Metode Konfirmasi Pemasangan NGT

Oleh :
dr. Hunied Kautsar

Metode konfirmasi pemasangan NGT atau nasogastric tube perlu dipahami oleh dokter agar dokter dapat memastikan bahwa posisi NGT sudah berada di dalam lambung pasien sebelum dokter mulai memberikan makanan. Metode konfirmasi baku emas adalah foto radiografi atau X-ray. Selain itu, terdapat beberapa metode lain yang biasa disebut dengan bedside checking method.

Beberapa contoh bedside checking method adalah pH testing, observation of bubbles, auscultation with insufflation of air, litmus paper, biochemical markers, capnography dan colorimetric capnometry, serta ultrasound.

Di Indonesia, metode yang paling banyak digunakan adalah auskultasi dengan insuflasi udara. Ketika melakukan metode ini, stetoskop ditempelkan di atas epigastrium untuk mendengarkan suara "whoosh" ketika 10–30 ml udara dialirkan melalui NGT. Namun, metode ini tidak dapat diandalkan karena memiliki sensitivitas lebih rendah daripada bedside checking method lain, terutama jika dibandingkan dengan pH testing.[1]

Metode Konfirmasi Pemasangan NGT-min

Pemeriksaan X-ray

Pemeriksaan X-ray merupakan baku emas untuk konfirmasi pemasangan nasogastric tube karena pemeriksaan ini dapat memberikan gambaran (visualisasi) jalur dan lokasi ujung NGT. Pada gambaran radiografi polos, NGT dinyatakan berada di tempat yang tepat bila ujung NGT terletak >10 cm dari gastroesophageal junction.

Nasogastric tube yang terpasang dengan benar akan melintas secara vertikal di garis tengah atau sedikit di kiri garis tengah sampai melewati batas diafragma dan memasuki gastroesophageal junction. Ujung selang harus terlihat setidaknya 10 cm melewati junction tersebut.[2]

Walaupun merupakan metode baku emas untuk konfirmasi pemasangan nasogastric tube, pemeriksaan radiografi juga memiliki beberapa kekurangan, seperti tidak praktis karena pasien harus berpindah tempat, tidak ekonomis jika harus dilakukan tiap kali akan menggunakan NGT, dan kurang aman karena ada paparan radiasi yang tinggi.

Misinterpretasi gambaran radiografis juga bisa terjadi. Berdasarkan data dari National Patient Safety Agency di Inggris, pada tahun 2005 sampai 2010, sekitar 45% dari kasus membahayakan yang disebabkan oleh kesalahan penempatan NGT disebabkan oleh misinterpretasi gambaran radiografis.[3]

Pemeriksaan pH Aspirasi Lambung

Berdasarkan rekomendasi The National Patient Safety Agency in the United Kingdom, pemeriksaan pH aspirasi lambung merupakan pilihan pertama untuk mengonfirmasi letak NGT bila dibandingkan dengan metode bedside checking lain.[3]

Beberapa studi meneliti nilai pH aspirasi yang dapat mengindikasikan bahwa aspirasi berasal dari lambung. Hasil dari penelitian menyatakan bahwa nilai batas yang memiliki sensitivitas tertinggi untuk menandakan bahwa ujung NGT terletak di dalam lambung adalah jika aspirasi yang diperoleh memiliki nilai pH ≤5,5.[4]

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil dari >1.200 sampel yang dikumpulkan selama >8 tahun oleh Saint Louis School of Nursing, Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa pH asam lambung biasanya memiliki nilai 1–5. Sementara itu, pH aspirasi yang berasal dari usus atau saluran pernapasan memiliki nilai ≥7.[5]

Studi terhadap pemasangan 331 nasogastric tube menyatakan bahwa sampel aspirasi dengan pH ≤5,5 membuktikan bahwa ujung NGT terletak di dalam lambung. Ketika aspirasi dapat diperoleh, pengukuran pH aspirasi memiliki sensitivitas sebesar 78,4% dan spesifisitas sebesar 85,7%.[1]

Namun, studi tersebut juga membuktikan bahwa pengambilan aspirasi sesaat setelah pemasangan NGT hanya dapat dilakukan pada 160 partisipan. Pada 110 partisipan, aspirasi baru bisa diperoleh setelah dokter melakukan insuflasi udara ke dalam NGT, memposisikan badan pasien ke arah lateral, dan mencoba lagi setelah 1 jam.[1]

Bila 110 pasien tersebut dimasukkan ke dalam kalkulasi, maka sensitivitas pengukuran pH aspirasi meningkat hingga 81,6%. Pada 61 partisipan dalam penelitian ini, metode pengukuran pH aspirasi tidak dapat digunakan karena aspirasi tidak dapat diperoleh.[1]

Hasil penelitian di atas mengindikasikan bahwa pemeriksaan pH aspirasi merupakan metode yang dapat diandalkan tetapi tidak bersifat universal karena ada beberapa pasien yang tidak dapat diperoleh aspirasinya. Keterbatasan yang lain adalah adanya faktor yang dapat mengubah pH asam lambung.

