Menjelaskan Risiko Terapi kepada Pasien

Oleh :
dr.Wendy Damar

Menjelaskan risiko terapi kepada pasien adalah salah satu kemampuan komunikasi efektif yang harus dimiliki oleh seorang dokter. Risiko terapi adalah kemungkinan yang mungkin terjadi dan memberikan dampak kepada pasien.

Sering kali risiko terapi ini sulit dijelaskan sulit dilakukan terlebih ketika terapi yang akan dilakukan merupakan terapi yang sulit atau kondisi penyakit penyerta yang dimiliki pasien dapat mempersulit keberhasilan terapi.

shutterstock_381901672-min

Sebagai contoh, seorang pasien dengan kanker payudara harus memilih jenis pembedahan dan kemudian memilih terapi adjuvan yang akan ia ambil ke depan, antara kemoterapi atau terapi hormonal. Meskipun sulit, risiko yang ada harus tetap dikomunikasikan kepada pasien karena akan menentukan pilihan pasien terhadap terapi yang dipilihnya. Tentu saja pilihan terapi ini akan menjadi elemen penting terutama setelah didapatkannya informed consent dari pasien.[1-5]

Survei yang dilakukan pada 21.000 responden dokter menunjukkan bahwa hanya sebanyak 13% dokter yang akan menjelaskan risiko terapi kepada pasien. Selain itu, terdapat 16% dokter yang mungkin menjelaskan akan risiko terapi kepada pasiennya jika mereka merasa prosedur atau terapi yang akan diberikan dapat menolong pasiennya.

Berdasarkan hasil survei di atas, mayoritas dokter memilih untuk mengesampingkan penjelasan risiko terapi untuk minimalisir terjadinya perdebatan atau kebingungan dari pihak pasien. Namun, hal ini secara etika kedokteran akan mengurangi hak autonomi pasien. Dengan demikian, setiap dokter sebaiknya tetap menjelaskan risiko yang mungkin terjadi atas pilihan terapi yang akan dilakukan, dan membiarkan pasien yang menentukan keputusannya.[1]

Aspek yang Perlu Diperhatikan saat Menjelaskan Risiko Terapi kepada Pasien

Isi dari penjelasan risiko terapi kepada pasien sama pentingnya dengan pilihan kata, intonasi dan bahasa nonverbal yang digunakan oleh dokter saat memberikan penjelasan. Studi yang ada menunjukkan bahwa dalam berkomunikasi, pilihan  kata yang digunakan hanya memiliki nilai sebesar 7%, sedangkan 55% adalah bahasa nonverbal, dan 38% sisanya adalah intonasi.

Intonasi dan Bahasa Nonverbal

Seorang dokter harus memperhatikan bahasa nonverbal dan intonasi yang digunakan selama menyampaikan informasi. Sebaiknya dalam menjelaskan, gunakan intonasi yang lembut, menenangkan, dan disertai empati kepada pasien. Studi menunjukkan bahwa dokter yang menjelaskan dengan intonasi keras dan mendominasi memiliki laporan kasus malpraktik yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang sebaliknya.[1]

Kontak Mata dan Respons saat Berdiskusi

Selain hal di atas, poin lain yang perlu diperhatikan adalah saat berdiskusi, sebaiknya dokter tetap menjaga kontak mata dengan pasien, dan merespons dengan empati setiap reaksi yang pasien berikan. Beberapa kalimat yang menenangkan pasien seperti “Saya mengerti hal ini sulit” atau “Saya paham jika Anda takut” dapat membantu meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan pasien selama diskusi dilakukan. Usahakan ketika pasien selesai berdiskusi dengan dokter, pasien dapat pulang dengan perasaan yang lebih ringan dan mengerti atas apa yang akan dihadapinya.

Aspek Lain saat Menjelaskan Risiko

Hal lainnya yang perlu dilakukan ketika menjelaskan risiko adalah sebagai berikut:

  • Melibatkan pasien sepenuhnya,
  • Apabila pasien berkenan, minta pasien untuk dapat didampingi oleh seseorang yang ia percaya,
  • Memberikan informasi terbaru dan benar, serta sesuai dengan kondisi pasien,
  • Menjelaskan dengan terbuka, dan jujur,
  • Berbicara dengan kalimat yang jelas,
  • Memberikan kesempatan pasien untuk bertanya,
  • Memberikan waktu kepada pasien untuk memahami setiap penjelasan dan menentukan pilihan[1,4,5]

Menggali Pemahaman Pasien

Seorang dokter harus menggali pemahaman yang telah dimiliki pasien akan penyakit ataupun terapi/tindakan yang akan dilakukan. Proses penggalian pemahaman ini harus dilakukan sebelum dan setelah menjelaskan risiko terapi kepada pasien.

