Transformasi Gizi dari Suplementasi Kehamilan Zat Besi dan Asam Folat menjadi Suplementasi Multiple Mikronutrien

Oleh :
dr. William Alexander Setiawan, SpOG

Indonesia mulai melakukan transformasi suplemen kehamilan dari tablet besi dan asam folat (IFA) dan memperkenalkan tablet multiple mikronutrient supplements (MMS), untuk mengatasi masalah gizi pada ibu hamil. MMS dengan menggunakan standar United Nation International Multiple Micronutrient Supplements (UNIMMAP MMS) pada tahun 2024. Tablet MMS mengandung 15 vitamin dan 5 mineral termasuk zat besi dan asam folat.[1]

Malnutrisi ibu hamil masih menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Malnutrisi dalam kehamilan dapat meningkatkan risiko anemia pada kehamilan, hipertensi, keguguran hingga kematian janin.[2]

Transformasi Gizi dari Suplementasi Kehamilan Zat Besi dan Asam Folat menjadi Suplementasi Multiple Mikronutrien

Ibu dengan kondisi kurang gizi selama hamil mengakibatkan kelahiran dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di Indonesia. Selain itu, masalah gizi ibu juga berdampak pada gangguan pertumbuhan bayi, meningkatkan risiko kematian neonatal dan angka stunting pada anak usia 2 tahun serta penyebab utama penyakit tidak menular (PTM) pada usia dewasa.[3]

Tablet MMS Ditetapkan sebagai Program Nasional

Keputusan Menteri Kesehatan tahun 2024 tentang standar suplemen zat gizi mikro untuk ibu hamil diputuskan bahwa MMS adalah program nasional. Hal ini dikarenakan permintaan kebutuhan MMS meningkat di seluruh dunia dan Indonesia diharapkan mampu mewujudkan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan MMS dalam negeri.[1]

Komposisi Gizi Tablet MMS Lebih Bervariasi dari Tablet IFA

Suplementasi kehamilan yang masih banyak beredar di Indonesia adalah IFA atau yang dikenal dengan tablet tambah darah (TTD). Tablet ini hanya mengandung 1 vitamin (asam folat) dan 1 mineral (zat besi). Sedangkan tablet  MMS dengan standar UNIMMAP MMS. tidak hanya terdiri dari asam folat dan zat besi tetapi juga terdiri dari berbagai jenis vitamin dan mineral yang dibutuhkan selama masa kehamilan.[1,4]

Terdapat perbedaan jumlah vitamin dan mineral yang terkandung dalam MMS dan IFA. Salah satu perbedaannya terletak pada jumlah zat besi. Tablet MMS mengandung 30 mg zat besi sedangkan tablet IFA mengandung 60 mg zat besi. Namun, perbedaan itu tidak menjadikan tablet MMS lebih inferior dari tablet IFA. Hal ini dikarenakan Tablet MMS memiliki vitamin A, B2, dan C yang berguna untuk meningkatkan absorbsi zat besi yang tidak dimiliki oleh tablet IFA. Pemberian zat besi ≥ 60 mg ternyata dapat menurunkan penyerapan zat besi.[5]

Selain itu, komposisi dari tablet MMS tidak hanya mencegah anemia defisiensi besi, tetapi juga mencegah anemia defisiensi vitamin A, B9, dan B12. MMS juga termasuk dalam kategori obat esensial dari World Health Organization (WHO).[6,7]

Suplementasi MMS Terbukti Berdampak Positif bagi Ibu Hamil dan Bayi

Pemberian MMS selama kehamilan telah terbukti memberikan manfaat signifikan terhadap kesehatan ibu dan bayi. MMS mampu memberikan manfaat yang  melampaui suplementasi zat besi dan asam folat (IFA), khususnya pada populasi ibu hamil dengan anemia.[4]

Bukti Penelitian MMS yang Berdampak pada Bayi

Penelitian yang dilakukan di Lombok dengan metode double-blind cluster randomized bertujuan untuk membandingkan efek ibu yang mengonsumsi MMS dan IFA terhadap kematian neonatus dan kematian bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi dari ibu yang mengonsumsi MMS mampu menurunkan risiko kematian bayi pada masa awal sebesar 18% dibandingkan bayi dari ibu yang mengonsumsi IFA. Manfaat ini bahkan lebih besar terjadi pada ibu dengan kekurangan gizi dengan penurunan risiko sebesar 25% dan penurunan risiko ibu dengan anemia sebesar 38%.[8]