Penelitian mengenai pH lambung yang dilakukan oleh Saint Louis School of Nursing diadakan dalam kondisi yang spesifik, yakni setelah partisipan berpuasa selama minimal 4 jam. Pada pasien yang mendapatkan makanan secara kontinu, asupan makanan akan memengaruhi nilai pH aspirasi lambung sehingga batasan nilai pH ≤5 tidak dapat diaplikasikan pada kelompok pasien ini.

Untuk mengetahui nilai pH aspirasi lambung, dokter sebaiknya menggunakan pH strip karena pH strip menampilkan hasil yang lebih spesifik (perbedaan warna lebih terlihat pada setiap peningkatan nilai sebesar 0,5) jika dibandingkan dengan kertas litmus.

Berdasarkan teori, kertas litmus biru akan berubah menjadi merah jika terkena cairan asam, tetapi kertas litmus biru akan berubah menjadi pink jika terkena cairan dengan pH 6–7. Nilai pH 6–7 merupakan nilai yang tidak dapat dipakai untuk menentukan asal dari aspirasi (lambung atau saluran pernapasan), sehingga pemakaian kertas litmus untuk memeriksa nilai pH aspirasi tidak disarankan.[4]

Capnography dan Colorimetric Capnometry

Salah satu metode konfirmasi pemasangan nasogastric tube yang dapat dilakukan jika aspirasi tidak dapat diperoleh adalah capnography dan colorimetric capnometry.

Capnography adalah analisis kontinu dan pencatatan tingkat karbon dioksida dengan menggunakan teknologi inframerah. Tingkat karbon dioksida diukur dalam partial pressure in millimeters of mercury dan juga dalam bentuk gelombang (waveform).[6]

Colorimetric capnometry juga dapat mendeteksi aliran karbon dioksida tetapi alat yang digunakan adalah kertas saring yang peka terhadap perubahan pH. Kertas tersebut akan berubah warna dari ungu menjadi kuning jika terkena aliran karbon dioksida.[6]

Jika terdapat aliran karbon dioksida dari ujung NGT, dokter dapat menyimpulkan bahwa ujung NGT terletak di dalam saluran pernapasan.[6]

Suatu meta analisis mempelajari sembilan uji klinis terkontrol untuk menilai kemampuan capnography dan colorimetric capnometry mengonfirmasi posisi NGT. Empat uji klinis memasukkan NGT ke dalam endotracheal tube (ETT) kemudian mengukur karbon dioksida dengan menggunakan colorimetric capnometry. Dua uji lainnya memasukkan NGT ke dalam ETT atau tracheostomy kemudian mengukur karbon dioksida dengan menggunakan capnography.[7]

Kedua metode tersebut terbukti dapat mendeteksi posisi NGT di dalam trakea dengan tingkat akurasi 100%. Pemakaian capnography untuk mendeteksi posisi NGT di dalam trakea memiliki tingkat akurasi yang sama dengan colorimetric capnometry.[7]

Walaupun beberapa studi menyatakan bahwa capnography dan capnometry memiliki tingkat akurasi tinggi untuk mendeteksi posisi NGT di dalam trakea, metode ini tidak luput dari kekurangan. Suatu penelitian menyatakan bahwa refluks isi lambung dapat menyebabkan kontaminasi NGT, sehingga dapat menampilkan hasil yang false positive ketika colorimetric capnometry digunakan untuk mengkonfirmasi posisi NGT.[10]

Selain itu, konsumsi minuman berkarbonasi dan obat-obatan seperti natrium bikarbonat dapat memicu produksi karbon dioksida di dalam lambung.[8]

Kesimpulan

Dari tiga metode konfirmasi pemasangan nasogastric tube yang dibahas dalam artikel ini, belum ada metode yang sempurna. Tiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Namun, tiga metode yang dibahas dalam artikel ini memiliki nilai sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi daripada metode auskultasi dengan insuflasi udara.

Oleh karena itu, dokter sebaiknya tidak lagi menggunakan auskultasi dengan insuflasi udara untuk mengonfirmasi posisi NGT mengingat adanya risiko komplikasi yang tinggi jika terjadi kesalahan posisi. Pemberian makanan, obat-obatan, atau substansi lainnya melalui nasogastric tube yang terpasang pada posisi yang salah dapat menyebabkan pneumonia aspirasi, pneumonitis, dan bahkan kematian.

Pemeriksaan radiografi tetap menjadi baku emas karena dapat memberikan visualisasi posisi NGT. Namun, metode ini juga memiliki keterbatasan, seperti kurang praktis, tidak ekonomis, dan berisiko radiasi. Pemilihan metode konfirmasi pemasangan nasogastric tube harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien, ketersediaan alat, serta biaya.

 

 

 

Direvisi oleh: dr. Irene Cindy Sunur

Referensi