Pemeriksaan Appendicogram untuk Diagnosis Appendisitis

Oleh dr. Hunied Kautsar

Walau sudah tidak digunakan di negara-negara lain, pemeriksaan appendicogram masih bermanfaat untuk diagnosis apendisitis di Indonesia.

Diagnosis apendisitis merupakan hal yang penting karena apendisitis yang tidak terdiagnosis dengan benar dapat menyebabkan komplikasi seperti peritonitis atau sepsis. Untuk itu, pemeriksaan penunjang seperti USG, CT Scan, dan MRI dapat digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis apendisitis dan menyingkirkan diagnosis banding.[1,2]

Depositphotos_41030947_m-2015_compressed

Appendicogram

Apendikografi atau appendicogram merupakan salah satu jenis pemeriksaan radiografi yang umum digunakan di Indonesia sebagai pemeriksaan penunjang dalam menegakkan diagnosis apendisitis. Pemeriksaan ini menggunakan BaSO4 (barium sulfat) yang diencerkan dengan air menjadi suspensi barium dan dimasukkan secara oral. Selain secara oral, barium juga dapat dimasukkan melalui anus (barium enema).

Hasil dari pemeriksaan ini dapat menggambarkan anatomi fisiologis dari apendiks dan kelainan pada apendiks berupa sumbatan pada pangkal apendiks. Hasil pemeriksaan apendikografi dibagi menjadi tiga, yakni:

  • filling atau positive appendicogram: keseluruhan lumen apendiks terisi penuh oleh barium sulfat. Gambaran ini menandakan bahwa tidak ada obstruksi pada pangkal apendiks sehingga suspensi barium sulfat yang diminum oleh pasien dapat mengisi lumen apendiks hingga penuh.

  • partial filling: suspensi barium sulfat hanya mengisi sebagian lumen apendiks dan tidak merata.

  • non filling atau negative appendicogram: barium sulfat tidak dapat mengisi lumen apendiks. Ada beberapa kemungkinan penyebab dari gambaran negatif appendicogram yakni adanya obstruksi pada pangkal apendiks (dapat berupa inflamasi) yang mengindikasikan apendisitis atau suspensi barium sulfat belum mencapai apendiks karena perhitungan waktu yang tidak tepat (false negative appendicogram).

Pemeriksaan ini pada masa lalu dilaporkan memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, sebesar 83 dan 96 persen. Walau demikian, pemeriksaan ini memiliki banyak keterbatasan yang mempengaruhi akurasinya, seperti kesulitan untuk mendiagnosa apendisitis distal, tingkat nonvisualisasi yang tinggi (23%) pada orang normal/ Hasil positif pada appendicogram juga bukan merupakan hasil yang spesifik pada apendisitis dan bisa ditemukan pada kondisi lain. Hal ini ditambah dengan efek samping dan risiko pemeriksaan yang cukup tinggi membuat pemeriksaan ini tidak lagi digunakan di negara maju dan digantikan dengan ultrasonografi untuk diagnosis lini pertama.[3,4]

Efek Samping dan Risiko Appendicogram

Pemeriksaan appendicogram merupakan pemeriksaan invasif yang membutuhkan waktu lama (setidaknya 12 jam), tidak nyaman bagi pasien, dan mengekspos pasien terhadap paparan radiasi yang tinggi. Selain itu, pemeriksaan ini juga memiliki risiko sebagai berikut:

  • Reaksi alergi terhadap barium
  • Obstruksi traktus gastrointestinal
  • Inflamasi jaringan sekitar kolon
  • Perforasi kolon
  • Peningkatan risiko operasi apendektomi[5]

Rekomendasi terkait Appendicogram

Pemeriksaan appendicogram sudah tidak digunakan lagi di negara lain, baik Amerika Serikat, Inggris, Eropa, maupun Australia. Kriteria yang dikeluarkan American College of Radiology mengkategorikan appendicogram dengan rating 2: usually not appropriate.[3] Rekomendasi serupa juga dikeluarkan oleh European Association of Endosscopic Surgery (EAES) yang tidak lagi menyarankan penggunaan pemeriksaan ini dan menyarankan penggunaan ultrasonografi sebagai diagnosis lini pertama dan CT Scan dengan kontras atau MRI, terutama pada pasien obesitas.[4]

Diagnosis Apendisitis

European Association of Endoscopic Surgery (EAES) mengeluarkan rekomendasi untuk pemeriksaan penunjang dalam menegakkan diagnosis apendisitis sebagai berikut:

  • Ultrasonografi (USG) merupakan pemeriksaan yang dapat diandalkan untuk menegakkan diagnosis apendisitis namun tidak untuk mematahkan kemungkinan diagnosis tersebut
  • Pemeriksaan CT scan dengan IV kontras lebih superior dari ultrasonografi dalam menegakkan diagnosis apendisitis
  • Pemeriksaan MRI memiliki tingkat akurasi yang mirip dengan pemeriksaan CT
  • EAES merekomendasikan pemeriksaan ultrasonografi sebagai lini pertama pemeriksaan penunjang untuk mendapatkan konfirmasi kasus apendisitis walaupun pemeriksaan ultrasonografi memiliki diagnostic value yang lebih rendah (jika dibandingkan dengan CT atau MRI)
  • Jika setelah pemeriksaan ultrasonografi diagnosis belum dapat ditegakkan atau dipatahkan, maka pemeriksaan CT atau MRI sebaiknya dilakukan
  • Pada pasien dengan obesitas, pemeriksaan CT atau MRI memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi dari pemeriksaan ultrasound sehingga pemeriksaan CT atau MRI direkomendasikan jika diagnosis apendisitis masih diragukan
  • Pada pasien ibu hamil, pemeriksaan yang direkomendasikan adalah MRI
  • Pada pasien pediatri, pemeriksaan yang direkomendasikan adalah MRI[4]

Berdasarkan rekomendasi tersebut, pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk menentukan diagnosis apendisitis adalah USG, CT scan, dan MRI. Pemeriksaan laboratorium dan urine juga dapat bermanfaat untuk diagnosis apendisitis. Kelebihan utama dari pemeriksaan-pemeriksaan ini dibandingkan dengan appendicogram adalah bermanfaat juga untuk diagnosis banding keluhan pasien.

Pemeriksaan Laboratorium dan Urine

Tes laboratorium tidak spesifik untuk appendicitis. Walau demikian, tes laboratorium tetap diperlukan untuk konfirmasi diagnosis, apabila gambaran klinis apendisitis tidak jelas dan meragukan. Tes laboratorium yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan leukosit dan C-reactive protein.[6-8]

Tes urine juga dapat bermanfaat untuk tes kehamilan dan melihat ada leukosit pada urine. Walau demikian, dokter perlu mengingat bahwa hasil tes kehamilan positif tidak menyingkirkan kemungkinan apendisitis.[9]

Ultrasonografi

Ultrasonografi sangat tergantung oleh operator (operator dependent) dan dipengaruhi oleh bentuk tubuh. Pada pasien obesitas, akurasi hasil akan menurun. Di sisi lain, pemeriksaan ini tidak menggunakan radiasi dengan biaya yang relatif murah sehingga menjadi pilihan metode diagnosis utama untuk diagnosis apendisitis.[8,10-12]

CT Scan

CT scan merupakan pemeriksaan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi untuk mendiagnosis apendisitis. Walau demikian risiko paparan radiasi dan kontras, serta biaya yang cukup tinggi membuat pemeriksaan ini disarankan pada kondisi klinis yang meragukan dengan hasil pemeriksaan laboratorium dan USG yang tidak konklusif.[8,11,13,14]

MRI

Pemeriksaan MRI juga memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi serta tidak memiliki risiko radiasi. Walau demikian, keterbatasan biaya dan ketersediaan alat membuat pemeriksaan ini tidak digunakan secara luas, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia.

Penggunaan Apendikogram di Indonesia

USG merupakan pemeriksaan yang sangat tergantung operator sehingga pada layanan kesehatan dengan kemampuan operator yang terbatas, apendikogram masih menjadi pilihan. USG dan CT scan juga memiliki biaya yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan appendicogram serta memiliki keterbatasan dalam ketersediaannya sehingga di banyak tempat, pemeriksaan appendicogram masih umum digunakan.

Dokter juga dapat mempertimbangkan untuk tidak melakukan pemeriksaan penunjang dan langsung melakukan apendektomi. Walau demikian, dokter perlu mempertimbangkan risiko bedah dan anestesi pasien, serta tingkat mortalitas/morbiditas dari tim bedah di layanan kesehatan tempat dokter bertugas. Dokter dapat melakukan apendektomi tanpa melakukan appendicogram jika dirasa risiko operasi akan lebih kecil dibandingkan risiko appendicogram.

Kesimpulan

Appendicogram saat ini masih digunakan walau di negara maju sudah tidak lagi digunakan untuk diagnosis apendisitis. Pemeriksaan ini memiliki tingkat akurasi yang rendah dan efek samping serta risiko yang signifikan. Selain itu, pemeriksaan ini juga tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis banding keluhan pasien.

USG direkomendasikan sebagai metode diagnostik lini pertama untuk apendisitis namun dokter perlu mengerti keterbatasan metode diagnostik ini. Pemeriksaan penunjang lainnya seperti CT scan dan MRI juga perlu mempertimbangkan masalah biaya dan ketersediaan alat. Alternatif lain adalah menatalaksana pasien hanya berdasarkan kondisi klinis dan laboratorium tanpa pemeriksaan penunjang. Dalam memutuskan pilihan pemeriksaan penunjang, seorang dokter harus menimbang semua aspek, termasuk risk vs. benefit, ketersediaan alat, rekomendasi organisasi dan kemampuan ekonomi pasien.

Referensi