Penatalaksanaan Juvenile Angiofibroma
Penatalaksanaan definitif untuk juvenile angiofibroma adalah pembedahan, tetapi hal ini sebaiknya dilakukan setelah evaluasi risiko perdarahan. Juvenile angiofibroma memang merupakan tumor jinak tetapi bersifat sangat vaskular, sehingga ada risiko perdarahan masif. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan juvenile angiofibroma.[2,3,11,21]
Berobat Jalan
Berobat jalan dilakukan saat diagnosis awal juvenile angiofibroma melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan endoskopi nasal untuk menilai gejala umum, seperti epistaksis, obstruksi hidung, atau gangguan tidur. Pencitraan berupa computed tomography (CT) atau magnetic resonance imaging (MRI) diperlukan untuk menilai ukuran, lokasi, dan ekstensi tumor. Meskipun evaluasi awal bisa dilakukan secara rawat jalan, prosedur invasif harus dilakukan di rumah sakit karena ada risiko tinggi perdarahan.[2,3,10,11]
Persiapan Rujukan
Rujuk pasien yang dicurigai mengalami juvenile angiofibroma ke rumah sakit dengan fasilitas otorhinolaryngology (ORL) atau bedah kepala-leher yang memadai. Persiapan rujukan meliputi hasil pencitraan, hasil pemeriksaan darah (hemoglobin, hematokrit, dan pemeriksaan koagulasi), dan kesiapan transfusi darah untuk tumor besar atau kasus dengan risiko perdarahan tinggi. Konsultasi multidisiplin sangat dianjurkan jika tumor melibatkan orbit atau dasar kranium.[12,17,21]
Medikamentosa
Saat ini belum ada terapi farmakologis yang menyembuhkan juvenile angiofibroma. Obat-obatan hanya berperan untuk mengatasi gejala atau komplikasi sekunder, seperti hidung tersumbat atau infeksi. Obat antiinflamasi atau antibiotik dapat diberikan jika ada infeksi sekunder. Beberapa penelitian menunjukkan potensi terapi target berdasarkan ekspresi Fibroblast Growth Factor Receptor 3 dan 4 (FGFR3 dan FGFR4), tetapi hal ini masih bersifat eksperimental dan belum menjadi standar klinis.[7,15]
Pembedahan
Pembedahan merupakan terapi definitif pada juvenile angiofibroma. Pendekatan bedah dapat bersifat endoskopik untuk tumor kecil hingga sedang, atau bedah terbuka untuk tumor besar maupun tumor dengan ekstensi ke orbit dan dasar kranium. Embolisasi preoperatif sering dilakukan untuk mengurangi perdarahan intraoperatif dan komplikasi bedah.[13,14,18,21]
Terapi Suportif
Terapi suportif bertujuan untuk mengurangi gejala dan meminimalkan komplikasi. Hal ini meliputi kontrol epistaksis dengan nasal packing jika diperlukan, monitoring anemia akibat perdarahan, dukungan nutrisi dan hidrasi, serta edukasi keluarga terkait tanda bahaya seperti perdarahan hebat atau gangguan penglihatan.[2,3,17]
Follow-Up
Follow-up pasien juvenile angiofibroma diperlukan karena risiko rekurensi yang tinggi, terutama dalam 1–2 tahun pertama pascaoperasi. Evaluasi meliputi endoskopi nasal secara berkala dan pencitraan jika ada tanda-tanda rekurensi. Monitoring fungsi hidung dan komplikasi bedah juga menjadi bagian tindak lanjut. Frekuensi follow-up biasanya setiap 3–6 bulan pada tahun pertama, lalu disesuaikan risiko rekurensi.[5,8,9,13,19]