Cedera Optik Akibat Paparan Sinar Laser

Oleh :
dr. Debtia Rahmah

Laser pointer dan beberapa produk laser lainnya dapat dengan mudah diperoleh orang awam karena dijual secara bebas. Padahal, paparan langsung ke mata dapat menyebabkan cedera optik.

Laser (Light Amplification by the Stimulated Emission of Radiation) adalah alat yang mampu memproduksi atau amplifikasi radiasi elektromagnetik. Laser terbentuk melalui proses emisi tersimulasi terkontrol. Laser kini digunakan dalam berbagai perangkat teknologi, alat-alat medis, peralatan laboratorium serta peralatan militer.[1]

retina

Laser diklasifikasikan dalam beberapa kelas yakni 1, 1M, 2, 2M, 3R, 3B and 4. Laser kelas 1 memiliki panjang gelombang <400 nm. Produk dengan laser kategori 1 contohnya pemutar CD/DVD, printer, oftalmoskop.

Laser kelas 2 memiliki panjang gelombang 400-700 nm dengan output power ≤1 mW. Produk yang sering menggunakan laser kelas 2 dan 2M yaitu alat pemindai kode bar. Salah satu produk pointer yang digunakan untuk presentasi oleh konsumen di Indonesia juga menggunakan laser kategori 2.

Laser kelas 3R memiliki daya 5 mW dengan panjang gelombang 400-700 nm. Produk yang seringkali menggunakan laser 3R adalah laser pointer. Laser kelas 3B memiliki daya 500 mW. Laser kelas ini sering digunakan untuk pertunjukan cahaya, keperluan industri, dan penelitian.

Laser kelas 4 memiliki daya >500 mW. Seringkali digunakan untuk pertunjukan cahaya, keperluan industri serta penelitian, peralatan medis untuk pembedahan mata atau terapi kulit. [2,3]

Tingkat Keamanan Laser

Tingkat keamanan laser berdasarkan kelas laser menurut The American National Standard Institute (ANSI) adalah sebagaimana berikut.

  • Kelas 1 - tergolong aman pada semua kondisi
  • Kelas 2 – tergolong aman dengan adanya efek protektif refleks mengedip. Paparan dalam waktu lama berpotensi menimbulkan kerusakan mata. Paparan tidak boleh ≥0,25 detik.
  • Kelas 2M – laser kelas ini tingkat keamanannya hampir serupa dengan laser kelas 2 tetapi akan menjadi lebih berbahaya bila dilihat menggunakan alat bantu penglihatan, karena lensa kacamata dapat memfokuskan energi laser.
  • Kelas 3R – keamanan tergantung pada power dan beam area. Dapat menjadi berbahaya jika dilihat langsung tanpa pelindung mata. Akan menjadi lebih berbahaya bila dilihat menggunakan alat bantu penglihatan.
  • Kelas 3 B – paparan langsung ke kulit dan mata segera dapat menyebabkan cedera
  • Class 4 – paparan pantulan maupun sinar langsung ke mata dan kulit akan segera menimbulkan cedera. Juga dapat menyebabkan percikan api.[2,3]

Efek Paparan Laser Terhadap Mata

Sebagaimana yang telah dijelaskan, tingkat keamanan laser berbeda-beda tergantung kelas laser. Laser kelas 3R maupun 2 banyak digunakan sebagai pointer. ANSI merekomendasikan pemberian program pelatihan untuk penggunaan laser kelas 3R. Akan tetapi kini laser pointer dengan mudah dibeli secara bebas.[3]

Terdapat banyak laporan kasus yang dipublikasikan mengenai efek negatif paparan laser pada mata. Kebanyakan kasus diakibatkan oleh penggunaan laser yang tidak sesuai. Sebagian besar kasus diakibatkan projeksi laser langsung ke mata karena keisengan akibat ketidaktahuan bahaya paparan laser. Seringkali laser pointer digunakan bermain oleh anak.[4]

Sumber laser yang mengakibatkan cedera optik bervariasi, seringkali akibat laser pointer. Sumper laser yang paling sering dilaporkan menyebabkan cedera adalah laser pointer biru, kemudian hijau, dan merah. [5] Akan tetapi ada pula cedera optik yang disebabkan laser mainan dan laser dari instrument prosedur kosmetik. [6]

Keluhan berupa mata merah atau nyeri pasca paparan laser kadang dialami, namun hal ini diduga lebih sebagai akibat mengucek mata. Kerusakan segmen anterior mata yang disebabkan paparan laser lebih jarang terjadi. Keluhan yang lebih sering adalah penurunan visus dan skotoma sentral. Keluhan tersebut dapat timbul segera maupun beberapa jam pasca paparan. [4-7]

Salah satu case report melaporkan penurunan visus timbul sehari setelah paparan laser pointer warna biru-hijau selama 5-10 detik. Visus mata yang terpapar menurun menjadi 1/60 yang tidak membaik dengan pinhole. Funduskopi menunjukan gambaran perdarahan subhyaloid. Pada pemeriksaan tomografi koherensi optik tampak iregularitas lapisan retina di area makula, sedangkan mata yang tidak terpapar menunjukkan hasil normal.[7]

