Pentingnya Suplementasi Multiple Micronutrient Supplement (MMS) Termasuk Zat Besi pada Kehamilan untuk Mencegah Anemia

Oleh :
dr. William Alexander Setiawan, SpOG

Komponen zat besi dibutuhkan selama kehamilan untuk memenuhi kebutuhan fetoplasenta, meningkatkan massa eritrosit ibu, dan mengkompensasi kehilangan zat besi yang akan terjadi saat bayi lahir. Jika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi akan terjadi anemia yang merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia.[1]

Multiple Micronutrient Supplement (MMS) merupakan suplementasi yang mengandung zat besi guna memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil. Kemenkes menyarankan untuk tetap memberikan MMS untuk ibu hamil dengan anemia defisiensi zat besi selama kehamilan.[2]

Pentingnya MMS Termasuk Zat Besi pada Kehamilan untuk Mencegah Anemia

Formula MMS yang dimaksudkan dalam artikel ini adalah formulasi berdasarkan standar  World Health Organization (WHO) yang disebut dengan  UNIMMAP MMS. Multiple micronutrient supplement mengandung 15 vitamin dan mineral, dengan komposisi zat besi sebesar 30 mg pada setiap tablet.[2]

Peran Zat Besi untuk Ibu dan Janin

Zat besi merupakan mikronutrien esensial yang dibutuhkan selama kehamilan untuk mendukung peningkatan volume darah ibu, pembentukan hemoglobin, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Sayangnya, anjuran kebutuhan zat besi selama kehamilan sebesar 27 mg sering ditemukan tidak sebanding dengan asupan nutrisi ibu hamil sehari-hari, terutama pada populasi ibu hamil dengan asupan makanan yang kurang nutrisi.[3,4]

Oleh karena itu, suplementasi zat besi menjadi salah satu intervensi kunci dalam antenatal care untuk mencegah dan mengatasi anemia defisiensi besi pada ibu hamil. Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan standar suplementasi zat gizi mikro pada ibu hamil, di mana suplementasi multiple micronutrient supplement (MMS) sebagai pilar utama pencegahan anemia selama kehamilan.[5]

Risiko Anemia dan Defisiensi Zat Besi dalam Kehamilan

Anemia pada kehamilan masih menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah termasuk Indonesia. Menurut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023, anemia pada ibu hamil masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan prevalensi 27,7% dan sebagian besar disebabkan oleh defisiensi zat besi.[7]

Anemia pada kehamilan dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas maternal, serta berdampak pada luaran janin, seperti bayi lahir dengan berat lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan small for gestational age (SGA).[8,9]

Anemia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti anemia akibat defisiensi mikronutrien, kelainan genetik (thalassemia), dan penyakit infeksi (HIV, tuberkulosis dan infeksi parasit). Namun, anemia akibat defisiensi besi menjadi fokus perhatian karena menimbulkan potensi berbahaya dalam kehamilan.[9]

Risiko Anemia Bertambah Seiring dengan Jumlah Kelahiran

Penelitian menunjukkan bahwa risiko anemia pada kehamilan meningkat seiring dengan jumlah kelahiran. Pada wanita yang telah melahirkan 2–3 anak memiliki risiko terkena anemia 3 kali lebih tinggi dan wanita yang melahirkan 4 anak atau lebih memiliki risiko anemia 4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang hanya melahirkan 1 anak. Hal ini disebabkan oleh wanita hamil yang tidak memiliki cukup waktu untuk pulih dari beban gizi pada kehamilan sebelumnya terutama asam folat dan defisiensi zat besi.[10]

Risiko Terjadinya Anemia Bertambah pada Trimester Ketiga

Penelitian menunjukkan bahwa kejadian anemia pada ibu hamil meningkat hingga 4 kali lipat seiring bertambahnya usia kehamilan, terutama dari trimester pertama menuju trimester ketiga. Prevalensi anemia ditemukan mencapai 30-45% pada trimester ketiga.[10]

Hal ini mungkin terkait dengan pertumbuhan janin yang pesat pada trimester kedua dan ketiga, sehingga terjadi peningkatan signifikan terhadap kebutuhan nutrisi seperti zat besi.[10]