Dengan mengetahui pemahaman pasien sebelum menjelaskan risiko terapi, dokter dapat menjelaskan dengan lebih baik, sehingga dapat meluruskan pemahaman yang salah dengan tujuan pasien dapat mengambil keputusan dengan pengertian yang benar dan menghindari miskomunikasi.

Pemahaman pasien juga harus digali ulang setelah penjelasan risiko terapi, atau setelah memberikan penjelasan mengenai risiko dengan tingkat keparahan yang tinggi. Dengan demikian, dokter akan dapat mengevaluasi ulang apakah penjelasan risiko terapi yang diberikan dapat dipahami pasien dengan baik. Jelaskan ulang bagian yang kurang dipahami oleh pasien sehingga informasi dapat diterima seluruhnya oleh pasien.[1,2,4,5]

Menggali Harapan atau Keinginan Pasien

Dokter juga sebaiknya menanyakan mengenai harapan atau keinginan pasien setelah terapi/tindakan yang dilakukan agar dokter dapat memahami keinginan pasien yang sebenarnya dan menjelaskan akan hasil yang lebih realistis apabila harapan yang pasien miliki ternyata lebih tinggi. Tentu saja dalam menjelaskan risiko, seorang dokter harus mampu menciptakan kondisi yang membuat pasien merasa lebih tenang dan nyaman.[1,4,5]

Hak Autonomi Pasien

Dalam menjelaskan risiko suatu tindakan/terapi, seorang dokter bukan hanya terikat oleh kode etik kedokteran melainkan juga hak autonomi yang dimiliki pasien. Untuk memastikan hak autonomi pasien terjaga, penjelasan harus dilakukan secara lengkap, mencakup aspek-aspek terkait tindakan/terapi yang akan dilakukan:

  • Keuntungannya
  • Risiko yang ada
  • Komplikasi yang dapat timbul
  • Alternatif tindakan/terapi (sebaiknya alternatif yang tidak tersedia di Indonesia juga tetap dijelaskan)

Sehingga ketika pasien menandatangani informed consent pada akhirnya, mereka mengerti atas apa yang mereka setujui. Pada dasarnya, terapi/tindakan yang bersifat rutin, seperti pemberian obat injeksi atau pemberian obat antihipertensi pada pasien hipertensi, tidak memerlukan informed consent secara tertulis. Walau demikian, penjelasan mengenai tindakan dan risikonya tetap harus diberikan dengan lengkap secara verbal.[1,4,5]

Prioritas Risiko Berdasarkan Tingkat Keparahan dan Tingkat Frekuensi Risiko

Tidak semua risiko terapi harus dijelaskan secara mendalam. Dokter harus fokus kepada risiko terapi yang secara potensial dapat membahayakan atau berdampak berat terhadap pasien. Pertimbangan lain adalah tingkat keparahan dan tingkat frekuensi risiko. Risiko yang derajat keparahannya lebih tinggi atau lebih sering terjadi perlu lebih dijelaskan dibandingkan risiko yang derajat keparahannya rendah atau jarang terjadi.[1,4]

Proses penilaian risiko ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek berikut ini:

  • Kemungkinan terjadinya (frekuensi kejadian)
  • Kemungkinan terdeteksi dengan alat skrining (detection rate)
  • Keuntungan dari terapi atau skrining yang dilakukan
  • Seberapa berat dampak yang ditimbulkan, apakah mengancam nyawa atau menimbulkan gangguan jangka pendek (temporer) atau jangka panjang (permanen)
  • Seberapa yakin dokter dengan tindakan/terapi yang akan dilakukan
  • Seberapa yakin dokter dengan tingkat pemahaman pasien yang diajak berdiskusi
  • Bagaimana situasi dan kondisi yang sedang dihadapi

Alat Bantu untuk Menjelaskan Risiko Terapi kepada Pasien

Dokter juga sebaiknya menyiapkan alat bantu seperti pamflet, video ataupun rekaman, hingga link atau website yang dapat pasien lihat untuk mendapatkan pemahaman lebih lanjut. Di tengah era informasi digital yang sangat melimpah ini, penting bagi dokter untuk bisa mengarahkan pasien ke situs kesehatan yang dapat dipercaya, untuk menghindari pasien mendapat informasi yang justru menyesatkan.[1,4,5]

