Menyusui Menurunkan Risiko Terjadinya Diabetes Mellitus Tipe II

Oleh dr. Michael Susanto

Telah banyak penelitian yang menyatakan keuntungan bagi ibu yang menyusui dibandingkan yang tidak, terutama dalam segi penurunan risiko terjadinya diabetes dan penyakit kardiovaskuler lainnya. Suatu studi baru pada tahun 2018 menguatkan kembali hubungan relasi ini dan mendukung literatur yang sudah ada.[1]

Depositphotos_128703404_m-2015_compressed

Pada saat kehamilan, terjadi banyak perubahan metabolisme dalam tubuh untuk mencukupi kebutuhan ibu, fetus, dan juga mempersiapkan tubuh untuk keperluan menyusui. Pada masa kehamilan, terjadi peningkatan lemak viseral, lemak pada darah, produksi insulin, serta resistensinya. Seorang wanita akan menurunkan tingkat pembuangan glukosa oleh insulin sebanyak 50% dan untuk mempertahankan status euglikemik, sekresi insulin dapat meningkat sebanyak 200-250%.[2,3]

Diabetes gestasional juga dapat terjadi sebagai bagian metabolisme wanita hamil yang berlebih. Patofisiologi penyakit ini diduga disebabkan oleh terutama resistensi insulin dan produksi insulin berlebihan yang terjadi di atas proses produksi dan resistensi insulin yang sudah meningkat pada saat kehamilan. Diabetes gestasional telah terbukti dapat menaikkan risiko diabetes mellitus tipe II, sindrom metabolik, dan penyakit kardiovaskuler.[3]

Metabolisme maternal pada saat kehamilan tidak berakhir dengan kehamilan, namun dengan penyapihan. Secara teori, semakin lama seorang ibu menyusui setelah melahirkan, proses pengaturan ulang metabolisme tubuh dapat terjadi semakin baik sehingga metabolisme berlebih saat hamil dapat dibuang dan terjadi penurunan risiko untuk terjadinya penyakit kardiovaskuler. Data dengan penelitian oleh hewan menunjukkan bahwa laktasi memberikan perubahan metabolisme baik dalam adipositas, kontrol glikemik, dan homeostasis lipid yang bertahan lama setelah penyapihan.[2]

Mekanisme Penurunan Risiko Diabetes

Beberapa mekanisme dapat menjelaskan bagaimana lama menyusui dapat mempengaruhi penurunan risiko diabetes. Wanita yang menyurui memiliki tingkat glukosa darah yang lebih rendah pada masa puasa ataupun sesudah makan, serta sekresi insulin yang lebih rendah walau terjadi produksi glukosa yang meningkat.

Sekitar 50 gram glukosa per 24 jam dialirkan ke payudara untuk sintesis ASI melalui jalur yang tidak menyangkut insulin. Proses ini dapat diasosiasikan dengan penurunan aktivitas basal sel beta pankreas. Pada studi hewan, hewan yang menyusui menunjukkan tingkat proliferasi sel beta. Studi pada wanita hamil juga menunjukkan hormon laktogenik seperti prolactin dapat menurunkan risiko diabetes di masa depan. Menyusui juga menggunakan kalori sebanyak 300 kcal per hari dan memperdayakan jaringan lemak.[1]

Studi terkait Efek Protektif Menyusui terhadap Diabetes Mellitus Tipe II

Studi meta analisis mengenai efek protektif menyusui untuk insiden dan prevalensi diabetes tipe II menunjukkan penurunan risiko sebanyak 9-11% per tahun laktasi. Pada studi-studi ini wanita yang dimasukkan ke dalam sampel memiliki usia baseline 47-52 tahun. Insiden diabetes dilaporkan dengan kuesioner dan riwayat diabetes gestasional tidak dimasukkan ke dalam studi. Suatu studi meta analisis lain melaporkan penurunan risiko diabetes pada wanita menyusui dengan relative risk (RR) sebanyak 0.91 (95% confidence interval [CI], 0.86-0.96) untuk penambahan menyusui setiap tahunnya.[1,2,4-6\

Studi-studi yang termasuk dalam meta analisis ini sangat heterogen dan tidak begitu mencakup sampel wanita dengan diabetes gestasional. Kekurangan utama dari studi-studi tersebut adalah sampel wanita dengan usia baseline yang terlalu tua, pelaporan status diabetes oleh peserta yang tidak dilakukan oleh laboratorium, dan kurang terlibatnya faktor diabetes gestasional pada penelitian. Kekurangan ini coba dijawab oleh studi pada tahun 2018 dengan studi kohort prospektif yang mencakup wanita berusia 18-30 tahun yang diperiksa untuk diabetes sebanyak 7 kali selama 30 tahun (1986-2016).