Pencegahan Anemia pada Ibu Hamil

Untuk mencegah anemia, Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan pemberian multiple micronutrient supplement (MMS) dengan formulasi UNIMMAP yang mengandung 30 mg zat besi dan 400 μg asam folat. Tablet MMS diberikan setiap hari selama yang dilanjutkan hingga masa nifas untuk memastikan cadangan zat besi ibu mencukupi pasca persalinan.[5]

Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) Direkomendasikan untuk Ibu Hamil

Penggunaan multiple micronutrient supplementation (MMS) adalah standart baru dalam suplementasi selama kehamilan menggantikan iron and folic acid (IFA). MMS yang memakai formula UNIMMAP mengandung 30 mg zat besi, 400 μg asam folat dan mikronutrien lainnya yang penting untuk dikonsumsi oleh ibu hamil untuk mendukung kesehatan ibu hamil dan janin.[3,11]

Perbandingan Pemberian MMS dan IFA pada Ibu Hamil

Studi yang dilakukan Smith et al (2020) dilakukan untuk membandingkan efek multiple micronutrient supplement dan iron and folic acid pada negara berpenghasilan rendah - sedang. Penelitian dilakukan pada kelompok ibu hamil yang diberikan formula UNIMMAP MMS dan kelompok ibu hamil yang hanya diberikan zat besi dan asam folat. Hasilnya kelompok MMS menurunkan risiko bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan small for gestational of age (SGA).[6]

Penelitian dengan metode randomized controlled trial yang dilakukan di Lombok pada lebih dari 30.000 ibu hamil dilakukan untuk membandingkan kelompok yang mengkonsumsi tablet IFA dan MMS. Hasilnya menunjukkan kelompok ibu hamil yang mengkonsumsi MMS secara umum mampu menurunkan angka mortalitas sebesar 18%. Sedangkan kelompok ibu hamil yang mengalami malnutrisi dan anemia mampu menurunkan mortalitas sebesar 38 %. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan pemberian tablet MMS memiliki manfaat yang lebih besar dari tablet IFA, khususnya pada ibu yang mengalami anemia.[12]

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Lombok, ditemukan bukti bahwa pemberian suplementasi mikronutrien untuk ibu hamil berdampak pada perkembangan kognitif yang lebih baik pada anak-anak usia 3–4 tahun dan peningkatan memori prosedural pada usia 9–12 tahun. Hal ini terutama terjadi pada ibu yang kekurangan gizi dan anemia.[3]

Pemberian MMS pada Ibu Hamil dengan Anemia Defisiensi Zat Besi

Kekhawatiran muncul mengenai pemberian tablet MMS pada ibu hamil yang tinggal di wilayah dengan prevalensi anemia yang tinggi tidak cukup memenuhi kebutuhan zat besi selama kehamilan, karena kandungan zat besi dalam MMS hanya 30 mg, sedangkan tablet IFA mengandung 60 mg zat besi. Selain itu, WHO juga merekomendasikan zat besi 60 mg pada wilayah dengan prevalensi anemia tinggi, seperti Indonesia.[3]

Penelitian yang dilakukan oleh Gomes et al. (2022) bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian zat besi dalam tablet MMS di wilayah yang memiliki prevalensi anemia tinggi. Penelitian dilakukan pada kelompok ibu hamil yang mengalami anemia defisiensi zat besi, dengan membandingkan kelompok mengonsumsi tablet MMS (30 mg zat besi) dan kelompok tablet IFA (60 mg zat besi). Hasil penelitian didapatkan kelompok MMS secara signifikan meningkatkan pertumbuhan dan survive janin daripada IFA.[11]

Pemberian MMS dengan 30 mg zat besi yang terkandung di dalamnya mikronutrien lain cukup untuk mencegah anemia karena dengan adanya mikronutrien lain khususnya vitamin A, B2, dan vitamin C dapat meningkatkan  absorpsi dari zat besi. MMS juga dapat mencegah anemia akibat kekurangan vitamin A, B9 dan B12. Selain itu, pemberian zat besi ≥ 60 mg dapat menurunkan absorpsi zat besi. Dosis zat besi harian sedang seperti dalam MMS, dapat mengoptimalkan  absorpsi zat besi sekaligus meningkatkan mikronutrien secara keseluruhan. [14]