Apabila kemudian pasien menolak atas terapi/tindakan yang akan dilakukan, maka dokter juga harus menjelaskan risiko dan kemungkinan yang mungkin terjadi apabila tindakan/terapi tersebut tidak dilakukan. Saat pasien setuju maupun menolak, harus ada dokumentasi yang tersimpan dalam rekam medis pasien beserta penjelasan yang telah dokter berikan.[1,4,5]

Rekomendasi Mengenai Cara Menjelaskan Risiko Terapi pada Pasien

Dalam praktik sehari-hari banyak kasus yang menggambarkan seorang dokter menjelaskan risiko terapi/tindakan kepada pasiennya. Hal ini sering kali ditemukan terlebih pada pasien kanker. Berikut ini adalah tiga rekomendasi yang dapat dilakukan oleh seorang dokter dalam menjelaskan risiko terapi kepada pasiennya, di mana rekomendasi ini telah diuji di banyak penelitian dan memiliki bukti yang kuat dalam meningkatkan pemahaman pasien dan pengambilan keputusan.[2]

  1. Jelaskan dengan Menggunakan Bahasa Awam

Setiap dokter harus mampu menyusun kata atau kalimat dalam menjelaskan risiko terapi kepada pasien dengan menggunakan bahasa awam. Bahasa awam merujuk kepada bahasa yang cukup dasar, sederhana, dan mudah dimengerti oleh berbagai kalangan termasuk pada kalangan yang memiliki tingkat pendidikan rendah.

Dalam menjelaskan sebaiknya dokter tidak menggunakan istilah medis, menggunakan urutan logika yang terstruktur sistematis, fokus kepada informasi yang akan diberikan hingga menggunakan alat bantu yang mudah dibaca.[2,5]

  1. Jelaskan Informasi Statistik Menggunakan Nilai Risiko Absolut (Absolute Risk)

Kesulitan lain yang harus dihadapi oleh dokter dalam menjelaskan risiko terapi adalah menjelaskan nilai risiko yang dihadapi oleh pasien terhadap terapi/tindakan yang akan dilakukan. Untuk itu, sebaiknya gunakan nilai absolut untuk menjelaskan risiko terapi kepada pasien.

Contohnya, ketika menggambarkan efek pengobatan kanker, daripada mengatakan bahwa obat kanker terbaru bermanfaat menurunkan angka kejadian kanker sebesar 30%, lebih baik disampaikan bahwa obat tersebut bermanfaat menurunkan angka kejadian kanker dari 2 per 1000 orang menjadi 1 per 1000 orang.[2,5]

  1. Sajikan Informasi dalam Bentuk Grafik Gambar bila Ingin Menjelaskan Grafik

Penjelasan grafik sebaiknya dibuat dalam bentuk gambar sehingga akan lebih mudah dimengerti oleh pasien. [2,5]

Terdapat juga tujuh rekomendasi mengenai cara menjelaskan risiko terapi yang sayangnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut karena data yang masih kurang memadai atau kontradiktif.

  1. Sajikan Data Menggunakan Frekuensi Dibandingkan Persentase

Sebagai contoh saat menggambarkan risiko impotensi dari bedah radikal prostatektomi pada pasien kanker, Dokter sebaiknya mengatakan 60 dari 100 orang pasien memiliki risiko mengalami impotensi dibandingkan mengatakan 60% pasien memiliki risiko mengalami impotensi.[2]

  1. Gambarkan Peningkatan Risiko dengan Membandingkannya dengan Nilai Dasar Risiko

Gunakanlah grafik supaya pasien dapat mengerti risiko baseline dan risiko tambahan setelah terapi. Contohnya: 4 dari 100 orang normal berisiko mengalami katarak. Penggunaan terapi tamoxifen akan meningkatkan risiko ini menjadi 10 dari 100 orang. Gunakanlah grafik berikut untuk menjelaskan mengenai peningkatan risiko tersebut.[2]

peningkatan resiko

 

Grafik 1. Risiko Baseline dan Risiko Tamoxifen. Sumber Grafik: dr. Wendy Damar, 2020.