Hasil penelitian yang mencakup 1238 wanita menunjukkan bahwa durasi menyusui memiliki hubungan terbalik yang kuat dengan insiden terjadinya diabetes tipe II. Relative hazard (RH) yang sudah disesuaikan menunjukkan nilai untuk laktasi selama 0-6 bulan 0.75 (95% CI, 0.51-1.09), lebih dari 6 bulan dan kurang dari 12 bulan 0.52 (95% CI 0.31-0.87), dan 12 bulan ke atas 0.53 (0.29-0.98).

Nilai graded risk reduction berkisar dari 25% untuk waktu menyusui 6 bulan atau kurang, hingga 47% untuk waktu menyusui lebih dari 6 bulan. Hal ini menunjukkan hasil nilai yang sangat tiinggi dibandingkan studi-studi sebelumnya.

Dari data penelitian ini, didapatkan bahwa pada semua wanita, 1 dari 286 wanita yang menyusui selama 0-6 bulan, 1 dari 172 wanita yang menyusui selama 6-12 bulan, dan 1 dari 159 wanita yang menyusui >12 bulan, akan mengalami manfaat pencegahan terjadinya diabetes mellitus tipe 2. Hasil ini kemudian dibagi dalam subgroup dengan dan tanpa diabetes gestasional.

Pada wanita tanpa diabetes gestasional, 1 dari 500 wanita yang menyusui 0-6 bulan, 1 dari 244 wanita yang menyusui 6-12 bulan, dan 1 dari 48 wanita yang menyusui >12 bulan, akan mengalami manfaat pencegahan terjadinya diabetes mellitus tipe 2.

Pada wanita dengan diabetes gestasional, efek proteksi ini jauh lebih besar dibandingkan wanita tanpa diabetes gestasional. 1 dari 69 wanita yang menyusui 0-6 bulan, 1 dari 53 wanita yang menyusui 6-12 bulan, dan 1 dari 48 wanita yang menyusui >12 bulan, akan mengalami manfaat pencegahan terjadinya diabetes mellitus tipe 2.[1]

Rekomendasi Menyusui

Studi tahun 2018 serta studi-studi sebelumnya telah jelas menyatakan bahwa lama waktu menyusui sangat berperan dalam penurunan risiko diabetes sebanyak hampir 50%. Menyusui dengan sendirinya memiliki banyak sekali keuntungan bagi ibu dan bayi yang tidak terbatas pada risiko diabetes dan penyakit kardiovaskuler.

Kontraindikasi untuk menyusui sangatlah jarang. Pada negara-negara barat dan maju, menyusui merupakan sesuatu yang semakin lama menjadi semakin jarang dilakukan dan oleh sebab itu perlu ditingkatkan kembali. American Academy of Pediatrics menyarankan pemberian ASI eksklusif untuk selama 6 bulan, dan kemudian dilanjutkan dengan pemberian ASI sebagai makanan pelengkap hingga 1 tahun atau lebih lama sesuai dengan keinginan ibu dan bayi. WHO juga menyarankan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan bahkan kemudian untuk memberikan ASI sebagai makanan pelengkap hingga 2 tahun atau lebih.[7,8]

Kesimpulan

Pada masa kehamilan, metabolisme wanita akan meningkat secara drastis sehingga terjadi peningkatan lemak viseral, lemak pada darah, produksi insulin, serta resistensinya; bahkan sampai menyebabkan diabetes gestasional. Menyusui setelah kehamilan telah diketahui dapat menurunkan risiko kejadian diabetes namun sebelum 2018 studi yang ada menunjukkan penurunan risiko yang tidak terlalu tinggi dengan sampel dan penelitian yang kurang optimal.

Studi tahun 2018 memiliki desain kohort prospektif dan mencakup sampel wanita berusia 18-30 tahun yang diperiksa untuk diabetes sebanyak 7 kali selama 30 tahun. Hasil akhir penelitian menunjukkan nilai graded risk reduction berkisar dari 25% untuk waktu menyusui 6 bulan atau kurang, hingga 47% untuk waktu menyusui lebih dari 6 bulan, jauh lebih tinggi dari studi-studi sebelumnya. Efek penurunan risiko ini akan lebih tinggi pada wanita yang menderita diabetes gestasional. Mekanisme penurunan risiko diabetes dengan menyusui diduga disebabkan oleh bermacam faktor yang bersifat menurunkan tingkat metabolisme yang berlebih selama kehamilan.

 American Academy of Pediatrics dan WHO menyarankan pemberian ASI eksklusif selama minimal 6 bulan yang dilanjutkan dengan pemberian ASI sebagai makanan pelengkap hingga 1-2 tahun ke atas.

Referensi