Epidemiologi Juvenile Angiofibroma
Menurut data epidemiologi, prevalensi dan insiden juvenile angiofibroma amat rendah. Secara global, juvenile angiofibroma diperkirakan hanya menyumbang 0,05% hingga 0,5% dari seluruh tumor kepala-leher. Mortalitas diperkirakan sangat rendah. Mortalitas umumnya berhubungan dengan komplikasi seperti perdarahan.[11,16,17]
Global
Juvenile angiofibroma sangat jarang terjadi. Tumor ini diperkirakan hanya menyumbang sekitar 0,05% hingga 0,5% dari seluruh tumor kepala-leher, dengan insiden berkisar antara 1 per 150.000 hingga 1,5 juta penduduk per tahun. Berdasarkan studi Attya, et al., tingkat rekurensi sekitar 38,2%. Lokasi yang paling sering terkena rekurensi adalah prosesus pterigoid (92,3%), nasofaring (84,6%) dan sinus sfenoid (76,9%).[4,9,11]
Indonesia
Saat ini belum ada data epidemiologi nasional terkait juvenile angiofibroma. Data yang ada masih berasal dari beberapa rumah sakit saja. Studi epidemiologi nasional masih diperlukan untuk mengetahui prevalensi dan insiden.[16,17]
Mortalitas
Mortalitas akibat juvenile angiofibroma sangat jarang terjadi karena merupakan tumor jinak. Mortalitas biasanya terkait dengan perdarahan masif intraoperatif atau ekstensi intrakranial, yang dapat menyebabkan komplikasi neurologis berat. Tumor yang sangat vaskular meningkatkan risiko perdarahan. Namun, dengan teknik bedah modern seperti embolisasi preoperatif dan manajemen perioperatif yang tepat, angka kematian dapat diminimalkan.[3,11,15]