Pemeriksaan Bising Usus Untuk Mendeteksi Obstruksi Usus

Oleh :
dr. Paulina Livia Tandijono

Pemeriksaan bising usus untuk mendeteksi adanya obstruksi usus merupakan pemeriksaan pilihan karena hanya memerlukan sedikit waktu untuk dilakukan. Namun, hingga saat ini, akurasi pemeriksaan ini masih dipertanyakan.

Auskultasi bising usus termasuk pemeriksaan fisik abdomen standar yang bertujuan untuk membantu dokter mengetahui kelainan pada usus, termasuk obstruksi usus. Obstruksi usus adalah kondisi gawat yang memerlukan tatalaksana segera.

auscultation abdomen

Obstruksi Usus Halus

Secara garis besar, obstruksi usus dapat dibedakan menjadi dua, yaitu obstruksi usus halus dan obstruksi usus besar. Sekitar 80% kasus obstruksi usus terjadi pada usus halus. Pada orang normal, insiden obstruksi usus halus adalah 0,5–1%. Insiden ini akan meningkat menjadi 60% pada pasien yang pernah menjalani operasi di area abdomen atau pelvis. Sebagian besar obstruksi disebabkan oleh adhesi pascaoperasi. Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko obstruksi usus halus adalah inflamasi usus (termasuk penyakit Crohn dan kolitis ulseratif), neoplasma, hernia, riwayat radioterapi, dan riwayat menelan benda asing. Obstruksi pada usus halus akan menghambat perfusi jaringan usus. Hal ini dapat menyebabkan iskemia dan nekrosis pada usus. Komplikasi lain yang dapat timbul adalah perforasi usus, peritonitis, sepsis, kegagalan multiorgan, dan abses intraabdomen.[1,2]

Obstruksi Usus Besar

Obstruksi usus besar biasanya terjadi di kolon transversal atau descending. Penyebab utamanya adalah kanker di area rektosigmoid, rektum, dan anal. Sekitar 30% pasien  kanker kolorektal mengalami obstruksi usus besar dan 77% di antaranya menjalani operasi cito. Komplikasi yang sering muncul adalah perforasi usus dan sepsis.[3]

Penegakkan Diagnosis Obstruksi Usus

Obstruksi usus merupakan kondisi gawat darurat yang harus segera ditangani untuk mencegah komplikasi dan mortalitas. Oleh karena itu, kondisi ini harus segera didiagnosis. Penegakkan diagnosis dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dalam pemeriksaan fisik dapat ditemukan, distensi abdomen, nyeri abdomen, atau teraba massa. Bising usus pada awalnya dapat terdengar normal. Kemudian terjadi peningkatan bising usus, lalu menghilang pada tahap yang lebih berat. Pemeriksaan penunjang awal yang diperlukan adalah foto polos abdomen. Dapat dilanjutkan dengan CT-scan atau MRI abdomen. [2,3]

Makna Klinis Pemeriksaan Bising Usus

Bising usus sudah lama dijadikan patokan untuk mendeteksi kelainan pada abdomen. Namun, bukti yang ada saat ini belum cukup untuk menyatakan bahwa hasilnya (normal atau abnormal) bermakna secara klinis. Selain itu, masih terdapat perdebatan mengenai interpretasi pemeriksaan ini, baik temuan normal atau abnormal.[5]

Bising usus yang normal memiliki frekuensi 5–34 kali per menit. Terkadang, jarak antar siklus bising usus mencapai 5–35 menit. Hal ini berarti bahwa pemeriksaan bising usus yang ideal dilakukan selama >35 menit. Sebab, bising usus mungkin tidak terdengar selama 35 menit dan hal tersebut belum tentu menandakan kelainan pada abdomen. Meskipun demikian, pemeriksaan yang ideal tersebut sangat memakan waktu dan tidak mungkin dilakukan. Biasanya, pemeriksaan bising usus dilakukan 30 detik–7 menit. Selain itu, tidak semua gerakan peristaltik usus menghasilkan bising usus yang dapat didengar melalui stetoskop. Oleh karena itu, tidak terdengarnya bising usus bukan berarti tidak ada gerakan peristaltik.[4,5]

