Epidemiologi Cedera Mata
Studi epidemiologi menunjukkan bahwa, angka kejadian cedera mata atau trauma mata mencapai 55 juta kasus di seluruh dunia. Cedera mata merupakan penyebab kebutaan tersering di dunia setelah katarak, glaukoma, degenerasi makula, retinopati dan trachoma. Sebanyak 90% kasus cedera mata bersifat dapat dicegah atau preventable. Pada dewasa, kasus cedera mata paling banyak disebabkan oleh kecelakaan kendaraan, jatuh, dan kekerasan.[2,19]
Trauma kimia pada mata mewakili 10 – 22% dari semua cedera mata. Trauma kimia seringkali terjadi di rumah tangga, kebanyakan disebabkan oleh desinfektan dan larutan pembersih.[16]
Global
Data epidemiologi menunjukkan bahwa 90% kasus cedera mata yang datang ke unit gawat darurat adalah kasus yang dapat dicegah. Data pada pasien dewasa menunjukkan bahwa penyebab tersering adalah kecelakaan kendaraan bermotor, disusul oleh jatuh dan kekerasan.[2]
Sebuah studi berbasis populasi di Iran menunjukkan bahwa trauma tumpul pada mata merupakan jenis cedera mata yang paling banyak ditemukan pada populasi lansia. Studi yang sama juga menunjukkan bahwa gangguan visus akibat cedera mata dialami oleh 12,53% partisipan.[20]
Indonesia
Data dari Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018, menyatakan bahwa prevalensi cedera mata di Indonesia sebesar 0,5%, dengan prevalensi tertinggi dari Provinsi Bangka Belitung, yaitu 1,6%. Jenis kelamin laki-laki, usia 55-64 tahun, dan mereka yang tinggal di pedesaan merupakan kelompok yang paling banyak mengalami cedera mata.[21,22]
Mortalitas
Cedera atau trauma mata tidak menyebabkan mortalitas secara langsung, namun meningkatkan risiko morbiditas penglihatan. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Court et al., cedera mata akibat trauma penetrasi dapat menyebabkan ruptur orbita (35,6%), ablatio retina (15,8%), phthisis bulbi (9,9%), dan endoftalmitis (2,6%).[8,23]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha