yang tidak bisa ditawar, guna mencegah insiden fatal infeksi akibat kecelakaan kerja.[1,7]
Kewaspadaan Bioterorisme
Meningkatkan kesadaran di kalangan tenaga kesehatan tingkat pertama (first responders) untuk segera melapor ke otoritas kesehatan publik apabila menemukan klaster pasien dengan gejala pneumonia fulminan secara mendadak, mengingat patogen ini merupakan agen ancaman bioterorisme Kategori A.[4,6]