Selain itu, MMS dapat menurunkan risiko keguguran dan kematian bayi sebesar 11%, dengan manfaat penurunan risiko yang lebih besar pada ibu kekurangan gizi sebesar 15% dan ibu anemia sebesar 29%. MMS juga terbukti mengurangi risiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) sebesar 14%, bahkan penurunan risiko dapat mencapai 33% pada ibu dengan anemia.[8]

Penelitian Smith et al (2020) yang membandingan efek ibu hamil yang mengonsumsi MMS dengan formula UNIMMAP dengan IFA pada negara berpenghasilan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MMS menurunkan risiko kematian bayi perempuan dalam 28 hari pertama sebesar 15% lebih rendah dibandingkan dengan IFA. Ibu yang anemia menurunkan risiko bayi BBLR sebesar 19 %, risiko small for gestational age sebesar 8% dan risiko kematian bayi dalam 6 bulan sebesar 29 %.[9]

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa MMS dapat mengurangi risiko kelahiran prematur sebesar 16% pada ibu underweight. Selain itu, memulai konsumsi MMS sebelum usia kehamilan 20 minggu mampu menurunkan risiko kelahiran prematur sebesar 11 %.  Secara umum efek suplementasi MMS terhadap survival dan luaran kehamilan lebih besar jika kepatuhannya mencapai ≥ 95%.[9]

Mengonsumsi MMS yang mengandung zat besi 30 mg mampu meningkatkan survive dan pertumbuhan bayi. Pernyataan ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Gomes et al (2022) yang membandingkan MMS (zat besi 30 mg) dengan IFA (zat besi 60 mg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MMS (zat besi 30 mg) mampu mencegah risiko anemia di trimester ketiga dengan efektivitas yang sama dengan IFA (zat besi 60 mg).[10]

Oleh karena itu, untuk pencegahan anemia, MMS sudah cukup dan tidak memerlukan tambahan zat besi. Namun, pada wanita yang didiagnosis anemia defisiensi besi, pengobatan tambahan mungkin diperlukan untuk melengkapi MMS. Penelitian ini dilakukan pada wilayah dengan populasi anemia yang tinggi.[10]

Konsumsi MMS yang Berdampak pada Ibu

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia tahun 2020 masih menunjukkan angka 189 per 100.000 kelahiran hidup. Indonesia juga menjadi negara ketiga di Asia Tenggara dengan AKI tertinggi. Kejadian ini lebih tinggi dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Brunei dan Thailand.[2]

Penelitian yang dilakukan di Lombok pada 31.290 wanita hamil, selain MMS bermanfaat bagi perkembangan bayi, pemberian MMS juga mampu menurunkan populasi ibu yang mengalami anemia sebesar 33%.[11]

Suplementasi kalsium yang diberikan sebagai tambahan MMS, mampu menurunkan risiko preeklampsia sebesar 47%. Hal ini secara signifikan dapat memperbaiki angka kematian ibu di Indonesia karena angka preeklampsia yang meningkat adalah penyebab kematian ibu.[12]

Dampak Jangka Panjang Pemberian MMS pada Perkembangan Kognitif Anak

Perkembangan kognitif dan otak terbentuk selama 1000 sejak masa konsepsi hingga usia 2 tahun. Perkembangan ini akan berdampak panjang pada struktur otak dan kemampuan kognitif anak. Anak yang tinggal di low income and middle income countries (LMIC’s) termasuk Indonesia memiliki faktor risiko tingkat kognitif dan perkembang perilaku yang buruk daripada negara dengan high income.[7]

Penelitian di Indonesia Tentang Pemberian MMS yang Berhubungan Kognitif Anak

Penelitian yang dilakukan Prado et al bertujuan untuk membandingkan perkembangan kognitif anak dari ibu yang mengonsumsi MMS dengan ibu yang mengonsumsi IFA. Penelitian ini menindaklanjuti penelitian SUMMIT di Lombok dan didapatkan 2.879 anak yang dipilih secara acak berusia 9-12 tahun setelah ibu mereka mengonsumsi tablet IFA atau tablet MMS selama kehamilan. Kelompok ini terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok IFA (1.413 anak) dan kelompok MMS (1.466 anak).[7]