MMS dirancang untuk mencegah anemia, bukan untuk mengobati anemia. Wanita yang didiagnosa dengan anemia perlu dilakukan investigasi untuk menentukan penyebab anemia. Jika penyebab anemia sudah dikonfirmasi akibat defisiensi zat besi, maka pemberian suplementasi zat besi tambahan diluar MMS diperlukan untuk mengobati anemia defisiensi besi.

Panduan WHO menyarankan suplementasi zat besi elemental dosis 120 mg dan 400 μg  asam folat pada ibu hamil yang mengalami anemia. Suplementasi diberikan sampai konsentrasi hemoglobin meningkat hingga normal. Setelah target hemoglobin tercapai, ibu hamil dapat kembali ke dosis standar untuk mencegah anemia.[13]

Tantangan dan Strategi dalam Praktik Pemberian Suplementasi Zat Besi

Efek samping gastrointestinal seperti mual dan konstipasi menjadi tantangan dalam pemberian suplementasi zat besi. Di samping itu, keterbatasan akses pemeriksaan hemoglobin dan variasi ketersediaan sediaan suplementasi juga menjadi hambatan dalam implementasi suplementasi zat besi secara optimal.[11]

Strategi mengatasi tantangan ini antara lain dengan meningkatkan edukasi kepada ibu hamil dan keluarga mengenai pentingnya konsumsi suplemen zat besi selama kehamilan.[13]

Penjelasan mengenai cara mengurangi efek samping juga dibutuhkan, misalnya dengan mengonsumsi suplemen setelah makan untuk mengurangi mual, serta minum air putih yang cukup untuk mengurangi konstipasi. Regimen yang sederhana dengan kombinasi mikronutrien direkomendasikan selama kehamilan seperti tablet formulasi UNIMMAP MMS [13]

Pemeriksaan tes hemoglobin secara berkala, pencatatan kepatuhan konsumsi dalam buku kesehatan ibu dan anak (KIA), serta kolaborasi dengan bidan dan kader kesehatan dalam pemantauan konsumsi suplemen menjadi langkah praktis yang dapat diterapkan untuk memastikan efektivitas suplementasi zat besi dalam pelayanan antenatal sehari-hari.[13]

Kesimpulan

Anemia merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi di Indonesia pada ibu hamil sebesar 27,7%. Anemia yang tidak ditangani dengan baik akan berdampak buruk tidak hanya pada janin tetapi juga pada ibu. Untuk mengatasi masalah tersebut tidak hanya cukup dengan asupan diet makan tetapi diperlukan suplementasi mikronutrien yang mampu memenuhi kebutuhan zat besi selama kehamilan.

Multiple micronutrient supplementation (MMS) dengan kandungan zat besi serta mikronutrien lainnya dapat efektif mencegah anemia pada ibu hamil. Ibu hamil yang telah terdiagnosis anemia defisiensi besi, panduan klinisnya adalah menyelidiki penyebabnya dan memberikan zat besi terapeutik (dosis lebih tinggi) sesuai indikasi. MMS saja biasanya tidak dianggap sebagai pengobatan definitif untuk anemia defisiensi besi sedang–berat.

Populasi ibu hamil dapat menerima tablet MMS selama kehamilan. Pergantian dari tablet IFA (60 mg zat besi) ke tablet MMS (30 mg zat besi) pada populasi ibu hamil secara umum telah terbukti tidak menyebabkan anemia. Tablet MMS, yang mengandung berbagai jenis mikronutrien, justru membantu penyerapan zat besi lebih baik. MMS juga mencegah anemia akibat defisiensi vitamin A, B9 dan B12. Ibu hamil dengan anemia defisiensi besi, MMS tetap penting karena kandungan mikronutrien lainnya yang meningkatkan luaran kehamilan.

Referensi