Pencegahan Otitis Media Akut

Oleh :
dr. DrRiawati MMedPH

Otitis media merupakan penyebab paling umum dari nyeri telinga atau otalgia. Pencegahan terhadap otitis media sangat penting mengingat rekurensi dan komplikasi yang umum terjadi akibat penyakit ini.

Otitis media lebih umum terjadi pada anak-anak daripada dewasa. Otitis media tidak hanya dapat menimbulkan demam, tetapi juga nyeri dengan intensitas berat dan penurunan pendengaran.

shutterstock_1502458520

Otitis media akut (OMA) merupakan penyakit yang dapat diobati dan sembuh dengan sendirinya mengingat penyebab utamanya adalah virus. Namun, rekurensi penyakit ini dapat berdampak tidak baik pada kualitas hidup pasien, bahkan dapat berujung pada kehilangan pendengaran secara permanen.[1-3]

Menurut Qureishi et al, pengobatan yang ideal terhadap OMA adalah dengan upaya pencegahan. Sebelum mengetahui lebih jauh tentang upaya pencegahan otitis media, faktor risiko penyakit ini perlu dikenali lebih dahulu.[3]

Faktor Risiko Otitis Media

Insidensi otitis media dapat dipengaruhi oleh faktor host dan faktor lingkungan.

Faktor Host

Beberapa karakteristik tertentu membuat seseorang individu lebih rentan mengalami otitis media, seperti:

  • Umur: anak-anak lebih mudah dan sering terkena OMA daripada orang dewasa
  • Bayi prematur: memiliki sistem imun yang belum adekuat

  • Penyakit alergi, seperti rhinitis alergi
  • Penyakit dengan gangguan sistem imun, seperti HIV dan diabetes
  • Abnormalitas kraniofasial, seperti pada sumbing bagian palatal
  • Hipertrofi adenoid: obstruksi dari adenoid yang membesar dilaporkan menjadi reservoir kuman patogen yang dapat menginfeksi jaringan sekitarnya, termasuk telinga tengah

  • Gastroesophageal reflux disease (GERD)
  • Predisposisi genetik
  • Abnormalitas anatomi, seperti pada Down syndrome dan cleft palate

  • Defisiensi vitamin A dikaitkan dengan otitis media dan infeksi saluran napas atas lainnya[1-7]

Faktor Lingkungan

Beberapa faktor lingkungan seperti tidak menyusu secara eksklusif dan paparan asap rokok dilaporkan dapat meningkatkan risiko otitis media. Fakto lingkungan yang dapat meningkatkan risiko otitis media antara lain:

  • Infeksi saluran napas atas akibat virus merupakan faktor predisposisi yang jelas untuk timbulnya OMA

  • Tempat penitipan anak: anak yang menghadiri tempat penitipan anak lebih sering mengalami infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik yang mengarah ke OMA yang refrakter terhadap antibiotik
  • Keluarga besar terutama banyak anak balita
  • Paparan asap rokok
  • Durasi dan metode menyusui: Bayi yang menyusu langsung secara eksklusif dikaitkan dengan penurunan insidensi otitis media. Durasi menyusu yang pendek dapat meningkatkan risiko mengalami otitis media >3 episode pada 18 bulan[5]
  • Penggunaan dot[4]
  • Aspek sosio-ekonomi[1-5]

Upaya Pencegahan Otitis Media oleh Tenaga Kesehatan

Berikut adalah tindakan pencegahan yang perlu diupayakan oleh praktisi kesehatan terkait otitis media.