Case report lain melaporkan gangguan penglihatan berupa penurunan visus disertai diplopia yang timbul sekitar 7 jam pasca paparan laser pointer hijau kelas 3B selama 1 detik dari jarak 10 cm. Pada pemeriksaan refraksi dengan koreksi terbaik, visus hanya 20/40 mata kiri-kanan. Pemeriksaan funduskopi menunjukkan spot hipopigmentasi di regio temporal fovea, serta ditemukan skotoma pada pemeriksaan amsler grid. Pemeriksaan tomografi koherensi optik menunjukan kerusakan lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar yang merupakan lapisan kedua retina. [8]

Studi lain melakukan pemeriksaan histologi pada mata yang terpapar laser hijau selama 60 detik, dilaporkan adanya kerusakan epitel pigmen retina berupa gumpalan fokal granul pigmen pada sitoplasma sel epitel pigmen retina yang disertai pergeseran nuklei. Granula pigmen banyak yang tampak ireguler. [9]

Suatu studi meta analisis dan serial kasus, melaporkan bahwa paparan laser pada mata dapat menyebabkan skotoma, perdarahan retina, hipopigementasi dan hiperpigmentasi retina, serta terbentuknya lubang makula. Epitel pigmen retina yang kaya akan melanin diduga rusak karena melanin dapat menyerap cahaya serta energi laser.[5]

Walaupun terdapat refleks mengedip yang dapat memproteksi mata, kerusakan retina tetap dapat timbul tergantung pada tipe panjang gelombang laser, daya radiasi, durasi paparan, serta area retina yang terpapar. Jika terdapat kerusakan struktur retina di makula, terutama fovea, maka dapat timbul gejala penurunan visus yang berat dan menetap.[7]

Kerusakan retina timbul akibat cedera thermal, fotomekanik, serta fotokimiawi. Paparan laser dengan daya tinggi diperkirakan mengakibatkan efek photodisruptive. Energi laser diserap oleh jaringan dan diduga menimbulkan denaturasi protein akibat panas, hilangnya integritas sel, inflamasi, maupun timbul gelembung dengan energi mekanik yang memicu lepasnya retina.[3,5]

Penatalaksanaan Cedera Optik Akibat Paparan Laser

Hingga kini belum ada pedoman penatalaksanaan untuk cedera optik akibat paparan laser. Suatu studi pada hewan coba monyet menunjukan terdapat manfaat pada pemberian metilprednisolone sistemik.[10]

Studi kasus kontrol dengan total sampel 13 pasien juga menunjukan efek positif pada kelompok yang mendapat terapi steroid. Pasien pada kelompok intervensi mendapat terapi prednisolone 1 mg/kg per oral, kemudian dosis diturunkan perlahan sebanyak 10 mg/minggu. Kelompok kontrol tidak diberikan terapi. Pada pemantauan selama 3-10 bulan, 2 dari 5 pasien pada kelompok intervensi menunjukan penyembuhan  lapisan ellipsoid yang terdisrupsi disertai peningkatan visus, sedangkan 3 pasien lainnya mengalami penyembuhan parsial tanpa disertai proliferasi jaringan yang signifikan. Hanya 1 dari 8 pasien pada kelompok kontrol yang mengalami peningkatan visus. Tiga pasien pada kelompok kontrol malah mengalami penurunan visus, sedangkan pada pasien lainnya, visus menetap akibat adanya defek retina persisten. Walaupun belum jelas mekanismenya, diduga kortikosteroid sebagai anti inflamasi mampu mempertahankan integritas barier pembuluh darah retina. [6]

Studi lain juga melaporkan pada pemantauan 6 bulan, terjadi perbaikan visus walaupun hanya sedikit dengan pemberian obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) oral pada pasien anak. Akan tetapi studi tersebut tidak menjelaskan secara detail jenis OAINS yang diberikan maupun dosisnya.[8]

Suatu case report melaporkan pasien anak yang mendapat terapi prednisolone 1% selama 2 minggu sebanyak 3 dosis per hari, mengalami perbaikan visus cukup baik, tetapi kelainan fotoreseptor menetap. Kasus lainnya, dimana visus turun disertai atrofi epitel pigmen retina dan neovaskularisasi pada membran koroidal dengan perdarahan subretinal, ditatalaksana dengan injeksi bevacizumab 1,25 mg intravitreal. Pada pemantauan 1 tahun terdapat perbaikan visus dari 20/70 menjadi 20/20. Bevacizumab diketahui bekerja menghambat vascular endothelial growth factor. [4]

Kesimpulan

Paparan laser pada mata dapat menimbulkan cedera optik. Berdasarkan studi yang ada, paparan yang singkat pun sudah dapat menyebabkan gangguan mata. Cedera optik yang dapat timbul di antaranya adalah skotoma, perdarahan retina, hiperpigmentasi dan hipopigmentasi retina, serta terbentuknya lubang makula. Hingga kini belum ada pedoman penatalaksanaan terkait kasus kerusakan retina akibat paparan laser. Akan tetapi, beberapa case report melaporkan pemberian kortikosteroid dan OAINS dapat memberikan hasil yang cukup baik.

Referensi