Peneliti membagi berdasarkan 3 grup yaitu: kelompok representatif, kelompok ibu kekurangan gizi dan anemia. Setiap anak dilakukan penilaian skor perkembangan kognitif, motorik dan sosisalemosional. Hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok anak yang diberikan MMS memiliki skor yang lebih tinggi pada memori prosedural daripada kelompok anak yang diberikan IFA. Skor ini setara dengan peningkatan skor setengah tahun sekolah. Kelompok MMS juga memiliki skor yang lebih tinggi pada kemampuan intelektual secara umum, setara dengan peningkatan 1 tahun sekolah. Hal ini khususnya ditemukan pada anak yang memiliki ibu yang anemia.[7]

Ukuran efek ini kecil tetapi mereka menunjukkan perkembangan substansial dan bermakna bagi anak yang memiliki ibu penerima MMS. Hal ini membuktikan bahwa pemberian MMS selama kehamilan merupakan cara yang efektif untuk mencapai UN’s Sustainable Development Goal 4·2 dimana semua anak perempuan dan laki-laki memiliki akses terhadap perkembangan anak usia dini yang berkualitas sehingga mereka siap untuk pendidikan dasar. Peningkatan prestasi pendidikan dapat memperluas pilihan lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian.[7]

Bagaimana Melakukan Transisi dari IFA Menjadi MMS dan Kalsium

Dokter dapat memberikan tablet MMS sebanyak 180 tablet dalam 1 botol MMS. Peresepan tablet MMS harus bersamaan dengan tablet kalsium sebanyak 30 tablet. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil tablet MMS diminum 1 tablet setiap hari setelah sarapan. Sedangkan, tablet kalsium diminum 2 kali perhari, 1 tablet setelah makan siang dan 2 tablet setelah makan malam. Perlu dicatat pemberian MMS dan tablet kalsium harus diberikan jarak minimal 2 jam.[13]

Saat ini ketersediaan MMS di Indonesia tersedia di puskesmas dan jejaringnya. Pada target jangka menengah tahun 2026, MMS akan didistribusikan ke 38 provinsi hingga tercapai 4,8 juta ibu hamil di Indonesia yang mengonsumsi MMS. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan dukungan tidak hanya dokter umum tetapi juga dokter spesialis di rumah sakit untuk tidak kembali meresepkan IFA yang hanya berisi zat besi dan asam folat tetapi meresepkan tablet MMS dan suplementasi kalsium selama kehamilan.[13]

Kesimpulan

Malnutrisi pada ibu hamil adalah permasalahan yang sering ditemui di Indonesia. Malnutrisi selama kehamilan memiliki dampak yang besar pada ibu seperti, anemia defisiensi besi, hipertensi dan preeklampsia hingga keguguran. Hal ini akan berdampak kepada angka kematian ibu, yang mana Indonesia menjadi urutan ketiga di Asia Tenggara dengan AKI tertinggi.

Ibu hamil yang mengalami malnutrisi akan mempengaruhi luaran kehamilan. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan MMS mampu menurunkan risiko bayi dengan berat badan lahir rendah, small for gestational of age, dan meningkatkan survive pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Efek jangka panjang juga terjadi pada anak yang lahir dari ibu yang mengalami malnutrisi selama kehamilan. Penelitian membuktikan bahwa anak yang lahir dari ibu penerima MMS memiliki skor perkembangan kognitif, motorik dan sosial emosional yang lebih baik dari ibu penerima IFA. Hal ini berdampak pada pilihan pekerjaan dan peningkatan ekonomi yang lebih baik.

Berdasarkan penelitian, tablet MMS dengan formulasi UNIMMAP terbukti memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan suplementasi zat besi dan asam folat (IFA), sehingga dokter umum dan dokter spesialis semakin yakin untuk meresepkannya kepada ibu hamil.

Indonesia memiliki target 4,8 juta ibu hamil yang mengonsumsi MMS, dukungan aktif dari para dokter sangat diperlukan. Transformasi ini tidak hanya berdampak positif pada kesehatan ibu hamil, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi anak, termasuk peluang memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan peningkatan ekonomi di masa depan.

Referensi