  • Kasus baru OMA sering terjadi pada anak-anak <2 tahun dengan bibir sumbing bagian palatal. Koreksi dengan tindakan operasi dapat menurunkan rekurensi kasus otitis media
  • Otitis media juga dapat berhubungan dengan sering terjadinya GERD. Identifikasi GERD secara dini dapat mencegah pengembangan otitis media ke arah kronis
  • Hipertrofi adenoid dapat menimbulkan serangan otitis media berulang pada anak. Pada kasus tertentu, tindakan operatif pada hipertrofi adenoid mungkin diperlukan, terutama pada kondisi obstruksi total dan otitis media kronis
  • Terapi antimikroba harus diberikan secara rasional untuk menghindari risiko resistensi antibiotik
  • Vaksinasi yang lengkap dan rutin, vaksin pneumokokus yang memproteksi dari penyebab umum infeksi telinga tengah, yakni Streptococcus pneumoniae.
  • ASI eksklusif selama 6 bulan perlu dipromosikan. ASI dapat dilanjutkan hingga usia bayi setidaknya 12 bulan. Semakin lama durasi ASI eksklusif, semakin kecil kemungkinan terinfeksi otitis media akut
  • Pada anak dengan OMA tanpa komplikasi, watchfull waiting dapat diterapkan jika memenuhi kriteria klinis dan orang tua siap memantau keadaan anak dan berkomitmen membawa anak datang berobat
  • Untuk menekan resistensi dan efek samping antibiotik, durasi antibiotik untuk terapi OMA harus disesuaikan berdasarkan regimen antibiotik, usia pasien, dan tingkat keparahan OMA. Pada anak usia ≥2 tahun, watchful waiting dianjurkan untuk dilakukan selama 2-3 hari dan diikuti pemberian antibiotik 5 hari jika tidak ada perbaikan gejala[5-10]

Edukasi Pasien terkait Otitis Media

Topik edukasi pasien harus mencakup hal menghindari faktor risiko, penggunaan antibiotik yang sesuai, dan memahami risiko resistensi antibiotik pada otitis media.

  • Edukasi orang tua pasien dan ibu baru melahirkan untuk menyusui secara eksklusif
  • Mempraktikkan higiene dan sanitasi yang baik dan benar, seperti cuci tangan and membersihkan mainan anak secara teratur dengan tujuan mengurangi risiko terkena infeksi pernapasan atas dan lainnya
  • Tidak merokok serta bebaskan lingkungan anak dan keluarga dari asap rokok dan polusi udara
  • Menghindari anak terkena penyakit infeksi pernapasan atas
  • Menghindari faktor pencetus rhinitis alergi sehingga rekurensi OMA dapat dicegah
  • Melengkapi imunisasi anak, termasuk vaksin pneumokokus dan vaksin influenza

  • Menggunakan jasa penitipan anak dalam grup kecil, atau titipkan pada keluarga
  • Menghindari pemberian dot pada anak <3 tahun
  • Pada anak yang mengalami OMA rekuren, pada kasus tertentu dapat diberikan antibiotik profilaksis jangka pendek jika anak terkena infeksi pernapasan atas
  • Menggunakan alat kontrasepsi untuk menjaga rentang usia anak, dan jumlah anak[1-10]

Kesimpulan

Otitis media merupakan penyakit infeksi telinga yang memiliki tingkat rekurensi yang tinggi. Beberapa faktor risiko dilaporkan dapat meningkatkan terjadinya rekurensi dan komplikasi otitis media.

Berbagai strategi dapat dilakukan demi mencegah otitis media. Strategi tersebut berfokus pada pengurangan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, antara lain menghindari infeksi saluran pernapasan akut akibat bakteri dan virus, menyusui secara eksklusif, dan menghindari paparan rokok pada anak.

Anak dengan penyakit tertentu, seperti hiperplasia adenoid obstruktif dan bibir sumbing memerlukan tindakan operatif untuk menekan rekurensi otitis media.

Antibiotik oral dapat mengurangi durasi gejala otitis media akut, tetapi risiko resistensi dan efek sampingnya perlu dipertimbangkan ketika menentukan durasi pemberian antibiotik pada kasus ini. Pada anak ≥2 tahun dengan otitis media tanpa komplikasi, watchfull waiting dapat dilakukan bila memenuhi kriteria klinis dan orang tua bersedia membawa anak konsultasi ke dokter apabila ada perkembangan gejala.

 

Direvisi oleh: dr. Ciho Olfriani

Referensi