 

  1. Pahami bahwa Urutan Penjelasan Manfaat dan Terapi akan Mempengaruhi Persepsi Pasien

Risiko yang disampaikan setelah manfaat terapi akan membuat pasien mempersepsikan bahwa risiko tersebut lebih mencemaskan dan lebih umum terjadi. Hal ini dikenal sebagai recency effect. Recency effect ini dapat diatasi dengan menggunakan langkah rekomendasi berikutnya.[2]

  1. Rangkum Risiko dan Manfaat Setiap Pilihan Terapi dalam Bentuk Tabel

Selain memudahkan pasien untuk mengingat risiko dan manfaat terapi serta membandingkan opsi terapi yang tersedia, tabel rangkuman risiko dan manfaat terapi juga memiliki manfaat berikut ini:

  • Lebih aktif dalam mencari informasi mengenai pilihan terapi yang akan diambil
  • Lebih aktif untuk berdiskusi dengan dokter mengenai pilihan terapi yang akan diambil
  • Lebih ingin menggunakan pilihan terapi yang tersedia[2]

  1. Hindari Penggunaan Comparative Risk

Comparative risk merupakan perbandingan antara risiko dari suatu terapi dibandingkan dengan nilai dasar (baseline) risiko pada populasi normal. Penggunaan comparative risk pada beberapa studi ditemukan justru meningkatkan ansietas dan rasa takut pasien. Walau demikian, hasil ini bersifat kontradiktif dengan rekomendasi nomor 3 yang justru menyarankan untuk menunjukkan grafik comparative risk.[2]

  1. Pertimbangkan untuk Menyortir Informasi yang Perlu Disampaikan Kepada Pasien

Menyangkut hak autonomi pasien yang telah dijelaskan di atas, informasi harus diberikan secara lengkap. Walau demikian, tidak semua informasi relevan dengan kondisi individual pasien. Dokter harus bisa memilah informasi mana yang perlu disampaikan ke pasien dan informasi mana yang tidak diperlukan tanpa mengurangi kelengkapan informasi mengenai opsi terapi yang diberikan.[2]

  1. Ulangi dan Pertegas Interval Waktu dari Risiko yang Mungkin Muncul.

Pasien umumnya tidak memperhatikan interval waktu dan hanya fokus pada besarnya risiko. Contohnya adalah risiko kanker prostat seumur hidup 17% dibandingkan dengan risiko 5 tahun menderita kanker prostat sebesar 5%. Pasien umumnya hanya akan fokus pada besar angka 17% dan 5% tanpa memperhatikan bahwa yang satu merupakan risiko dalam interval waktu seumur hidup sedangkan satunya adalah risiko dalam interval waktu 5 tahun.

Untuk itu, Dokter harus menekankan mengenai interval waktu ini supaya memastikan pasien menyadari beda interval waktu yang disampaikan. Selain itu, akan lebih memudahkan jika data risiko disusun berdasarkan rentang waktu sehingga pasien bisa melihat peningkatan risiko sesuai perjalanan waktu. Contohnya, berikut adalah risiko 5 tahun, 10 tahun, dan 20 tahun Anda.[2]

Kesimpulan

Menjelaskan risiko dari tindakan/terapi yang akan diterima pasien oleh dokter bukan hanya memberikan keuntungan bagi pasien yaitu mengerti akan risiko yang mereka hadapi melainkan juga memberikan keuntungan bagi dokter itu sendiri yaitu menghindarkan dokter dari jeratan tuntutan hukum. Kasus malpraktik yang sering ditemukan biasanya terjadi karena dokter tidak menjalankan pelayanan sesuai dengan standar yang ada, terutama dalam memberikan penjelasan secara jelas dengan penuh empati. Setiap penjelasan dan informed consent yang dilakukan sebaiknya tercatat dan tersimpan rapi dalam rekam medis pasien, sehingga dapat dipertanggungjawabkan di kemudian hari apabila terdapat kasus yang menjerat dokter.[1-4]

Risiko yang akan dihadapi pasien bukanlah hal yang mudah untuk dijelaskan, terlebih jika pasien diharuskan untuk memilih akan alternatif terapi. Namun demikian, seorang dokter haruslah senantiasa belajar untuk menjalin komunikasi yang efektif terhadap pasien, dan menjamin hak autonomi pasien, serta memiliki empati dalam setiap pelayanan yang diberikan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menjelaskan risiko terapi kepada pasien di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Intonasi dan bahasa nonverbal
  • Kontak mata dan respons saat berdiskusi
  • Penggalian pemahaman pasien sebelum maupun setelah penjelasan risiko terapi
  • Penggalian harapan dan keinginan pasien
  • Prioritas risiko berdasarkan tingkat keparahan dan tingkat frekuensi risiko
  • Penggunaan alat bantu seperti grafik, tabel, atau situs website informasi kesehatan yang dapat dipercaya
  • Penjelasan menggunakan bahasa awam
  • Penjelasan informasi statistik dalam bentuk angka absolut

Referensi