Tidak terdengarnya bising usus berhubungan dengan obstruksi usus, iskemia usus, ileus paralitik, dan peritonitis. Sementara itu, peningkatan bising usus dapat disebabkan oleh gastroenteritis, diare, penyakit inflamasi usus (inflammatory bowel disease/IBD), penggunaan laksatif, perdarahan saluran cerna, dan obstruksi usus. Temuan lain dari pemeriksaan auskultasi abdomen adalah bruit, hepatic venous hum, dan friction rub. Bruit menandakan aneurisma aorta atau stenosis arteri renal. Hepatic venous hum dapat ditemukan pada hipertensi porta, sedangan friction rub berhubungan dengan inflamasi peritoneal, infark limpa, atau metastasis hepar.[5]

Mendeteksi Obstruksi Usus

Meskipun tidak banyak, beberapa penelitian mempelajari akurasi auskultasi bising usus untuk mendeteksi obstruksi usus. Sebuah penelitian yang dipublikasi tahun 2010 menilai akurasi pemeriksaan bising usus pada 10 subjek normal, 9 subjek dengan obstruksi usus, dan 7 dengan subjek ileus. Pemeriksaan bising usus dilakukan selama 30 menit menggunakan stetoskop elektronik. Pembacaan hasil rekaman stetoskop elektronik dilakukan oleh 20 dokter. Diagnosis yang benar untuk kasus normal adalah 78,4%; kasus obstruksi usus adalah 42,1%; dan kasus ileus adalah 84,5%. Perbedaan interpretasi antar dokter sekitar 43%.[6]

Penelitian lain yang dipublikasi pada tahun 2014 membandingkan akurasi bising usus dalam mendeteksi obstruksi usus halus dan ileus pascaoperasi. Penelitian ini juga menggunakan stetoskop elektronik. Sensitivitas pemeriksaan bising usus untuk kasus normal adalah 32%; kasus obstruksi usus halus adalah 22%. Sementara positive predictive value untuk kasus normal adalah 23%; kasus obstruksi usus halus 28%; dan kasus obstruksi adalah 44%. Interpretasi dilakukan oleh 41 dokter dengan latar belakang pendidikan yang berbeda (dokter muda/koas, residen senior, dokter spesialis ilmu penyakit dalam, dan dokter bedah). Berdasarkan hasil kuesioner, hanya 17% dokter yang mengaku selalu melakukan pemeriksaan auskultasi abdomen dalam praktik sehari-hari.[7]

Penelitian serupa yang dipublikasi pada tahun 2015 menyatakan bahwa sensitivitas pemeriksaan bising usus untuk mendiagnosis obstruksi usus adalah 42%, sedangkan spesifisitasnya 78%. Penelitian yang melibatkan 53 dokter tersebut menyatakan bahwa tidak ada perbedaan interpretasi yang bermakna antara dokter junior dan senior. Meskipun demikian, perbedaan interpretasi antar dokter tetap sangat tinggi, mencapai 70%.[8]

Pada tahun 2009–2011, Ching dan Tan melakukan studi pada 71 subjek. Studi tersebut bertujuan untuk mengetahui karakteristik bising usus pada subjek normal dan subjek dengan obstruksi usus. Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan karakteristik bising usus antara pasien dengan obstruksi usus dan pasien normal. Namun, bising usus pada obstruksi usus besar memiliki durasi yang lebih lama dan frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan obstruksi usus halus.[9]

Kesimpulan

Pemeriksaan bising usus merupakan pemeriksaan sederhana dan cepat untuk mengetahui obstruksi usus. Namun, akurasinya sangat rendah dan interpretasinya bersifat subjektif. Oleh karena itu, sesuai dengan hasil riset terkini, auskultasi tidak bermanfaat dan tidak dapat diandalkan untuk mendiagnosis obstruksi usus. Pemeriksaan ini harus didukung dengan kondisi klinis pasien yang sesuai. Selain itu, sebelum melakukan tindakan yang berisiko, misalnya pembedahan, pemeriksaan bising usus sebaiknya dikonfirmasi oleh hasil pemeriksaan penunjang, misalnya foto polos abdomen.

Referensi